Belajar ilmu tajwid
itu penting. Bahkan ia sangat penting. Betapa tidak, salah mengucapkan huruf
dalam al-Qur’an, bisa berakibat fatal ; merubah makna yang diinginkan oleh
Allah dalam firman-firman-Nya. Itu terjadi karena tidak menerapkan
kaidah-kaidah ilmu tajwid.
Mari kita lihat
contoh-contoh berikut. Seseorang yang membaca awal surah al-Ikhlas, “qul-huwal-laahu ahad”, dimana seharusnya
awal kalimat tersebut dibaca dengan huruf “qaf” (ﻖ), ia membacanya dengan huruf “kaf” (ﻚ). Akibatnya, makna ayat tersebut berubah.
Jika huruf “qaf” itu dibaca dengan benar, maka makna yang kita dapatkan adalah
“Katakanlah, Dia-lah Allah yang Maha
Esa”. Namun jika huruf tersebut dibaca dengan bunyi huruf “kaf”, maka makna
yang kita dapatkan malah “Makanlah,
Dia-lah Allah yang Maha Esa”. Pada contoh yang lain, ketika seseorang membaca
sebuah ayat yang seharusnya dibaca panjang, ia membacanya dengan bacaan yang
pendek. Contohnya, dalam kalimat tauhid, “Laa-ilaaha-illal-laah”.
Huruf “la” (ﻞ) jika
dibaca panjang (ﻻ) maka ia
bermakna “tidak”. Namun jika huruf ini dibaca pendek (ﻞ) maka maknanya berubah menjadi
“benar-benar ada”. Sehingga ketika seseorang salah dalam membaca
panjang-pendeknya huruf ini, maknanya akan berubah 180 derajat. Kalimat “Laa-ilaaha-illal-laah” dengan huruf “la”
dibaca panjang (ﻻ) berarti “ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah”. Sedangkan kalimat “Laa-ilaah-illal-laah” dengan huruf “la”
dibaca pendek (ﻞ) berarti “Memang benar-benar ada Tuhan yang
berhak disembah selain Allah”. Dengan kesalahan ini, maknanya justru berubah
menjadi syirik.


