September 08, 2017

Menjamu Muharram yang Mulia

Tak terasa, Allah Sang Maha Kuasa, kembali mempertemukan kita dengan bulan-Nya yang mulia, Muharram. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru tentunya karena ia akan terus berulang selama Allah Sang Khalik masih mengizinkan kita untuk menemuinya. Namun, sejauh ini, apa yang telah kita usahakan dalam memuliakan bulan-bulan Allah, termasuk bulan ini sehingga ia tidak berlalu begitu saja?

Selayaknya bagi kita untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri dan istigfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk dia antara hamba yang mampu bersyukur.


Bulan Muharram, Bulan Haram

Sesungguhnya  bulan  Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah. Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana firman Allah I, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah :36).
 
Nabi r bersabda, “Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan  keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas t mengomentari hadits tersebut dengan menyebutkan bahwa Allah  mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram dan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya lebih besar dan amalan shalih akan diganjar pahala yang lebih banyak. Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kezhaliman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezhaliman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah I senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).

Memperbanyak Puasa Sunnah

Rasulullah r bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).
   
Sabda beliau, “syahrullah (bulan Allah)” penyandaran kata bulan kepada Allah merupakan penyadaran pengagungan. Imam Al-Qaari berkata, “Secara zahir, maksudnya seluruh (hari-hari pada) bulan muharram.” Tetapi telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi r tidak pernah sama sekali berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan. Maka hadits ini dipahami, dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram bukan seluruhnya. Didapatkan juga keterangan bahwa Nabi r memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban dan boleh jadi belum diwahyukan kepada beliau tentang keutamaan bulam Muharram kecuali pada akhir hayat beliau sebelum diperintahkan berpuasa padanya” (Syarah Shahih Muslim).


Sejarah ‘Asyura di Bulan Muharram

Di antara hari yang utama di bulan Muharram adalah hari ‘Asyura dan Tasu’a. Apakah hari ‘Asyura dan Tasu’a itu? Imam Nawawi rahimahullah  berkata, “ ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab). Ulama mazhab kami berkata : ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama. Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa”.
 
Ibnu Qudamah rahimahullah  berkata,  ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyab dan Al-Hasan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas t, bahwasanya ia telah berkata, “Rasulullah r memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)” (HR. Tirmidzi).

Ada apa di hari ‘Asyura ini? Ibnu Abbas t berkata, “Setelah Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau berkata,  “Apakah ini?”, mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik dimana Allah I menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”. Nabi pun bersabda, “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu “ (HR. Bukhari).
   
Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah. Aisyah radhiallahu anha berkata, “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga berpuasa pada hari itu” (HR. Bukhari).

Imam Qurthubi rahimahullah  berkata,  “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi r  menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk menyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa t, “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya”. Maka Nabi r bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Ibnu Abbas t telah berkata, “Saya tidak melihat Nabi r memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR.  Bukhari).

Nabi r bersabda, “Puasa hari ‘Asyura, aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya” (HR. Tirmidzi).
 
Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allah-lah Pemilik keutamaan yang agung.

Imam Nawawi rahimahullah  berkata, “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab Juz 6 tentang puasa hari Arafah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah   berkata, “Bersuci, shalat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra Juz 5).

Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura

Dari Abdullah bin Abbas t telah berkata, “Ketika Rasulullah r berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah r bersabda, “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan”. Dia (Ibnu Abbas) berkata, “Akan tetapi beliau  telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).     

Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata, “Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan”.

Maka dari itu puasa ‘Asyura menurtu para ulama kita itu bertingkat-tingkat. Pertama, hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja. Kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.

Imam Nawawi  rahimahullah  berkata, “Sebagian ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.

Bid’ah-Bid’ah ‘Asyura

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah  menyebutkan beberapa bentuk bid’ah yang banyak terjadi di hari ‘Asyura ini, di antaranya : sebagian orang pada hari ‘Asyura memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan perasaan gembira, dan lain sebagainya.

Beliau mengatakan, “Sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shahih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin”.

Tidak ada satu hadits pun baik yang shahih atau yang lemah berbicara mengenai hal itu, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayatkan di dalam hadits maudhu’ (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi: “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”. Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi r.

Di antara bid’ah lainnya, menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan (karena meninggalnya Husain bin Ali  t) (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra).

Begitu pula, adanya keyakinan kesialan pada bulan Muharram ini oleh sebagian orang adalah keyakinan yang batil. Keyakinan ini bagian dari kesyirikan yang menghilangkan kesempurnaan tauhid. Mencaci dan mencela bulan ini termasuk bagian dari “kekurang-ajaran” terhadap Allah I. Nabi r bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Manusia telah menyakiti-Ku dengan ia mencaci masa. Padalah Aku adalah masa (penciptanya). Segala urusan berada di tangan-Ku. Akulah yang yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti” (HR. Bukhari dan Muslim).

Olehnya, jika Muharram sudah disebut sebagai bulan suci, bulannya Allah dan kita dilarang mengutuk waktu sebagai ciptaan Allah dan bulan kesyukuran, maka seharusnya tidak akan ada lagi kepercayaan seperti ini. Buang jauh-jauh kepercayaan itu. Mari mengisi hari-hari agung di bulan ini dengan puasa dan amal shalih. Wallahul-muwaffiq.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...