Hati kita mungkin
akan berbunga-bunga, saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan, seorang atau
beberapa orang menegur kita. Kita tak mengenal mereka. Tetapi Allah menguji
kita, ternyata mereka mengenal kita.
“Ustadz, kami biasa mengikuti pengajian ustadz”. “Wajah Ustadz sering kami
lihat di TV”. “Kata orang,Bapak adalah orang yang dermawan”. Atau
perkatan-perkataan semacamnya, yang kerap membuat kita “berbunga-bunga”.
Akan tetapi,
sadarkah kita, bagaimana dengan diri kita saat itu? Bagaimana dengan nasib hati
kita yang lemah saat itu? Hati yang rapuh pada pujian. Hati yang gemeretak pada
sanjungan.
Begitulah. Ketenaran
akan perlahan-lahan meyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap
melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan
memperlihatkannya agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat
ini adalah perkara yang teramat berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah
berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat
daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro,
cet.I, 1422 H).
Coba kita lihat,
bagaimana orang-orang shalih terdahulu menjaga diri dan amalannya dari
ketenaran di hadapan manusia. Salah satunya adalah Imam Ahmad. Beliau adalah
seorang ‘alim dan ahli hadits terkemuka yang pernah dimiliki umat ini. Imam
Syafi'i rahimahullah mengatakan tentang diri Imam Ahmad, “Setelah saya
keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih
terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal”.
Yahya bin Ma’in
pernah bertutur, “Aku tak pernah melihat seperti Ahmad bin Hanbal. Kami
menyertainya selama 50 tahun, namun tak pernah sekalipun Ia membanggakan keshalihan
dan kebaikannya kepada kami. Beliau rahimahullah biasa mengatakan, ‘Kita
ini adalah kaum yang miskin (baca: payah)’.”
Para ulama hadits
menuturkan, “Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke Pasar Baghdad untuk
membeli seikat kayu bakar. Beliau lalu memanggulnya di atas pundaknya. Tapi
ketika orang-orang mengenalinya, para pemilik dagangan meninggalkan dagangan
mereka. Para pemilik kedai meninggalkan kedai mereka. Para pejalan kaki
berhenti di jalan-jalan mereka, untuk menyalaminya. Mereka mengatakan, “Biar
kami yang membawakan kayu Anda!” Namun beliau menepiskan tangannya. Wajahnya
memerah sedih. Lalu air matanya menetes, sembari berucap, “Kita ini adalah kaum
yang miskin. Andai saja Allah tak menutupi aib ini, maka semuanya akan terbongkar”.
Suatu waktu, seorang
pria datang memujinya. Namun Imam Ahmad mengatakan padanya, “Aku bersaksi
kepada Allah, Sungguh aku mengecammu atas ucapan itu. Demi Allah, andai engkau
tahu dosa dan kesalahanku, engkau akan melumuri kepalaku dengan tanah.” Di
kesempatan lain, beliau berucap, “Duhai, andai saja aku tak kenal dengan
popularitas. Andai saja aku hidup di salah satu lembah Mekkah, agar tidak ada
lagi manusia yang mengenaliku” (Hilyah
al-Auliya’, 9/181).
Sejatinya, Islam
mengajarkan kita untuk berhati-hati dari sifat ingin terkenal dan dipuji.
Bahkan, ajaran Islam memberi pesan agar kita menjauh sebisa mungkin untuk
menjadi tenar atau populer.
Mendewakan dan
memburu ketenaran, bagaikan semut yang melihat genangan madu. Ia terpukau.
Semakin ia meraihnya ke tengah, semakin tenggelamlah ia dalam genangan madu.
Para penuntut ilmu dan orang-orang shalih pun tak luput dari ancaman penyakit
ini. Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Hal yang paling terakhir
luntur dari hati orang-orang shalih: cinta kekuasaan dan cinta eksistensi
(popularitas)” (Al-I’tisham Asy-Syathibi).
Begitu juga, Imam Syafi’i rahimahullah
pernah berkata, ”Sungguh aku mengangankan andai saja manusia dapat
mengetahui ilmu (yang kuajarkan) ini tanpa ada satupun yang dinisbatkan (disandarkan)
kepadaku selama-lamanya, sehingga dengan begitu aku mendapatkan pahala tanpa
perlu mendapatkan pujian manusia”.
Akan tetapi, perlu
dipahami di sini, jika ketenaran itu datang tanpa dicari, maka tidak mengapa
dan tidak tercela. Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Yang
tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar karena
karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela”. Hendaknya kita
tidak terlalu bangga dengan amal kita, ini yang membuat kita merasa sudah
pantas terkenal, padahal amal kita sangat sedikit dan itupun belum tentu
diterima.
Mari lihat contoh
berikutnya. Ia adalah seorang tabi’in terbaik bernama Uwais Al-Qarni. Dengan
kemuliaan beliau, sampai-sampai seorang Umar bin Khattab t, mendatangi Uwais dan meminta agar Uwais memintakan
ampun untuknya kepada Allah. Mengapa kepada Uwais? Karena Uwais adalah seorang
tabi’in yang sangat berbakti kepada ibunya dan Rasulullah r mengabarkan bahwa jika Uwais berdo’a, do’anya pasti
dikabulkan. Atas pemintaan Umar tersebut,
Uwais-pun melakukan apa yang diminta beliau.
Saat akan pergi,
Umar bertanya kepadanya, “Anda mau pergi kemana?” Uwais menjawab, “Kufah”. Umar
bertanya, “Perlukah saya tulis untukmu sebuah memo kepada pegawai saya di Kufah
(agar dia memenuhi kebutuhanmu)?”. Ia pun menjawab, “Aku lebih senang menjadi
manusia yang tidak diperhitungkan“.
MasyaAllah, Uwais Al-Qarni memilih untuk tidak
terkenal dan dikenal manusia. Bagaimana dengan kita? Kita bukanlah seorang yang
diberitakan oleh Rasulullah akan keshalihan kita. Kita juga bukan seorang
tabi’in yang mulia. Mungkin, kita juga bukan seorang anak yang berbakti kepada
orangtua. Bagaimana kita bisa tamak dengan ketenaran?
Begitulah kisah
orang-orang “tersembunyi”. Merekalah “al-Alkhfiya’”. Mereka adalah orang–orang
yang sepi, tersembunyi. Mereka adalah orang-orang yang memahami benar bahwa
beramal -sekecil apaun itu- semata-mata demi Allah Ta’ala saja. Tidak untuk
yang lain. Dan mereka selalu ada di setiap zaman. Namun begitulah, sungguh
tidak mudah menjumpai mereka. Bahkan teramat sulit.
Orang-orang seperti
mereka benar-benar tidak pandai bertingkah demi menarik simpati manusia. Tanpa
bermaksud merendahkan sesama manusia, namun para manusia bagi mereka sangat
tidak pantas untuk dijadikan sumber simpati, penghargaan dan perhormatan.
Simpati yng mereka cari adalah simpati Sang Agung, Allah Azza wa Jalla.
Karenanya, mereka tidak akan pernah berlagak khusyu’ dan zuhud di hadapan
manusia, lalu kehilangan –dari sifat khusyu’ dan zuhud – saat berhadapan dengan
Allah Sang Khalik. Sehingga, sangatlah pantas, jika perikehidupan mereka
kemudian menjadi inspirasi bagi kita.
Merekalah
manusia-manusia langit. Ya, manusia yang mungkin tidak tenar di bumi, tetapi
terkenal di langit. Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai
seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Jibril,
aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibril pun mencintainya, lalu
Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah
mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh
penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap
makhluk Allah di muka bumi ini” (HR.
Bukhari).
Sebagai renungan
bagi kita, perhatikan kisah dalam hadits berikut. Hadits ini menceritakan
bagaimana kesudahan orang-orang yang beramal dengan tujuan riya’ dan agar
terkenal di antara manusia.
Rasulullah r bersabda, “Orang yang pertama kali disidang pada
hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati dalam peperangan. Lalu dia
didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatNya,
maka dia pun mengakuinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan
nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai
aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau
melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah
diucapkan (oleh manusia).”
Kemudian
diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya,
sampai dia pun dilemparkan di neraka. Kemudian ada orang yang belajar agama dan
mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah
memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengakuinya. Allah berkata, “Apa
yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah
belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al Qur’an.” Allah berkata,
“Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan
engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.”
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan
wajahnya (terjerembab di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.
Kemudian ada
seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan menganugerahinya
segala macam harta. Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan
nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah
engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan
satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ
semata-mata karena-Mu.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau
melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah
dilontarkan.” Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret
dengan wajahnya (terjerembab di tanah), kemudian dia dilemparkan di neraka” (HR. Muslim).
Olehnya Saudaraku,
berlarilah dengan hati kita dari kemasyhuran. Meski kita terpaksa menjadi
masyhur. Berlarilah menjauh dari popularitas. Meski kita terpaksa menjadi sosok
yang populis. Berlarilah di sepertiga akhir malam. Berlarilah di kesenderian
kita bersama Rabb Pencipta. Berlarilah sambil menggumamkan istighfar tanpa
putus. Berlarilah sambil mohon keteguhan jiwa, agar selalu ikhlas dan ikhlas.
Semoga di penghujung jalan, kita mendapati buahnya berupa keselamatan dan
kebahagiaan hakiki di sana. Ya Allah,
ampuni hamba atas segala ketidakikhlasan yang menyelusup dalam jiwa ini. Wallahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar