Oktober 13, 2017

Jaga Anak dan Keluarga, Bertemu di Surga

Pada saatnya nanti, anak-anak kita akan pergi, meninggalkan kita. Saat dewasa nanti, mereka akan bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar dan berjauhan. Tinggallah sepi. Meski mungkin sebagian di antara mereka, ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini. Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta, bersama anak-anak dan keluarga.

Setelah hari itu, orangtua dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Di sana nanti, ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan, sehingga menuntut tanggung-jawab orangtuanya yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Alangkah besar kerugian di hari itu. Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?

Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Kita antar mereka mencapai cita-cita tertinggi mereka di dunia. Khawatir jika kelak mereka akan terlunta-lunta. Tentu saja tidak salah, jika semua koridor-Nya tetap dijaga. Akan tetapi, adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat nanti, sebagaimana di antara kita mengkhawatirkan nasib mereka di dunia. Kita sibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Akan tetapi,  disamping untuk diri kita sendiri, adakah kita berlaku sama untuk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anak-anak kita. Tataplah wajah-wajah mereka. Adakah kita relakan wajah mereka tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak, ketika kita merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah kita bayangkan ia bertengkar dengan kita sendiri di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala karena lalai menanamkan tauhid dan agama dalam diri mereka? Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling susul ke dalam surga? Ataukah saling bertikai?

Masuk Surga Bersama Keluarga

Tentu saja kita ingin membersamai mereka di surge-Nya kelak. Bersama orangtua, isteri dan keluarga-keluarga tercinta kita. Inilah cita-cita yang sesungguhnya dan harapan tertinggi setiap mukmin. Di surga, semua kebahagiaan dan nikmat yang diinginkannya tersedia. Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmat-nikmat di sana. Kebahagiaan di surga semakin sempurna dengan dikumpulkannya seorang mukmin bersama keluarga besarnya dari kalangan bapak-bapak, pasangan, dan anak turun mereka. Derajat mereka yang lebih rendah akan dinaikkan sehingga menyamai yang lebih tinggi agar bisa berada di satu tempat.

Allah Ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”  (QS. Al-Ra'du: 22-23).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan kalimat “Yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya", “Bahwa Allah mengumpulkan mereka bersama orang-orang yang mereka cintai di dalamnya (surga 'Adn); yaitu bapak-bapak, istri-istri, dan anak-anak mereka dari kalangan orang-orang beriman yang berhak masuk surga. Supaya hati mereka bahagia karena dapat berkumpul dengan mereka. Sehingga diangkatlah derajat mereka yang lebih rendah kepada derajat yang lebih tinggi sebagai pemberian dan kebaikan dari Allah, tanpa dikurangi derajat orang yang lebih tinggi. Sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.  Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21)”.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat (meninggikan derajat) anak-anak seorang mukmin pada tingkatannya walau amal mereka ada di bawahnya supaya gembira hatinya. Kemudian beliau membaca, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.  Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21)”.

Kesimpulan ini dikuatkan ayat lain dari doa malaikat untuk hamba-hamba beriman, agar kaum mukminin dimasukkan ke dalam surga bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka. Allah Ta'ala berfirman, “Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ghaafir: 8).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang maksud kalimat “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.  Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21) bahwa, “Kami samakan (kumpulkan) setiap mereka di satu tempat, supaya mereka bahagia. Kami tidak kurangi yang derajatnya tinggi sehingga sama dengan yang derajatnya rendah, tetapi kami angkat yang amalnya kurang lalu kami samakan ia dengan yang banyak amalnya, sebagai karunia dan pemberian dari Kami”.

Perlu di catat, bahwa yang membuat mereka berkumpul di surga bukan semata karena nasabnya. Tapi karena adanya iman dan amal shalih yang menjadikan mereka masuk surga. Karena di sana disebutkan, “dan orang-orang yang shalih” yakni yang benar iman dan amal shalihnya. (Lihat Tafsir al-Sa'di: 732)

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Fatawa Nuur 'Alaa al-Darb, “Apabila seseorang masuk surga, apakah ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya? Ya, ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang membuat hatinya senang, berdasarkan firman Allah, “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (QS. Al-Zukhruf: 71). Bahkan, seseorang akan berkumpul bersama anak-anaknya di satu manzilah (tingkatan) jika sebelumnya seorang anak berada di bawah manzilah-nya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21).

Penutup

Karenanya, seorang mukmin haruslah juga berusaha untuk men-shalih-kan orang-orang dekat dan dicintainya melalui nasihat, dakwah, mengajak dan memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Jangan pula ditinggalkan untuk memohonkan ampunan dan mendoakan kebaikan untuk mereka dari orang tuanya, istrinya, anak-anaknya, dan kerabat-kerabat dekatnya. Harapannya, ia akan berkumpul bersama keluarga besarnya di surga dengan penuh kebahagiaan dan keridhaan dari Allah Ta'ala.

Terkhusus untuk anak-anak kita, mari cintai anak-anak kita untuk selamanya.  Dengan mencintai mereka karena Allah Azza wa Jalla. Bukan hanya untuk hidupnya di dunia, tetapi untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap, kecuali pertolongan Allah Ta’ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia saja, tetapi lebih dari itu, dapat berkumpul bersama mereka kelak di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk karirnya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang.

Semoga kita semua termasuk orang yang mendapat kesempurnaan nikmat ini di akhirat.

Wallahu a’lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...