Mei 24, 2017

Sabar Seperti Ayyub

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah hidup para Nabi Allah I. Salah satunya adalah dari Nabi yang mulia, Ayyub u. Beliau mewariskan kita sebuah sifat mulia yang patut untuk diteladani. Sifat mulia itu adalah kesabaran. Sebuah sifat yang seharusnya menjadi karakter orang-orang beriman, sebagaimana perintah-Nya kepada mereka, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul (yang) telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf: 35). Ya, sebuah sifat yang ketika ia bersemayam dalam sanubari orang-orang beriman, maka Allah akan memberi ganjaran yang tidak terbatas. Allah I berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS. Az-Zumar: 10).  Ibnu Juraij rahimahullah menyatakan, “Telah sampai kepadaku bahwa pahala amal mereka yang sabar tidaklah dihitung sama sekali, namun terus ditambah hingga tak terhingga.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 443).

Tentang kisah Nabi Ayyub u, Allah I menyebutkannya dalam al-Qur’an, “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84).

Mei 17, 2017

Menyambut Ramadhan Mulia

Di depan kita bersama, kurang lebih satu pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.

Sebagai orang beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang teramat besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26) .
Bagaimana sikap yang baik menyambut bulan ini? Ibarat bumi yang kering menyambut turunnya hujan, ibarat seorang yang sedang sakit menyambut datangnya dokter, dan ibarat seseorang yang menunggu kekasihnya yang sudah lama dinanti, tentu perlu untuk memperhatikan hal-hal penting dalam rangka penyambutannya.

Mei 12, 2017

Angan-angan Mereka yang Telah Mati

Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki angan-angan. Ya, angan-angan yang  ingin direalisasikan menjadi sebuah kenyataan di masa yang akan datang. Apapun itu. Kebanyakannya, biasanya tidak jauh-jauh dari soal harta, tahta dan wanita. Rasulullah r mengabarkan bahwa angan-angan manusia di dunia tidak akan pernah habis sampai mereka masuk ke dalam kubur. Beliau r bersabda, “Seandainya seseorang memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah emas lagi, dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali debu (tidak ada yang bisa menghentikan keinginannya kecuali kematian) dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat” (HR. Bukhari). Begitulah tabiat asal manusia, selalu saja tak pernah puas untuk mewujudkan angan-angannya.

Sebesar apapun angan-angan kita di dunia ini, selama kita masih hidup, maka kesempatan untuk merealisasikannya masih ada. Yaitu dengan melakukan sebab-sebab yang sudah ditetapkan oleh Allah I. Namun, jika sudah tidak hidup lagi, tentu saja angan-angan itu menjadi mustahil untuk diwujudkan. Karena perwujudan angan-angan itu sudah terputuskan dari sebab. Tetapi, apakah mereka yang telah mati juga masih memiliki angan-angan yang ingin mereka wujudkan? Jawabannya, iya.

Mei 06, 2017

Modal ke Surga; Sudah Punya?

Surga, betapa indah kita menyebutnya. Tak ada yang terbayang kecuali kenikmatan dan keindahan. Mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, bahkan untuk terbetik dalam hati sanubari manusia sekalipun, keindahan itu belum dan tak akan pernah terbayangkan.

Surga hanya untuk orang-orang yang rindu kepadanya, yang mengaplikasikan makna rindu itu dengan amalan shalihnya, bukan dengan kemalasan dan berpangku tangan. Surga hanya untuk orang yang bertakwa. Ya, manusia-manusia bertakwa kepada Rabb-nya, bukan untuk manusia-manusia zhalim lagi durhaka, yang selalu menentang dan sombong terhadap ketetapan Tuhannya.

Lalu, kita pada kelompok yang mana? Kebanyakannya, kita selalu merasa telah menjadi seorang yang bertakwa. Benarkah pengakuan itu? Mari kita merenungi firman-firman Allah I yang menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.

Allah I berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” (QS. Adz-Dzariyat: 15-16). Dalam ayat ini, Allah menyifati orang-orang yang bertakwa itu dengan sifat ihsan. Sementara kata Nabi r, ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, dan jika engkau tidak melihatnya (dan itu pasti adanya), ketahuilah bahwa Allah I melihatmu.

Ada Apa di Bulan Sya’ban?

Hari ini, kita kembali dipertemukan oleh Allah I dengan salah satu bulan mulia, yakni Sya’ban. Beragam amalan dilakukan oleh umat Islam mewarnai keberkahan dan kemuliaan bulan ini. Akan tetapi, kemeriahan warna tersebut diciderai dengan banyakya amalan yang sebenarya tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah r. Hal ini karena kejahilan akan ilmu warisan beliau r

Pada kesempatan ini, redaksi akan membawakan pembahasan berkenaan dengan Bulan Sya’ban. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita sekalian. Selamat membaca!

Asal Nama Bulan Sya’ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...