Maret 30, 2017

Memaknai Bulan Rajab

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena hari ini Dia masih memberikan kesempatan untuk hidup dan berjumpa dengan Bulan Rajab. Ada apa di Bulan Rajab?

Rajab adalah salah satu nama bulan dalam kalender hijriyah. Dalam urutan bulan-bulan hijriyah, bulan Rajab terletak di antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban. Dinamakan Rajab yang berarti agung karena dahulu di zaman jahiliyah, kaum Arab sangat mengagungkan bulan ini.

Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah : 36).

Maret 23, 2017

Resepsi Bukan Adu Gengsi

Resepsi pernikahan atau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “walimatul-‘ursy” merupakan tradisi masyarakat yang sebetulnya telah diajarkan Rasulullah r kepada umatnya. Resepsi pernikahan diselenggarakan sebagai sebuah bentuk rasa syukur kepada Allah I dan pengumuman bagi masyarakat bahwa kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami istri. Hal ini dicontohkan oleh Nabi r sendiri ketika menikahi isterinya, Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha. Beliau mengundang para sahabat untuk makan dalam rangka pernikahan tersebut (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga memberikan perintah untuk menggelar waliwah ketika salah seorang sahabatnya, Abdurrahman bin Auf t, melangsungkan pernikahannya. Beliau r bersabda, “Adakanlah walimah sekalipun dengan seekor kambing(HR. Bukhari). Berdasarkan dua riwayat ini, mayoritas ulama kemudian menyatakan hukumnya sebagai ibadah sunnah muakkadah.

Maret 16, 2017

Ketika Gemar Bermaksiat

Ada seorang ulama dahulu bernama Ibrahim bin Ad-ham  rahimahullah. Pada suatu hari, beliau didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Aba Ishak (begitu panggilan orang-orang kepada beliau), aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya.”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kamu mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Mendengar jawaban laki-laki tersebut gembira dan dengan penuh rasa ingin tahu yang besar dia bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”

Maret 09, 2017

Menjadi Tamu dan Tuan Rumah (Bag. 2 - Selesai)

Melengkapi pembahasan tentang tuntunan menjadi tamu yang baik pada edisi yang lalu, edisi kali ini akan memaparkan secara ringkas tuntunan Islam ketika kita menjadi tuan rumah dalam rangka memuliakan tamu. Hal ini juga penting untuk dibahas, mengingat sikap ini, (yaitu) memuliakan tamu, adalah bagian dari keimanan kita kepada Allah I dan hari akhir. Rasulullah r bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya (tetangga dan tamu).”

Maret 02, 2017

Menjadi Tamu dan Tuan Rumah (Bag. 1)

Dua hari yang lalu, Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud, Raja Saudi Arabia, berkunjung ke negeri ini sebagai tamu negara yang istimewa. Kedatangannya disambut oleh riuh ramai masyarakat Indonesia. Sebagai tuan rumah, tentu saja kita patut berbahagia. Tamu istimewa pelayan dua tanah suci, Mekah dan Madinah, mengunjungi kita. Semoga kunjungan beliau ke negeri ini membawa berkah dan kebaikan bagi kedua negara.

Para pembaca yang kami muliakan, semoga Allah senantiasa merahmati kita semua.  Pada edisi kali ini, redaksi tidak akan membahas masalah terkait kunjungan kenegaraan tersebut. Biarlah media-media komunikasi massa yang ada, yang menyuguhkan beritanya kepada kita. Edisi kali ini akan menyuguhkan pembahasan tentang tuntunan Islam terkait tamu. Ada dua pembahasan pokok terkait tamu yang disebutkan dalam literatur Islam, yaitu (1) bagaimana tuntunan Islam ketika kita menjadi tamu dan (2) tuntunan Islam ketika kita menerima atau menjamu tamu. Dua masalah ini, insyaaAllah, akan kami bahas dalam dua edisi secara bersambung. Semoga Allah memberikan taufiqNya. Selamat membaca, semoga bermanfaat. ***

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...