Agustus 11, 2017

Pelajaran dari Kematian

Belia, muda, maupun tua, semua akan mati. Kemarin, barangkali kita melihat saudara kita dalam keadaan sehat, bugar, muda dan kuat. Namun hari ini, ternyata ia telah pergi meninggalkan kita, menghadap Rabbnya di sana. Padahal kemarin, barangkali kita melihat seorang tua yang renta, dalam keadaan payah dan susah, yang mungkir umurnya tidak lama lagi dalam hitungan kita, ternyata masih mampu berjalan di muka bumi dengan nafasnya yang terus berhembus. Begitulah maut. Tak satu pun kita tahu kapan ia datang menjemput. Entah esok atau lusa, entahlah. Namun kematian saudara kita, sudah cukup sebagai pengingat dan penyadar dari kelalaian kita, bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali kepada Allah Rabbul Izzati. Dunia akan kita tinggalkan di belakang, akhirat akan kita temui di depan. Ia akan datang pada waktu yang ditentukan. Allah I berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).


Ajal dan kematian adalah hal yang akan senantiasa meliputi manusia seluruhnya. Nabi r pernah membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di samping garis panjang tadi. Dan beliau r bersabda, “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”(HR. Bukhari).

Beliau r menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya, sementara garis-garis kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.

Dalam gambar tersebut, beliau menjelaskan tentang hakikat kehidupan manusia yang memiliki harapan, angan-angan dan cita-cita yang jauh ke depan untuk menggapai segala yang ia inginkan di dalam kehidupan yang fana ini, dan ajal yang mengelilinginya yang selalu mengintainya setiap saat sehingga membuat manusia tidak mampu menghindar dari lingkaran ajalnya. Sementara itu, di dalam kehidupannya, manusia akan selalu menghadapi berbagai musibah yang mengancam eksistensinya, jika ia dapat terhindar dari satu musibah, musibah lainnya siap menghadang dan membinasakannya dan seandainya ia terhindar dari seluruh musibah, ajal yang pasti datang suatu saat akan merenggutnya.

Nah, jika demikian, maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari kematian?

Umur kita di dunia ini terbatas dan hanya sebentar. Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya. Rasulullah bersabda, “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi. Lihat Ash-Shahihah).

Banyak Mengingat Mati

Tak salah, jika panutan kita yang mulia, Rasulullah r mewasiatkan kita untuk banyak mengingat mati. Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An-Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al-Albani). Yang dimaksud dalam hadits ini adalah kematian. Ia disebut sebagai “pemutus” karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia. Oelh karena ia adalah perintah dari Rasulullah, maka ‘mengingat kematian’ adalah ibadah. Seseorang akan mendapatkan ganjaran pahala karena telah mematuhi perintah Nabi-Nya.

Ibnu ‘Umar pernah berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah. Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).

Rasulullah r bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’).

Mengingat kematian, akan menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah I. Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya di dunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban di hadapan-Nya.

Mengingat kematian, akan akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi r bersabda, “Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi. Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).

Mengingat kematian, akan membuat kita tidak berlaku zhalim kepada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthaffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zhalim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zhalim seperti itu.

Mengingat kematian, akan membantu kita dalam menggapai kekhusyu’an dalam shalat. Nabi bersabda, “Ingatlah kematian dalam shalatmu, karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya” (HR. Ad-Dailami dalam musnad Al-Firdaus. Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).

Para sahabat dan ulama terdahulu, banyak menasehati kita untuk mengingat kematian. Abu Darda’ t berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

Ad-Daqqaq rahimahullah berkata,“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah” (Lihat kitab At-Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al-Akhirah, karya Al-Qurthuby).

Segera Beramal,  Agar Tidak Menyesal 

Seseorang hendaknya memanfaatkan hidupnya dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih sebelum kematian itu datang. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bercerita, Rasulullah memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar mengatakan, “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” (HR. Bukhari).

Hendaklah setiap orang waspada terhadap angan-angan panjang umur, sehingga menangguhkan amal shalih. Nabi bersabda, “Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur” (HR Bukhari).

Al-Bara’ t berkata, “Kami bersama Rasulullah pada suatu jenazah, lalu beliau duduk di tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda,  “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini!” (HR. Ibnu, Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani).

Ar-Rabi’ bin Khutsaim, pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,“(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Rabi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah”.

Ali bin Thalib t mengingatkan, “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).

Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut itu datang. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisi kita. Ibu yang penuh kasih juga hadir di sana. Demikian pula isteri terkasih dan anak-anak yang kita banggakan, yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitar kita. Mereka memandangi dengan pandangan sayang dan penuh kasih. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka berharap dan berangan-angan, andai kita bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun, alangkah mustahil anagan-angan itu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.

Oleh karenanya, sekaranglah saatnya. Persiapkan bekal-bekal untuk menyongsongnya. Jangan sampai kita menyesal kala kematian telah datang, tiada berbekal dan berharap penangguhan. “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?” (QS. Al-Munafiqun: 10).

Hamid Al-Qaishari berkata mengingatkan kita semua, “Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! (Mukhtashar Minhajul Qashidin).

Jika demikian halnya, buktikan bahwa kita memang benar-benar meyakini kematian, surga dan neraka! Sekali lagi, agar kita tidak menyesal di kemudian hari, dengan penyesalan yang tak berarti.
Wallahu waliyyut-taufiq.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...