Belia, muda, maupun
tua, semua akan mati. Kemarin, barangkali kita melihat saudara kita dalam
keadaan sehat, bugar, muda dan kuat. Namun hari ini, ternyata ia telah pergi
meninggalkan kita, menghadap Rabbnya di sana. Padahal kemarin, barangkali kita
melihat seorang tua yang renta, dalam keadaan payah dan susah, yang mungkir
umurnya tidak lama lagi dalam hitungan kita, ternyata masih mampu berjalan di
muka bumi dengan nafasnya yang terus berhembus. Begitulah maut. Tak satu pun
kita tahu kapan ia datang menjemput. Entah esok atau lusa, entahlah. Namun
kematian saudara kita, sudah cukup sebagai pengingat dan penyadar dari
kelalaian kita, bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali kepada Allah Rabbul
Izzati. Dunia akan kita tinggalkan di belakang, akhirat akan kita temui di
depan. Ia akan datang pada waktu yang ditentukan. Allah I berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu;
maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).
Ajal dan kematian
adalah hal yang akan senantiasa meliputi manusia seluruhnya. Nabi r pernah membuat gambar persegi empat, lalu menggambar
garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi
itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di
samping garis panjang tadi. Dan beliau r bersabda, “Ini
adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan
garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini
adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini,
maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis)
yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti
tertimpa ketuarentaan.”(HR. Bukhari).
Beliau r menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar
adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu
garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya,
sementara garis-garis kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah
musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.
Dalam gambar
tersebut, beliau menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia yang memiliki
harapan, angan-angan dan cita-cita yang jauh ke depan untuk menggapai segala
yang ia inginkan di dalam kehidupan yang fana ini, dan ajal yang
mengelilinginya yang selalu mengintainya setiap saat sehingga membuat manusia
tidak mampu menghindar dari lingkaran ajalnya. Sementara itu, di dalam
kehidupannya, manusia akan selalu menghadapi berbagai musibah yang mengancam
eksistensinya, jika ia dapat terhindar dari satu musibah, musibah lainnya siap
menghadang dan membinasakannya dan seandainya ia terhindar dari seluruh
musibah, ajal yang pasti datang suatu saat akan merenggutnya.
Nah, jika demikian,
maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari kematian?
Umur kita di dunia
ini terbatas dan hanya sebentar. Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu
dengan gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya.
Rasulullah bersabda, “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat
sedikit di antara mereka yang melewati itu.” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi. Lihat Ash-Shahihah).
Banyak Mengingat
Mati
Tak salah, jika
panutan kita yang mulia, Rasulullah r mewasiatkan
kita untuk banyak mengingat mati. Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengingat
pemutus kelezatan” (HR. An-Nasai,
Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al-Albani). Yang dimaksud dalam hadits ini adalah kematian. Ia
disebut sebagai “pemutus” karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia. Oelh
karena ia adalah perintah dari Rasulullah, maka ‘mengingat kematian’ adalah
ibadah. Seseorang akan mendapatkan ganjaran pahala karena telah mematuhi
perintah Nabi-Nya.
Ibnu ‘Umar pernah berkata,
“Aku pernah bersama Rasulullah, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia
memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling
baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” Lalu mukmin
manakah yang paling cerdas?, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang
paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri
untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah. Hadits ini hasan menurut Syaikh
Al-Albani).
Rasulullah r bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutuskan
kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya
ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan
tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan
menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan
dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’).
Mengingat kematian,
akan menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan
Allah I. Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan menjadi
mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan
berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya di dunia, maka ia
pasti akan mempersiapkan jawaban di hadapan-Nya.
Mengingat kematian,
akan akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi r bersabda, “Perbanyaklah banyak mengingat pemutus
kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat
kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya
saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga
lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban
dan Al-Baihaqi. Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).
Mengingat kematian,
akan membuat kita tidak berlaku zhalim kepada yang lainnya. Allah Ta’ala
berfirman, “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka
akan dibangkitkan.” (QS. Al
Muthaffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan
untuk orang-orang yang berlaku zhalim dengan berbuat curang ketika menakar.
Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu
per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zhalim seperti itu.
Mengingat kematian,
akan membantu kita dalam menggapai kekhusyu’an dalam shalat. Nabi bersabda, “Ingatlah
kematian dalam shalatmu, karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya,
maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak
menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya” (HR.
Ad-Dailami dalam musnad Al-Firdaus. Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).
Para sahabat dan
ulama terdahulu, banyak menasehati kita untuk mengingat kematian. Abu Darda’ t berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu
akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”
Ad-Daqqaq rahimahullah
berkata,“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga
hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang
lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha
dengan keadaan dan malas ibadah” (Lihat
kitab At-Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al-Akhirah, karya Al-Qurthuby).
Segera
Beramal, Agar Tidak Menyesal
Seseorang hendaknya
memanfaatkan hidupnya dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih
sebelum kematian itu datang. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma
bercerita, Rasulullah memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia
ini seolah-olah seorang yang asing atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar
mengatakan, “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore.
Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah
dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” (HR. Bukhari).
Hendaklah setiap
orang waspada terhadap angan-angan panjang umur, sehingga menangguhkan amal
shalih. Nabi bersabda, “Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar
juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur” (HR Bukhari).
Al-Bara’ t berkata, “Kami bersama Rasulullah pada suatu jenazah,
lalu beliau duduk di tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah
menjadi basah, lalu beliau bersabda, “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah
untuk yang seperti ini!” (HR. Ibnu, Hadits
ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).
Ar-Rabi’ bin
Khutsaim, pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh
dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana.
Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,“(Ketika datang kematian pada seseorang,
lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal
yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada
dirinya, “Wahai Rabi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)!
Beramallah”.
Ali bin Thalib t mengingatkan, “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan
akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka
jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan
kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini
(di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di
akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).
Bayangkanlah
saat-saat sakaratul maut itu datang. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisi
kita. Ibu yang penuh kasih juga hadir di sana. Demikian pula isteri terkasih
dan anak-anak yang kita banggakan, yang besar maupun yang kecil. Semua ada di
sekitar kita. Mereka memandangi dengan pandangan sayang dan penuh kasih. Hati
mereka pun berselimut duka. Mereka berharap dan berangan-angan, andai kita bisa
tetap tinggal bersama mereka. Namun, alangkah mustahil anagan-angan itu.
Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan, Dia jugalah yang mencabut kehidupan
tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala
sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.
Oleh karenanya,
sekaranglah saatnya. Persiapkan bekal-bekal untuk menyongsongnya. Jangan sampai
kita menyesal kala kematian telah datang, tiada berbekal dan berharap
penangguhan. “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan
kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian,
lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku
sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku
termasuk orang-orang yang shalih?” (QS.
Al-Munafiqun: 10).
Hamid Al-Qaishari
berkata mengingatkan kita semua, “Kita semua telah meyakini kematian, tetapi
kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah
meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya!
Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang
takut terhadapnya! (Mukhtashar Minhajul
Qashidin).
Jika demikian
halnya, buktikan bahwa kita memang benar-benar meyakini kematian, surga dan
neraka! Sekali lagi, agar kita tidak menyesal di kemudian hari, dengan
penyesalan yang tak berarti.
Wallahu
waliyyut-taufiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar