Oktober 27, 2017

Berlari dari Popularitas

Hati kita mungkin akan berbunga-bunga, saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan, seorang atau beberapa orang menegur kita. Kita tak mengenal mereka. Tetapi Allah menguji kita,  ternyata mereka mengenal kita. “Ustadz, kami biasa mengikuti pengajian ustadz”. “Wajah Ustadz sering kami lihat di TV”. “Kata orang,Bapak adalah orang yang dermawan”. Atau perkatan-perkataan semacamnya, yang kerap membuat kita “berbunga-bunga”.

Akan tetapi, sadarkah kita, bagaimana dengan diri kita saat itu? Bagaimana dengan nasib hati kita yang lemah saat itu? Hati yang rapuh pada pujian. Hati yang gemeretak pada sanjungan.

Begitulah. Ketenaran akan perlahan-lahan meyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan memperlihatkannya agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat ini adalah perkara yang teramat berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H).

Coba kita lihat, bagaimana orang-orang shalih terdahulu menjaga diri dan amalannya dari ketenaran di hadapan manusia. Salah satunya adalah Imam Ahmad. Beliau adalah seorang ‘alim dan ahli hadits terkemuka yang pernah dimiliki umat ini. Imam Syafi'i rahimahullah mengatakan tentang diri Imam Ahmad, “Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal”.

Yahya bin Ma’in pernah bertutur, “Aku tak pernah melihat seperti Ahmad bin Hanbal. Kami menyertainya selama 50 tahun, namun tak pernah sekalipun Ia membanggakan keshalihan dan kebaikannya kepada kami. Beliau rahimahullah biasa mengatakan, ‘Kita ini adalah kaum yang miskin (baca: payah)’.”
Para ulama hadits menuturkan, “Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke Pasar Baghdad untuk membeli seikat kayu bakar. Beliau lalu memanggulnya di atas pundaknya. Tapi ketika orang-orang mengenalinya, para pemilik dagangan meninggalkan dagangan mereka. Para pemilik kedai meninggalkan kedai mereka. Para pejalan kaki berhenti di jalan-jalan mereka, untuk menyalaminya. Mereka mengatakan, “Biar kami yang membawakan kayu Anda!” Namun beliau menepiskan tangannya. Wajahnya memerah sedih. Lalu air matanya menetes, sembari berucap, “Kita ini adalah kaum yang miskin. Andai saja Allah tak menutupi aib ini, maka semuanya akan terbongkar”.

Suatu waktu, seorang pria datang memujinya. Namun Imam Ahmad mengatakan padanya, “Aku bersaksi kepada Allah, Sungguh aku mengecammu atas ucapan itu. Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahanku, engkau akan melumuri kepalaku dengan tanah.” Di kesempatan lain, beliau berucap, “Duhai, andai saja aku tak kenal dengan popularitas. Andai saja aku hidup di salah satu lembah Mekkah, agar tidak ada lagi manusia yang mengenaliku” (Hilyah al-Auliya’, 9/181).

Sejatinya, Islam mengajarkan kita untuk berhati-hati dari sifat ingin terkenal dan dipuji. Bahkan, ajaran Islam memberi pesan agar kita menjauh sebisa mungkin untuk menjadi tenar atau populer.

Mendewakan dan memburu ketenaran, bagaikan semut yang melihat genangan madu. Ia terpukau. Semakin ia meraihnya ke tengah, semakin tenggelamlah ia dalam genangan madu. Para penuntut ilmu dan orang-orang shalih pun tak luput dari ancaman penyakit ini. Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Hal yang paling terakhir luntur dari hati orang-orang shalih: cinta kekuasaan dan cinta eksistensi (popularitas)” (Al-I’tisham Asy-Syathibi). Begitu juga, Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, ”Sungguh aku mengangankan andai saja manusia dapat mengetahui ilmu (yang kuajarkan) ini tanpa ada satupun yang dinisbatkan (disandarkan) kepadaku selama-lamanya, sehingga dengan begitu aku mendapatkan pahala tanpa perlu mendapatkan pujian manusia”.

Akan tetapi, perlu dipahami di sini, jika ketenaran itu datang tanpa dicari, maka tidak mengapa dan tidak tercela. Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela”. Hendaknya kita tidak terlalu bangga dengan amal kita, ini yang membuat kita merasa sudah pantas terkenal, padahal amal kita sangat sedikit dan itupun belum tentu diterima.

Mari lihat contoh berikutnya. Ia adalah seorang tabi’in terbaik bernama Uwais Al-Qarni. Dengan kemuliaan beliau, sampai-sampai seorang Umar bin Khattab t, mendatangi Uwais dan meminta agar Uwais memintakan ampun untuknya kepada Allah. Mengapa kepada Uwais? Karena Uwais adalah seorang tabi’in yang sangat berbakti kepada ibunya dan Rasulullah r mengabarkan bahwa jika Uwais berdo’a, do’anya pasti dikabulkan. Atas pemintaan Umar tersebut,  Uwais-pun melakukan apa yang diminta beliau.

Saat akan pergi, Umar bertanya kepadanya, “Anda mau pergi kemana?” Uwais menjawab, “Kufah”. Umar bertanya, “Perlukah saya tulis untukmu sebuah memo kepada pegawai saya di Kufah (agar dia memenuhi kebutuhanmu)?”. Ia pun menjawab, “Aku lebih senang menjadi manusia yang tidak diperhitungkan“.

 MasyaAllah, Uwais Al-Qarni memilih untuk tidak terkenal dan dikenal manusia. Bagaimana dengan kita? Kita bukanlah seorang yang diberitakan oleh Rasulullah akan keshalihan kita. Kita juga bukan seorang tabi’in yang mulia. Mungkin, kita juga bukan seorang anak yang berbakti kepada orangtua. Bagaimana kita bisa tamak dengan ketenaran?

Begitulah kisah orang-orang “tersembunyi”. Merekalah “al-Alkhfiya’”. Mereka adalah orang–orang yang sepi, tersembunyi. Mereka adalah orang-orang yang memahami benar bahwa beramal -sekecil apaun itu- semata-mata demi Allah Ta’ala saja. Tidak untuk yang lain. Dan mereka selalu ada di setiap zaman. Namun begitulah, sungguh tidak mudah menjumpai mereka. Bahkan teramat sulit.

Orang-orang seperti mereka benar-benar tidak pandai bertingkah demi menarik simpati manusia. Tanpa bermaksud merendahkan sesama manusia, namun para manusia bagi mereka sangat tidak pantas untuk dijadikan sumber simpati, penghargaan dan perhormatan. Simpati yng mereka cari adalah simpati Sang Agung, Allah Azza wa Jalla. Karenanya, mereka tidak akan pernah berlagak khusyu’ dan zuhud di hadapan manusia, lalu kehilangan –dari sifat khusyu’ dan zuhud – saat berhadapan dengan Allah Sang Khalik. Sehingga, sangatlah pantas, jika perikehidupan mereka kemudian menjadi inspirasi bagi kita.

Merekalah manusia-manusia langit. Ya, manusia yang mungkin tidak tenar di bumi, tetapi terkenal di langit.  Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata,  “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini” (HR. Bukhari).

Sebagai renungan bagi kita, perhatikan kisah dalam hadits berikut. Hadits ini menceritakan bagaimana kesudahan orang-orang yang beramal dengan tujuan riya’ dan agar terkenal di antara manusia.

Rasulullah r bersabda, “Orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati dalam peperangan. Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatNya, maka dia pun mengakuinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah diucapkan (oleh manusia).”

Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya, sampai dia pun dilemparkan di neraka. Kemudian ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengakuinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al Qur’an.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.

Kemudian ada seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan menganugerahinya segala macam harta. Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan.” Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), kemudian dia dilemparkan di neraka” (HR. Muslim).

Olehnya Saudaraku, berlarilah dengan hati kita dari kemasyhuran. Meski kita terpaksa menjadi masyhur. Berlarilah menjauh dari popularitas. Meski kita terpaksa menjadi sosok yang populis. Berlarilah di sepertiga akhir malam. Berlarilah di kesenderian kita bersama Rabb Pencipta. Berlarilah sambil menggumamkan istighfar tanpa putus. Berlarilah sambil mohon keteguhan jiwa, agar selalu ikhlas dan ikhlas. Semoga di penghujung jalan, kita mendapati buahnya berupa keselamatan dan kebahagiaan hakiki di sana.  Ya Allah, ampuni hamba atas segala ketidakikhlasan yang menyelusup dalam jiwa ini. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...