Mei 22, 2012

Memaknai Bulan Rajab Secara Hakiki

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena hari ini Dia I masih memberikan kesempatan untuk hidup dan berjumpa dengan Bulan Rajab. Ada apa di Bulan Rajab?

Dalam buletin yang kita cintai ini, Edisi 35 Tahun II/Rajab 1430 H/Juli 2009 M yang lalu, kita telah mengetahui beberapa hadits yang populer dan banyak tersebar berkaitan dengan keutamaan dan amalan di bulan Rajab. Namun sayang, hadits-hadits tersebut merupakan hadits-hadits yang lemah, bahkan sebagiannya maudhu’ atau palsu. Sehingga jelas tidak dapat dijadikan sebagai dasar dan acuan dalam pelaksanaan amalan ibadah. Silahkan Anda membaca kembali, semoga memperoleh faidah dan nilai tambah.

Dalam edisi kali ini, kami kembali mengangkat bahasan tentang bulan Rajab. Meskipun dalam penyajian yang berbeda, mungkin secara esensi mengandung makna yang sama dan berulang dari edisi sebelumnya.

Sebuah nasehat dari sahabat Rasulullah r yang mulia, Ali bin Abi Thalib t berkata, "Ingat-ingatlah (ilmu) hadits, sungguh jika kalian tidak melakukannya maka ilmu akan hilang” [Al-Muhadditsul Fashil karya Ar-Ramahurmuzi hal : 545]. Selamat membaca. Semoga bermanfaat ...

Adab Buang Hajat yang Terlupakan

Sungguh sempurna agama ini. Setiap perikehidupan telah diatur sedemikian rapi dan mudah, sehingga segalanya berjalan teratur dan indah. Dari hal terbesar, seperti urusan kenegaraan atau jihad, sampai pada perkara remeh dan cenderung dibenci karena sifatnya yang kotor yakni buang hajat.
Semuanya telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah I  dan RasulNya Muhammad r. Maka tak heran, jika suatu ketika kaum musyrikin pernah terperangah seraya berkata kepada sahabat Salman Al-Farisi t : “Sungguh nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu sampai-sampai perkara adab buang hajat sekalipun.” Salman menjawab: “Ya, benar…” (HR. Muslim No. 262).
Maka, dalam edisi kali ini kami akan membahas beberapa adab dan etika yang patut kita perhatikan ketika akan, sedang dan setelah buang hajat. Hendaknya perkara – perkara ini tidak diangggap remeh karena telah menjadi bagian dari agama kita. Hendaknya kita senantiasa tamak dengan pahala, justru tehadap hal – hal “kecil” yang banyak dilupakan oleh manusia. Sungguh merugi, jika kesempatan meraup pehala lewat begitu saja, padahal amat sangat mudah untuk diamalkan. Semoga kita senantiasa diberi taufik oleh Allah I. Selamat membaca. 
Pertama : Menutup diri dan menjauh dari manusia ketika buang hajat.

Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah tbeliau berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah r  ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.” (HR. Ibnu Majah no. 335. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini shahih).

Mei 11, 2012

Berdoa Untuk Suriah

Ada sebuah negeri bernama Syam. Tentang negeri itu, Nabi kita Muhammad r  mengatakan tentang
keutamaannya :

Pergilah ke Syam, karena ia adalah bumi pilihan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaikNya untuk ke sana. Jika kalian tidak mau, maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani).

Kemudian dalam kesempatan lain, beliau r  mengatakan :

“Beruntunglah Syam!”  Sahabat bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Lalu beliau r menjawab : “Karena sungguh malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya kepada negeri itu.” (Lihat Shahih al-Tirmidzi, 3/254).

Bahkan secara spesifik, Nabi kita r yang tercinta itu mendoakan negeri Syam dengan doa yang luar biasa. Beliau r mengatakan :

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، وَفِي يَمَنِنَا. رواه البخاري
 “Ya Allah, berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR. Bukhari).
Lalu mengapa hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Suriah?
Ya, karena Suriah adalah bagian dari negeri Syam. Inilah negeri yang dibuka pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khattab t. Tidak sedikit sahabat Nabi dan orang - orang shalih yang berhijrah ke sana, karena keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...