September 01, 2017

Maafkan Kami Rohingya

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. Dalam kegembiraan berbagi di hari raya Idul Adha yang penuh berkah, terbersit kesedihan dalam relung hati yg mengharu biru. Beragam kekejaman yang menimpa saudara-saudara kita di Rohingya, membuat kita merasa lemah selemah-lemahnya dan sedih sesedih-sedihnya.

Bayangkan, saat kita, istri, dan anak-anak serta orang-orang terdekat kita dari kerabat diancam untuk dibunuh dan tak ada jalan untuk bernegosiasi. Bayangkan, pasukan pembunuh itu sudah datang ke desa-desa dan membakar semua rumah-rumah yang ada, lalu mengejar dan membantai seluruh penduduknya yang tersisa meski di atas badan jalan dan tengah sawah. Bayangkan, jika dalam kondisi seperti itu, tak ada penguasa dan pihak berwajib yang dapat menolong dan mengayomi kita karena mereka adalah bagian dari kekejian yang mungkin menjadi yang paling brutal di abad ini. Kemana lagi kita akan lari, jika ternyata penguasa wilayah perbatasan menolak kita karena alasan bahwa kita bukan bagian dari warga negaranya. Inilah kisah nyata yang terjadi pada saudara-saudara kita di Rohingya hari ini.
Mereka adalah saudara-saudara muslim kita. Mereka adalah kaum papa yang terzalimi oleh sesama bangsanya. Mereka terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri, hanya karena meyakini bahwa Allah Ta'ala semata yang berhak untuk disembah, bukan dewa atau ruh leluhur seperi yang diyakini oleh sebagian orang di sana.


Tahun 2008 lalu, mungkin itu kali pertama kita mendengar kabar mereka, saat perahu yang normalnya hanya 30 orang dimuati 150-200 orang, mengambang di lautan lepas yang akhirnya sampai ke Aceh. Tak hanya satu kapal, tapi puluhan. Kapal yang akhirnya terbawa arus dan angin, sampai ke Indonesia adalah yang beruntung. Tetapi kapal lainnya, ada yang tenggelam, ada yang akhirnya berlabuh di negeri bukan Muslim. Alih-alih menjemput mereka di garis pantai, mereka kembali disiksa dan tak sedikit akhirnya meregang nyawa. Badan mereka kurus tinggal tulang, tatapannya penuh harapan, dan kisah-kisah mereka bahkan lebih mengerikan dari film horor sekalipun, sebab kisah-kisah itu terjadi langsung pada mereka.

Jika kita baru mengetahui kondisi mereka sejak sekitar kurang dari 10 tahun terakhir, sungguh itu sangat terlambat. Rezim kejam Myanmar menutup akses berita tentang kondisi muslim di sana, bahkan berita yang banyak beredar adalah justru sebaliknya bahwa berita penyiksaan itu bohong atau bahwa itu adalah karena kesalahan umat Islam di sana. Akhirnya, kita pun tidak berbuat-apa-apa, merasa aman-aman saja. Padahal sejatinya, penindasan itu sudah berlangsung selama kurang lebih 200 tahun lamanya. Ironisnya, kita baru sadar dan percaya setelah hampir dua juta muslim Rohingya hidup di luar negrinya dan lebih dari 500.000 wafat teraniaya rahimahumullah.

Memang, bumi tempat muslim Rohingya berpijak hari ini tidak se-istimewa bumi Palestina dimana kaum muslimin juga tertindas di sana dan terus menantikan kebebasan al-Aqsa sepenuhnya. Memang, bumi di mana saudara muslim Rohingya disiksa hari ini tidak se-mulia bumi Suriah sebagai negeri para nabi, rasul dan ulama. Tetapi, bumi muslim Rohingya hari ini, meski tidak memiliki keberkahan khusus seperti Palestina dan Suriah, menjadi saksi atas keistiqamahan mereka memegang teguh aqidah laa ilaaha illal-laah meski nyawa taruhannya. Sungguh perkara yang tidak mudah bagi umumnya manusia yang mengaku muslim hari ini. Kalaulah ada sebagian kita yang masih enggan untuk berempati kepada mereka karena mereka adalah muslim, paling tidak dari sisi kemanusiaan, kita wajib berempati kepada mereka. Mereka adalah manusia seperti kita yang juga berhak hidup dengan aman dan sejahtera.  

Di zaman yang penuh ujian dan cobaan ini, kita perlu mengingatkan tentang hakikat ajaran Islam yang sangat mendasar, yaitu wajibnya saling menolong di antara kaum muslimin, dan wajibnya membela umat yang terzhalimi dan tertindas. Jika kita memiliki kemampuan untuk membela, maka kita wajib membela. Allah I berfirman, artinya: “Dan jika mereka meminta tolong kepadamu dalam agama maka kamu wajib menolong, kecuali atas kaum yang terdapat perjanjian antara kamu dan mereka. Sedangkan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 72). Jika kita tidak saling tolong-menolong, maka Allah I menjadikan kita lemah dan hina dan kekufuran merajalela. Allah berfirman, artinya: “Dan orang kafir itu sebagian mereka menolong sebagian yang lain, maka jika kalian tidak melakukannya (saling menolong dalam agama) maka aka nada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal: 73). Sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa “fitnah” yang dimaksud di sini adalah fitnah berupa perang, pembunuhan terhadap muslim, pengusiran, dan penangkapan. Sedangkan “kerusakan yang besar” yang dimaksud adalah munculnya syirik di permukaan.

Setiap muslim selayaknya selalu berbagi rasa dengan saudaranya, sedih karena sedihnya, senang karena senangnya. Orang muslim tidak membiarkan saudaranya, tidak menelantarkannya, tidak menyerahkannya kepada musuh. Tetapi wajib peduli, memperhatikan nasibnya, membelanya dan menolongnya. Nabi  r bersabda, “Tidak ada seorang yang membiarkan seorang muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya, dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya), melainkan Allah pasti menghinakannya di tempat yang dia ingin mendapatkan pertolongan. Dan tidak ada seorang yang menolong seorang muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya) melainkan Allah pasti menolongnya di tempat yang dia ingin ditolong di dalamnya. (HR. Abu Daud, Thabrani dalam al-Ausath. Dihasankan sanadnya oleh Haitsami).

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita umat Islam sebagai umat yang satu. Tujuannya adalah agar kita senantiasa merasa sebagai saudara dan peduli terhadap saudara seiman di manapun mereka berada. “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam
(HR. Muslim), begitu kata Nabi kita r dalam sabdanya. Dalam haditsnya yang lain, Rasulullah r juga bersabda, “Orang muslim itu saudara muslim lainnya, tidak mengkhianatinya, tidak mendustainya dan tidak menghinakannya.” (HR. Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa kezhaliman yang dirasakan oleh umat islam Rohingya adalah kezhaliman yang ditimpakan kepada kita. Kita semua dizhalimi. Maka mari bersemangat untuk berdoa bagi kita dan bagi muslim Rohingya sebab kita semua adalah mazhlum (yang dizhalimi) dan doa orang yang mazhlum diijabah oleh Allah. Nabi r bersabda, “Tiga orang doanya tidak ditolak: orang yang puasa hingga berbuka, imam yang adil dan doa orang yang dizhalimi yang Allah mengangkatnya di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Lalu Allah berkata kepadanya: demi Kemulian-Ku dan keagungan-ku, Aku pasti akan menolongnya walau kemudian” (HR Ahmad).

Olehnya, jangan sampai kita tidak peduli dan tidak menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudara kita di sana. Tidak boleh kita berputus asa dalam melantunkan doa-doa untuk saudara-saudara kita di sana. Tidak boleh kita merasa bahwa doa-doa  itu sia-sia. Tidak boleh pula kita mengira bahwa rezim militer yang keji itu akan dibiarkan dengan kesombongannya begitu saja. Tidak, sekali-kali tidak. Allah sudah berjanji dalam firman-Nya, ”Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”  (QS Ibrahim : 42). Doakan mereka, doakan mereka. Sebab doa adalah senjata seorang mukmin. Dan Allah-lah yang Maha Kuasa untuk menolak setiap bahaya yang mengancam hamba-hambaNya. Allah lah yang Maha Kuasa untuk membelokkan peluru militer agar tidak mengenai tubuh saudara-saudara kita di sana. Teruslah panjatkan doa-doa yang khusyuk dalam qunut nazilah kita.

Kita harus terus mendorong dan mendesak pemerintah untuk secepatnya mengambil sikap politik yang tegas terkait pembantaian dan genosida terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Bukan hanya karena kita negara dengan umat Islam terbesar di dunia, tetapi juga karena segala bentuk diskriminasi, kezaliman dan penindasan tidak boleh dibenarkan dan dibiarkan begitu saja. Sekali lagi karena mereka uga manusia seperti kita.  Negara kita melalui diplomasinya juga harus menggalang dukungan dunia internasional untuk penyelesaian masalah muslim Rohingya ini.

Di samping itu, kita harus terus menggalang bantuan dalam segala macam bentuknya untuk membantu meringankan penderitaan saudara kita kaum muslim Rohingya di tempat pengungsian mereka. Kita perlu menyosialisasikan informasi tentang tragedi kemanusiaan muslim Rohingya ini melalui berbagai media yang efektif agar umat ini memiliki kesadaran akan tragedi kemanusiaan yang terjadi di sana. Rasulullah bersabda, “Sesama muslim adalah saudara, tidak boleh seorang muslim bersikap zalim kepada muslim lain atau menyerahkan kepada musuhnya. Siapapun yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu penderitaan seorang muslim maka Allah akan menghilangkan satu penderitaannya di hari kiamat. Siapapun yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari tragedi muslim Rohingya ini, juga dari tragedi minoritas muslim lain di dunia ini, kita bisa mengambil hikmah akan pentingnya persatuan. Umat Islam harus menyadari bahwa dengan persatuanlah mereka akan dapat memperjuangkan kepentingan dan kemaslahatan mereka. Umat Islam harus mengikis ideologi materialime dalam pikiran dan hati mereka, menjauhi sistem kapitalisme dan meninggalkan gaya hidup hedonisme agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaannya dan bisa memainkan peranan pentingnya dalam perdamaian dunia. Rasulullah r bersabda, “Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjawab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih di lautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dan sungguh hari ini, kita hampir-hampir seperti buih itu. Saat saudara-saudara muslim Rohingya terbuang, kita pun tak berdaya. Kita hanya mampu menunggu mereka terapung dan terdampar dihalau angin laut di lautan luas, untuk kita selamatkan ke dalam perahu yang lusuh dan seadanya. Hanya itulah yang kita mampu, itu pun apabila mereka selamat di tengah laut, setelah menderita, setelah ribuan dari mereka meninggal dunia di negeri Arakan sana, setelah mereka meninggal dunia di laut dan jasadnya dimakan ikan. Untuk itu, sejatinya kita layak untuk mengatakan, “Rohingya, maafkan atas ketidakberdayaan kami“.

Sebagaimana tanah al-Aqsha dan Suriah yang telah memanggil kita, muslim Rohingya juga memanggil kita. Mari berkontribusi untuk mereka di sana, paling minimal dengan doa-doa yang tak putus-putusnya.  Jika kelak di akhirat, saat kita diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita dengar hari ini, mudah-mudahan ada jawaban yang bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya nanti.

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...