Maret 16, 2017

Ketika Gemar Bermaksiat

Ada seorang ulama dahulu bernama Ibrahim bin Ad-ham  rahimahullah. Pada suatu hari, beliau didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta nasehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Aba Ishak (begitu panggilan orang-orang kepada beliau), aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya.”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kamu mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Mendengar jawaban laki-laki tersebut gembira dan dengan penuh rasa ingin tahu yang besar dia bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”


Syarat pertama, jika kau melakukan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Allah”, ujarnya.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya lalu berkata, “lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah?”

“Benar”, jawab Ibrahim tegas. “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara kau terus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah-Nya?”

“Baiklah…”, jawab lelaki itu tampak menyerah, “Kemudian apa syarat yang kedua?”

Syarat kedua, Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya”, kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

“Benar. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara kau terus berbuat maksiat?”, tanya Ibrahim.

“Kau benar, ya Aba Ishak”, ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat yang ketiga?”, tanyanya dengan penasaran.

Syarat ketiga, kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya.”

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apakah semua ini? Mana mungin Allah tidak melihat kita?”

“Bagus! Kalau kau yakin Allah melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizkNya, tinggal di buminya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”, tanya Ibrahim kepada lelaki yang masih tampak membisu itu. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabiah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat yang keempat?”

Syarat keempat, Jika malaikatul maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertobat dan melakukan amal shalih.”

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukan selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin. Tidak mugnkin semua itu kulakukan”.

“Ya Abdallah (hamba Allah), bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasehat kepada lelaki itu.

Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah (malaikat yang bertugas menjaga neraka) hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

Lelaki yang ada di hadapan Ibrahim bin Adham itu tampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasehatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal, ia berkata, “Cukup, cukup, ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah”.

Lelaki itu memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Dikabarkan, ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyuk, sampai ia meninggal dunia. *

* (Cerita ini dikutip dari Kitab At-Tawwaabiin karya Ibnu Qudamah rahimahullah dan Kitab Multaqatul Hikayat karya Ibnul Jauzy rahimahullah, dengan terjemahan secara bebas tanpa mengurangi maknanya).

 ****

Dari kisah di atas, kita patut untuk merenungi betapa kita sebagai seorang hamba, tidak pantas bermaksiat kepadaNya. Mengapa? Hal ini karena rizki yang kita makan dan hidup dengannya adalah pemberianNya. Kita juga hidup di atas bumiNya. Kita tidak bisa lepas dari penglihatanNya. Kita mustahil dapat menunda datangnya kematian hanya semata-mata untuk bertaubat sebelum mati. Dan juga, kita pun tak mampu menghalau kedatangan malaikat Zabaniyah ketika ia akan menggiring kita ke nerakanya. Naudzubillah. Dimanakah alasan atau argumen kita menyampaikan udzur (alasan) untuk bermaksiat? Tidak ada, tidak ada, Saudaraku. 

Belum lagi, kemaksiatan itu membawa rentetan dampak buruk bagi kita.

Pertama, maksiat akan menghalangi datangnya ilmu. Ingat, ilmu adalah cahaya yang Allah berikan kepada hambaNya. Ketika seorang bermaksiat kepada Allah, maka Allah mencegahnya untuk mendapatkan ilmu. Bukankah kita sudah mendengar bagaimana kisah Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengadukan tentang buruknya hafalan beliau dikarenakan maksiat yang beliau lakukan? Ia berkata, “ Aku mengeluh kepada Waki’ akan buruknya hafalanku, lalu ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Beliau berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada yang suka bermaksiat”. (Lihat Diiwaan asy-Syafi’i (hal. 54), al-Fawaa-idul Bahiyyah (hal. 223), dan syarh Tsulaatsiyyaatil Musnad (I/769).

Kedua, maksiat akan menghalangi datangnya rizki. Perbuatan dosa dan maksiat akan menghalangi seseorang dari rizki. Sebaliknya, takwa merupakan sebab Allah menganugerahkan rizqi bagi hamba-Nya. Sebagaimana sabda Nabi r, “Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari mendapatkan rezeki karena dosa yang dia kerjakan.” (Al-Musnad (V/277). HR. Ibnu Majah (4022), al-Hakim, Ibnu Abi Syaibah, dan lainnya).
Ketiga, maksiat mendatangkan kesulitan dalam segala urusan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat at-Thalaq ayat 4, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Artinya, seseorang yang senantiasa terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat akan mendapatkan banyak rintangan, kesulitan dan kesukaran dalam setiap urusan. Lain halnya dengan seseorang yang ketakwaannya senantiasa bersemi dalam sanubarinya, ia akan mendapati segala urusannya mudah. Dan kemudahan tersebut akan selalu langgeng sampai di akhirat kelak.

Keempat, perbuatan dosa dan maksiat membuat hati menjadi gelap. Efek kronis dari perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan, akan memberikan noda hitam pada hatinya. Apabila seorang hamba tersebut terus dalam kemaksiatan, maka hatinya akan menjadi gelap dan hidayah Allah sulit mengetuk pintu hatinya. Nabi r bersabda, “Sesungguhnya seseorang mukmin apabila berbuat dosa maka diberi titik hitam pada hatinya, apabila ia bertaubat, kemudian meninggalkan perbuatan dosa tersebut lalu beristighfar, maka bersihlah hatinya. Apabila ia terus dalam berbuat dosa maka semakin bertambah titik hitam tersebut sampai menutupi hatinya, itulah karat yang Allah sebutkan: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. al- Mutaffifin: 14) (HR. Ahmad (II/297), At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya dengan sanad hasan).

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya kebaikan akan memberikan sinar di wajah, cahaya pada hati, keluasan rizki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Adapun kemaksiatan memberikan hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, kekurangan rizqi dan kebencian di hati manusia.”

Kelima, kemaksiatan dapat mewariskan kehinaan bagi pelakunya. Sesungguhnya kemuliaan hanya dapat diperoleh dengan ketaatan kepada Allah ta’ala. Allah I berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir: 10). Sebaliknya, perbuatan maksiat yang dilakukan seorang hamba akan melahirkan kehinaan dalam dirinya, yang mana hal tersebut dapat menyebabkan kehinaan pula bagi dirinya di akhirat kelak.

Rasulullah r melaknat beberapa pelaku kemaksiatan melalui lisannya, seperti laknat beliau atas wanita yang menyambung rambut atau yang meminta disambung, terhadap orang yang bertato atau meminta ditato (HR. Bukhari dan Muslim). Sebagaimana juga beliau melaknat orang yang makan riba, yang memberikan riba, penulisnya dan kedua saksinya (HR. Muslim).

Kedelapan, maksiat menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Di antara pengaruh yang sangat kompleks dari perbuatan dosa dan maksiat adalah terjadinya kerusakan di muka bumi seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, krisis moneter dan lain sebagainya. Allah I berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41). Bahkan, dalam satu kesempatan, Ikrimah pernah berkata, “Binatang-binatang melata dan serangga-serangga di bumi, sampai kumbang dan kalajengking berkata, “kami terhalang dari hujan disebabkan oleh dosa anak Adam.” ****

Olehnya, marilah bertaubat Saudaraku. Hentikan kemaksiatan itu terus terjadi pada diri kita. Jangan sampai, kemaksiatan yang terus dipelihara akan menjadi sebuah kebiasaan yang dengannya kita menutup hidup di dunia ini. Wallahul-musta’an.

Dan yang terpenting adalah bahwa kemaksiatan kerap akan menanam benih kemaksiatan lain yang semisalnya, hingga kita merasa sulit untuk meninggalkan dan keluar dari maksiat tersebut. Sebagian ulama dahulu (salaf) berkata, “Hukuman dari keburukan adalah munculnya keburukan setelahnya, sedangkan ganjaran dari kebaikan adalah munculnya kebaikan sesudahnya. Jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan lain akan berkata kepadanya “amalkan aku juga.”  Demikian pula dengan maksiat. Hal ini terus berlangsung hingga ketaatan atau kemaksiatan menjadi suatu sifat dan kebiasaan yang melekat dan tetap pada diri seseorang.”

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...