Innaalillaahi wa
innaa ilaihi raaji'un. Dalam
kegembiraan berbagi di hari raya Idul Adha yang penuh berkah, terbersit
kesedihan dalam relung hati yg mengharu biru. Beragam kekejaman yang menimpa
saudara-saudara kita di Rohingya, membuat kita merasa lemah selemah-lemahnya
dan sedih sesedih-sedihnya.
Bayangkan, saat
kita, istri, dan anak-anak serta orang-orang terdekat kita dari kerabat diancam
untuk dibunuh dan tak ada jalan untuk bernegosiasi. Bayangkan, pasukan pembunuh
itu sudah datang ke desa-desa dan membakar semua rumah-rumah yang ada, lalu
mengejar dan membantai seluruh penduduknya yang tersisa meski di atas badan
jalan dan tengah sawah. Bayangkan, jika dalam kondisi seperti itu, tak ada
penguasa dan pihak berwajib yang dapat menolong dan mengayomi kita karena
mereka adalah bagian dari kekejian yang mungkin menjadi yang paling brutal di
abad ini. Kemana lagi kita akan lari, jika ternyata penguasa wilayah perbatasan
menolak kita karena alasan bahwa kita bukan bagian dari warga negaranya. Inilah
kisah nyata yang terjadi pada saudara-saudara kita di Rohingya hari ini.
Mereka adalah
saudara-saudara muslim kita. Mereka adalah kaum papa yang terzalimi oleh sesama
bangsanya. Mereka terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri, hanya karena
meyakini bahwa Allah Ta'ala semata yang berhak untuk disembah, bukan
dewa atau ruh leluhur seperi yang diyakini oleh sebagian orang di sana.
Tahun 2008 lalu, mungkin
itu kali pertama kita mendengar kabar mereka, saat perahu yang normalnya hanya
30 orang dimuati 150-200 orang, mengambang di lautan lepas yang akhirnya sampai
ke Aceh. Tak hanya satu kapal, tapi puluhan. Kapal yang akhirnya terbawa arus
dan angin, sampai ke Indonesia adalah yang beruntung. Tetapi kapal lainnya, ada
yang tenggelam, ada yang akhirnya berlabuh di negeri bukan Muslim. Alih-alih
menjemput mereka di garis pantai, mereka kembali disiksa dan tak sedikit
akhirnya meregang nyawa. Badan mereka kurus tinggal tulang, tatapannya penuh
harapan, dan kisah-kisah mereka bahkan lebih mengerikan dari film horor
sekalipun, sebab kisah-kisah itu terjadi langsung pada mereka.
Jika
kita baru mengetahui kondisi mereka sejak sekitar kurang dari 10 tahun
terakhir, sungguh itu sangat terlambat. Rezim kejam Myanmar menutup akses
berita tentang kondisi muslim di sana, bahkan berita yang banyak beredar adalah
justru sebaliknya bahwa berita penyiksaan itu bohong atau bahwa itu adalah
karena kesalahan umat Islam di sana. Akhirnya, kita pun tidak berbuat-apa-apa,
merasa aman-aman saja. Padahal sejatinya, penindasan itu sudah berlangsung
selama kurang lebih 200 tahun lamanya. Ironisnya, kita baru sadar dan percaya
setelah hampir dua juta muslim Rohingya hidup di luar negrinya dan lebih dari
500.000 wafat teraniaya rahimahumullah.
Memang,
bumi tempat muslim Rohingya berpijak hari ini tidak se-istimewa bumi Palestina
dimana kaum muslimin juga tertindas di sana dan terus menantikan kebebasan
al-Aqsa sepenuhnya. Memang, bumi di mana saudara muslim Rohingya disiksa hari
ini tidak se-mulia bumi Suriah sebagai negeri para nabi, rasul dan ulama.
Tetapi, bumi muslim Rohingya hari ini, meski tidak memiliki keberkahan khusus
seperti Palestina dan Suriah, menjadi saksi atas keistiqamahan mereka memegang
teguh aqidah laa ilaaha illal-laah meski nyawa taruhannya. Sungguh
perkara yang tidak mudah bagi umumnya manusia yang mengaku muslim hari ini.
Kalaulah ada sebagian kita yang masih enggan untuk berempati kepada mereka
karena mereka adalah muslim, paling tidak dari sisi kemanusiaan, kita wajib
berempati kepada mereka. Mereka adalah manusia seperti kita yang juga berhak
hidup dengan aman dan sejahtera.
Di
zaman yang penuh ujian dan cobaan ini, kita perlu mengingatkan tentang hakikat
ajaran Islam yang sangat mendasar, yaitu wajibnya saling menolong di antara kaum
muslimin, dan wajibnya membela umat yang terzhalimi dan tertindas. Jika kita
memiliki kemampuan untuk membela, maka kita wajib membela. Allah I berfirman, artinya: “Dan jika mereka meminta tolong kepadamu
dalam agama maka kamu wajib menolong, kecuali atas kaum yang terdapat
perjanjian antara kamu dan mereka. Sedangkan Allah melihat apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 72). Jika kita tidak saling
tolong-menolong, maka Allah I menjadikan
kita lemah dan hina dan kekufuran merajalela. Allah berfirman, artinya: “Dan
orang kafir itu sebagian mereka menolong sebagian yang lain, maka jika kalian
tidak melakukannya (saling menolong dalam agama) maka aka nada fitnah di muka
bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal: 73). Sebagian
ahli ilmu menyebutkan bahwa “fitnah” yang dimaksud di sini adalah fitnah berupa
perang, pembunuhan terhadap muslim, pengusiran, dan penangkapan. Sedangkan
“kerusakan yang besar” yang dimaksud adalah munculnya syirik di permukaan.
Setiap
muslim selayaknya selalu berbagi rasa dengan saudaranya, sedih karena sedihnya,
senang karena senangnya. Orang muslim tidak membiarkan saudaranya, tidak
menelantarkannya, tidak menyerahkannya kepada musuh. Tetapi wajib peduli,
memperhatikan nasibnya, membelanya dan menolongnya. Nabi r bersabda,
“Tidak ada seorang yang membiarkan seorang muslim di tempat dia dihinakan
kehormatannya, dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya), melainkan Allah pasti
menghinakannya di tempat yang dia ingin mendapatkan pertolongan. Dan tidak ada
seorang yang menolong seorang muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya dan
dilanggar kemuliaannya (hak-haknya) melainkan Allah pasti menolongnya di tempat
yang dia ingin ditolong di dalamnya. (HR. Abu Daud, Thabrani dalam al-Ausath.
Dihasankan sanadnya oleh Haitsami).
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita umat Islam sebagai umat yang satu. Tujuannya adalah agar kita senantiasa merasa sebagai saudara dan peduli terhadap saudara seiman di manapun mereka berada. “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR. Muslim), begitu kata Nabi kita r dalam sabdanya. Dalam haditsnya yang lain, Rasulullah r juga bersabda, “Orang muslim itu saudara muslim lainnya, tidak mengkhianatinya, tidak mendustainya dan tidak menghinakannya.” (HR. Tirmidzi).
Ketahuilah
bahwa kezhaliman yang dirasakan oleh umat islam Rohingya adalah kezhaliman yang
ditimpakan kepada kita. Kita semua dizhalimi. Maka mari bersemangat untuk
berdoa bagi kita dan bagi muslim Rohingya sebab kita semua adalah mazhlum
(yang dizhalimi) dan doa orang yang mazhlum diijabah oleh Allah. Nabi r bersabda, “Tiga orang doanya tidak ditolak: orang yang puasa
hingga berbuka, imam yang adil dan doa orang yang dizhalimi yang Allah
mengangkatnya di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Lalu
Allah berkata kepadanya: demi Kemulian-Ku dan keagungan-ku, Aku pasti akan
menolongnya walau kemudian” (HR Ahmad).
Olehnya,
jangan sampai kita tidak peduli dan tidak menunjukkan solidaritas kepada
saudara-saudara kita di sana. Tidak boleh kita berputus asa dalam melantunkan
doa-doa untuk saudara-saudara kita di sana. Tidak boleh kita merasa bahwa
doa-doa itu sia-sia. Tidak boleh pula
kita mengira bahwa rezim militer yang keji itu akan dibiarkan dengan
kesombongannya begitu saja. Tidak, sekali-kali tidak. Allah sudah berjanji
dalam firman-Nya, ”Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya
Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata
(mereka) terbelalak” (QS Ibrahim :
42). Doakan mereka, doakan mereka. Sebab doa adalah senjata seorang
mukmin. Dan Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menolak setiap bahaya yang
mengancam hamba-hambaNya. Allah lah yang Maha Kuasa untuk membelokkan peluru
militer agar tidak mengenai tubuh saudara-saudara kita di sana. Teruslah
panjatkan doa-doa yang khusyuk dalam qunut nazilah kita.
Kita harus
terus mendorong dan mendesak pemerintah untuk secepatnya mengambil sikap
politik yang tegas terkait pembantaian dan genosida terhadap kaum muslim
Rohingya di Myanmar. Bukan hanya karena kita negara dengan umat Islam terbesar
di dunia, tetapi juga karena segala bentuk diskriminasi, kezaliman dan
penindasan tidak boleh dibenarkan dan dibiarkan begitu saja. Sekali lagi karena
mereka uga manusia seperti kita. Negara
kita melalui diplomasinya juga harus menggalang dukungan dunia internasional
untuk penyelesaian masalah muslim Rohingya ini.
Di samping
itu, kita harus terus menggalang bantuan dalam segala macam bentuknya untuk
membantu meringankan penderitaan saudara kita kaum muslim Rohingya di tempat
pengungsian mereka. Kita perlu menyosialisasikan informasi tentang tragedi
kemanusiaan muslim Rohingya ini melalui berbagai media yang efektif agar umat
ini memiliki kesadaran akan tragedi kemanusiaan yang terjadi di sana.
Rasulullah bersabda, “Sesama muslim adalah saudara, tidak boleh seorang
muslim bersikap zalim kepada muslim lain atau menyerahkan kepada musuhnya.
Siapapun yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan mencukupi
kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu penderitaan seorang muslim
maka Allah akan menghilangkan satu penderitaannya di hari kiamat. Siapapun yang
menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di hari
kiamat" (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari tragedi
muslim Rohingya ini, juga dari tragedi minoritas muslim lain di dunia ini, kita
bisa mengambil hikmah akan pentingnya persatuan. Umat Islam harus menyadari
bahwa dengan persatuanlah mereka akan dapat memperjuangkan kepentingan dan
kemaslahatan mereka. Umat Islam harus mengikis ideologi materialime dalam
pikiran dan hati mereka, menjauhi sistem kapitalisme dan meninggalkan gaya
hidup hedonisme agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaannya dan bisa
memainkan peranan pentingnya dalam perdamaian dunia. Rasulullah r bersabda, “Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk
melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap
hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami
ketika itu? Rasul menjawab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi
kalian laksana buih di lautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan
kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati
kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah?
Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian.” (HR. Ahmad dan
Abu Daud).
Dan sungguh
hari ini, kita hampir-hampir seperti buih itu. Saat saudara-saudara muslim Rohingya
terbuang, kita pun tak berdaya. Kita hanya mampu menunggu mereka terapung dan
terdampar dihalau angin laut di lautan luas, untuk kita selamatkan ke dalam
perahu yang lusuh dan seadanya. Hanya itulah yang kita mampu, itu pun apabila
mereka selamat di tengah laut, setelah menderita, setelah ribuan dari mereka
meninggal dunia di negeri Arakan sana, setelah mereka meninggal dunia di laut
dan jasadnya dimakan ikan. Untuk itu, sejatinya kita layak untuk mengatakan, “Rohingya,
maafkan atas ketidakberdayaan kami“.
Sebagaimana
tanah al-Aqsha dan Suriah yang telah memanggil kita, muslim Rohingya juga
memanggil kita. Mari berkontribusi untuk mereka di sana, paling minimal dengan
doa-doa yang tak putus-putusnya. Jika
kelak di akhirat, saat kita diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah
kita dengar hari ini, mudah-mudahan ada jawaban yang bisa kita
pertanggungjawabkan di hadapan-Nya nanti.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar