Jika kita diminta untuk memilih, mana di antara dua keadaan yang akan
dipilih, jadi orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur?
Barangkali, banyak di antara kita yang lebih memilih untuk menjadi orang kaya yang
bersyukur, dibanding menjadi orang miskin yang bersabar. Mengapa? Karena yang
terbayang di benak kita jika menjadi orang kaya, hidup akan nyaman, bisa
berbagi uang dan kehidupan kita menjadi terpandang serta disukai banyak orang.
Sedangkan jika menjadi orang miskin, yang terbayang di benak kita adalah
kehidupan yang menderita, serba kekurangan, dan mungkin saja kurang
diperhatikan orang. Hal ini bisa jadi lumrah, karena secara naluri, kita
biasanya lebih siap untuk menikmati kekayaan daripada menderita kemiskinan.
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah mana yang lebih utama
menurut agama, menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur?
Para ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang ini. Para ulama yang
menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan bahwa orang
miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Hal ini
seperti disebutkan pada hadits Nabi, “Orang-orang faqir di kalangan kaum
muslimin kelak akan mendahului orang-orang kaya mereka dalam hal masuk
surga selama setengah hari (di akhirat), yaitu lima ratus tahun” (HR. Tirmidzi. Shahih al-Tarhib Wa al-Tarhib, III/132). Sedangkan ulama yang
menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan bahwa
Nabi sendiri selalu meminta kepada Allah agar diberi sifat ghina yaitu
kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia.
Sebagai renungan untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak
sejarah dan perjalanan hidup dari dua nabi Allah yang mulia, Nabi Ayyub dan
Nabi Sulaiman alaihimas-salam. Keduanya adalah dua sosok Nabi yag
ditaqdirkan oleh Allah mengalami keadaan yang berbeda satu sama lain. Dalam
perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia, Allah telah menciptakan dua tipe
manusia, agar dijadikan panutan bagi masyarakat generasi berikutnya.
Allah menciptakan Nabi Ayyub sebagai sosok yang dikenal sangat
penyabar di tengah ujian berat yang beliau alami. Sebelumnya, Ayyub adalah
hamba yang shalih dan sangat kaya, hartanya melimpah dan memiliki banyak anak.
Allah mengujinya, dengan membalik keadaannya. Hebatnya, datangnya semua ujian
itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya diambil berikut
hartanya. Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau kesulitan untuk
mendapatkan sesuap makanan. Sampai akhirnya beliau sakit parah, tidak ada
bagian kulit seluas titik jarum yang tidak dihinggapi penyakit. Semua orang
menjauhinya, selain seorang istrinya yang setia mendampinginya, karena imannya
kepada Allah. Menurut catatan Ibnu Katsir, ini terjadi selama 18 tahun (Tafsir Ibn Katsir, 7/74).
Allah
mengabadikan doa beliau ketika mengadu kepada Allah tentang derita yang beliau
alami. Allah berfirman, “Ingatlah hamba Kami, Ayyub, ketika dia berdoa
memanggil Rabbnya, “Sesunngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepadaku dengan
nusb dan adzab.” (QS. Shad: 41). Sebagian ahli tafsir menyebutkan, makna “nusb“ dalam ayat ini
adalah musibah sakit yang beliau derita dan makna “adzab” dalam ayat ini
adalah musibah yang membersihkan semua harta dan anaknya.
Di sisi lain, Allah menciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang
dikenal sangat pandai bersyukur, di tengah melimpahnya fasilitas dunia yang
beliau miliki. Beliau menjadi raja yang
kekuasaannya meliputi alam manusia, jin, dan binatang. Itulah doa beliau yang
Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa tertinggi di antara manusia.
Allah berfirman, “Sulaiman berdoa, wahai Rabbku, berikanlah aku kerajaan
yang tidak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau
Dzat Yang Maha Pemberi” (QS. Shad: 35).
Dua model manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam al-Qur’an pada
surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduanya, baik Ayyub maupun Sulaiman,
Allah sebut di akhir cerita, ”Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat” (QS. Shad: 30 dan 44).
Dari dua sosok Nabi tersebut, yakni Nabi Ayyub yang tetap sabar saat
diuji dengan kemiskinan dan penderitaan, dan Nabi Sulaiman yang tetap bersyukur
saat dikaruniai kejayaan dalam berbagai hal, Allah ingin memberikan pelajaran
kepada manusia bagaimana seharusnya bersikap, baik di kala miskin maupun kaya.
Dan, Allah tidak membedakan di antara keduanya dalam kemuliaannya, karena
keduanya sama-sama tinggi ketakwaannya.
Artinya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi
Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang
lebih bertaqwa di antara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah
orang yang paling bertaqwa” (QS. al-Hujurat: 13).
Inilah pendapat yang terpilih dari dua pendapat yang ada.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanyakan
mengenai hal ini. Beliau mejawab dengan jawaban yang sangat memuaskan. Beliau
berkata, “Yang paling afdhal (utama) di antara keduanya adalah yang paling
bertakwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam
taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan
ahli ilmu bahwa keutamaan di antara orang kaya dan orang miskin tidak kembali
pada miskin atau pun kayanya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan
hakikatnya. Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan,
hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala
berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13). Dalam ayat ini, Allah
tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya di antara
kalian atau yang paling miskin di antara kalian.” (Madarijus Salikin, 2/442)
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu
Hurairah, “Ada yang mengatakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa.” Kemudian mereka
yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi
mengatakan, “(Yang paling mulia adalah) Yusuf, Nabi Allah. Dia anak dari Nabi
Allah (Ya’qub). Dia cucu dari Nabi Allah (Ishaq). Dan dia adalah keturunan
kekasih Allah (Ibrahim).” Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan
itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi mengatakan, “Apakah mengenai barang tambang
Arab yang kalian tanyakan? (Manusia adalah barang tambang), yang paling baik di
antara mereka di masa Jahiliyah adalah yang paling baik di antara mereka di
masa Islam, namun jika mereka memiliki ilmu.”
Sosok Nabi Muhammad Dalam Syukur dan Sabar
Beliau adalah uswatun hasanah bagi umat. Satu-satunya manusia yang
hidupnya dijadikan sumpah oleh Allah. Ketika Allah menceritakan kejahatan kaum
Sodom, Allah bersumpah menyebut ‘Demi umurmu.’ Allah berfirman, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya
mereka mabuk dalam kesesatan” (QS. al-Hijr: 72).
Terkait ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah
menyebutkan riwayat keterangan dari Ibnu Abbas, ”Belum pernah Allah menciptakan
dan menumbuhkan manusia yang lebih mulia dari pada Muhammad. Aku belum pernah
mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain beliau” (Tafsir Ibnu Katsir,
4/542).
Dalam urusan syukur dan sabar, beliau mengumpulkan akhlak Nabi Ayyub
dan akhlak Nabi Sulaiman sekaligus. Beliau kaya yang bersyukur dan sekaligus
miskin yang sabar.
Anas bin Malik menceritakan, “Rasulullah tidak pernah diminta untuk
kemaslahatan Islam, kecuali beliau pasti memberinya. Hingga suatu ketika datang
seseorang (kepala suku), kemudian beliau memberikan kambing satu lembah kepada
orang ini. Spontan dia pulang ke sukunya, dan mengatakan, “Wahai kaummu,
masuklah ke dalam Islam. Karena Muhammad memberikan harta layaknya orang yang
tidak takut miskin.” (HR. Muslim).
Dan hingga kini, kita belum pernah menjumpai ada orang yang
mendermakan harta kambing satu lembah.
Beliau juga pernah memotong 100 ekor onta. Jika satu onta seharga 12
juta, berarti beliau berkurban senilai kurang lebih 1,2 Milyar. Itu korban
perorangan, bukan perusahaan.
Di sisi lain, beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena
tidak memiliki makanan. Beliau dan para istrinya tidak pernah kenyang selama 3
hari berturut-turut. Aisyah menjadi saksi sejarah kehidupan di keluarga Nabi,
beliau berkata, “Tidak pernah keluarga Muhammad kenyang dengan makanan dari
gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga
beliau diwafatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita yakin, kondisi semacam ini tidak pernah kita jumpai di keluarga
kita. Kita tidak pernah sampai berfikir: adakah makanan esok pagi? Bahkan untuk
bisa kenyang selama 1 bulan, kita tidak pernah memikirkannya.
Tetapi, lihatlah bagaimana sosok Nabi kita yang mulia. Beliau bisa
bersyukur dengan kelimpahan harta dan kekayaan dengan jalan infaq dan sedekah,
juga bisa bersabar dengan keterbatasan yang dimilikinya. Sungguh contoh yang
teramat sempurna bagi kita semua.
Mengalir Sesuai Keadaan
Siapapun kita, tidak diajar untuk memaksakan diri untuk menjadi miskin
yang sabar atau kaya yang bersyukur. Kita yang saat ini berada dalam kondisi
miskin, tidak bisa memaksa Sang Pencipta untuk menjadikan kita kaya. Demikian
pula sebaliknya, kita yang saat ini berada dalam kondisi bekecukupan, juga
tidak bisa memaksa Sang Kuasa untuk mengubah kita agar bisa mencicipi
kemiskinan.
Itu artinya, setiap kita yang kaya, seharusnya tidak berfirkir
bagaimana bisa menjadi miskin, tetapi berfikir bagaimana bisa memaksimalkan
kesyukuran kepada Allah. Karena inilah yang menjadi tugas kita. Begitupula
sebaliknya. Setiap kita yang miskin, seharusnya tidak memaksakan diri dalam
berfirkir bagaimana bisa menjadi kaya, tetapi berfikir bagaimana bisa ridha
dengan ketetapan Allah dan bersabar. Karena inilah yang menjadi tugasnya.
Seperti inilah yang dinasehatkan oleh cucu Nabi, Hasan bin Ali, kepada
kita semua. Beliau berkata, “Siapa yang pasrah terhadap pilihan terbaik yang
Allah berikan kepadanya, dia tidak berangan-angan untuk menggapai sesuatu yang
lain” (Kanzul
Ummal, Ibnu Asakir, no. 8538).
Tentu saja, kalimat-kalimat ini, sama sekali tidak mengandung motivasi
kepada mereka yang miskin untuk tidak bekerja dan berusaha. Tidak, sama
sekali tidak. Keterangan ini hanya menjelaskan tugas orang miskin di kondisi
miskinnya, yaitu ridha dan bersabar. Sementara urusan bekerja dan mengejar
dunia, sesungguhnya telah sejalan dengan nafsu manusia, sehingga terkadang
tidak perlu untuk dimotivasi. Begitujua, mereka yang kaya, tidak dimotivasi
untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja agar jatuh miskin supaya bisa
bersabar. Tidak, tidak seperti itu.
Mukmin: Antara Sabar dan Syukur
Inilah tabiat setiap mukmin sejati. Mereka tidak pernah lepas dari dua
tugas itu, antara bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika musibah.
Bahkan tabiat ini membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran dengan
mereka. Dalam sebuah sabdanya, beliau memuji orang yang beriman, “Sungguh
mengherankan kondisi orang yang beriman, semua urusannya baik. Itu tidak
dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Ketika dia mendapatkan kenikmatan,
dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika dia mendapatkan musibah, dia
bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim).
Semoga Allah memberi kita sifat taqwa, sifat ‘afaf (yang selalu
menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik) dan memberikan kita sifat ghina
(merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).
Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar