Tak terasa, Allah
Sang Maha Kuasa, kembali mempertemukan kita dengan bulan-Nya yang mulia,
Muharram. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru tentunya karena ia akan terus
berulang selama Allah Sang Khalik masih mengizinkan kita untuk menemuinya.
Namun, sejauh ini, apa yang telah kita usahakan dalam memuliakan bulan-bulan
Allah, termasuk bulan ini sehingga ia tidak berlalu begitu saja?
Selayaknya bagi kita
untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga
kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri
dan istigfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Karena sebuah
kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi,
sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang
bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah
dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah
malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada
Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati
tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk dia
antara hamba yang mampu bersyukur.
Bulan Muharram,
Bulan Haram
Sesungguhnya bulan
Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah. Muharram adalah
awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram,
sebagaimana firman Allah I, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah
ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah :36).
Nabi r bersabda, “Setahun terdiri dari dua belas bulan di
dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan
keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan
Sya’ban” (HR. Bukhari).
Ibnu Abbas t mengomentari hadits tersebut dengan
menyebutkan bahwa Allah I mengkhususkan empat
bulan tersebut sebagai bulan haram dan suci. Melakukan maksiat pada bulan
tersebut dosanya lebih besar dan amalan shalih akan diganjar pahala yang lebih
banyak. Qatadah rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya kezhaliman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar
dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun
sebenarnya kezhaliman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan
tetapi Allah I senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut
kehendakNya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At
Taubah: 36).
Memperbanyak
Puasa Sunnah
Rasulullah r bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan
adalah bulan Allah Muharram” (HR.
Muslim).
Sabda beliau,
“syahrullah (bulan Allah)” penyandaran kata bulan kepada Allah merupakan
penyadaran pengagungan. Imam Al-Qaari berkata, “Secara zahir, maksudnya seluruh
(hari-hari pada) bulan muharram.” Tetapi telah disebutkan dalam hadits shahih
bahwa Nabi r tidak pernah sama sekali berpuasa sebulan penuh
kecuali di Ramadhan. Maka hadits ini dipahami, dianjurkan untuk memperbanyak
puasa pada bulan Muharram bukan seluruhnya. Didapatkan juga keterangan bahwa
Nabi r memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban dan boleh jadi
belum diwahyukan kepada beliau tentang keutamaan bulam Muharram kecuali pada
akhir hayat beliau sebelum diperintahkan berpuasa padanya” (Syarah Shahih Muslim).
Sejarah ‘Asyura
di Bulan Muharram
Di antara hari yang
utama di bulan Muharram adalah hari ‘Asyura dan Tasu’a. Apakah
hari ‘Asyura dan Tasu’a itu? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “ ‘Asyura dan tasu’a
adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab).
Ulama mazhab kami berkata : ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram
dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut
pendapat kebanyakan ‘ulama. Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya
dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan
ahli bahasa”.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan
Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyab dan Al-Hasan, berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas t,
bahwasanya ia telah berkata, “Rasulullah r memerintahkan
berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)” (HR. Tirmidzi).
Ada apa di hari
‘Asyura ini? Ibnu Abbas t berkata, “Setelah Nabi tiba di Madinah, beliau
melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau berkata, “Apakah ini?”, mereka menjawab, “Ini adalah
hari yang baik dimana Allah I menyelamatkan bani
Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”. Nabi pun
bersabda, “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”. Maka beliau
berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu “ (HR. Bukhari).
Sebenarnya puasa
‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah. Aisyah
radhiallahu anha berkata, “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga
berpuasa pada hari itu” (HR. Bukhari).
Imam Qurthubi rahimahullah berkata, “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih
berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam,
dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum
hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan
orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi r menanyakan hal tersebut dan mereka berkata
sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan
sahabatnya untuk menyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai
hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa t, “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang
Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya”. Maka Nabi r bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).
Keutamaan Puasa
‘Asyura
Ibnu Abbas t telah berkata, “Saya tidak melihat Nabi r memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau
utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini
yakni bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).
Nabi r bersabda, “Puasa hari ‘Asyura, aku berharap kepada
Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya” (HR. Tirmidzi).
Hal ini sangat jelas
merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan
berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allah-lah Pemilik keutamaan yang agung.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dihapus adalah semua dosa
kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat
Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab Juz 6 tentang puasa hari Arafah).
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata, “Bersuci,
shalat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus
dosa-dosa kecil” (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra
Juz 5).
Disunnahkan
Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura
Dari Abdullah bin
Abbas t telah berkata, “Ketika Rasulullah r berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan
shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya
‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka
Rasulullah r bersabda, “Pada tahun mendatang Insya Allah kita
juga akan berpuasa pada hari kesembilan”. Dia (Ibnu Abbas) berkata, “Akan
tetapi beliau telah wafat sebelum tahun
depan” (HR. Muslim).
Imam Syafi’i, Ahmad,
Ishak dan lainnya berkata, “Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan
kesepuluh, karena Nabi berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada
hari kesembilan”.
Maka dari itu puasa
‘Asyura menurtu para ulama kita itu bertingkat-tingkat. Pertama, hanya berpuasa
pada hari kesepuluhnya saja. Kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan
kesepuluh. Ketiga, dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Sebagian ulama dari shahabat kami
dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa
Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada
hari kesepuluh”.
Bid’ah-Bid’ah
‘Asyura
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah menyebutkan
beberapa bentuk bid’ah yang banyak terjadi di hari ‘Asyura ini, di antaranya :
sebagian orang pada hari ‘Asyura memakai celak mata, mandi, mengolesi badan
dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan
perasaan gembira, dan lain sebagainya.
Beliau mengatakan, “Sesungguhnya
hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi
yang shahih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan
para ulama kaum muslimin”.
Tidak ada satu
hadits pun baik yang shahih atau yang lemah berbicara mengenai hal itu, akan
tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti
hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka
ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah
diriwayatkan di dalam hadits maudhu’ (palsu) lagi dusta yang disandarkan
kepada Nabi: “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja)
pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”. Riwayat-riwayat
seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi r.
Di antara bid’ah
lainnya, menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari berduka cita dan meratap, meraka
menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek
pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan
syair-syair yang menyedihkan (karena meninggalnya Husain bin Ali t) (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra).
Begitu pula, adanya keyakinan
kesialan pada bulan Muharram ini oleh sebagian orang adalah keyakinan yang
batil. Keyakinan ini bagian dari kesyirikan yang menghilangkan kesempurnaan
tauhid. Mencaci dan mencela bulan ini termasuk bagian dari “kekurang-ajaran”
terhadap Allah I. Nabi r bersabda, “Allah
Ta’ala berfirman, “Manusia telah menyakiti-Ku dengan ia mencaci masa. Padalah
Aku adalah masa (penciptanya). Segala urusan berada di tangan-Ku. Akulah yang
yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti” (HR. Bukhari dan Muslim).
Olehnya, jika
Muharram sudah disebut sebagai bulan suci, bulannya Allah dan kita dilarang
mengutuk waktu sebagai ciptaan Allah dan bulan kesyukuran, maka seharusnya
tidak akan ada lagi kepercayaan seperti ini. Buang jauh-jauh kepercayaan itu.
Mari mengisi hari-hari agung di bulan ini dengan puasa dan amal shalih. Wallahul-muwaffiq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar