Mei 06, 2017

Modal ke Surga; Sudah Punya?

Surga, betapa indah kita menyebutnya. Tak ada yang terbayang kecuali kenikmatan dan keindahan. Mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, bahkan untuk terbetik dalam hati sanubari manusia sekalipun, keindahan itu belum dan tak akan pernah terbayangkan.

Surga hanya untuk orang-orang yang rindu kepadanya, yang mengaplikasikan makna rindu itu dengan amalan shalihnya, bukan dengan kemalasan dan berpangku tangan. Surga hanya untuk orang yang bertakwa. Ya, manusia-manusia bertakwa kepada Rabb-nya, bukan untuk manusia-manusia zhalim lagi durhaka, yang selalu menentang dan sombong terhadap ketetapan Tuhannya.

Lalu, kita pada kelompok yang mana? Kebanyakannya, kita selalu merasa telah menjadi seorang yang bertakwa. Benarkah pengakuan itu? Mari kita merenungi firman-firman Allah I yang menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.

Allah I berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” (QS. Adz-Dzariyat: 15-16). Dalam ayat ini, Allah menyifati orang-orang yang bertakwa itu dengan sifat ihsan. Sementara kata Nabi r, ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, dan jika engkau tidak melihatnya (dan itu pasti adanya), ketahuilah bahwa Allah I melihatmu.


Nampaknya, kita belum sampai pada derajat ini. Bahkan untuk merekomendasikan diri sendiri bahwa kita telah sampai pada derajat imanpun masih belum bisa. Nampaknya, kita baru sampai pada derajat Islam. Sebagaimana firman Allah kepada pengakuan orang-orang Arab Badui,  “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah berisalam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; (QS. Al-Hujurat: 14).

Jika demikian halnya, berarti kita telah kehilangan satu sifat orang-orang yang bertakwa itu, kehilangan satu modal untuk ke surga, yaitu mereka (orang-orang) yang baik (ihsan), sementara kita belum mampu mengakui diri sebagai orang yang baik (ihsan).
Selanjutnya, ketika kita belum mampu mencapai derajat ihsan, adakah ayat lain yang menyebutkan satu sifat takwa yang dapat kita miliki sebagai modal ke surga?

Allah I melanjutkan sifat orang yang bertakwa itu. Dia I berfirman, “Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.(QS. Adz-Dzariyat: 17-18). Duh, sifat ini pun nampaknya jauh dari kita. Kita lebih banyak tidur di waktu malam, bahkan terlalu banyak kelalaian yang kita lakukan di malam hari. Jangankan untuk istighfar di waktu pagi (sahur), shalat subuhpun kita masih kerap terlambat. Jika demikian halnya, berarti kita telah kehilangan satu lagi sifat orang-orang yang bertakwa itu, kehilangan satu modal untuk ke surga, yaitu mereka (orang-orang) yang senantiasa menjadi perindu-perindu malam untuk menghidupkannya dengan rukuk, sujud dan ibadah lainnya.

Nah, ketika kita belum mampu mencapai derajat para perindu malam itu, adakah ayat lagi yang menyebutkan satu sifat takwa yang dapat kita miliki sebagai modal ke surga?

Allah I kembali melanjutkan tentang sifat-sifat orang-orang yang bertakwa itu. Dia I berfirman, “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19). Termasukkah kita pada ayat ini, yaitu orang-orang yang selalu mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka? Ingat, Allah I menitipkan hak-hak manusia pada harta-harta kita. Dari hasil dagang kita ada zakatnya, dari emas-emas kita ada zakatnya, dari hasil panen kita ada zakatnya, dari hasil bumi kita ada zakatnya, dari biji-bijian perkebunan kita ada zakatnya, dari hasil usaha kita yang telah tertabung dan sampai pada nishab emas serta haulnya juga ada zakatnya. Sudahkah kita mengeluarkannya? Jika belum, kita kembali kehilangan satu sifat dari sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.

Adakah lagi peluang itu?

Allah I kembali menyebutkan sifat orang-orang yang bertakwa itu. Dia berfirman, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 20-22). Sudahkah kita mentadabburi, merenungi dan menghayati hingga dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah I dari penciptaan langit dan bumi serta penciptaan diri kita sendiri? Ataukah kita termasuk orang-orang yang lalai akan hal ini sebagaimana firman I, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf: 105).  Duh Rabb kami, kuingat sabda Nabi-Mu r ketika turun padanya surah Ali Imran ayat 190, “Celakalah bagi orang-orang yang membacanya lalu tidak bertafakkur dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/398). Ayat ini terkait pkeagungan penciptaan langit dan bumi. Bacalah dan renungkanlah isinya!

Nah, jika kita termasuk lalai dari sifat-sifat ini lagi, maka untuk kesekian kalinya kita sudah kehilangan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa. Kehilangan satu modal lagi ke surga-Nya.

Ayat mana lagi yang dapat mengatakan kita sebagai seorang yang bertakwa? Baiklah. Mari kita renungi firman Allah I berikutnya. Dia I berfirman, “Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 134-135).

Apakah kita adalah orang-orang yang gemar bersedekah baik di saat kita lapang maupun sempit? Ataukah termasuk orang-orang yang banyak mengeluh dan mencela nasib tatkala terasa sempit? Jika kita adalah bagian dari mereka, maka lagi-lagi kita adalah orang yang kehilangan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa itu.

Apakah kita adalah orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan orang lain? Ataukah kita adalah orang-orang yang mudah marah, enggan memaafkan orang lain bahkan suka mengungkit-ungkit kesalahan orang lain yang telah bertaubat darinya dan membicarakannya di hadapan manusia? Jika kita adalah bagian dari mereka, maka ketahuilah kita kembali kehilangan sifat orang-orang yang bertakwa.

Apakah kita adalah orang-orang yang bertaubat dari melakukan perbuatan keji dan aniaya ataukah kita adalah orang-orang yang terus-terusan melakukan perbuatan keji dan dosa itu? Mampukah kita menjaga mata dari melihat yang haram, mampukah menjaga lisan dari berkata buruk, dusta dan ghibah? Jika belum, maka ketahuilah, kita kembali kehilangan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa.

Dari semua ini, sudah berapa sifat orang-orang bertakwa yang tidak kita miliki?

Masih adakah ayat yang dapat menjadi modal bagi kita agar Allah I bisa mengampuni segala kelalaian dan kezhaliman kita hingga menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa agar dapat masuk ke dalam surga?

Ternyata masih ada. Ketahuilah, Allah I memiliki rahmat yang sangat luas. Dia berfirman, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 2-3).

Dari sini, mudah-mudahan kita masih memiliki satu sifat dari orang-orang bertakwa, yaitu keimanan kepada yang ghaib. Baik itu Allah yang Maha ghaib, atau hari kiamat yang merupakan sesuatu yang ghaib ,serta hal-hal ghaib lainnya. Karena itu, jangan sia-siakan keimanan ini yang merupakan modal untukmu masuk ke dalam surga. Alhmadulillah…

Mohon ampunlah, berhentilah dari segala kezhaliman itu, mulailah beristighfar dan memohon ampun, jadikan keimanan itu sebagai wasilah agar Allah I  mengampunimu, karena itulah sifat-sifat orang yang bertakwa.

Akhirnya, jika engkau telah memiliki modal itu dan menginjakkan kakimu di surga kelak, jangan lupakan kami dalam kebaikan doa-doamu saudaraku. Doakan kami, doakan kami. Dan, jika engkau tidak menemukan kami di surga kelak, mohon mintalah kepada Allah I agar kami dimasukkan ke dalam surga bersamamu.

Wallahu a’lam.

*Tulisan banyak mngambil faedah dari artikel “ Sudahkah Kita Memiliki Modal Masuk Surga”, oleh Ust. Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...