Maret 19, 2015

Jagalah Pandanganmu!

“Mencuci mata” sudah menjadi kebiasaan banyak orang utamanya di kalangan para muda. Nongkrong di pinggir jalan, menikmati pemandangan alam yang indah dan penuh pesona adalah hal biasa. Apalagi, di zaman yang serba canggih seperti sekarang, zaman gadget dan smartphone, begitu memanjakan kita untuk mengakses dunia maya yang penuh dengan warna, tak terkecuali “alam indah” untuk “mencuci mata”. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah alam apakah yang sedemikian indahnya sehingga menjadikan orang-orang atau para muda begitu tertarik dan kerasan untuk nongkrong dan memantau gadget hingga berjam-jam? Ternyata alam tersebut adalah wanita, sumber fitnah bagi lelaki sejak zaman dahulu. “Saya melihat karena kekaguman terhadap ciptaan Allah, Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”, seloroh mereka.

Benarkah pernyataan ini? Ini jelas adalah tipu daya dan racun syaitan yang telah merasuk dalam jiwa. Oleh karena itu, pada edisi kali ini, redaksi mencoba memaparkan beberapa perkara yang berkaitan dengan hukum pandangan, semoga bermanfaat bagi redaksi dan juga bagi saudara-saudara kami para pembaca yang budiman.

Maret 10, 2015

Menafkahi Keluarga

Kata orang tua kita, hidup berkeluarga adalah kehidupan orang dewasa. Perkataan ini memang sesuai dengan kenyataan yang ada, karena orang yang menjalani hidup berkeluarga harus siap bersikap dewasa dalam menghadapi liku-liku hidup berumah tangga.  Salah satu sikap kedewasaan dari seseorang adalah bila ia tidak semata menuntut agar semua haknya dipenuhi tanpa menyeimbangkannya dengan pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab. Salah satu kewajiban sekaligus tanggung jawab seorang suami dalam keluarga adalah memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya sesuai kemampuan.

Sengaja kita angkat permasalahan ini karena ada di antara suami yang masih saja tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dengan kewajibannya sehingga ia berlepas tangan darinya.

Maret 03, 2015

Terbuai Oleh Musik dan Nyanyian

Siapa saja yang hidup di akhir zaman seperti saat ini, terasa sulit untuk lepas dari pengaruh lantunan suara musik dan nyanyian. Begitu luas dan tersebarnya kedua hal ini, bahkan hingga ke pelosok desa sekalipun. Bisa jadi, inilah kenyataan yang telah disinyalir oleh Nabi kita, Muhammad r, sejak 14 abad yang lalu.

Sebuah kisah tentang sosok si “fulan”. Hidupnya dahulu tidak bisa lepas dari alat musik dan nyanyian. Di masa silam dahulu, ia termasuk orang-orang yang gandrung terhadap lantunan musik dan nyanyian. Bahkan nyanyian dan musik menjadi “sarapan” di setiap harinya. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah I mengenalkannya dengan al-haq (cahaya al-Qur’an dan al-Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhinya. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan kalamullah yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...