Mei 22, 2014

Tak Terputus

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana, kehidupan sementara, kehidupan yang sebentar saja. Jika kita dikaruniai usia yang sama dengan Rasulullah r , hidup kita di dunia sekitar 63 tahun lamanya. Mungkin ada yang lebih lama dari itu, tetapi banyak juga yang kurang dari itu. Pendek kata, jika waktunya telah tiba, kematian tak bisa ditunda. Allah I berfirman, artinya :  “Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya” (QS. An Nahl : 61).

Maka, hidup yang sangat singkat ini harus diisi dengan bekal yang banyak. Selayaknya kita mempersiapkan bekal dengan amalan-amalan yang berbobot dan bernilai berat bahkan dengan pahala yang tak terputus meskipun kita telah wafat. Inilah yang biasa kita sebut sebagai amal jariyah.

Mei 16, 2014

Terbuai Oleh Musik dan Nyanyian

Siapa saja yang hidup di akhir zaman seperti saat ini, terasa sulit untuk lepas dari pengaruh lantunan suara musik dan nyanyian. Begitu luas dan tersebarnya kedua hal ini, bahkan hingga ke pelosok desa sekalipun. Bisa jadi, inilah kenyataan yang telah disinyalir oleh Nabi kita, Muhammad r, sejak 14 abad yang lalu.

Sebuah kisah tentang sosok si “fulan”. Hidupnya dahulu tidak bisa lepas dari alat musik dan nyanyian. Di masa silam dahulu, ia termasuk orang-orang yang gandrung terhadap lantunan musik dan nyanyian. Bahkan nyanyian dan musik menjadi “sarapan” di setiap harinya. Namun, sekarang hidupnya jauh berbeda. Setelah Allah I mengenalkannya dengan al-haq (cahaya al-Qur’an dan al-Sunnah), dia pun perlahan-lahan menjauhinya. Alhamdulillah, dia pun mendapatkan ganti yang lebih baik yaitu dengan kalamullah yang semakin membuat dirinya  mencintai dan merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.

Mei 08, 2014

Jika Harus Memuji

Sebagian kita mungkin senang akan pujian manusia. Sebagian kita pun mungkin selalu mengharapkan komentar baik dari orang lain. Sepintas, mungkin kita berpikir hal tersebut tidak masalah. Tetapi, jika kita mau untuk merenungi lebih dalam, justru pujian seringkali menipu kita. Ya, menipu kita. Manisnya buaian kata-kata indah, tidak jarang melenakan dan membuat kita semakin merasa “besar, tinggi, ujub dan sombong”. Padahal, keadaan kita yang sesungguhnya sangat jauh dari pujian tersebut.  Begitu pula, kita pun sering memuji orang lain di hadapannya. Entah dengan motivasi apa ketika kita memuji manusia. Semuanya terpulang kepada niat-niat kita ketika memujinya. Di balik pujian-pujian lisan kita, tahukah kita bagaimana syariat Islam mengaturnya? Berikut kami tuliskan beberapa perkara yang mesti untuk kita pahami. Selamat membaca…

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...