Maret 06, 2009

Karena Tidak Semua Yang Engkau Tahu, Harus Terucapkan !

( sebuah renungan untuk manajemen lisan, saat diam saat bicara )

Laisa kullu la yu’lamu yuqalu. Tidak semua yang diketahui itu harus terucapkan.Sebab Likulli Maqaamiin maqaalun. Setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan yang tepat. (Atau jika anda mau anda juga bisa mengatakan bahwa setiap perkataan itu memiliki saat dan kondisi yang tepat untuk diucapkan).

Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa yang diberi karunia ilmu dari Allah. Sebab nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa mengetahui saja tidaklah cukup. Karena agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita membutuhkan pemahaman. Yang terakhir inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah Fiqh.

Ya, banyak yang tidak mengetahui Dienullah, hanya sedikit saja yang mengetahuinya, dan dari sedikit yang mengetahui itu, semakin sedikit pula yang diberikan pemahaman. Maka untuk orang yang sangat khusus ini, sang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Mengatakan: “Man Yuridullahu bihi khairan yufaqqihhu fiddiin.” Barang siapa yang dikehandaki oleh Allah mendapatkan puncak segala kebahagiaan, Maka Allah akan memahamkannya (membuatnya Faqih) terhadap diennya.

Anda mungkin pernah mendengar nama seorang tabiin besar bernama Waki’ bin Al Jarrah. Kalau anda belum pernah mendengar namanya, tentu Anda sudah sering mendengar nama Imam Asy-syafi’i. Nah, Imam Asy-syafi’i ini adalah murid dari Waki’ bin Al Jarrah itu. Ketika Asy-Syafii mengalami kesulitan menghafal, para sang guru inilah ia mengadu. Nasehat sang Guru kemudian ia abadikan dalam syair yang sangat terkenal :”Kumengadukan pada Waki’ akan hafalanku yang buruk lalu ia menasehatiku agar meninggalkan maksiat karena ilmu itu adalah cahaya Allah. Dan Cahaya itu tak dikaruniakan kepada pelaku Maksiat”. Waki’ bin Al Jarrah ini pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan akibat tergelincir dalam masalah yang di bahas dalan tulisan ini. Tetapi begitulah, setiap Alim di bumi ini akan mempunyai Zallah, ketergelinciran dan ketersalahan. Tidak ada yang maksum kecuali Rasulluah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Entah bagaimana kisahnya, Waki’ pernah mendengarkan sebuah riwayat tentang kisah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kisah itu diriwayatkan dari seorang yang bernama Isma’il Ibn Abi Khalid. Lalu Isma’il ini meriwayatkannya dari Abdullah Al-Bakhi. Nah Abdullah Al Bakhi inilah yang kemudian mengatakan bahwa “Sahabat Abubakar As-shiddiq Radhiallahu ‘Anhu mendatangi Jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau bersimpuh dan menciumnya seraya mengatakan : “Duhai, alangkah indahnya hidup dan kematianmu, Wahai Rasulullah. “ Setelah itu -masih berdasarkan penuturan Abdullah Al-Bahiyy- jenazah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disemayamkan selama satu hari satu malam,hingga perut beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Agak membengkak demikian pula jari beliau.“ Demikianlah riwayat Abdullah Al-Bahiyy yang diterima oleh Waki’ bin Al-Jarrah.

Suatu ketika dalam sebuah dalam sebuah majelis di Mekkah, dia menyampaikan riwayat ini; sebuah riwayat yang sesungguhnya adalah riwayat yang mungkar dan munqathi’ (terputus). Mekkah pun heboh. Apalagi kalangan orang Qurays. Mereka berkumpul dan bersepakat untuk menyalib Waki’ yang dianggap telah melecehkan Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan meriwayatkan kisah tersebut. Padahal niat Waki’ sesungguhnya sangat baik. Ketika ia ditanya mengapa ia menyampaikan riwayat itu ia mengatakan,”beberapa orang sahabat, diantaranya Umar bin Khatab Radhiallahu ‘Anhu tidak mempercayai bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mengalami kematian. Maka berdasarkan riwayat tersebut Allah kemudian menunjukkan kepada mereka beberapa tanda kematian (yaitu anggota tubuh yang berubah yang menjadi agak bengkak)”

Sebuah alasan yang sangat masuk akal Namun orang-orang Qurays sudah terlanjur marah. Mereka telah menyiapkan kayu untuk menyalib Waki’ bin Al-jarrah. Namun untunglah pertolongan Allah segera menghampirinya. Disaat yang genting itu, muncullah Sufyan bin Uyainah. Ia segera saja berteriak, “Demi Allah! Demi Allah! Jangan kalian lakukan itu! Ini adalah Faqihnya negeri Irak ,ayahnya juga seorang Alim besar disana.”

Sedangkan riwayat yang ia sampaikan itu adalah riwayat yang masyhur.” (Dan Sufyan tidak berdusta ketika mengatakan bahwa riwayat itumerupakan riwayat yang Masyhur, sebab sebuah riwayat yang masyhur belum tentu shahih). Padahal seperti kata Sufyan : “Aku belum pernah mendengarkan riwayat itu sebelumnya, Aku hanya ingin menyelamatkan Waki. “

Demikianlah akhir kisah Waki’ bin Al -Jarrah, guru Imam Asy-syafi’i. Seperti kata seorang ahli sejarah besar Adz-Dzahaby. “Kisahnya sungguh aneh. Ia sesungguhnya bermaksud baik. Namun sangat disayangkan saat itu kenapa ia tidak memilih diam dan tidak menyampaikan riwayat itu. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Telah mengatakan : “Cukuplah menjadi dosa seseorang bila ia membicarakan setiap apa yang ia pernah dengarkan’....Hampir saja nyawanya melayang.....”

Maka seperti kata-kata hikmah kita pun mengatakan, “.......walaisa kullu maa yuqaalu, yuqaalu fiqulli maqaam.....” -Bila tidak semua yang diketahui itu pantas terucapkan- maka tidak semua yang pantas terucapkan itupun tidak serta merta dapat diucapkan disetiap tempat, waktu, dan orang. Sebuah pesan penting untuk para pemilik ilmu untuk bersikap bijak.
(Sumber : Perindu-Perindu Malam, Abul Miqdad Al-Madani, Mujahid Press)

Kepada Anda yang Sedang Sakit, Berbahagialah !

Segala puji bagi Allah, yang menentukan segala takdir, yang menyembuhkan segala penyakit serta menyingkirkan segala mcam bentuk musibah. Shalawat dan Salam semoga terlimpahkan kepada NabiNya yang terpilih, kepada sanak keluarga beliau yang mulia serta para sahabat beliau yang terbaik.
Teruntuk mereka yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan berbagai musibah dan kesulitan.
Teruntuk mereka yang Allah kehendaki untuk menjadi lebih bersih melalui terpaan berbagai macam penyakit.
Teruntuk juga mereka yang ingin mengenal dan memahami hakikat penyait yang sedang menimpanya.
Atau, mereka yang kehilangan tenaga dan kesegaran jasmaninya, namun tetap berdzikir kepada Allah bersyukur dan mengharapkan pahala dariNya.
Camkanlah, firman Allah ‘Azza Wa Jalla, artinya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. Al Baqarah : 216).
Wahai Saudaraku yang sedang sakit! Semoga Allah memberikan kesembuhan dan keselamatan kepadamu. Cobalah sejenak unuk membuka kelopak matamu dalam kesempatan yang selintas ini. Perbesarlah pandangan jiwamu untuk menyelami tulisan singkat yang semoga berisi pelajaran berharga dan ungkapan yang baik ini. Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai hiburan saat dibaca, sebagai obat bagi jiwa yang sedang lemah, dan sebagai jalan untuk bermunajat kepadaNya.

Berbaik Sangka Kepada Allah
Nikmat kesehatan dan ’afiat laksana mahkota raja di atas kepala, yang tidak dapat dilihat kecuali oleh mereka yang sedang terbaring lemas, merana dan merintih menderita sakit di atas ranjang-ranjang putih. Namun, ketahuilah, hal itu merupakan ketetapan Allah Yang Maha Penyayang terhadap setiap hambaNya. Yakinlah, bahwa setiap ketetapan itu tidak lepas dari hikmah dan kasihNya kepada makhlukNya, melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah!!. Ya, demikianlah seorang mukmin mesti bersikap. Ingatlah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, artinya :”Aku tergantung biknya sangka hamba terhadapKu. Jika baik,maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya”. (HR.Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Cobaan adalah Tanda Kasih Allah
Siapa saja yang mencermati perjalanan hidup para nabi dan rasul ’alaihimussalam sebagai orang-orang yang paling dicintai oleh Allah, pasti akan mendapatkan bahwa cobaan adalah garis hidup mereka, kesusahan dan penyakit seolah menjadi senandung mereka.
Betapa tidak, sebab cobaan dan penyakit yang menimpa orang yang memilki hubungan yang baik dengan Allah, lalu ia mendapatkan karunia untuk bisa bersabar, niscaya semua itu menjadi tanda kebaikan dan cinta kasih dari Rabbnya.
Dan hal ini terus berlangsung dalam garis kehidupan mereka dan orang-orang beriman sebagai ujian kebenaran atas keimanan yang terpatri dalam qalbu mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta “ (QS. Al Ankabut : 1-3).
Dari Anas bin Malik radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yag ridha menerima cobaannya, maka ia aman menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kermurkaan Allah” .(HR. Tirmidzi).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya” .(HR. Bukhari).
Dan juga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jika sekiranya Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan memberikan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi, Baihaqi).
Sa’ad bin Abi Waqqas pernah ditanya oleh seseorang : ”siapakah yang paling besar cobaannya? ”, beliau menjawab : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Orang yang paling berat cabaannya adalah para nabi, baru diikuti oleh orang di bawah kedudukan mereka secara berturut. Seorang hamba hamaba akan mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau imannya kuat, maka cobaan yang menimpanya juga berat. Kalau imannya lemah, maka cabaan yang menimpanya disesuaikan dengan kadar keimanannya. Cobaan akan terus menimpa seorang hamba, sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa memilki dosa lagi.” (HR. Tirmidzi).
Demikianlah, para ulama salaf telah menyelami makna hadits-hadits tersebut sehingga mereka mendapatkan pelita terang di dalamnya. Mereka menganggap bahwa cobaan dan penyakit adalah kenikmatan, kabar gembira dan cinta kasih dari Rabbnya Yang Maha Kasih dan Lembut bagi setiap hambaNya.

Cobaan Adalah Jalan Menuju Jannah
Sekali lagi, sesungguhnya berbagai wabah dan penyakit termasuk di antara bentuk cobaan Allah terhadap para hambaNya, sebagai ujian atas kesabaran dan keimanan mereka. Bahkan bagi orang yang memiliki pemahaman dan daya merenung yang tinggi, bisa menjadi kenikmatan yang besar yang wajib disyukuri. Sebab, berbagai terpaan cobaan dan penyakit tersebut, menjadi jalan diampuninya dosa-dosa dan ditinggikannya derajat mereka di sisi Allah.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahnnya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunya (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Begitu pula, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim sampai duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengan itu kesalahan – kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ada seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, aku akan mendoakan agar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib? Wanita itu menjawab : Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada berkahnya sama sekali. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi” .( HR. Muslim).
Saudaraku tercinta!. Kemungkinan engkau memliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat dicapai oleh amal perbuatanmu semata. Allah akan terus menurunkan cobaan kepadamu dengan hikmahNya yang mungkin engkau tidak sukai, lalu Allah memberikan kesabaran kepadamu untuk menghadapiya sehingga engkau mencapai kedudukan tersebut. Bila demikian, kenapa esti bersedih?.

Pahala yang Terus Mengalir
Di antara ke-Maha Lembut-an Allah dan rahmatNya, bahwa apabila Allah menutup satu pintu kebajikan bagi seseorang, pasti Allah akan membukakan banyak pintu kebajikan lain. Lebih dari sekesar pahala yang dituliskan bagi orang yang sakit sebagai balasan dari penyakit dan kesulitan yang dideritanya, Allah ternyata juga tidak menghalangi mereka mendapatkan pahala dari berbagai ibadah yang biasa mereka lakukan, meskipun mereka tidak sempurna melakukannya lagi karena mereka sedang sakit.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :” Kalau seorang hamba sakit atau sedang bepergian, pasti Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia mengamalkan ibadah di masa masih sehat dan sedang bermukim.” (HR. Bukhari).
Dan satu lagi, bahwa setiap keadaan yang dihadapi oelh seorang hamba beriman menjadi kebaikan buat dirinya. Rasulullah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Sungguh ajaib kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja. Apabila ia memperoleh kenikmatan akan bersyukur, maka kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Apabila ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itu pu akan menjadi kebaikan buat dirinya”. (HR. Muslim).
Kemuliaan apa lagi yang bisa didapatkan setelah kemuliaan yang Allah berikan ini? Keutamaan apa pula yang lebih luas dari keutamaan Allah yang mengaruniai berbagai keutamaan?.
Saat sakit, seorang hamba beristirahat, namun Allah masih menuliskan pahala dari perbuatan yang diamalkannya di masa sehat.
Akhirnya, Semoga Allah melimpahkan kesehatan kepada Anda, kami dan kepada setiap mreka yang sedang diuji oleh Allah dengan penyakit. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mapu bersyukur dan bersabar. Dan, semoga musibah dan bala’ TIDAK ditimpakan dalam agama kita. Amin, Ya Mujiib As Saa’iliin.
Referensi : Absyir Ayyuhal Maridh, DR.Muhammad Ar Rukban, Rasaa’il Tarbawiyah, Shalih bin Ali Ab ’Arrad Asy Syahri.

Bagaimana Memberi Nama Bagi Anak Anda ?

Nama adalah ciri atau tanda. Dengan nama, sesuatu dapat dikenali. Seorang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Sehigga, seseorang yang tidak diberi atau memiliki nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat. Dan inilah hakikat pemberian nama kepada seseorang yakni agar ia dapat dikenal dan dimuliakan .

Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan (sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibn Hazm dalam Marotib Al-Ijma’, hal: 154).

Waktu Pemberian Nama

Waktu penamaan anak dalam syariat Islam, cukup longgar. Boleh menamainya pada hari kelahirannya atau pada hari ke tujuh, masing-masing memiliki dasar hukum. Imam Al-Bukhari dan Muslim membawakan suatu hadits dari ahl bin Sa’d As-Sa’idi, dia berkata: “Al-Mundzir bin Usaid dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kelahirannya. Rasulullah memangkunya. Sedangkan ayahnya duduk. Rasulullah memainkan sesuatu di hadapan sang bayi. Abu Usaid meminta orang lain untuk mengambil Usaid dari pangkuan Rasulullah. Maka diambillah bayi itu dari pangkuan Rasulullah, Rasulullah bertanya : “Dimana bayinya”. Abu Usaid menjawab : “Kami pindahkan wahai Rasulullah”. Lalu beliau bertanya : “Siapa namanya?”. Ayahnya menjawab : “Fulan”. Rasulullah menyanggah : “Tidak, namanya (yang tepat) adalah Al-Mundzir”.

Dalam Shahih Muslim dari hadits Sulaiman bin Al-Mughirah dari Tsabit dari Anas, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Malam ini bayiku lahir, Aku beri nama mirip nama moyangku, Ibrahim”. Dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu, Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah meriwayatkan, ia berkata : “Rasulullah bersabda : “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh (kelahirannya) sekaligus dinamai dan dicukur rambut kepalanya”. [Fatawa Islamiyah 4/489, Lajnah Daimah].

Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.

Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Ibu
Sebagaimana hak (kewajiban) memberikan nama kepada anak adalah di pihak bapak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya. Oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, artinya : “ Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5).

Dan manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: “Fulan bin fulan”. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim).

Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak

1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.

Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.

2. Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah dengan nama-namaNya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.

3. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi. Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi ( Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155).

Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori, Kitab Adabul Mufrod).

Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.

Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah: ”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang” (Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah).

4. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.

Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda : “Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).

Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang – orang shalih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak – anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Nama-nama yang Diharamkan

a. Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (hambanya Rasul), Abdun Nabi (hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Uzza (hambanya Al-‘Uzza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (hambanya Matahari) dll.
b. Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
c. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
d. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
e. Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
f. Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).
g. Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.

Nama-nama Yang Dimakruhkan

a. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
b. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatanperbuatan maksiat.
c. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’aun, misal: Fir’aun, Qarun, Haman.
d. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifatsifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
e. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (ﺍﻠﺪﻴﻦ), dan lafadz “Islam” (ﺍﻹﺴﻼﻢ) ,misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
f. Dimakruhkan memberi nama ganda, Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya. Misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
g. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.

Jalan Keluar Antara Haram - Makruh

Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama – nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll. Wallahu A’lam.

Referensi :
 Tasmiyah Al-Maulud, Syaikh Bakr Abu Zaid
 www. almanhaj.or.id ;
 www. abdurrahman.wordpress.com.



.

Mereka Yang Tersembunyi

Tentang al-Alkhfiya’. Mereka adalah orang–orang yang sepi, tersembunyi. Mereka adalah orang – orang yang memahami benar bahwa beramal -sekecil apaun itu- semata-mata demi Allah Ta’ala saja. Tidak untuk yang lain. Dan mereka selalu ada di setiap zaman. Namun begitulah, sungguh tidak mudah menjumpai mereka. Bahkan teramat sulit. Sebab mereka adalah orang-orang yang tersembunyi.

Orang – orang seperti mereka benar-benar tidak pandai bertingkah demi menarik simpati manusia. Tanpa bermaksud merendahkan sesama manusia, namun para manusia bagi mereka sangat tidak pantas untuk dijadikan sumber simpati, penghargaan dan perhormatan. Simpati yng mereka cari adalah simpati Sang Agung, Allah Azza wa Jalla. Karenanya, mereka tidak akan pernah berlagak khusyu’ dan zuhud di hadapan manusia, lalu kehilangan –dari sifat khusyu’ dan zuhud – saat berhadapan dengan Allah Sang Khalik.

Sehingga, sangatlah pantas, jika perikehidupan mereka kemudian menjadi inspirasi bagi kita. Berikut kami sajikan, sebagian darinya. Kisah teladan yang tersimpan dalam lipatan – lipatan sejarah manusia shalih, para al-Akhfiya sepanjang zaman. Selamat membaca!. ********************
Apakah Anda tahu seorang tabi’in yang mulia bernama Muhammad bin Sirin?. Semoga Anda tahu atau kelak akan mengetahuinya. Muhammad bin Sirin bila bersama manusia di siang hari ia justru seringkali tertawa. Namun saat malam mulai merangkak memeluk bumi, bila engkau melihat bagaimana ia beribadah dan bermunajat ia menjelma bagai orang yang telah membunuh semua penghuni sebuah desa. Seolah ia telah melakukan dosa yang tak terampunkan. Jiwanya begitu mudah untuk merasa sedih dan takut akan kelalaian dan dosa-dosa.
Ia juga pernah bertutur, ”Jadilah orang yang menyukai status khumul dan membenci popularitas. Namun jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud, justru mengeluarkan dirimu dari kezuhudan. Karena dengan cara itu, kamu menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu”. Khumul dalam perkataan beliau adalah status tersembunyi dan tidak dikenal. Bukan berarti sikap malas. (Lihat ”Al Qamus Al Muhith”, materi kata Khamula).
Dari Habib bin Abu Tsabit diriwayatkan bahwa ia berkata : ”Suatu hari Abdullah bin Mas’ud keluar dari rumah. Tiba – tiba orang –orang mengikutinya. Beliau kemudian berkata : ”Apakah kalian membutuhkan sesuatu?, mereka menjawab : ”Tidak, kami hanya ingin berjalan bersamamu”. Beliau berkata: ”Pulanglah!, yang demikian itu adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan malapetaka bagi yang diikuti”. Beliaupun suatu ketika pernah berkata : ”Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentang diriku sendiri, niscaya kalian (akan) menaburkan tanah di atas kepalaku”.
Seorang tabi’in besar lain bernama Ayyub As-Sikhtiyany pernah mengatakan, ”Sungguh demi Allah! Seorang hamba belum benar-benar jujur menghamba kecuali bila ia telah merasa gembira saat tidak ada seorang makhluk pun mengetahui di mana ia berada”. Dan tabi’in yang satu ini bila mengajarkan hadits – hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lalu hatinya tersentuh hingga matanya hampir menangis, ia segera menolehkan wajahnya dan membuang ludah seraya berkata, ”Sakit flu ini terasa agak berat”. Ia seolah-olah sedang sakit. Ia melakukannya demi menutupi air matanya yang hampir jatuh.
Begitulah mereka. Selalu saja ada cara-cara para al-akhfiya’ itu untuk menutupi amalan shalih mereka dari pandangan manusia.
Bahkan yang juga tak kalah mengagumkannya,kisah tentang seorang tabi’in lain bernama Muhammad bin Wasi’ pernah bertutur, ”Ada orang yang selama dua puluh tahun lamanya sering menagis (karena Allah) namun selama itu pula tidak sekali pun istrinya mengetahui tangisannya”.
Subhanallah! Seorang wanita yang begitu dekat dengannya, selama dua puluh tahun tidak mengetahui bagaimana ia melewati malam-malamnya dengan tangisan kepada Allah.
Kisah lain adalah kisah seorang ’alim besar bernama Imam Al Mawardy. Salah satu karyanya yang mungkin sangat Anda kenal adalah Al-Ahkam As-Sulthaniyah, sebuah krya besar dalam bidang politik Islam. Ternyata semua karya ilmiah beliau tak satu pun muncul ketika beliau masih hidup. Semua karya beliau tersembunyi di suatu tempat. Saat kematiannya semakin mendekat, ia berpesan kepada seorang yang ia percaya, ”semua kitab yang di tempat fulan itu adalah karya-karyaku. Kelak bila aku telah berhadapan dengan sakaratul maut, letakkanlah tanganmu di telapak tanganku. Bila saat ruhku lepas dan ternyata aku menggenggam tanganmu, itu pertanda Allah tidak menerima satupun karya-karyaku itu. Kumpulkanlah semuanya lalu buanglah ia ke sungai Dajlah saat malam tiba. Namun bila telapak tanganku terbuka dan tidak menggengam tanganmu, maka itu pertanda aku telah beruntung dan aku telah menulisnya dengan niat yang ikhlas” .
Demikianlah pesan sang Imam. Saat kematian benar-benar berada di sisinya, lalu ruhnya kembali kepada Sang Pencipta, ”Telapak tangannya terbuka dan tidak menggenggam tanganku”. Aku pun sadar bahwa itu pertanda ia diterima oleh Allah. Maka aku pun menyebarkan karya-karyanya sepeninggalnya”, ujar orang kepercayaan sang Imam itu.
Rasul kita yang mulia, Muhammad bin Abdillah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang taqiy, ghaniy, dan khafiy. (HR. Muslim). Taqiy adalah mereka yang melaksanakan segala yang diwajibkan oleh Allah dan menjauhi segala laranganNya, semata-mata ingin meraih keridhaanNya dan takut akan adzab dan sikasaanNya. Ghaniy adalah mereka yang senantiasa menjaga dirinya , dengan tidak meminta kepada manusia. Ia (hanya) bertopang terhadap rezeki pemberian Allah yang ia dapatkan dari usahanya. Sedangkan khafiy -dan ini yang menjadi bahasan kita- adalah mereka yang tidak menyebut-nyebut amal kebaikannya dan senantiasa menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah.
Ada juga ungkapan Imam Syafi’i (Ah, siapa yang tak kenal dengan imam yang satu ini). Dorongan keihklasan yang kuat mendorongnya suatu ketika untuk mengatakan, ”Sungguh aku mengangankan andai saja manusia dapat mengetahui ilmu (yang kuajarkan) ini tanpa ada satupun yang dinisbatkan (disandarkan) kepadaku selama-lamanya, sehingga dengan begitu aku mendapatkan pahala tanpa perlu mendapatkan pujian manusia”.
Duhai, betapa beratnya mencapai derajat mereka! Derajat para akhfiya’. Kafilah manusia-manusia tersembunyi. Wallahu A’lam. (abm).
Referensi :
Aina Nahnu Min Akhlaq As Salaf., Abdul Aziz bin Nashir Al Jalil. Penjelasan Hukum dari Kitab Bulughul Maram, Abdullah bin Abdurahman Al Bassam. Perindu-Perindu Malam, Abul Miqdad Al Madany..

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...