November 25, 2017

Waspadai Pembakar Kebaikan

Agama Islam adalah agama perbaikan, pengajaran dan bimbingan. Islam datang untuk menyucikan dan membersihkan hati, memutihkan jiwa dan membuang noda-noda yang ada padanya, dan memperbaiki lahiriah dan batiniah. Mereka yang mampu menyucikan jiwanya dengan Islam, dialah yang beruntung. Allah berfirman,  “Beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya. Dan celakalah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams : 9-10).

Seorang hamba yang beriman dituntut membersihkan jiwanya atau hatinya sebagaimana ia dituntut membersihkan fisiknya yang tampak. Sebagaimana jasad kita yang bisa terkena penyakit, demikian juga halnya hati dan jiwa seseorang, ia pun bisa tertimpa penyakit dan hal-hal yang akan membahayakannya. Apabila batinnya baik, maka hal itu akan berdampak pada baiknya gerak-gerik atau amalan anggota tubuh. Sebagaimana penjelasan Nabi kita, “Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula anggota tubuh yang lain. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula anggota tubuh yang lain. Segumpal daging tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Karenanya, selalu mengecek hati dan jiwa, apakah ia berada dalam keadaan suci dan memiliki akhlak batiniah yang baik ataukah ia telah rusak atau sakit, adalah pekerjaan yang seyogyanya terus kita lakukan, agar kita menjadi golongan yang beruntung, seperti firman Allah di atas. 


Di antara sifat, karakter atau tabiat buruk yang berbahaya bagi hati dan jiwa yang mesti diwaspadai adalah sifat hasad atau dengki. Saking bahayanya, Allah memerintahkan kita untuk berlindung darinya. Allah berfirman, “Dari kejelekan orang-orang yang hasad apabila mereka hasad” (QS. Al-Falaq: 5). Allah juga berfirman, “Dan janganlah kamu iri hati (dengki) terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain(QS. An-Nisa: 32). Tak ketinggalan, Nabi kita yang mulia juga memeringatkan kita dengan penyakit ini. Beliau bersabda, “Janganlah kalian saling benci, jangan saling hasad dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penyakit ini ibarat virus penyakit yang memiliki daya tular yang tinggi. Ia dapat menjangkiti hampir seluruh manusia, kecuali mereka yang benar-benar dirahmati-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hasad adalah penyakit jiwa, dan ia adalah penyakit yang menguasai, tidak ada yang selamat darinya kecuali hanya segelintir orang. Karenanya dikatakan, “Tidak ada jasad yang selamat dari hasad, akan tetapi orang yang tercela menampakkannya dan orang yang mulia menyembunyikannya” (Majmuu' Al-Fataawaa 10/125-126).

Jika kita bertanya, mengapa hasad sulit dihindari? Ibnu Rajab Al-Hambali menjawabnya dengan berkata, “Hasad (itu) tertanam di tabi'at manusia, yaitu namanya manusia benci jika ada seorangpun –yang sejenis dengannya (sesama manusia)- yang mengunggulinya dalam suatu keutamaan” (Lihat Jaami'ul 'Uluum wa al-Hikam hal. 327).

Lantas, apakah kita pasrah dan mengikuti penyakit hasad yang merongrong hati kita? Tentu saja tidak!
 
Hasad merupakan sifat dari sejelek-jelek ciptaan Allah, yakni Iblis. Dahulu Iblis hasad kepada bapak kita Adam, hasad terhadap kenikmatan dan keutamaan yang Allah berikan kepadanya. Kenikmatan itu adalah Allah menciptakan Adam langsung dengan kedua tangan-Nya, para malaikat diperintahkan sujud kepadanya, dijadikannya ia sebagai penduduk surga, dan diajarkan kepadanya seluruh nama-nama. Semua kenikmatan dan kelebihan ini membuat Iblis hasad kepadanya. Iblis terus bekerja dengan hasadnya. Alhasil, Iblis berhasil menjadikan Adam dikeluarkan dari surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah melakukan pengkajian yang mendalam mengenai makna dari hasad. Beliau menyimpulkan bahwa definisi hasad yang benar adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Jadi, tanpa adanya keinginan agar nikmat tersebut lenyap dari saudara kita saja, itu sudah termasuk hasad, apalagi jika kebencian atau rasa tidak suka itu diiringi dengan keinginan agar nikmat tersebut lenyap atau berpindah kepadanya.

Berdasarkan dalil-dalil di atas dapat dipahami akan haramnya sifat hasad atau dengki. Tidaklah Nabi melarang sesuatu melainkan niscaya ada keburukan di dalamnya. Dan tidaklah pula memerintahkan sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya.

Bahaya Hasad

Rasulullah melarang seseorang untuk hasad kepada orang lain dikarenakan ia dapat menyebabkan hilangnya kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diri orang tersebut. Rasulullah bersabda, “Jauhilah oleh kalian hasad karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR. Abu Daud). Dalam kesempatan lain, Nabi bersabda, “Penyakit umat sebelum kalian telah menjalar kepada kalian yaitu hasad dan kebencian. Ia adalah pencukur. Aku tidak mengatakan pencukur rambut namun pencukur agama” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3361).  Inilah bahaya hasad. Ia menyebabkan pahala-pahala yang telah kita dapatkan selama ini berguguran satu demi satu.

Sikap hasad sesungguhnya adalah sikap tidak suka dengan takdir yang telah Allah tetapkan. Mengapa bisa demikian? Jika kita menelisik lebih dalam, kita akan menemukan bahwa orang yang hasad, seakan-akan dia ingin berperan dalam menentukan takdir dirinya sendiri dan orang lain. Ia merasa bahwa dirinyalah yang paling pantas menerima kenikmatan yang telah Allah ciptakan itu sehingga ia tidak ingin orang lain mendapatkannya. Ini merupakan sifat yang buruk yang dapat menimpa kita, saat kita hasad, sadar maupun tidak.

Seorang yang memiliki sifat hasad, maka ia akan sibuk dan lalai untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat dan takdir yang telah Allah tetapkan untuknya. Ia juga akan menjadi seorang yang bersedih dan khawatir akan masa depannya, membuatnya kian jauh dari ketaatan, dan semakin dekat dengan perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Terapi Hasad

Berdo’alah kepada Allah agar Ia menghilangkan hasad dari dalam hati kita. Allah mengajarkan salah satu doa di dalam Al-Qur’an, “Ya Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr : 10). Allah telah menuntun kita untuk berdo’a kepada-Nya dalam ayat ini untuk menghilangkan hasad yang ada di dalam diri kita. Karena bisa saja di saat kita lengah, setan memanfaatkannya untuk menghancurkan diri kita.
Berusahalah ridha dengan takdir-Nya. Allah telah mengajarkan kita untuk ridha dengan semua yang telah Ia tetapkan dengan firman-Nya, “Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan : 2). Maka mari kita tanamkan rasa qana’ah itu di dalam diri kita, sehingga kita tidak merasa dengki atau hasad atas apa yang di miliki oleh orang lain.

Jadikanlah surga dan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi kita. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak memiliki hasad dan dengki kepada nikmat yang dimiliki orang lain. Apakah lagi yang kita harapkan seandainya kita mengetahui kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga? Tentu kita tidak akan lagi menginginkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain di dunia ini. Namun sedikit dari kita mengetahui hal tersebut, sehingga lebih menginginkan apa yang ada di dunia ini dan tidak menginginkan apa yang ada di surga. Allah berfirman, “Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan kesenangan itu. Dan karunia Tuhan-mu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha : 131).

Tidak Termasuk Hasad

Tidak semua sifat dengki atau hasad itu tercela. Jika diletakkan dalam kebaikan yakni ia ingin mendapatkan kebahagiaan atau karunia sebagaimana saudaranya telah mendapatkannya, atau hanya sekedar ingin mempunyai karunia yang lebih dari orang lain dan keinginannya tersebut tidak membawa bahaya atau kemudharatan bagi orang lain, maka sikap ini tidaklah mengapa.

Nabi bersabda, “Tidak ada hasad kecuali di dalam dua hal, yaitu seseorang yang dianugrahi alqur’an oleh Allah lalu ia tegak dengannya di sepanjang malam dan siang dan seseorang yang dianugrahi harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya di sepanjang siang dan malam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lainnya, Nabi bersabda, “Tidak ada hasad kecuali di dalam dua perkara, yakni seseorang yang dianugrahi harta oleh Allah lalu ia berkuasa untuk menghabiskannya dalam kebenaran dan seseorang yang dianugrahi hikmah (al-Qur’an) oleh Allah lalu ia membuat keputusan dengannya dan mengajarkannya(HR. Bukhari dan Muslim).

Berkata Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhahullah, “Hasad (dengki) itu adalah penyakit berbahaya yang wajib menjauhkan diri darinya dan berhati-hati darinya. Dengki terhadap kebahagiaan itu terpuji jika berada pada jalur kebaikan” (Lihat Bahjah an-Nazhirin: I/ 602).

Maka tidak mengapa seorang muslim merasa iri dengan harta, ilmu atau kelebihan lainnya dari saudaranya, yang ia pergunakan untuk berjuang meninggikan kalimat Allah Azza wa Jalla. Ia menginginkan semuanya itu atau bahkan lebih dari itu untuk tujuan yang sama dengan saudaranya tersebut. Hal ini akan memicu dan mendorongnya untuk berusaha mendapatkan keinginannya itu dengan cara yang dibenarkan oleh syariat. Tetapi jika rasa iri atau dengki kepada kelebihan saudaranya itu memicu dan mendorong dirinya untuk merusak dan menghilangkan semua atau sebahagian kelebihannya itu dengan cara-cara yang dilarang, misalnya berupa menebarkan ghibah, fitnah dan sejenisnya maka perbuatan ini jelas diharamkan dan termasuk dari dosa-dosa besar.

Begitupula, tidak termasuk hasad jika kebencian tersebut ditujukan kepada orang-orang kafir yang menggunakan kenikmatan atau kelebihan yang mereka miliki untuk memrangi dan memudharatkan agama-Nya. Imam Ar-Razi rahimahullah berkata, “Seluruh bentuk hasad haram hukumnya, kecuali hasad kepada kenikmatan yang ada pada seorang kafir atau seorang fajir yang menggunakan kenikmatan tersebut untuk keburukan dan kerusakan. Maka tidak memberikan mudharat bagimu (tidak mengapa), jika engkau menyukai hilangnya kenikmatan tersebut. Karena tidaklah engkau menghendaki hilangnya kenikmatan karena dzat kenikmatan tersebut, akan tetapi karena digunakannya kenikmatan tersebut untuk kerusakan, keburukan, dan mengganggu orang lain” (Lihat At-Tafsiir Al-Kabiir 3/238).

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat buruk ini, hingga kelak kita menemui-Nya dengan hati dan jiwa yang bersih. Waspadalah! Wasapadalah!

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...