September 29, 2017

Menjadi Manusia Terbaik

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia diantara seluruh makhluk lain di dunia ini. Demikian Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Israa : 70). 

Kemuliaan yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik, hati, dan lainnya. Potensi-potensi tersebut selayaknya diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat : 56).

September 08, 2017

Menjamu Muharram yang Mulia

Tak terasa, Allah Sang Maha Kuasa, kembali mempertemukan kita dengan bulan-Nya yang mulia, Muharram. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru tentunya karena ia akan terus berulang selama Allah Sang Khalik masih mengizinkan kita untuk menemuinya. Namun, sejauh ini, apa yang telah kita usahakan dalam memuliakan bulan-bulan Allah, termasuk bulan ini sehingga ia tidak berlalu begitu saja?

Selayaknya bagi kita untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri dan istigfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk dia antara hamba yang mampu bersyukur.

September 01, 2017

Maafkan Kami Rohingya

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'un. Dalam kegembiraan berbagi di hari raya Idul Adha yang penuh berkah, terbersit kesedihan dalam relung hati yg mengharu biru. Beragam kekejaman yang menimpa saudara-saudara kita di Rohingya, membuat kita merasa lemah selemah-lemahnya dan sedih sesedih-sedihnya.

Bayangkan, saat kita, istri, dan anak-anak serta orang-orang terdekat kita dari kerabat diancam untuk dibunuh dan tak ada jalan untuk bernegosiasi. Bayangkan, pasukan pembunuh itu sudah datang ke desa-desa dan membakar semua rumah-rumah yang ada, lalu mengejar dan membantai seluruh penduduknya yang tersisa meski di atas badan jalan dan tengah sawah. Bayangkan, jika dalam kondisi seperti itu, tak ada penguasa dan pihak berwajib yang dapat menolong dan mengayomi kita karena mereka adalah bagian dari kekejian yang mungkin menjadi yang paling brutal di abad ini. Kemana lagi kita akan lari, jika ternyata penguasa wilayah perbatasan menolak kita karena alasan bahwa kita bukan bagian dari warga negaranya. Inilah kisah nyata yang terjadi pada saudara-saudara kita di Rohingya hari ini.
Mereka adalah saudara-saudara muslim kita. Mereka adalah kaum papa yang terzalimi oleh sesama bangsanya. Mereka terusir dari tanah kelahiran mereka sendiri, hanya karena meyakini bahwa Allah Ta'ala semata yang berhak untuk disembah, bukan dewa atau ruh leluhur seperi yang diyakini oleh sebagian orang di sana.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...