November 18, 2017

Miskin yang Sabar atau Kaya yang Bersyukur

Jika kita diminta untuk memilih, mana di antara dua keadaan yang akan dipilih, jadi orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur? Barangkali, banyak di antara kita yang lebih memilih untuk menjadi orang kaya yang bersyukur, dibanding menjadi orang miskin yang bersabar. Mengapa? Karena yang terbayang di benak kita jika menjadi orang kaya, hidup akan nyaman, bisa berbagi uang dan kehidupan kita menjadi terpandang serta disukai banyak orang. Sedangkan jika menjadi orang miskin, yang terbayang di benak kita adalah kehidupan yang menderita, serba kekurangan, dan mungkin saja kurang diperhatikan orang. Hal ini bisa jadi lumrah, karena secara naluri, kita biasanya lebih siap untuk menikmati kekayaan daripada menderita kemiskinan.
          
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah mana yang lebih utama menurut agama, menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur?

Para ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang ini. Para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan bahwa orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Hal ini seperti disebutkan pada hadits Nabi, “Orang-orang faqir di kalangan kaum muslimin kelak akan mendahului orang-orang kaya mereka dalam hal masuk surga selama setengah hari (di akhirat), yaitu lima ratus tahun(HR. Tirmidzi.  Shahih al-Tarhib Wa al-Tarhib, III/132). Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan bahwa Nabi sendiri selalu meminta kepada Allah agar diberi sifat ghina yaitu kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia.


Sebagai renungan untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak sejarah dan perjalanan hidup dari dua nabi Allah yang mulia, Nabi Ayyub dan Nabi Sulaiman alaihimas-salam. Keduanya adalah dua sosok Nabi yag ditaqdirkan oleh Allah mengalami keadaan yang berbeda satu sama lain. Dalam perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia, Allah telah menciptakan dua tipe manusia, agar dijadikan panutan bagi masyarakat generasi berikutnya.

Allah menciptakan Nabi Ayyub sebagai sosok yang dikenal sangat penyabar di tengah ujian berat yang beliau alami. Sebelumnya, Ayyub adalah hamba yang shalih dan sangat kaya, hartanya melimpah dan memiliki banyak anak. Allah mengujinya, dengan membalik keadaannya. Hebatnya, datangnya semua ujian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya diambil berikut hartanya. Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau kesulitan untuk mendapatkan sesuap makanan. Sampai akhirnya beliau sakit parah, tidak ada bagian kulit seluas titik jarum yang tidak dihinggapi penyakit. Semua orang menjauhinya, selain seorang istrinya yang setia mendampinginya, karena imannya kepada Allah. Menurut catatan Ibnu Katsir, ini terjadi selama 18 tahun (Tafsir Ibn Katsir, 7/74). Allah mengabadikan doa beliau ketika mengadu kepada Allah tentang derita yang beliau alami. Allah berfirman, “Ingatlah hamba Kami, Ayyub, ketika dia berdoa memanggil Rabbnya, “Sesunngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepadaku dengan nusb dan adzab.” (QS. Shad: 41). Sebagian ahli tafsir menyebutkan, makna “nusb“ dalam ayat ini adalah musibah sakit yang beliau derita dan makna “adzab” dalam ayat ini adalah musibah yang membersihkan semua harta dan anaknya.

Di sisi lain, Allah menciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang dikenal sangat pandai bersyukur, di tengah melimpahnya fasilitas dunia yang beliau miliki. Beliau menjadi raja  yang kekuasaannya meliputi alam manusia, jin, dan binatang. Itulah doa beliau yang Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa tertinggi di antara manusia. Allah berfirman, “Sulaiman berdoa, wahai Rabbku, berikanlah aku kerajaan yang tidak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemberi” (QS. Shad: 35).

Dua model manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam al-Qur’an pada surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduanya, baik Ayyub maupun Sulaiman, Allah sebut di akhir cerita, ”Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat” (QS. Shad: 30 dan 44).

Dari dua sosok Nabi tersebut, yakni Nabi Ayyub yang tetap sabar saat diuji dengan kemiskinan dan penderitaan, dan Nabi Sulaiman yang tetap bersyukur saat dikaruniai kejayaan dalam berbagai hal, Allah ingin memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana seharusnya bersikap, baik di kala miskin maupun kaya. Dan, Allah tidak membedakan di antara keduanya dalam kemuliaannya, karena keduanya sama-sama tinggi ketakwaannya.

Artinya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang lebih bertaqwa di antara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa(QS. al-Hujurat: 13).

Inilah pendapat yang terpilih dari dua pendapat yang ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanyakan mengenai hal ini. Beliau mejawab dengan jawaban yang sangat memuaskan. Beliau berkata, “Yang paling afdhal (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertakwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu bahwa keutamaan di antara orang kaya dan orang miskin tidak kembali pada miskin atau pun kayanya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya. Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan, hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13). Dalam ayat ini, Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya di antara kalian atau yang paling miskin di antara kalian.” (Madarijus Salikin, 2/442)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu Hurairah, “Ada yang mengatakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi mengatakan, “(Yang paling mulia adalah) Yusuf, Nabi Allah. Dia anak dari Nabi Allah (Ya’qub). Dia cucu dari Nabi Allah (Ishaq). Dan dia adalah keturunan kekasih Allah (Ibrahim).” Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi mengatakan, “Apakah mengenai barang tambang Arab yang kalian tanyakan? (Manusia adalah barang tambang), yang paling baik di antara mereka di masa Jahiliyah adalah yang paling baik di antara mereka di masa Islam, namun jika mereka memiliki ilmu.”

Sosok Nabi Muhammad Dalam Syukur dan Sabar

Beliau adalah uswatun hasanah bagi umat. Satu-satunya manusia yang hidupnya dijadikan sumpah oleh Allah. Ketika Allah menceritakan kejahatan kaum Sodom, Allah bersumpah menyebut ‘Demi umurmu.’ Allah berfirman,  “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka mabuk dalam kesesatan” (QS. al-Hijr: 72).

Terkait ayat ini,  Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat keterangan dari Ibnu Abbas, ”Belum pernah Allah menciptakan dan menumbuhkan manusia yang lebih mulia dari pada Muhammad. Aku belum pernah mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain beliau” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/542).

Dalam urusan syukur dan sabar, beliau mengumpulkan akhlak Nabi Ayyub dan akhlak Nabi Sulaiman sekaligus. Beliau kaya yang bersyukur dan sekaligus miskin yang sabar.

Anas bin Malik menceritakan, “Rasulullah tidak pernah diminta untuk kemaslahatan Islam, kecuali beliau pasti memberinya. Hingga suatu ketika datang seseorang (kepala suku), kemudian beliau memberikan kambing satu lembah kepada orang ini. Spontan dia pulang ke sukunya, dan mengatakan, “Wahai kaummu, masuklah ke dalam Islam. Karena Muhammad memberikan harta layaknya orang yang tidak takut miskin.” (HR. Muslim).

Dan hingga kini, kita belum pernah menjumpai ada orang yang mendermakan harta kambing satu lembah.

Beliau juga pernah memotong 100 ekor onta. Jika satu onta seharga 12 juta, berarti beliau berkurban senilai kurang lebih 1,2 Milyar. Itu korban perorangan, bukan perusahaan.

Di sisi lain, beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena tidak memiliki makanan. Beliau dan para istrinya tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Aisyah menjadi saksi sejarah kehidupan di keluarga Nabi, beliau berkata, “Tidak pernah keluarga Muhammad kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita yakin, kondisi semacam ini tidak pernah kita jumpai di keluarga kita. Kita tidak pernah sampai berfikir: adakah makanan esok pagi? Bahkan untuk bisa kenyang selama 1 bulan, kita tidak pernah memikirkannya.

Tetapi, lihatlah bagaimana sosok Nabi kita yang mulia. Beliau bisa bersyukur dengan kelimpahan harta dan kekayaan dengan jalan infaq dan sedekah, juga bisa bersabar dengan keterbatasan yang dimilikinya. Sungguh contoh yang teramat sempurna bagi kita semua.

Mengalir Sesuai Keadaan

Siapapun kita, tidak diajar untuk memaksakan diri untuk menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur. Kita yang saat ini berada dalam kondisi miskin, tidak bisa memaksa Sang Pencipta untuk menjadikan kita kaya. Demikian pula sebaliknya, kita yang saat ini berada dalam kondisi bekecukupan, juga tidak bisa memaksa Sang Kuasa untuk mengubah kita agar bisa mencicipi kemiskinan.

Itu artinya, setiap kita yang kaya, seharusnya tidak berfirkir bagaimana bisa menjadi miskin, tetapi berfikir bagaimana bisa memaksimalkan kesyukuran kepada Allah. Karena inilah yang menjadi tugas kita. Begitupula sebaliknya. Setiap kita yang miskin, seharusnya tidak memaksakan diri dalam berfirkir bagaimana bisa menjadi kaya, tetapi berfikir bagaimana bisa ridha dengan ketetapan Allah dan bersabar. Karena inilah yang menjadi tugasnya.

Seperti inilah yang dinasehatkan oleh cucu Nabi, Hasan bin Ali, kepada kita semua. Beliau berkata, “Siapa yang pasrah terhadap pilihan terbaik yang Allah berikan kepadanya, dia tidak berangan-angan untuk menggapai sesuatu yang lain” (Kanzul Ummal, Ibnu Asakir, no. 8538).

Tentu saja, kalimat-kalimat ini, sama sekali tidak mengandung  motivasi  kepada mereka yang miskin untuk tidak bekerja dan berusaha. Tidak, sama sekali tidak. Keterangan ini hanya menjelaskan tugas orang miskin di kondisi miskinnya, yaitu ridha dan bersabar. Sementara urusan bekerja dan mengejar dunia, sesungguhnya telah sejalan dengan nafsu manusia, sehingga terkadang tidak perlu untuk dimotivasi. Begitujua, mereka yang kaya, tidak dimotivasi untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja agar jatuh miskin supaya bisa bersabar. Tidak, tidak seperti itu.

Mukmin: Antara Sabar dan Syukur

Inilah tabiat setiap mukmin sejati. Mereka tidak pernah lepas dari dua tugas itu, antara bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika musibah. Bahkan tabiat ini membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran dengan mereka. Dalam sebuah sabdanya, beliau memuji orang yang beriman, “Sungguh mengherankan kondisi orang yang beriman, semua urusannya baik. Itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika dia mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberi kita sifat taqwa, sifat ‘afaf (yang selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik) dan memberikan kita sifat ghina (merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Wallahu a’lam.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...