November 24, 2015

Ketika Smartphone Menghiasi Hari

Smartphone, demikian namanya. Alat komunikasi canggih nan mungil itu demikian akrabnya di genggaman kebanyakan manusia hari ini di dunia, termasuk di kalangan kaum muslimin. Bapak-bapak, Ibu-ibu, anak-anak, laki-laki dan perempuan, semuanya menjadi penikmatnya.

Di rumah-rumah, jalan-jalan, toko-toko dan angkutan umum bahkan pada tempat-tempat tersembunyi sekalipun, intensitas penggunaan alat ini terlihat begitu tinggi. Saking tingginya, jika dirata-rata, mungkin hampir setiap seperempat jam sekali, tangan-tangan penggunanya akan bergerak mengambilnya, menyentuh layarnya, menggeser ke atas, ke bawah dan ke samping.

Jika kita melalukan survei, nampaknya kita akan menemukan bahwa kebanyakan penggunanya adalah penikmat dan pembagi berita-berita melalui perangkat browsing atau social media yang terpasang pada alat tersebut.

November 19, 2015

Canda, Ada Adabnya

Belum lama, media ramai memberitakan fenomena seorang muballig yang kerap muncul menghiasi acara-acara di televisi. Pasalnya, sang muballig telah menyampaikan sebuah statement yang kontroversial bahkan ditengarai telah bertentangan dengan syariat Islam menurut beberapa pihak.

Di sisi lain, sang muballig juga dikenal dengan candaan dan humor dalam dakwahnya. Bahkan, mungkin hal ini yang membuat beliau begitu akrab dan terkenal di kalangan sebagian kaum muslimin.

Tentu saja, statement tersebut menarik dan penting untuk dibahas sesuai timbangan syariat. Namun, buletin kita edisi kali ini, tidak akan membahasnya secara khusus, mengingat redaksi tidak dalam kapasitas untuk mengupasnya. Juga karena media massa, audio visual dan sosial, hari-hari ini telah banyak membahasnya. Meskipun demikian, redaksi tertarik untuk mencermati sisi lain fenomena tersebut yaitu canda dan humor.

November 11, 2015

Ghibah, Bencana Lisan

Anugerah lisan yang fasih terkadang membuat pemiliknya terbuai. Lisan terus menari hingga kehilangan arah kesana-kemari. Bencana lisan pun senantiasa mengancam bagi setiap mereka yang tidak mampu menjaganya agar tetap di atas rambu- rambu syariat ilahi.

Terkadang kita merasa begitu nyaman mengayunkannya. Hingga tak terasa membawa pemiliknya ke muara kebinasaannya. Padahal, menjaganya adalah keniscayaan untuk meraih jaminan Rasulullah r akan surgaNya.

Ghibah dan menggunjing adalah salah satu produknya. Seharusnya, setiap kita yang takut akan adzabNya dan meyakini bahwa Allah  r adalah Maha Melihat dan Mendengar seluruh tindak-tanduk kita, mampu menjaga manajemen lisan, saat diam dan bicara.

Apalagi di zaman ini. Ketika berbagai media komunikasi, nyata dan maya, begitu luas dan mudah. Ruang untuk mengungkapkan rasa menjadi bebas tak terarah. Hingga, saudara seiman, kerabat, kaum muslimin dan bahkan para pemimpin, pun tak luput menjadi sasaran panah.

November 06, 2015

Ketika Hujan Tertahan

Kekeringan telah melanda berbagai wilayah negeri tercinta. Sumber air menjadi semakin langka. Debu jalanan kian menebal, menjadi sumber penyebaran penyakit kala diterpa angin. Batuk, pilek, gatal-gatal menjadi secuil dampak dari kekeringan tersebut. Belum lagi, kabut asap sebagai dampak kebakaran hutan di beberapa wilayah negeri tak kunjung hilang karena diperparah dengan kondisi kering dan panas.

Demikianlah. Dengan hikmahNya, Allah I tidak menjadikan kondisi hamba-hambaNya monoton berada dalam satu keadaan saja. Dia I mengatur keadaan mereka dengan silih berganti. Ada kalanya, Allah I menjadikan negeri mereka berlimpah dengan air. Adakalanya Allah I menahan air bagi mereka hingga kekeringan terjadi.

Allah I berfirman, artinya : “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiyaa’ : 35).

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...