Indonesia, tanah air
kita yang kita cintai, masih saja terus dirundung musibah dan bencana. Belum
hilang ingatan dan duka kita akan musibah dan bencana gempa bumi di Aceh, bumi
Indonesia di bagian timur, Bima, kembali dirundung bencana berupa banjir yang
telah meluluhlantakkan perekonomian dan kehidupan masyarakat di sana. Makhluk-makhluk Allah I, tanah dan air, kembali menampakkan keperkasaannya di
bawah ketundukannya kepada Allah I, Sang
Pencipta dan Penguasa semua makhluk-Nya. Entah, musibah dan bencana apa lagi
yang akan menimpa bangsa ini. Semuanya adalah ghaib bagi kita, sesuai kehendak
dan hikmahNya yang agung. Tak seorang pun tahu, kapan rentetan bencana ini akan
berakhir. Tak seorang pun tahu, mengapa bencana dan musibah terus terjadi.
Hanya Allah I yang tahu.
Desember 29, 2016
Desember 24, 2016
Jangan Sampai Tergadai
Memasuki
pertengahan hingga akhir bulan Desember setiap tahunnya, kita akan merasakan
atmosfir yang terbentuk di sekitar kita yang ditujukan untuk memperingati dan
menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan dan pusat perbelanjaan, kita
disuguhi dengan pernak-pernik perayaannya. Media, juga tidak lupa untuk mem-blow-up perayaan Natal ini. Inilah fakta
dari sebuah bangsa yang mengatasnamakan dirinya sebagai bangsa dengan populasi
muslim terbesar di dunia.
Natal,
sebenarnya merupakan perayaan yang (seharusnya) dikhususkan hanya untuk kaum
Nasrani saja. Itu yang kita pahami. Tapi di Indonesia, ini berbeda. Natal kerap
diopinikan oleh sebagian orang sebagai sebuah ritual bersama bagi seluruh
rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang beragama Nasrani atau bukan.
Entah karena ketidaktahuan atau kesengajaan yang dilakukan dengan berbagai
tujuan politis dan jabatan, sebagian pejabat dan orang-orang terkemuka di
negeri ini menyeru untuk ikut meramaikannya.
Tidak sampai di situ, umat muslim juga diseru untuk mengucapkan “Selamat
Natal” dan bila perlu juga ikut memfasilitasinya. Ya, semua itu dibungkus
dengan pujian bahwa umat muslim adalah umat yang toleransinya tinggi dan
benar-benar berperan nyata dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di
Indonesia. Jika umat muslim tidak melakukannya, maka tunggu saja, cap anti
non-muslim dan intoleran akan dilekatkan dengan cepatnya.
Padahal,
jika kita coba untuk lebih jeli dan memahaminya lebih dalam, mempromosikan
perayaan ini dengan model sedemikian rupa dan memberlakukannya untuk dan agar
diikuti oleh semua rakyat Indonesia baik ia beragama Nasrani atau bukan, justru
pada hakikatnya adalah tindakan intoleran terhadap umat muslim. Ya, umat
muslim-lah yang justru disikapi intoleran oleh penganut agama lainnya.
Desember 17, 2016
Kembali, Suriah Memanggil Kita
Negeri
Syam. Pernahkah Anda mendengarnya? Tentu saja pernah. Negeri ini kerap disebut
oleh Nabi kita r dalam
sabda-sabdanya.
Tentang
negeri ini, Nabi kita r pernah berpesan, “Pergilah ke Syam, karena ia adalah bumi pilihan Allah, Dia memilih
hamba-hamba terbaikNya untuk ke sana. Jika kalian tidak mau, maka pergilah ke
Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah
telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud,
Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Dalam
kesempatan lain, beliau r juga berkata,
“Beruntunglah Syam!” Mendengar seruan Nabi r tersebut,
sahabat bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Lalu beliau r menjawab, “Karena sungguh malaikat Allah membentangkan
sayap-sayapnya kepada negeri itu” (Lihat Shahih al-Tirmidzi, 3/254).
Bahkan
secara spesifik, Nabi kita Muhammad r yang tercinta mendoakan negeri Syam dengan doa
yang luar biasa, “Ya Allah, berkahilah
untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR.
Bukhari).
Mengapa
hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Syam? Ada apa di bumi syam hari ini?
Ya,
di bumi Syam hari ini, ada satu negeri yang menjadi bagiannya. Suriah namanya.
Sebuah negeri yang dahulu dibebaskan pertama kali dari cengkeraman Romawi di
era Khalifah Umar bin Khattab t,dimana pasukan sahabat yang pertama menorehkan sejarah umat di
kota ini dipimpin oleh “Pedang Allah”, Khalid bin Walid t.
Desember 10, 2016
Doa ; Seringkali Terlupakan
Dalam seluruh
kisah hidup kita, kita adalah sekumpulan hamba yang lemah dan fakir. Dengan
segala kelemahan dan kefakiran itu, kita senantiasa butuh perlindungan dan
pertolongan. Kemampuan kita dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan
fisik yang memang serba terbatas. Banyak peristiwa terjadi di luar jangkauan
kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam keadaan seperti itu, seringkali kita
akan mencari kekuatan di luar diri. Tak jarang, ada di antara kita yang putus asa,
mencari kekuatan penolong dengan cara-cara yang tidak diajarkan agama.
Kita
lemah, karena kita tidak tahu bagaimana jadinya jika Allah I melepaskan seluruh nikmat yang selama ini Dia
berikan kepada kita. Jika saja Allah I mencabut nikmat kesehatan dan kesadaran berpikir
dari diri ini. Jika saja Allah I
mencabut satu per satu fungsi tubuh kita. Jika saja Allah I mencabut satu
demi satu nikmat-nikmat penunjang kehidupan ini: udara, cahaya, air, dan yang
lainnya. Dan yang sungguh mengerikan, seperti apa hidup ini jika saja Allah I mencabut
nikmat hidayah dari hati kita yang lemah ini. Duhai Allah, jangan pernah itu
terjadi dalam hidup kami.
Karena
itu semua, kita sungguh fakir kepada Allah I. Dalam seluruh sisi kehidupan ini, kita sangat
fakir kepada-Nya. Namun, banyak manusia yang tidak menyadari ini; menyadari
kelemahan dan kefakiran mereka kepada Allah I. Sebagian manusia merasa kuat, mampu dan perkasa untuk menyelesaikan dan
mengerjakan berbagai hal dalam kehidupannya
sehari hari. Keberhasilan dan kesuksesan menyebabkan mereka jadi sombong dan
pongah.
Desember 02, 2016
Saat Diam, Saat Bicara
Laisa kullu maa
yu’lamu yuqalu, likulli maqaamin maqaalun. Tidak semua yang diketahui
itu harus terucapkan, sebab setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan
yang tepat. Begitulah peribahasa indah Arab yang patut untuk terus didengungkan
di hari-hari ini.
Ini
adalah sebuah nasehat penting bagi siapa saja yang diberi karunia ilmu dari
Allah I. Sebab
nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa mengetahui saja tidaklah cukup.
Mengapa? Karena agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita
membutuhkan pemahaman. Inilah yang disebut oleh para ulama kita dengan istilah
Fiqh. Di antara bentuk kefaqihannya adalah kemampuan untuk menggunakan lisan
sebagai anugerah dan nikmat terbesar dalam diri seorang hamba.
Langganan:
Komentar (Atom)
Postingan Terbaru
Ke Mana Ayah Pergi?
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...
-
Masih saja, sebagian kaum muslimin kukuh dengan kebiasaannya membaca surah yasin kepada orang yang akan maupun telah meninggal dunia. Tid...
-
Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai yang diharapkan. Terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah bebera...
-
Segala puji bagi Allah I yang telah menyempurnakan Islam dengan mengutus Rasulullah Muhammad r yang membawa manhaj dan jalan hidup yan...




