Agustus 25, 2017

Agar Qurban Kita Diterima

Qurban merupakan salah satu syiar Islam yang disyariatkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah r dan Ijma’ (kesepakatan hukum) kaum muslimin. Allah I berfirman, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan (qurban)” (QS. Al-Kautsar : 2).

Qurban juga disebut dengan istilah udh-hiyah yang bermakna hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah I karena datangnya hari raya tersebut (Lihat Al-Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366).

Dari definisi ini, maka tidak termasuk dalam udh-hiyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqarrub kepada Allah I (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula tidak termasuk udh-hiyyah, hewan yang disembelih di luar hari tasyrik walaupun dalam rangka taqarrub kepada Allah I. Juga tidak termasuk udh-hiyyah, hewan untuk aqiqah dan al-hadyu yang disembelih di Mekkah berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji (Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1525).

Agustus 18, 2017

Cerdaslah Dalam Beramal!

Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun, apakah setiap orang yang rajin beribadah dan beramal akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah dan beramal? Rasanya, tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali : tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Sebab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk sekedar menumpuk berbagai ibadah seperti sangkaan mereka. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna apa-apa.

Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih-letihnya orang-orang shalih terdahulu (salaf) menunjukkan penghambaan kepada Rabb mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiyallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shalih kita harus pula demikian.

Agustus 11, 2017

Pelajaran dari Kematian

Belia, muda, maupun tua, semua akan mati. Kemarin, barangkali kita melihat saudara kita dalam keadaan sehat, bugar, muda dan kuat. Namun hari ini, ternyata ia telah pergi meninggalkan kita, menghadap Rabbnya di sana. Padahal kemarin, barangkali kita melihat seorang tua yang renta, dalam keadaan payah dan susah, yang mungkir umurnya tidak lama lagi dalam hitungan kita, ternyata masih mampu berjalan di muka bumi dengan nafasnya yang terus berhembus. Begitulah maut. Tak satu pun kita tahu kapan ia datang menjemput. Entah esok atau lusa, entahlah. Namun kematian saudara kita, sudah cukup sebagai pengingat dan penyadar dari kelalaian kita, bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali kepada Allah Rabbul Izzati. Dunia akan kita tinggalkan di belakang, akhirat akan kita temui di depan. Ia akan datang pada waktu yang ditentukan. Allah I berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

Agustus 04, 2017

Jauhi Prasangka Buruk

Buruk sangka. Betapa sering ia hinggap di hati kita. Tak ada manusia, kecuali berpotensi mengalaminya. Betapa tidak, ia datang begitu cepat dalam lintasan pikiran hingga ia kerap tak disadari.  “Ah, si A pasti begini, si B pasti begitu, si C pasti demikian, dan seterusnya”. Begitulah. Perasangka itu hadir karena ketiadaan informasi dan bukti yang jelas. Akibatnya, kita pun kerap menduga berbagai kejadian dan peristiwa dengan dugaan-dugaan yang tak semestinya.

Dalam istilah syariat, “buruk sangka” dikenal dengan istilah “su’uzh-zhan” dan lawannya “baik sangka” dikenal dengan istilah “husnuzh-zhan”. Sikap buruk sangka dalam syariat Islam adalah suatu hal yang diharamkan. Allah I berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. al-Hujurat : 12). Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa (su’uzh-zhan).

Rasulullah r kemudian memperjelas dan mempertegas perintah dalam ayat di atas dengan sabdanya, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...