Bersyukurlah
kepada Allah I, karena hari
ini kita dapat melangkahkan kaki ke Rumah Allah dengan penuh ketenangan dan
keamanan. Bersyukurlah kepada Allah I, karena saat kita duduk bersimpuh di Rumah-rumah
Allah, tidak ada gempuran roket yang kita tunggu-tunggu untuk meluluhlantakkan
Rumah Allah itu. Subhanallah, betapa banyak nikmat dari Allah I yang harus
kita pertanggungjawabkan di Hari Kiamat.
Sekarang,
bayangkanlah, jika kota kita ini menjadi sebuah kota yang diisolir dari seluruh
penjurunya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara pesawat-pesawat jet tempur terbang
berputar-putar di atas atap rumah tempat kita tinggal, pesawat-pesawat itu
kemudian melepaskan rudal-rudalnya tepat menghunjam ke arah kita, ke arah
anak-anak dan keluarga kita. Bayangkanlah, jika malam ini kita hidup dalam
gelap-gulita, tak ada tempat bernaung, tak ada makanan, tak ada minuman, tak
ada pakaian hangat untuk mengusir dingin, dan tak ada keluarga tempat berbagi
duka.
Dan
bayangkanlah, bagaimana perasaan hati kita, jika dengan semua penderitaan tiada
tara itu, ternyata tak seorang pun peduli dengan kita. Seluruh dunia seakan
diam membisu seolah-olah tak terjadi apa-apa di kota ini.
Sakitkah
perasaan kita? Sedihkah perasaan kita? Sudahlah, tak perlu kita menjawabnya.
Kita sekalian
pasti telah paham bahwa itulah situasi dan kondisi yang dialami oleh
saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi Palestina.
Palestina
kembali berduka hari ini. Lagi-lagi, duka yang tak henti-henti. Puluhan bahkan
ratusan warga Palestina kembali menjadi korban gempuran membabi buta militer
zionis Israel sejak awal Syawal yang lalu. Puluhan nyawa tak berdosa,
anak-anak, wanita dan lansia, terenggut di jalan-Nya (insyaaAllah) menyusul
ribuan jiwa sebelumnya. Kekhusyukan warga Palestina dalam menikmati hari
kemenangan di bulan ini pun tercabik karenanya.
Palestina
adalah kita. Kita adalah Palestina. Begitulah Islam mengatur dan mengajar kita
para penganutnya. Bahkan, Palestina tidak hanya menjadi masalah umat Islam,
tetapi juga menjadi masalah seluruh umat yang ada di dunia. Ya, karena ia
kejahatan dan tragedi kemanusiaan.
Segala puji
bagi Allah I yang telah
menjadikan kita umat Islam sebagai umat yang satu. Tujuannya adalah agar kita
senantiasa merasa sebagai saudara dan peduli terhadap saudara seiman di manapun
mereka berada. “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai,
mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka
anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR. Muslim), begitu kata
Nabi kita r dalam
sabdanya.
Mungkin banyak
air mata yang mulai mengering, telinga menjadi panas, dan hati serasa jenuh
mendengar pemberitaan Palestina dan korbannya yang terus bertambah. Akan
tetapi, kita memang harus terus bicara tentang Palestina. Kita harus terus
menyuarakan kegelisahan kita. Kita harus terus menyampaikan kepedulian kita
kepada mereka. Atau setidaknya, kita tidak boleh berhenti meneriakkan jeritan
hati kita melalui takbir dan doa-doa yang terlantunkan. Sekali lagi, karena
Palestina adalah kita dan kita adalah Palestina.
Palestina
adalah negeri yang berkah dan suci. Negeri ini diabadikan oleh Allah I dalam
firman-Nya dan disebut oleh Nabi kita dalam sabda-sabdanya. Ayat pertama dalam
surat Al-Isra' mengingatkan kita tentang perjalanan suci Nabi kita ke
langit-Nya. Perjalanan suci itu dimulai dari masjid yang juga suci, masjid yang
terus berdiri di negeri Palestina hari ini, Masjid Al-Aqsha. Masjid yang
dimuliakan Allah, yang dipilih Allah sebagai tujuan isra' Rasulullah dan
titik tolak Mi’raj beliau hingga ke Sidratul-Muntaha.
Perlu untuk
kita ingat kembali, Al-Quds, terutama Masjid Al-Aqsha yang berada di dalamnya,
memiliki kedudukan yang istimewa di dalam agama ini.
Pertama, Masjid
Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam.
Allah I mengisyaratkan
hal ini dalam firman-Nya, “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia
akan berkata :"Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari kiblatnya
(Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" (QS.
Al-Baqarah:142). Dalam riwayat hadits juga disebutkan bahwa Nabi kita dahulu
shalat mengahadap ke Al-Aqsha. Dari al-Bara’ bin ‘Azib, beliau berkata,
“Sesungguhnya Nabi pertama kali datang ke Madinah, singgah ke kakek-kakeknya,
(atau mengatakan) ke paman-pamannya, dari kelompok Anshar, dan beliau shalat
menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 bulan, atau 17 bulan” (HR. Bukhari).
Kedua, Al-Quds
atau Masjid Al-Aqsha dan sekililingnya adalah bumi yang diberkahi. Untuk hal
ini, Allah I sendiri yang
menegaskannya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isra'
:1).
Ketiga, Masjid
Al-Aqsha adalah masjid ketiga yang dimuliakan Allah. Rasulullah r menyatakan
dalam sabdanya, “Bepergian itu tidak ditekankan melainkan hanya ketiga
masjid yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha dan Masjidku ini (Masjid Nabawi)”
(HR.
Bukhari dan Muslim).
Dalam sabdanya yang lain, Nabi r
juga menegaskan keutamaannya yang besar, “Shalat di Masjidil Haram sama
dengan seratus ribu shalat di masjid lain, shalat di masjid-ku (Masjid Nabawi)
sama dengan seribu shalat di tempat lain dan shalat di Baitul Maqdis (Masjid
Al-Aqsha) sama dengan limaratus shalat di tempat lain” (HR. Thabrani).
Keempat,
Al-Quds adalah bumi para Nabi Allah I. Bumi yang menjadi saksi perjuangan dakwah Nabi-nabi
Allah seperti Ibrahim, Luth, Sulaiman dan lainnya. Allah I berfirman, “Dan
Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya
untuk sekalian manusia” (QS. Al Anbiya' : 71). Begitu pula
dalam firman-Nya, “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang
sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami
telah memberkahinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Anbiya'
: 81).
Meskipun Masjid
dan kota ini begitu istimewa, toh ternyata tidak menjadikan orang-orang zionis
Israel itu hormat dan memuliakannya. Hingga kini, mereka terus tanpa henti
berupaya untuk menghinakan, menodai dan menguasainya. Saat ini, mereka tengah melakukan penggalian
di bawah Masjid Al Aqsha berupa terowongan yang cukup besar. Jika terowongan di
bawah Al-Aqsha dirasa telah cukup, Israel berencana meruntuhkannya dengan gempa
buatan yang saat ini terus dikembangkan. Wal-‘iyadzu billah.
Maka sekarang,
tidak cukup bagi kita untuk sekedar mengutuk, menyayangkan atau meneteskan air
mata. Sekarang, Tanah al-Aqsha memanggil kita untuk kesekian kalinya. Tanah
al-Aqsha menuntut tindakan nyata dari kita semua untuk ikut berperan serta
membebaskan tanah suci itu dari cengkraman zionis Israel. Apa yang bisa kita lakukan
untuk membela Masjid Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina?
Untuk skala
yang lebih besar, pemerintah Indonesia bisa lebih lantang menyerukan pembelaan
kepada Palestina di forum-forum internasional, terutama pada Organisasi
Kerjasama Islam (OKI), di mana Indonesia memiliki kedudukan penting sebagai
negeri muslim terbesar di dunia.
Untuk
pribadi-pribadi kita, mari menyiapkan diri masing-masing dengan bekal iman (aqidah)
dan ilmu yang shahih serta ibadah yang sebaik-baiknya kepada Allah I. Sebab hanya
dengan inilah semua upaya perjuangan kita akan bernilai jihad fi sabilillah.
Kita harus memperbanyak jumlah tentara-tentara Allah I dengan mulai
mengikrarkan diri kita masing-masing sebagai tentara Allah I yang memiliki
iman yang kuat, ilmu yang shahih dan ibadah yang berkualitas.
Sebagai seorang
muslim, hendaknya kita waspada dari provokasi dan pengaruh zionis yahudi yang
tengah berupaya agar umat Islam lupa dengan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Mereka
tengah merancang berbagai strategi untuk melemahkan umat Islam dalam hal ini.
Di antaranya melalui 4S + 3F, yaitu Song (musik dan nyanyian), Sex
(baik yang langsung zina maupun pronografi dan pornoaksi), Sport (olah
raga yang didesain bertentangan dengan syariat, khususnya dalam hal aurat), Smoke
(rokok), Fun (tontonan lucu dan budaya foya-foya), Food (makanan yang
tidak halal atau tidak thayibah), dan Faith (beragam kepercayaan atau
lairan aliran pemikiran seperti Islam liberal). Untuk itu, mari mulai kembali mengkampanyekan ”Peduli Masjid Al-Aqsha” pada
setiap muslim dan muslimah yang ada di sekitar kita, yang tentu saja dimulai
dari keluarga dan kerabat kita. Tanamkan kerinduan untuk mengunjungi Masjid
al-Aqsha di Palestina sebagaimana kita rindu untuk selalu datang ke Masjidil
Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, karena inilah tiga tanah suci umat
Islam.
Dari sebagian
harta dan rizki yang dianugerahkan Allah I kepada kita , patut bagi kita untuk
menginfakkannya kepada saudara-saudara kita di Palestina. Apalagi, saat ini
mereka, terutama warga Gaza, juga didera krisis makanan, listrik, hingga
obat-obatan akibat blokade Israel sejak tahun 2007 lalu.
Dari sisi
ekonomi, umat Islam perlu menggencarkan kembali gerakan boikot terhadap
produk-produk Israel dan produk-produk yang memberikan dukungan terhadap negara
itu. Dengan jumlah umat Islam yang sangat besar, langkah ini semoga mampu
menimbulkan kegoncangan ekonomi bagi mereka. Ingat selalu bahwa setiap rupiah
yang Anda belanjakan untuk produk-produk semacam itu akan digunakan untuk
menyiapkan peluru dan bom yang membunuh umat Islam di bumi Palestina.
Olehnya, tidak
boleh ada perasaan bosan saat mendengar berita Palestina. Tidak boleh kita
berputus asa dalam melantunkan doa-doa untuk saudara-saudara kita disana. Tidak
boleh kita merasa bahwa doa-doa itu
sia-sia. Tidak boleh pula kita mengira bahwa zionis Israel akan dibiarkan
dengan kesombongannya begitu saja. Tidak, sekali-kali tidak. Allah I sudah berjanji
dalam firman-Nya, ”Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya
Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata
(mereka) terbelalak” (QS Ibrahim : 42). Doakan mereka,
doakan mereka. Sebab doa adalah senjata seorang mukmin. Dan Allah-lah yang Maha
Kuasa untuk menolak setiap bahaya yang mengancam masjid-Nya dan hamba-hambaNya.
Allah lah yang Maha Kuasa untuk membelokkan peluru agar tidak mengenai tubuh
saudara-saudara kita di sana. Allah lah yang Maha Kuasa untuk menghancurkan
Israel sebelum mereka berusaha menghancurkan Masjid Al-Aqsha, Al-Quds dan
Palestina.
Percayalah,
Allah I pasti akan
melindungi negeri para nabi dan negeri suci di sekitar Masjid Al-Aqsa tersebut.
Terbukti jelas dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa akan ada gololongan yang
senantiasa memperjuangkan kejayaan Islam. Allah berfirman, “Di antara
orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”
(QS.Al-Ahzab
: 23).
Rasulullah r bersabda, “Akan
senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak memperjuangkan kebenaran, dan
mereka tidak akan terpengaruh dengan orang-orang yang memusuhi dan memerangi
mereka” (HR.
Muslim).
Sekali lagi,
Tanah al-Aqsha Palestina telah memanggil kita. Dan kami telah menyampaikan
peringatan ini kepada Anda sekalian. Kelak
di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita baca atau dengar
hari ini. Saat nanti kita ditanya: apa yang telah engkau lakukan untuk membantu
mereka di Palestina? Apa yang telah engkau lakukan untuk membebaskan Masjid
al-Aqsha? Semoga saja kita semua sudah siap untuk menjawabnya.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar