Ketika Adam ‘alaihissalam dan istrinya Hawa alaihassalam masih berada di dalam
Surga, Allah Ta’ala telah mengingatkan kepada mereka berdua agar berhati-hati
dari makar musuh nyata mereka yakni Iblis laknatullah
‘alaih. Tentu saja berhati-hati untuk seluruh hal, tidak terkecuali
ucapan-ucapan yang terdengar manis dari Iblis. Sebab Iblis sendiri telah
bersumpah di hadapan Allah Ta’ala bahwa ia akan berusaha dengan segala cara
untuk menyesatkan Adam dan anak keturunannya dari jalan yang benar (QS. Al-A’raf :16-17).
Alhasil, Allah Ta’ala
menakdirkan Adam ‘‘alaihissalam dan
istrinya terperdaya dengan tipu daya Iblis laknatullah
‘alaih yang membuat mereka terusir dari surga. Pertanyaan yang paling
penting adalah bagaimana cara Iblis laknatullah
‘alaih mampu menyesatkan Adam yang cerdas? Sebab, tidak menutup
kemungkinan, cara atau trik itu juga yang Iblis laknatullah ‘alaih dan bala tentaranya jalankan hingga sekarang
dalam menyesatkan kita anak cucu Adam. Walaupun mungkin variannya beda-beda
tapi intinya tetap sama.
Runut kejadiannya
telah Allah Ta’ala sebutkan dengan jelas dalam Al-Qur’an. Iblis laknatullah‘alaih yang telah jelas
pernyataan permusuhannya kepada Adam dan anak keturunannya, datang dengan wajah
kamuflase dan palsu yang dibungkus dengan penampilan dan kata-kata meyakinkan.
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya
untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya
dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan
supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang
kekal (dalam surga)”. Dan Dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya
saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” Maka setan
membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya
telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka
menyeru mereka, “Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu
dan aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi
kamu berdua?” (QS. Al-A’raf: 20-22).
Luar biasa beracunnya
kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Iblis. Tidak hanya terdengar menggugah
tapi juga Iblis laknatullah ‘alaih
“pandai” meyakinkan Adam ‘alaihissalam
dengan kata-kata menipunya. Untuk membuat Adam percaya akan kebenaran
argumennya, Iblis laknatullah‘alaih
menyertakan sebuah teori bahwa dengan mendekati pohon yang dilarang oleh Allah
maka Adam akan kekal. Bahkan dengan beraninya, Iblis memberi nama pohon
terlarang tersebut dengan nama “khuldi”
(kekekalan).
Begitulah, sehingga
terjadilah sebuah peristiwa yang tidak boleh terlupakan oleh setiap anak cucu
Adam yakni terusirnya Adam ‘alaihissalam
dari surga ke dunia fana ini. Celakanya, Iblis dan bala tentaranya tidak pernah
berhenti mengejar Adam dan anak cucunya guna disesatkan walaupun ia telah
“sukses” sebelumnya dan Adam serta keturunanya telah berada di dunia.
Kini zaman telah jauh
berputar. Demi menyukseskan program penyesatannya, iblis dan bala tentaranya
terus “berbenah”. Mereka datang dengan varian baru yang lebih menggugah selera
anak cucu Adam. Terlebih penyajiannya dibungkus dengan penjelasan ilmiah abad
modern. Didukung pula dengan tentara-tentaranya dari golongan manusia yang
bergelar guru besar. Ditambah dana melimpah yang mengalir dari keran-keran
organisasi berkedok sosial, setingkat internasional pula. Luar biasa
mengesankan.
Di antara dagangan
Iblis dan bala tentaranya yang sekarang sedang cetar membahana adalah LGBT
(Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Dagangan ini pada dasarnya barang
yang sudah lama sekali. Pernah laku keras oleh kaum Sodom, walaupun Allah
Ta’ala telah mengingatkan mereka dengan diutusnya Luth ‘alaihissalam di tengah-tengah mereka sebagai pemberi peringatan.
Namun mereka tetap saja pongah dengan peringatan dan terus berbuat kerusakan di
muka bumi, hingga Allah Ta’ala membinasakannya dengan Azab yang luar biasa
dahsyatnya. Dan kini, dagangan itu kembali dipromosikan oleh Iblis dengan
mencari korban-korban baru untuk disesatkan.
Penjajakannya dimulai
dengan meyakinkan kepada korbannya bahwa LGBT adalah sebuah kondisi manusiawi,
perlu diberi hak dan kebebasan. Dan untuk menjadikan LGBT dapat diterima di
kalangan akademisi, disebutlah LGBT sebagai sesuatu yang ilmiah. Mulailah
dibuatkan buku sebagai sumber rujukan dan penguat argumen, ditambah dalil-dalil
yang dipaksakan cocok, sehingga semakin menguatkan bahwa dagangan LGBT ini
membawa maslahat dan kebahagian untuk anak cucu Adam.
Trik usang ini pada
dasarnya sama dengan trik Iblis dalam menjajakan pohon Khuldi kepada Adam ‘alaihissalam dan Hawa ‘alaihissalam.
Pertama, trik ini
pada hakekatnya adalah menjual produk yang sama dengan merek berbeda. Antara
pohon Khuldi dan LGBT saling memiliki keterkaitan kuat. Keduanya sama-sama
produk Iblis laknatullah ‘alaih yang
dijajakan dengan tujuan memberikan kepuasan dan kebahagian semu kepada
peminatnya. Pohon Khuldi terlarang bagi Adam dan Hawa ‘alaihumassalam untuk didekati. Kapan larangan tersebut dilanggar,
maka Allah Ta’ala akan memberikan hukuman. Begitupun LGBT, di mana begitu
terang dan jelas larangan Allah dan Rasul-Nya atasnya. Mereka yang menjadi
pelakunya secara tidak langsung kembali memberikan kemenangan kepada Iblis laknatullah ‘alaih dan bala tentaranya.
Maka siapa yang hanya
melihat merek tanpa melihat subtansi, maka mudah sekali Iblis memperdayanya.
Muncullah orang-orang yang suka, cinta bahkan rela berkorban untuk dagangan
mematikan tersebut.
Kedua, trik ini pada
hakekatnya adalah memberi istilah keburukan dengan kebaikan. Pohon yang Allah
Ta’ala larang agar tidak didekati oleh Adam dan istrinya Hawa tidak memiliki
nama. Paling tidak kita sudah bisa memahami bahwa pohon itu pasti buruk dan
memiliki mudharat jika didekati oleh Adam beserta istrinya. Namun Iblis datang
dengan tipu dayanya, memberi istilah yang indah terhadap pohon terlarang
tersebut dengan memberinya nama yang keren dan menarik yakni pohon Khuldi.
Begitu pula dalam menjajakan
LGBT. Para penjualnya memberi nama penyakit LGBT sebagai keadaan seksual yang
wajar, manusiawi dan bahkan ilmiah.
Padahal begitu jelas jika LGBT adalah penyimpangan seksual yang dilaknat Allah
Ta’ala dan secara medis terlebih kejiwaan terbukti sebagai penyakit kronis.
LGBT yang jelas-jelas adalah penyakit, dikatakannya sebagai keadaan normal.
Ketiga, para
marketing LGBT itu datang dengan posisi sebagai pemberi nasihat. Untuk
mendapatkan untung besar berupa korban yang banyak dan militan, mereka hadir
dengan wajah penuh kamuflase sebagai pegiat sosial, pejuang hak minoritas dan
pemerhati hak asasi manusia. Bukankah sekarang tidak sedikit kita melihat
mereka yang mengatas-namakan pemerhati, tapi sama sekali tidak punya hati?
Untuk meyakinkan lagi, dikendarainya pula organisasi-organisasi besar berkedok
sosial. Dan masing-masing individu dibekali gelar akademik tinggi dan jabatan
strategis. Tidak lupa juga kucuran dana melimpah untuk memuluskan program demi
program penyesatan.
Cara ini sebenarnya klasik,
sebab buyut mereka yakni Iblis laknatullah
‘alaih telah jauh mencontohkan. Dalam memperdaya Adam ‘alaihis salam Iblis
datang dengan dalih kekeluargaan, perhatian serius, seakan menginginkan
kebaikan kepada Adam dengan menekankan bahwa ia adalah pemberi nasihat yang
terpercaya. Tapi, apa yang ada di baliknya adalah petaka yang dahsyat. Allahul musta’an.
Laknat atas Mereka
LGBT adalah proyek
untuk merusak generasi bangsa, bahkan manusia secara umum. Penyimpangan seksual
ini termasuk perbuatan faahisyah
(dosa yang hina, tercela, dan menjijikkan) yang lebih buruk daripada zina.
Karenanya, Rasulullah secara tegas melaknat perilaku penyimpangan seksual ini
dengan laknat yang tak pernah dijatuhkan kepada dosa zina dan dosa-dosa
lainnya. Beliau bersabda, “Allah melaknat
pelaku perbuatan kaum Luth, Allah melaknat pelaku perbuatan kaum Luth, Allah
melaknat pelaku perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib
Al-Arnauth). Dalam hadits ini, laknat atas
pelaku liwath (homo, gay, lesbi)
diulang tiga kali. Tak seperti laknat atas zina dan dosa besar lainnya.
Terkait hukuman bagi
mereka, para sahabat bersepakat, pelaku liwath
dihukum mati. Adapun cara menghukum mati, mereka berbeda pendapat. Ali bin Abi
Thalib berpendapat, mereka dibunuh dengan dibakar. Ibnu Abbas berpendapat,
“dicari bangunan yang paling tinggi lalu pelaku liwath dilempar dari sana,
kemudian dihujani batu sebagaimana yang ditimpakan kepada kaum Luth” (Kitab Nizham Al-Uqubat, hal.
21). Ada juga pendapat mengatakan, pelaku
dihukum mati dengan dirajam; dilempari batu sampai mati. Pendapat keempat ini
yang lebih kuat.
Intinya, pelaku LGBT
harus dihukum mati menurut syariat Islam karena keburukannya yang dahsyat dan
daya tularnya yang hebat. Ini didasarkan
kepada hadits Nabi, “Siapa yang kalian
dapati melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.”
(HR. Tirmidzi,
Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Al-Qur'an telah
mengabadikan kehancuran kisah masyarakat pelaku LBGT dari kaum Sodom. Allah
telah menghukum mereka dengan hukuman yang belum pernah ditimpakan kepada umat
sebelumnya; dibinasakan dengan dibalik negeri mereka yang bagian atas negeri
itu menjadi di bawah disertai suara gemuruh yang keras, lalu dihujani batu
terbakar yang besar dan keras dari langit (QS. Al-Hijr: 72-74).
Termasuk dalam
perilaku menyimpang LGBT, adalah mukhannats
dan mutarajjil, yaitu pria yang
meniru wanita dalam penampilan, tingkah laku dan cara bicara, alias laki-laki
yang menyerupai wanita. Begitu pula
sebaliknya, wanita yang meniru pria dalam penampilan, tingkah laku dan cara
bicara, alias wanita yang menyerupai pria. Kedua istilah dalam fiqh ini sama
atau berdekatan maknanya dengan
Transgender dalam LGBT.
Tasyabbuh atau
meniru seperti ini termasuk hal yang diharamkan dan tergolong dosa besar dan
terlaknat. Ibnu Abbas berkata, “Nabi melaknat mukhannatsin dari laki-laki dan
mutarajjilat dari perempuan”(HR. Bukhari).
Bahkan, bagi mereka,
siapapun laki-laki berkelakuan seperti wanita atau sebaliknya, harus diasingkan
jauh dari kerabat dan sanak saudara serta dari teman-teman yang telah
memengaruhinya. Sebagaimana perintah Nabi dalam sabdanya, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian” (HR. Bukhari). Ibnu Abbas berkata, “Maka Nabi pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannas) dan Umar
mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah)” (Kitab al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,
Juz 5 hal. 122).
Penutup
Olehnya, melihat
beratnya adzab dan hukuman yang sepatutnya ditimpakan kepada para pelaku LBGT,
tentunya umat Islam tak boleh berpangku tangan membiarkan para pegiat LGBT
melakukan lobi sosial dan politik untuk mendapatkan legalitas hukum dan
penerimaan dari masyarakat. Mengapa? Karena bisa jadi, ketika adzab benar-benar
ditimpakan kepada mereka, maka adzab
tersebut tidak hanya mengenai para pelaku dan pegiat LGBT tersebut, namun juga
menimpa manusia yang hanya diam menonton tak berbuat sesuatu apapun. Allah
berfirman, “Dan takutlah kalian pada
adzab yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim di antara kalian saja.
Dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksaan-Nya. ” (QS. Al-Anfal: 25).
Apalagi, perbuatan
ini memang menjadi hal yang paling ditakutkan oleh Nabi akan terjadi. Nabi
bersabda, “Sesunguhnya yang paling aku
takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth” (HR. Ibnu Majah. Tirmidzi berkata,
hadist ini Hasan Gharib. Hakim berkata, hadits ini Shahih Isnad).
Masih ada waktu bagi
para penganut dan penggiat LGBT untuk bertaubat. Minta ampunlah kepada Allah Ta’ala. Sungguh, pintu taubat selalu
terbuka untuk hamba-hambaNya. Dengan
taubat itu, semoga Allah memberi taufiq
dan hidayah-Nya untuk kembali kepada fitrah sesungguhnya. Bagi kita kaum
muslimin, tentu saja sikap diam bukanlah pilihan terbaik dan bijak. Hendaknya
setiap kita ikut memberikan andil dan kontribusi dengan berupaya untuk menjaga
keluarga, lingkungan dan negeri ini dari adzab. Wallahul-musta’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar