Ada banyak pelajaran
yang dapat kita ambil dari kisah hidup para Nabi Allah I. Salah satunya adalah dari Nabi yang mulia, Ayyub u. Beliau mewariskan kita sebuah sifat mulia yang patut
untuk diteladani. Sifat mulia itu adalah kesabaran. Sebuah sifat yang
seharusnya menjadi karakter orang-orang beriman, sebagaimana perintah-Nya
kepada mereka, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai
keteguhan hati dari rasul-rasul (yang) telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf: 35). Ya,
sebuah sifat yang ketika ia bersemayam dalam sanubari orang-orang beriman, maka
Allah akan memberi ganjaran yang tidak terbatas. Allah I berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
Ibnu Juraij rahimahullah menyatakan,
“Telah sampai kepadaku bahwa pahala amal mereka yang sabar tidaklah dihitung
sama sekali, namun terus ditambah hingga tak terhingga.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 443).
Tentang kisah Nabi
Ayyub u, Allah I menyebutkannya dalam al-Qur’an, “Dan
(ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya
aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara
semua penyayang.” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami
lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya,
dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami
dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84).




