Pada saatnya nanti,
anak-anak kita akan pergi, meninggalkan kita. Saat dewasa nanti, mereka akan
bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar dan
berjauhan. Tinggallah sepi. Meski mungkin sebagian di antara mereka, ada yang
memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka
merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin
meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.
Tetapi pada saatnya, kita
pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali
lagi ke dunia ini. Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan
tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta, bersama anak-anak dan keluarga.
Setelah hari itu, orangtua
dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Di sana
nanti, ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Ada anak-anak
yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan,
sehingga menuntut tanggung-jawab orangtuanya yang telah mengabaikan
kewajibannya mengajarkan agama.
Adakah itu termasuk kita?
Jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala.
Alangkah besar kerugian di hari itu. Inilah hari ketika kita tak dapat dibela
pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu
apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke
kampung akhirat?
Kita usap anak-anak kita
saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Kita antar mereka mencapai
cita-cita tertinggi mereka di dunia. Khawatir jika kelak mereka akan
terlunta-lunta. Tentu saja tidak salah, jika semua koridor-Nya tetap dijaga.
Akan tetapi, adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat nanti, sebagaimana
di antara kita mengkhawatirkan nasib mereka di dunia. Kita sibuk menyiapkan
masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Akan tetapi, disamping untuk diri kita sendiri, adakah kita
berlaku sama untuk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?
Tengoklah sejenak
anak-anak kita. Tataplah wajah-wajah mereka. Adakah kita relakan wajah mereka
tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak, ketika kita
merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah kita bayangkan
ia bertengkar dengan kita sendiri di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala
karena lalai menanamkan tauhid dan agama dalam diri mereka? Ada hari yang pasti
ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling susul ke dalam
surga? Ataukah saling bertikai?
Masuk Surga Bersama
Keluarga
Tentu saja kita ingin
membersamai mereka di surge-Nya kelak. Bersama orangtua, isteri dan
keluarga-keluarga tercinta kita. Inilah cita-cita yang sesungguhnya dan harapan
tertinggi setiap mukmin. Di surga, semua kebahagiaan dan nikmat yang
diinginkannya tersedia. Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmat-nikmat di
sana. Kebahagiaan di surga semakin sempurna dengan dikumpulkannya seorang
mukmin bersama keluarga besarnya dari kalangan bapak-bapak, pasangan, dan anak
turun mereka. Derajat mereka yang lebih rendah akan dinaikkan sehingga menyamai
yang lebih tinggi agar bisa berada di satu tempat.
Allah Ta'ala
berfirman, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya,
mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada
mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan
kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu” (QS. Al-Ra'du: 22-23).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah
berkata dalam menafsirkan kalimat “Yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama
dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak
cucunya", “Bahwa Allah mengumpulkan mereka bersama orang-orang yang mereka
cintai di dalamnya (surga 'Adn); yaitu bapak-bapak, istri-istri, dan anak-anak
mereka dari kalangan orang-orang beriman yang berhak masuk surga. Supaya hati
mereka bahagia karena dapat berkumpul dengan mereka. Sehingga diangkatlah
derajat mereka yang lebih rendah kepada derajat yang lebih tinggi sebagai pemberian
dan kebaikan dari Allah, tanpa dikurangi derajat orang yang lebih tinggi.
Sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu
mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan
mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21)”.
Ibnu Abbas radhiyallahu
anhu berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya Allah akan
mengangkat (meninggikan derajat) anak-anak seorang mukmin pada tingkatannya
walau amal mereka ada di bawahnya supaya gembira hatinya. Kemudian beliau
membaca, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti
mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami
tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21)”.
Kesimpulan ini dikuatkan
ayat lain dari doa malaikat untuk hamba-hamba beriman, agar kaum mukminin
dimasukkan ke dalam surga bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka,
pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka. Allah Ta'ala
berfirman, “Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang
telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara
bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ghaafir:
8).
Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan tentang maksud kalimat “Dan orang-orang yang beriman, dan yang
anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu
mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal
mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21) bahwa, “Kami samakan (kumpulkan)
setiap mereka di satu tempat, supaya mereka bahagia. Kami tidak kurangi yang
derajatnya tinggi sehingga sama dengan yang derajatnya rendah, tetapi kami
angkat yang amalnya kurang lalu kami samakan ia dengan yang banyak amalnya,
sebagai karunia dan pemberian dari Kami”.
Perlu di catat, bahwa
yang membuat mereka berkumpul di surga bukan semata karena nasabnya. Tapi
karena adanya iman dan amal shalih yang menjadikan mereka masuk surga. Karena
di sana disebutkan, “dan orang-orang yang shalih” yakni yang benar iman dan
amal shalihnya. (Lihat Tafsir al-Sa'di: 732)
Dalam hal ini, Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Fatawa
Nuur 'Alaa al-Darb, “Apabila seseorang masuk surga, apakah ia akan berjumpa
dengan kerabat-kerabatnya? Ya, ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya dan
orang-orang yang membuat hatinya senang, berdasarkan firman Allah, “Dan di
dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap
(dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (QS. Al-Zukhruf: 71). Bahkan,
seseorang akan berkumpul bersama anak-anaknya di satu manzilah
(tingkatan) jika sebelumnya seorang anak berada di bawah manzilah-nya.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala, “Dan orang-orang yang beriman, dan
yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu
mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal
mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS.
Al-Thuur: 21).
Penutup
Karenanya, seorang mukmin
haruslah juga berusaha untuk men-shalih-kan orang-orang dekat dan dicintainya
melalui nasihat, dakwah, mengajak dan memerintahkan kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang mungkar. Jangan pula ditinggalkan untuk memohonkan
ampunan dan mendoakan kebaikan untuk mereka dari orang tuanya, istrinya, anak-anaknya,
dan kerabat-kerabat dekatnya. Harapannya, ia akan berkumpul bersama keluarga
besarnya di surga dengan penuh kebahagiaan dan keridhaan dari Allah Ta'ala.
Terkhusus untuk anak-anak
kita, mari cintai anak-anak kita untuk selamanya. Dengan mencintai mereka karena Allah Azza
wa Jalla. Bukan hanya untuk hidupnya di dunia, tetapi untuk suatu masa
ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap, kecuali
pertolongan Allah Ta’ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak
sekedar bersama saat dunia saja, tetapi lebih dari itu, dapat berkumpul bersama
mereka kelak di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih
kejayaan, bukan hanya untuk karirnya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk
kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang.
Semoga kita semua
termasuk orang yang mendapat kesempurnaan nikmat ini di akhirat.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar