Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki angan-angan. Ya,
angan-angan yang ingin direalisasikan
menjadi sebuah kenyataan di masa yang akan datang. Apapun itu. Kebanyakannya,
biasanya tidak jauh-jauh dari soal harta, tahta dan wanita. Rasulullah r mengabarkan bahwa
angan-angan manusia di dunia tidak akan pernah habis sampai mereka masuk ke
dalam kubur. Beliau r bersabda, “Seandainya seseorang
memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah emas lagi, dan
tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali debu (tidak ada yang bisa
menghentikan keinginannya kecuali kematian) dan Allah menerima taubat orang
yang bertaubat” (HR. Bukhari). Begitulah tabiat asal
manusia, selalu saja tak pernah puas untuk mewujudkan angan-angannya.
Sebesar apapun angan-angan kita di dunia ini, selama kita masih hidup,
maka kesempatan untuk merealisasikannya masih ada. Yaitu dengan melakukan
sebab-sebab yang sudah ditetapkan oleh Allah I. Namun, jika sudah tidak
hidup lagi, tentu saja angan-angan itu menjadi mustahil untuk diwujudkan.
Karena perwujudan angan-angan itu sudah terputuskan dari sebab. Tetapi, apakah
mereka yang telah mati juga masih memiliki angan-angan yang ingin mereka wujudkan?
Jawabannya, iya.
Kalau begitu, apa yang menjadi angan-angan mereka? Masihkan mereka
menginginkan kenikmatan dunia yang telah banyak menyita perhatian mereka selama
di dunia? Oh, tidak. Mereka tidak lagi mengangankannya. Kalau begitu, apa? Apa
yang masih menjadi angan mereka setelah hayat tidak lagi dikandung badan?
Orang-orang yang sudah meninggal dunia itu, keadaannya bermacam-macam,
tergantung bagaimana amalan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.
Ada yang baik dan ada pula yang buruk, ada yang shalih dan adapula sebaliknya,
ada yang ditangisi kematiannya oleh manusia dan ada pula yang diharapkan
kematiannya. Masing-masing mereka memiliki angan-angan yang berbeda setelah
tiada. Angan-angan mereka ini telah dijelaskan oleh Allah I dan Rasulullah r.
Jika ia adalah orang yang patuh kepada Rabbnya selama di dunia, ia
adalah orang shalih dengan berbagai ketaatannya, dan menjadi orang yang
senantiasa berbuat baik kepada sesamanya, maka angan-angannya adalah :
Pertama, ingin segera di bawa ke
kuburnya setelah ia meninggal. Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari hadits
Abi Sa’id al-Khudri t, “Jika jenazah diletakkan lalu
dibawa oleh para laki-laki di atas pundak mereka, maka jika jenazah tersebut
termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia berkata, “Bersegeralah kalian
(membawa aku)!” Jika ia bukan orang shalih, dia akan berkata, “Celaka, kemana
mereka hendak membawanya ?” Jeritan jenazah itu akan didengar oleh setiap
makhluk kecuali manusia. Seandainya manusia bisa mendengarnya, tentu mereka
akan pingsan” (HR. Bukhari).
Kedua, ingin agar kiamat
dipercepat. Disebutkan dalam hadits yang panjang yang dikeluarkan Imam Ahmad
dalam Musnad-nya bahwa ketika seorang di dalam kubur bisa menjawab pertanyaan
dua malaikat kemudian datang kabar gembira dari Allah I bahwa dia termasuk
penghuni surga, maka hamba tersebut memohon agar hari kiamat dipercepat
kedatangannya (Lihat
Shahihul Jami’ no. 1676).
Ini adalah angan-angan orang shalih setelah melihat tempatnya di
surga, padahal hari kiamat adalah hari yang tersulit dan terberat bagi manusia.
Ini sangat berbeda dengan kaum munafik dan orang orang kafir. Mereka memohon
kepada Allah I agar hari kiamat itu tidak datang, karena mereka tahu bahwa siksa di
neraka itu jauh lebih menyakitkan dibanding siksa di alam kubur yang sementara
mereka alami. (Musnad
Imam Ahmad (30/501)).
Ketiga, ingin agar ia kembali
di dunia dan mati syahid lagi, jika ia mati karena syahid di jalan-Nya.
Shahabat Anas bin Malik t meriwayatkan dari Rasulullah r bahwa beliau r bersabda, “Tidak ada seorangpun yang masuk surga
kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid, dan dia tidak
menginginkan apapun di dunia kecuali mati syahid. Dia berangan-angan untuk
kembali ke dunia kemudian terbunuh sebanyak sepuluh kali, ini di sebabkan oleh
kemuliaan (keutamaan mati syahid) yang
dia saksikan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah sebagian dari angan-angan orang yang telah melihat kemuliannya
di sisi Allah r. Meski ingin kembali ke dunia, namun angan-angan mereka tidak ada
hubungannya dengan dunia dan kenikmatannya sedikitpun. Mereka ingin kembali
untuk menambah amalan agar kemuliaan mereka bertambah di sisi Allah I.
Namun, jika ternyata ia adalah orang-orang yang banyak lalai selama
hidup dunia, lalai dengan berbagai kenikmatannya untuk taat kepada Rabbnya,
maka angan-angan mereka adalah :
Pertama, ingin beramal lagi
meskipun hanya dengan shalat dua rakaat. Mengapa? Karena dunia telah
melenakannya, hingga lalai untuk banyak beramal meski hanya untuk sebuah amalan
yang ringan seperti shalat sunnah dua rakaat. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah t, beliau mengatakan,
“Rasulullah melewati sebuah kuburan,
kemudian bertanya, “Siapa penghuni kuburan ini ?” Mereka menjawab, “Ini kuburan
si Fulan”, lantas Rasulullah r bersabda, “Dua rakaat lebih dia cintai daripada dunia kalian.”(Shahihut
Targhib Wat Tarhib, no. 391).
Dalam riwayat lain di sebutkan, “Shalat
sunnah dua rakaat yang ringan yang kalian remehkan, kemudian ditambahkan pada
amalan orang ini lebih dia cintai dari pada dunia kalian” (Shahihul
Jami’, no. 3518).
Kedua, ingin bersedekah.
Al-Qur'an menyebutkan angan-angan orang yang telah meninggal, yang suka menunda
amal shalih dahulu di dunia, yaitu ingin hidup kembali untuk bersedekah. Allah r berfirman, “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah
Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara
kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan
menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan
termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Al-Munafiqun: 10).
Mengapa dia tidak mengatakan misalnya, “Maka aku dapat melaksanakan
umrah”, “Maka aku dapat melakukan puasa”, dan lain lain? Syaikh Mahir al-Muaqly
hafidzahullah, Imam Masjidil Haram,
mengatakan, “Berkata para ulama, “tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah”
kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia
meninggal”.
Mari kita lihat, bagaimana sedekah itu sangat memberi arti bagi keselamatan
kita setelah meninggal.
Pertama, perkara yang paling menyelamatkan orang di akhirat adalah
iman. Dan sedekah adalah bukti kebenaran iman. Rasulullah r bersabda, “Sedekah adalah bukti”
(HR. Muslim). Imam
Nawawi rahimahullah menjelaskan,
“Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu sedekah (shadaqah) dinamakan demikian karena merupakan bukti dari shidqu imanihi (kebenaran imannya).”
Kedua, sedekah dapat membebaskan pelakunya dari siksa kubur.
Rasulullah r bersabda, “Sedekah akan
memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani,
dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Targhib, 873).
Ketiga, pahala sedekah yang dikeluarkan seseorang akan terus mengalir
kepadanya, walau ia sudah berada di liang kuburnya. Rasulullah r bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka
terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, sedekah
jariyah.” (HR. Muslim).
Keempat, sedekah juga bisa menyelamatkan pelakunya dari jilatan api
neraka. Rasulullah r bersabda, “Hindarkan dirimu
dari neraka walaupun hanya dengan separuh butir kurma” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima, sedekah yang dikeluarkan seseorang akan menaunginya di
akhirat. Rasulullah r menceritakan tentang 7 golongan yang mendapat naungan di hari kiamat
yang tidak ada naungan lain selain dari Allah di hari itu. Salah satunya
adalah, “Seorang yang bersedekah dengan
tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya
tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain, “Setiap orang di bawah naungan sedekahnya
hingga diputuskan hukum di antara manusia.” (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh
Al-Albani).
Maka perbanyaklah bersedekah. Mumpung kita masih di dunia. Ibul Qayyim
rahimahullah berkata, “Sungguh
sedekah itu memberikan pengaruh yang ajaib dalam mencegah bala, menangkal ‘ain
dan juga keburukan hasad. Andaikan itu bukan karena sedekah, sungguh
kejadian-kejadian yang terjadi pada umat-umat terdahulu dan sekarang sudah
cukup menjadi bukti”.
Mengingat bahwa sedekah menjadi salah satu sebab utama yang bisa
menyelamatkan orang-orang yang telah meninggal di akhirat, maka kita pun
dianjurkan untuk bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal, mengingat
bahwa mereka tidak lagi mampu melakukannya.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi r, kemudian dia
mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal
dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin
menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya.
Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah r menjawab, “Iya”. (HR.
Bukhari dan Muslim).
Penutup
Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita yang masih berada dunia
ini, untuk untuk menambah dan memperbaiki amal sebagai bekal untuk bertemu
dengan Allah I. Beramallah dan teruslah beramal, meski amal itu nampak kecik dan
sedikit dalam hitungan kita! Karena kita tak pernah tahu, amalan mana yang
dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak.
Jangan pernah meremehkan kebaikan yang sederhana, kebajikan yang
sebentar, satu langkah menuju majelis ilmu, satu tasbih, satu tahlil, satu
shalawat, satu istighfar, koin infaq 500 rupiah, sepotong kurma untuk berbagi,
sebaris senyum tulus, selembar brosur untuk pengajian, selembar buletin untuk
dakwah kebaikan, atau amalan-amalan baik lainnya, sekecil apapun itu. Mengapa?
Karena kelak ia tak lagi sederhana, ketika ia menjadi sesuatu yang dapat
menambah bobot amalan kita di sisi-Nya. Kita bahkan nanti akan menyesal,
“Mengapa hanya satu?”, “Mengapa hanya sedikit?”, dan seterusnya.
Berkata Muhammad bin Umairah rahimahullah,
“Seandainya seorang hamba sujud kepada Allah dari semenjak dilahirkan sampai
tua sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah, niscaya di hari kiamat dia akan
mengganggap amalan itu sangat sedikit, dia berangan-angan untuk dikembalikan ke
dunia dan bisa menambah pahala dan ganjarannya dari Allah.” (Musnad Imam Ahmad (29/197).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
“Setiap orang yang lalai (di masa hidupnya) pasti akan menyesal di saat
nyawanya akan dicabut. Ia memohon agar umurnya di perpanjang walau hanya sesaat
untuk melaksakan amal shalih yang selama ini ia tinggalkan. (Tafsir Ibnu Katsir (8/133).
Maka, lakukan sekarang! Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar