Desember 30, 2017

Meraih Syafa’at al-Qur’an


Hari kiamat adalah kehidupan di akhirat yang satu harinya sama dengan 50.000 tahun di dunia. Di sana tidak terdapat bangunan, pohon untuk berlindung, dan juga pakaian yang menutupi badan.

Di hari itu, matahari, yang saat ini berada di atas kita sekitar 94 juta mil, Allah perintahkan untuk datang dan mendekat hingga jarak yang telah ditentukan. Berapa? Yaitu hanya satu mil di atas kepala para penghuni Padang Mahsyar. Apa yang terjadi? Tentu saja, kondisi panas yang maha dahsyat. Para hamba menderita banjir keringat. Bahkan sebagian dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri. Mereka tidak bisa lari, sembunyi atau mencari tempat berteduh. Sebab bumi telah rata dengan tanah dan tidak ada satupun tempat untuk berteduh.

Dalam kondisi yang sangat mengerikan itu, ternyata ada golongan manusia yang mendapatkan keistimewaan dan perhatian spesial dari Allah. Di saat kebanyakan mereka tersengat panasnya matahari yang mendidih, justru manusia-manusia istimewa itu mendapatkan naungan awan yang melindungi mereka dari sengatan sang surya. Mereka merasa nyaman dan tentram di bawah naungan tersebut. Siapakah gerangan golongan yang amat beruntung itu? Ternyata mereka tidak satu jenis. Bahkan mereka terdiri dari berbagai golongan yang memiliki amal salih yang berbeda-beda.

Salah satunya adalah ahlul-Qur’an. Ya, mereka adalah golongan yang mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala melalui syafa’at. Syafaa’t dari mana? Tentu saja dari al-Qur’an yang membersamai mereka di dunia.

Desember 23, 2017

Propaganda LGBT dan Laknat Allah

Ketika Adam ‘alaihissalam dan istrinya Hawa alaihassalam masih berada di dalam Surga, Allah Ta’ala telah mengingatkan kepada mereka berdua agar berhati-hati dari makar musuh nyata mereka yakni Iblis laknatullah ‘alaih. Tentu saja berhati-hati untuk seluruh hal, tidak terkecuali ucapan-ucapan yang terdengar manis dari Iblis. Sebab Iblis sendiri telah bersumpah di hadapan Allah Ta’ala bahwa ia akan berusaha dengan segala cara untuk menyesatkan Adam dan anak keturunannya dari jalan yang benar (QS. Al-A’raf :16-17).

Alhasil, Allah Ta’ala menakdirkan Adam ‘‘alaihissalam dan istrinya terperdaya dengan tipu daya Iblis laknatullah ‘alaih yang membuat mereka terusir dari surga. Pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana cara Iblis laknatullah ‘alaih mampu menyesatkan Adam yang cerdas? Sebab, tidak menutup kemungkinan, cara atau trik itu juga yang Iblis laknatullah ‘alaih dan bala tentaranya jalankan hingga sekarang dalam menyesatkan kita anak cucu Adam. Walaupun mungkin variannya beda-beda tapi intinya tetap sama.

Runut kejadiannya telah Allah Ta’ala sebutkan dengan jelas dalam Al-Qur’an. Iblis laknatullah‘alaih yang telah jelas pernyataan permusuhannya kepada Adam dan anak keturunannya, datang dengan wajah kamuflase dan palsu yang dibungkus dengan penampilan dan kata-kata meyakinkan.

Desember 16, 2017

Manusia Berkah Penuh Manfaat

Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdo’a untuk mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, harta benda maupun lainnya. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah makna keberkahan itu? Dan bagaimana memperolehnya?

Bila kita lihat lebih seksama, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun dalil-dalil dalam al-Qur’an dan Sunnah, kita akan mendapati bahwa kata “al-barakah” memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung.

Secara ilmu bahasa, “al-barakah” berarti berkembang dan bertambah (Lihat Al-Misbahul-Munir, 1/45. Al-Qamus Al-Muhith, 2/1236. Lisanul Arab 10/395). Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,  “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi” (Lihat Syarhu Shahih Muslim, oleh An-Nawawi 1/225). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap” (Lihat Al-Qaul Al-Mufid 1:245).

Desember 02, 2017

Dakwah Tak Harus Ceramah

Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (risalah) kepada seluruh umat manusia. Risalah yang beliau bawa ini akan kekal sampai hari kiamat dan menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah menyampaikan risalah Rabbnya kepada kaum muslimin sebagai misi diutusnya beliau sebagai Rasul. Allah berfirman, “Hai nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi” (QS. al-Ahzab : 45-46). Misi dalam perintah berdakwah ini diulang beberapa kali dalam al-Qur’an. Ini adalah indikasi kuat akan keagungan misi tersebut. Allah berfirman, “Dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus” (QS. al-Hajj :67). Juga firman-Nya, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” (QS. ar-Ra’d :36).

November 25, 2017

Waspadai Pembakar Kebaikan

Agama Islam adalah agama perbaikan, pengajaran dan bimbingan. Islam datang untuk menyucikan dan membersihkan hati, memutihkan jiwa dan membuang noda-noda yang ada padanya, dan memperbaiki lahiriah dan batiniah. Mereka yang mampu menyucikan jiwanya dengan Islam, dialah yang beruntung. Allah berfirman,  “Beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya. Dan celakalah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams : 9-10).

Seorang hamba yang beriman dituntut membersihkan jiwanya atau hatinya sebagaimana ia dituntut membersihkan fisiknya yang tampak. Sebagaimana jasad kita yang bisa terkena penyakit, demikian juga halnya hati dan jiwa seseorang, ia pun bisa tertimpa penyakit dan hal-hal yang akan membahayakannya. Apabila batinnya baik, maka hal itu akan berdampak pada baiknya gerak-gerik atau amalan anggota tubuh. Sebagaimana penjelasan Nabi kita, “Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula anggota tubuh yang lain. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula anggota tubuh yang lain. Segumpal daging tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Karenanya, selalu mengecek hati dan jiwa, apakah ia berada dalam keadaan suci dan memiliki akhlak batiniah yang baik ataukah ia telah rusak atau sakit, adalah pekerjaan yang seyogyanya terus kita lakukan, agar kita menjadi golongan yang beruntung, seperti firman Allah di atas. 

November 18, 2017

Miskin yang Sabar atau Kaya yang Bersyukur

Jika kita diminta untuk memilih, mana di antara dua keadaan yang akan dipilih, jadi orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur? Barangkali, banyak di antara kita yang lebih memilih untuk menjadi orang kaya yang bersyukur, dibanding menjadi orang miskin yang bersabar. Mengapa? Karena yang terbayang di benak kita jika menjadi orang kaya, hidup akan nyaman, bisa berbagi uang dan kehidupan kita menjadi terpandang serta disukai banyak orang. Sedangkan jika menjadi orang miskin, yang terbayang di benak kita adalah kehidupan yang menderita, serba kekurangan, dan mungkin saja kurang diperhatikan orang. Hal ini bisa jadi lumrah, karena secara naluri, kita biasanya lebih siap untuk menikmati kekayaan daripada menderita kemiskinan.
          
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah mana yang lebih utama menurut agama, menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur?

Para ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang ini. Para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan bahwa orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Hal ini seperti disebutkan pada hadits Nabi, “Orang-orang faqir di kalangan kaum muslimin kelak akan mendahului orang-orang kaya mereka dalam hal masuk surga selama setengah hari (di akhirat), yaitu lima ratus tahun(HR. Tirmidzi.  Shahih al-Tarhib Wa al-Tarhib, III/132). Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan bahwa Nabi sendiri selalu meminta kepada Allah agar diberi sifat ghina yaitu kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia.

November 01, 2017

Bertakwa di Manapun Berada

Takwa. Nasehat tentangnya memang tidak pernah ada habisnya. Terus dan terus kita diingatkan tentangnya. Ia adalah pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Fawaid-nya mengatakan, “Nabi Sulaiman 'alaihis-salam berkata, “Kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah”.

Rasulullah r pernah berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman,  “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Oktober 27, 2017

Berlari dari Popularitas

Hati kita mungkin akan berbunga-bunga, saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan, seorang atau beberapa orang menegur kita. Kita tak mengenal mereka. Tetapi Allah menguji kita,  ternyata mereka mengenal kita. “Ustadz, kami biasa mengikuti pengajian ustadz”. “Wajah Ustadz sering kami lihat di TV”. “Kata orang,Bapak adalah orang yang dermawan”. Atau perkatan-perkataan semacamnya, yang kerap membuat kita “berbunga-bunga”.

Akan tetapi, sadarkah kita, bagaimana dengan diri kita saat itu? Bagaimana dengan nasib hati kita yang lemah saat itu? Hati yang rapuh pada pujian. Hati yang gemeretak pada sanjungan.

Begitulah. Ketenaran akan perlahan-lahan meyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan memperlihatkannya agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat ini adalah perkara yang teramat berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H).

Oktober 13, 2017

Jaga Anak dan Keluarga, Bertemu di Surga

Pada saatnya nanti, anak-anak kita akan pergi, meninggalkan kita. Saat dewasa nanti, mereka akan bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar dan berjauhan. Tinggallah sepi. Meski mungkin sebagian di antara mereka, ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini. Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta, bersama anak-anak dan keluarga.

Setelah hari itu, orangtua dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Di sana nanti, ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan, sehingga menuntut tanggung-jawab orangtuanya yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Oktober 06, 2017

Untuk Apa Kita Hidup?

Oleh : 
Muhammd Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si., Ph.D.

Untuk apa kita hidup? Sebuah tanya yang lalai untuk selalu kita jawab.

Sahabatku di jalan Allah…

Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hmm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”

September 29, 2017

Menjadi Manusia Terbaik

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia diantara seluruh makhluk lain di dunia ini. Demikian Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Israa : 70). 

Kemuliaan yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik, hati, dan lainnya. Potensi-potensi tersebut selayaknya diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat : 56).

September 08, 2017

Menjamu Muharram yang Mulia

Tak terasa, Allah Sang Maha Kuasa, kembali mempertemukan kita dengan bulan-Nya yang mulia, Muharram. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru tentunya karena ia akan terus berulang selama Allah Sang Khalik masih mengizinkan kita untuk menemuinya. Namun, sejauh ini, apa yang telah kita usahakan dalam memuliakan bulan-bulan Allah, termasuk bulan ini sehingga ia tidak berlalu begitu saja?

Selayaknya bagi kita untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri dan istigfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk dia antara hamba yang mampu bersyukur.

September 01, 2017

Maafkan Kami Rohingya

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. Dalam kegembiraan berbagi di hari raya Idul Adha yang penuh berkah, terbersit kesedihan dalam relung hati yg mengharu biru. Beragam kekejaman yang menimpa saudara-saudara kita di Rohingya, membuat kita merasa lemah selemah-lemahnya dan sedih sesedih-sedihnya.

Bayangkan, saat kita, istri, dan anak-anak serta orang-orang terdekat kita dari kerabat diancam untuk dibunuh dan tak ada jalan untuk bernegosiasi. Bayangkan, pasukan pembunuh itu sudah datang ke desa-desa dan membakar semua rumah-rumah yang ada, lalu mengejar dan membantai seluruh penduduknya yang tersisa meski di atas badan jalan dan tengah sawah. Bayangkan, jika dalam kondisi seperti itu, tak ada penguasa dan pihak berwajib yang dapat menolong dan mengayomi kita karena mereka adalah bagian dari kekejian yang mungkin menjadi yang paling brutal di abad ini. Kemana lagi kita akan lari, jika ternyata penguasa wilayah perbatasan menolak kita karena alasan bahwa kita bukan bagian dari warga negaranya. Inilah kisah nyata yang terjadi pada saudara-saudara kita di Rohingya hari ini.
Mereka adalah saudara-saudara muslim kita. Mereka adalah kaum papa yang terzalimi oleh sesama bangsanya. Mereka terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri, hanya karena meyakini bahwa Allah Ta'ala semata yang berhak untuk disembah, bukan dewa atau ruh leluhur seperi yang diyakini oleh sebagian orang di sana.

Agustus 25, 2017

Agar Qurban Kita Diterima

Qurban merupakan salah satu syiar Islam yang disyariatkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah r dan Ijma’ (kesepakatan hukum) kaum muslimin. Allah I berfirman, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan (qurban)” (QS. Al-Kautsar : 2).

Qurban juga disebut dengan istilah udh-hiyah yang bermakna hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah I karena datangnya hari raya tersebut (Lihat Al-Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366).

Dari definisi ini, maka tidak termasuk dalam udh-hiyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqarrub kepada Allah I (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula tidak termasuk udh-hiyyah, hewan yang disembelih di luar hari tasyrik walaupun dalam rangka taqarrub kepada Allah I. Juga tidak termasuk udh-hiyyah, hewan untuk aqiqah dan al-hadyu yang disembelih di Mekkah berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji (Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1525).

Agustus 18, 2017

Cerdaslah Dalam Beramal!

Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun, apakah setiap orang yang rajin beribadah dan beramal akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah dan beramal? Rasanya, tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali : tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Sebab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk sekedar menumpuk berbagai ibadah seperti sangkaan mereka. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna apa-apa.

Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih-letihnya orang-orang shalih terdahulu (salaf) menunjukkan penghambaan kepada Rabb mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiyallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shalih kita harus pula demikian.

Agustus 11, 2017

Pelajaran dari Kematian

Belia, muda, maupun tua, semua akan mati. Kemarin, barangkali kita melihat saudara kita dalam keadaan sehat, bugar, muda dan kuat. Namun hari ini, ternyata ia telah pergi meninggalkan kita, menghadap Rabbnya di sana. Padahal kemarin, barangkali kita melihat seorang tua yang renta, dalam keadaan payah dan susah, yang mungkir umurnya tidak lama lagi dalam hitungan kita, ternyata masih mampu berjalan di muka bumi dengan nafasnya yang terus berhembus. Begitulah maut. Tak satu pun kita tahu kapan ia datang menjemput. Entah esok atau lusa, entahlah. Namun kematian saudara kita, sudah cukup sebagai pengingat dan penyadar dari kelalaian kita, bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali kepada Allah Rabbul Izzati. Dunia akan kita tinggalkan di belakang, akhirat akan kita temui di depan. Ia akan datang pada waktu yang ditentukan. Allah I berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

Agustus 04, 2017

Jauhi Prasangka Buruk

Buruk sangka. Betapa sering ia hinggap di hati kita. Tak ada manusia, kecuali berpotensi mengalaminya. Betapa tidak, ia datang begitu cepat dalam lintasan pikiran hingga ia kerap tak disadari.  “Ah, si A pasti begini, si B pasti begitu, si C pasti demikian, dan seterusnya”. Begitulah. Perasangka itu hadir karena ketiadaan informasi dan bukti yang jelas. Akibatnya, kita pun kerap menduga berbagai kejadian dan peristiwa dengan dugaan-dugaan yang tak semestinya.

Dalam istilah syariat, “buruk sangka” dikenal dengan istilah “su’uzh-zhan” dan lawannya “baik sangka” dikenal dengan istilah “husnuzh-zhan”. Sikap buruk sangka dalam syariat Islam adalah suatu hal yang diharamkan. Allah I berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. al-Hujurat : 12). Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa (su’uzh-zhan).

Rasulullah r kemudian memperjelas dan mempertegas perintah dalam ayat di atas dengan sabdanya, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juli 28, 2017

Palestina Memanggil Kita

Bersyukurlah kepada Allah I, karena hari ini kita dapat melangkahkan kaki ke Rumah Allah dengan penuh ketenangan dan keamanan. Bersyukurlah kepada Allah I, karena saat kita duduk bersimpuh di Rumah-rumah Allah, tidak ada gempuran roket yang kita tunggu-tunggu untuk meluluhlantakkan Rumah Allah itu. Subhanallah, betapa banyak nikmat dari Allah I yang harus kita pertanggungjawabkan di Hari Kiamat.

Sekarang, bayangkanlah, jika kota kita ini menjadi sebuah kota yang diisolir dari seluruh penjurunya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara pesawat-pesawat jet tempur terbang berputar-putar di atas atap rumah tempat kita tinggal, pesawat-pesawat itu kemudian melepaskan rudal-rudalnya tepat menghunjam ke arah kita, ke arah anak-anak dan keluarga kita. Bayangkanlah, jika malam ini kita hidup dalam gelap-gulita, tak ada tempat bernaung, tak ada makanan, tak ada minuman, tak ada pakaian hangat untuk mengusir dingin, dan tak ada keluarga tempat berbagi duka.

Juli 13, 2017

Apa Setelah Ramadhan?

Lebih dari dua pekan yang lalu, bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan itu berlalu sudah. Ia akan menjadi saksi di hadapan Allah I atas segala perbuatan dan penyambutan setiap hamba di hari-harinya. Tak ada yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak. Seyogyanya, kita banyak memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah I menerima amal kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelumnya, kita juga berdoa agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Mengapa kita patut berdoa? Hal ini agar kita tidak termasuk golongan yang celaka dan merugi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang pernah disebut oleh Nabi r dalam haditsnya, “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan kebaikan tersebut? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang penting dan patut untuk kita renungkan bersama.

Mei 24, 2017

Sabar Seperti Ayyub

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah hidup para Nabi Allah I. Salah satunya adalah dari Nabi yang mulia, Ayyub u. Beliau mewariskan kita sebuah sifat mulia yang patut untuk diteladani. Sifat mulia itu adalah kesabaran. Sebuah sifat yang seharusnya menjadi karakter orang-orang beriman, sebagaimana perintah-Nya kepada mereka, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul (yang) telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf: 35). Ya, sebuah sifat yang ketika ia bersemayam dalam sanubari orang-orang beriman, maka Allah akan memberi ganjaran yang tidak terbatas. Allah I berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS. Az-Zumar: 10).  Ibnu Juraij rahimahullah menyatakan, “Telah sampai kepadaku bahwa pahala amal mereka yang sabar tidaklah dihitung sama sekali, namun terus ditambah hingga tak terhingga.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 443).

Tentang kisah Nabi Ayyub u, Allah I menyebutkannya dalam al-Qur’an, “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84).

Mei 17, 2017

Menyambut Ramadhan Mulia

Di depan kita bersama, kurang lebih satu pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.

Sebagai orang beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang teramat besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26) .
Bagaimana sikap yang baik menyambut bulan ini? Ibarat bumi yang kering menyambut turunnya hujan, ibarat seorang yang sedang sakit menyambut datangnya dokter, dan ibarat seseorang yang menunggu kekasihnya yang sudah lama dinanti, tentu perlu untuk memperhatikan hal-hal penting dalam rangka penyambutannya.

Mei 12, 2017

Angan-angan Mereka yang Telah Mati

Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki angan-angan. Ya, angan-angan yang  ingin direalisasikan menjadi sebuah kenyataan di masa yang akan datang. Apapun itu. Kebanyakannya, biasanya tidak jauh-jauh dari soal harta, tahta dan wanita. Rasulullah r mengabarkan bahwa angan-angan manusia di dunia tidak akan pernah habis sampai mereka masuk ke dalam kubur. Beliau r bersabda, “Seandainya seseorang memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah emas lagi, dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali debu (tidak ada yang bisa menghentikan keinginannya kecuali kematian) dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat” (HR. Bukhari). Begitulah tabiat asal manusia, selalu saja tak pernah puas untuk mewujudkan angan-angannya.

Sebesar apapun angan-angan kita di dunia ini, selama kita masih hidup, maka kesempatan untuk merealisasikannya masih ada. Yaitu dengan melakukan sebab-sebab yang sudah ditetapkan oleh Allah I. Namun, jika sudah tidak hidup lagi, tentu saja angan-angan itu menjadi mustahil untuk diwujudkan. Karena perwujudan angan-angan itu sudah terputuskan dari sebab. Tetapi, apakah mereka yang telah mati juga masih memiliki angan-angan yang ingin mereka wujudkan? Jawabannya, iya.

Mei 06, 2017

Modal ke Surga; Sudah Punya?

Surga, betapa indah kita menyebutnya. Tak ada yang terbayang kecuali kenikmatan dan keindahan. Mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, bahkan untuk terbetik dalam hati sanubari manusia sekalipun, keindahan itu belum dan tak akan pernah terbayangkan.

Surga hanya untuk orang-orang yang rindu kepadanya, yang mengaplikasikan makna rindu itu dengan amalan shalihnya, bukan dengan kemalasan dan berpangku tangan. Surga hanya untuk orang yang bertakwa. Ya, manusia-manusia bertakwa kepada Rabb-nya, bukan untuk manusia-manusia zhalim lagi durhaka, yang selalu menentang dan sombong terhadap ketetapan Tuhannya.

Lalu, kita pada kelompok yang mana? Kebanyakannya, kita selalu merasa telah menjadi seorang yang bertakwa. Benarkah pengakuan itu? Mari kita merenungi firman-firman Allah I yang menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.

Allah I berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” (QS. Adz-Dzariyat: 15-16). Dalam ayat ini, Allah menyifati orang-orang yang bertakwa itu dengan sifat ihsan. Sementara kata Nabi r, ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, dan jika engkau tidak melihatnya (dan itu pasti adanya), ketahuilah bahwa Allah I melihatmu.

Ada Apa di Bulan Sya’ban?

Hari ini, kita kembali dipertemukan oleh Allah I dengan salah satu bulan mulia, yakni Sya’ban. Beragam amalan dilakukan oleh umat Islam mewarnai keberkahan dan kemuliaan bulan ini. Akan tetapi, kemeriahan warna tersebut diciderai dengan banyakya amalan yang sebenarya tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah r. Hal ini karena kejahilan akan ilmu warisan beliau r

Pada kesempatan ini, redaksi akan membawakan pembahasan berkenaan dengan Bulan Sya’ban. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita sekalian. Selamat membaca!

Asal Nama Bulan Sya’ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

April 29, 2017

Segara Tunaikan Qadha’

Tak terasa, hari-hari istimewa insyaaAllah akan datang menemui kita dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Dia adalah bulan Ramadhan. Bulan yang mengundang kecintaan para hamba padanya demi melewati siang dan malam-malamnya yang syahdu. Bulan dimana langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah dan setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit pada tiap lapisannya.

Hari ini kita berada pada penghujung Rajab. Sebentar lagi akan masuk ke bulan Sya’ban. Di antara amalan yang disunnahkan di bulan Rajab dan Sya’ban sebelum Ramadhan tiba adalah memperbanyak puasa sunnah. Namun bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan selama beberapa hari, lebih utama baginya untuk menunaikan qadha’ (pengganti) puasa karena masih tersisanya kesempatan untuk menunaikan utang tersebut.

Sebagian orang sering menganggap remeh penunaian qadha’ puasa ini. Sampai-sampai utang puasanya menumpuk bertahun-tahun karena rasa malas untuk menunaikannya, padahal ia mampu.

April 22, 2017

Terus Mengalir

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana, kehidupan sementara, kehidupan yang sebentar saja. Jika kita dikaruniai usia yang sama dengan Rasulullah r , hidup kita di dunia sekitar 60 tahun saja. Mungkin ada yang lebih lama dari itu, tetapi banyak juga yang kurang dari itu. Pendek kata, jika waktunya telah tiba, kematian tak bisa ditunda. Allah I berfirman, “Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya” (QS. An Nahl : 61). Sementara, akhirat adalah negeri yang kekal dan tak berujung.

Maka, hidup yang sangat singkat ini harus diisi dengan bekal yang banyak. Selayaknya kita mempersiapkan bekal dengan amalan-amalan yang berbobot dan bernilai berat bahkan dengan pahala yang tak terputus meskipun kita telah wafat. Inilah yang biasa kita sebut sebagai amal jariyah.

April 15, 2017

Jangan Sampai Dilaknat Malaikat

Seperti yang kita ketahui, doa Malaikat adalah doa yang mustajab. Disamping karena mereka adalah makhluk yang dekat dengan Allah , doa yang dipanjatkan para Malaikat semuanya atas perintah dari Allah .  Belum lagi, sifat mereka yang selalu ta’at dan patuh atas perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, membuat mereka semakin istimewa di sisi-Nya. Allah menceritakan sifat mereka dalam AlQuran, “Mereka (orang kafir) berkata: “ArRahman telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha suci Allah, sebenarnya MalaikatMalaikat itu, adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya” (QS. Al-Anbiyaa’: 26 – 27). Dalam firman-Nya yang lain, “Mereka tidak pernah bermaksiat (durhaka) kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim : 6).

Maret 30, 2017

Memaknai Bulan Rajab

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena hari ini Dia masih memberikan kesempatan untuk hidup dan berjumpa dengan Bulan Rajab. Ada apa di Bulan Rajab?

Rajab adalah salah satu nama bulan dalam kalender hijriyah. Dalam urutan bulan-bulan hijriyah, bulan Rajab terletak di antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban. Dinamakan Rajab yang berarti agung karena dahulu di zaman jahiliyah, kaum Arab sangat mengagungkan bulan ini.

Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah : 36).

Maret 23, 2017

Resepsi Bukan Adu Gengsi

Resepsi pernikahan atau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “walimatul-‘ursy” merupakan tradisi masyarakat yang sebetulnya telah diajarkan Rasulullah r kepada umatnya. Resepsi pernikahan diselenggarakan sebagai sebuah bentuk rasa syukur kepada Allah I dan pengumuman bagi masyarakat bahwa kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami istri. Hal ini dicontohkan oleh Nabi r sendiri ketika menikahi isterinya, Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha. Beliau mengundang para sahabat untuk makan dalam rangka pernikahan tersebut (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga memberikan perintah untuk menggelar waliwah ketika salah seorang sahabatnya, Abdurrahman bin Auf t, melangsungkan pernikahannya. Beliau r bersabda, “Adakanlah walimah sekalipun dengan seekor kambing(HR. Bukhari). Berdasarkan dua riwayat ini, mayoritas ulama kemudian menyatakan hukumnya sebagai ibadah sunnah muakkadah.

Maret 16, 2017

Ketika Gemar Bermaksiat

Ada seorang ulama dahulu bernama Ibrahim bin Ad-ham  rahimahullah. Pada suatu hari, beliau didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Aba Ishak (begitu panggilan orang-orang kepada beliau), aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya.”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kamu mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Mendengar jawaban laki-laki tersebut gembira dan dengan penuh rasa ingin tahu yang besar dia bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

Maret 09, 2017

Menjadi Tamu dan Tuan Rumah (Bag. 2 - Selesai)

Melengkapi pembahasan tentang tuntunan menjadi tamu yang baik pada edisi yang lalu, edisi kali ini akan memaparkan secara ringkas tuntunan Islam ketika kita menjadi tuan rumah dalam rangka memuliakan tamu. Hal ini juga penting untuk dibahas, mengingat sikap ini, (yaitu) memuliakan tamu, adalah bagian dari keimanan kita kepada Allah I dan hari akhir. Rasulullah r bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya (tetangga dan tamu).”

Maret 02, 2017

Menjadi Tamu dan Tuan Rumah (Bag. 1)

Dua hari yang lalu, Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud, Raja Saudi Arabia, berkunjung ke negeri ini sebagai tamu negara yang istimewa. Kedatangannya disambut oleh riuh ramai masyarakat Indonesia. Sebagai tuan rumah, tentu saja kita patut berbahagia. Tamu istimewa pelayan dua tanah suci, Mekah dan Madinah, mengunjungi kita. Semoga kunjungan beliau ke negeri ini membawa berkah dan kebaikan bagi kedua negara.

Para pembaca yang kami muliakan, semoga Allah senantiasa merahmati kita semua.  Pada edisi kali ini, redaksi tidak akan membahas masalah terkait kunjungan kenegaraan tersebut. Biarlah media-media komunikasi massa yang ada, yang menyuguhkan beritanya kepada kita. Edisi kali ini akan menyuguhkan pembahasan tentang tuntunan Islam terkait tamu. Ada dua pembahasan pokok terkait tamu yang disebutkan dalam literatur Islam, yaitu (1) bagaimana tuntunan Islam ketika kita menjadi tamu dan (2) tuntunan Islam ketika kita menerima atau menjamu tamu. Dua masalah ini, insyaaAllah, akan kami bahas dalam dua edisi secara bersambung. Semoga Allah memberikan taufiqNya. Selamat membaca, semoga bermanfaat. ***

Februari 23, 2017

Dunia dan Akhirat, Sudahkah Kita Adil?

Kita acap kali tidak adil dalam memberi perhatian terhadap urusan dunia dan urusan akhirat. Seringkali seluruh perhatian dan potensi dikerahkan untuk urusan dunia, sedangkan akhirat seperlunya saja. Padahal dunia dan akhirat sangat tidak sebanding. Allah I menyebut dalam Kitab-Nya bahwa Akhirat lebih baik dari dunia. “Wal akhiratu khairun laka minal ula; dan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan yang pertama (dunia)”, kata Allah I dalam surat Adh-Dhuha. Bahkan akhirat tidak hanya lebih baik dari dunia. Ia juga lebih kekal. “Wal akhiratu khairun Wa abqa; dan akhirat lebih baik serta lebih kekal”, kata Allah I dalam ayat lain.

Januari 26, 2017

Jangan Mudah Menyebar Hoax

Setelah dua pekan tidak menyapa pembaca, alhamdulillah buletin yang kita cintai ini kembali hadir di hadapan para pembaca sekalian. Semoga kehadiran buletin senantiasa memberi arti dan manfaat bagi umat dan bangsa ini. Amin.

Pembahasan kita kali ini adalah terkait sebuah fenomena yang sedang ramai menghiasi media-media komunikasi hari ini. Apa itu? Dia adalah “hoax” (baca : hoaks). Tahukah kita apa itu hoax?

Secara bahasa, kata “hoax” berasal dari Bahasa Inggris yang berarti tipuan, menipu, berita bohong , berita palsu atau kabar burung. Hoax tidak lain adalah berita atau informasi dusta, bohong, dan tidak benar.

Hoax telah menjadi sebuah istilah yang begitu akrab di telinga kita hari-hari ini, menyusul maraknya penggunaan media sosial online sebagai sarana dalam menyebarkannya. Ia pun telah menjadi alat ampuh untuk menggiring opini masyarakat di negeri ini. Jauh sebelum kita, para penjajah melakukan strategi devide et impera di negeri ini dengan menyebarkan hoax di tengah-tengah umat. Hasilnya, hoax ini mampu mencerai-beraikan komponen bangsa ini waktu itu.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...