Desember 23, 2017

Propaganda LGBT dan Laknat Allah

Ketika Adam ‘alaihissalam dan istrinya Hawa alaihassalam masih berada di dalam Surga, Allah Ta’ala telah mengingatkan kepada mereka berdua agar berhati-hati dari makar musuh nyata mereka yakni Iblis laknatullah ‘alaih. Tentu saja berhati-hati untuk seluruh hal, tidak terkecuali ucapan-ucapan yang terdengar manis dari Iblis. Sebab Iblis sendiri telah bersumpah di hadapan Allah Ta’ala bahwa ia akan berusaha dengan segala cara untuk menyesatkan Adam dan anak keturunannya dari jalan yang benar (QS. Al-A’raf :16-17).

Alhasil, Allah Ta’ala menakdirkan Adam ‘‘alaihissalam dan istrinya terperdaya dengan tipu daya Iblis laknatullah ‘alaih yang membuat mereka terusir dari surga. Pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana cara Iblis laknatullah ‘alaih mampu menyesatkan Adam yang cerdas? Sebab, tidak menutup kemungkinan, cara atau trik itu juga yang Iblis laknatullah ‘alaih dan bala tentaranya jalankan hingga sekarang dalam menyesatkan kita anak cucu Adam. Walaupun mungkin variannya beda-beda tapi intinya tetap sama.

Runut kejadiannya telah Allah Ta’ala sebutkan dengan jelas dalam Al-Qur’an. Iblis laknatullah‘alaih yang telah jelas pernyataan permusuhannya kepada Adam dan anak keturunannya, datang dengan wajah kamuflase dan palsu yang dibungkus dengan penampilan dan kata-kata meyakinkan.


“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan Dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf: 20-22).

Luar biasa beracunnya kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Iblis. Tidak hanya terdengar menggugah tapi juga Iblis laknatullah ‘alaih “pandai” meyakinkan Adam ‘alaihissalam dengan kata-kata menipunya. Untuk membuat Adam percaya akan kebenaran argumennya, Iblis laknatullah‘alaih menyertakan sebuah teori bahwa dengan mendekati pohon yang dilarang oleh Allah maka Adam akan kekal. Bahkan dengan beraninya, Iblis memberi nama pohon terlarang tersebut dengan nama “khuldi” (kekekalan).

Begitulah, sehingga terjadilah sebuah peristiwa yang tidak boleh terlupakan oleh setiap anak cucu Adam yakni terusirnya Adam ‘alaihissalam dari surga ke dunia fana ini. Celakanya, Iblis dan bala tentaranya tidak pernah berhenti mengejar Adam dan anak cucunya guna disesatkan walaupun ia telah “sukses” sebelumnya dan Adam serta keturunanya telah berada di dunia.

Kini zaman telah jauh berputar. Demi menyukseskan program penyesatannya, iblis dan bala tentaranya terus “berbenah”. Mereka datang dengan varian baru yang lebih menggugah selera anak cucu Adam. Terlebih penyajiannya dibungkus dengan penjelasan ilmiah abad modern. Didukung pula dengan tentara-tentaranya dari golongan manusia yang bergelar guru besar. Ditambah dana melimpah yang mengalir dari keran-keran organisasi berkedok sosial, setingkat internasional pula. Luar biasa mengesankan.

Di antara dagangan Iblis dan bala tentaranya yang sekarang sedang cetar membahana adalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Dagangan ini pada dasarnya barang yang sudah lama sekali. Pernah laku keras oleh kaum Sodom, walaupun Allah Ta’ala telah mengingatkan mereka dengan diutusnya Luth ‘alaihissalam di tengah-tengah mereka sebagai pemberi peringatan. Namun mereka tetap saja pongah dengan peringatan dan terus berbuat kerusakan di muka bumi, hingga Allah Ta’ala membinasakannya dengan Azab yang luar biasa dahsyatnya. Dan kini, dagangan itu kembali dipromosikan oleh Iblis dengan mencari korban-korban baru untuk disesatkan.

Penjajakannya dimulai dengan meyakinkan kepada korbannya bahwa LGBT adalah sebuah kondisi manusiawi, perlu diberi hak dan kebebasan. Dan untuk menjadikan LGBT dapat diterima di kalangan akademisi, disebutlah LGBT sebagai sesuatu yang ilmiah. Mulailah dibuatkan buku sebagai sumber rujukan dan penguat argumen, ditambah dalil-dalil yang dipaksakan cocok, sehingga semakin menguatkan bahwa dagangan LGBT ini membawa maslahat dan kebahagian untuk anak cucu Adam.

Trik usang ini pada dasarnya sama dengan trik Iblis dalam menjajakan pohon Khuldi kepada Adam ‘alaihissalam dan Hawa ‘alaihissalam.

Pertama, trik ini pada hakekatnya adalah menjual produk yang sama dengan merek berbeda. Antara pohon Khuldi dan LGBT saling memiliki keterkaitan kuat. Keduanya sama-sama produk Iblis laknatullah ‘alaih yang dijajakan dengan tujuan memberikan kepuasan dan kebahagian semu kepada peminatnya. Pohon Khuldi terlarang bagi Adam dan Hawa ‘alaihumassalam untuk didekati. Kapan larangan tersebut dilanggar, maka Allah Ta’ala akan memberikan hukuman. Begitupun LGBT, di mana begitu terang dan jelas larangan Allah dan Rasul-Nya atasnya. Mereka yang menjadi pelakunya secara tidak langsung kembali memberikan kemenangan kepada Iblis laknatullah ‘alaih dan bala tentaranya.

Maka siapa yang hanya melihat merek tanpa melihat subtansi, maka mudah sekali Iblis memperdayanya. Muncullah orang-orang yang suka, cinta bahkan rela berkorban untuk dagangan mematikan tersebut.

Kedua, trik ini pada hakekatnya adalah memberi istilah keburukan dengan kebaikan. Pohon yang Allah Ta’ala larang agar tidak didekati oleh Adam dan istrinya Hawa tidak memiliki nama. Paling tidak kita sudah bisa memahami bahwa pohon itu pasti buruk dan memiliki mudharat jika didekati oleh Adam beserta istrinya. Namun Iblis datang dengan tipu dayanya, memberi istilah yang indah terhadap pohon terlarang tersebut dengan memberinya nama yang keren dan menarik yakni pohon Khuldi.

Begitu pula dalam menjajakan LGBT. Para penjualnya memberi nama penyakit LGBT sebagai keadaan seksual yang wajar, manusiawi dan bahkan  ilmiah. Padahal begitu jelas jika LGBT adalah penyimpangan seksual yang dilaknat Allah Ta’ala dan secara medis terlebih kejiwaan terbukti sebagai penyakit kronis. LGBT yang jelas-jelas adalah penyakit, dikatakannya sebagai keadaan normal.

Ketiga, para marketing LGBT itu datang dengan posisi sebagai pemberi nasihat. Untuk mendapatkan untung besar berupa korban yang banyak dan militan, mereka hadir dengan wajah penuh kamuflase sebagai pegiat sosial, pejuang hak minoritas dan pemerhati hak asasi manusia. Bukankah sekarang tidak sedikit kita melihat mereka yang mengatas-namakan pemerhati, tapi sama sekali tidak punya hati? Untuk meyakinkan lagi, dikendarainya pula organisasi-organisasi besar berkedok sosial. Dan masing-masing individu dibekali gelar akademik tinggi dan jabatan strategis. Tidak lupa juga kucuran dana melimpah untuk memuluskan program demi program penyesatan.

Cara ini sebenarnya klasik, sebab buyut mereka yakni Iblis laknatullah ‘alaih telah jauh mencontohkan. Dalam memperdaya Adam ‘alaihis salam Iblis datang dengan dalih kekeluargaan, perhatian serius, seakan menginginkan kebaikan kepada Adam dengan menekankan bahwa ia adalah pemberi nasihat yang terpercaya. Tapi, apa yang ada di baliknya adalah petaka yang dahsyat. Allahul musta’an.

Laknat atas Mereka

LGBT adalah proyek untuk merusak generasi bangsa, bahkan manusia secara umum. Penyimpangan seksual ini termasuk perbuatan faahisyah (dosa yang hina, tercela, dan menjijikkan) yang lebih buruk daripada zina. Karenanya, Rasulullah secara tegas melaknat perilaku penyimpangan seksual ini dengan laknat yang tak pernah dijatuhkan kepada dosa zina dan dosa-dosa lainnya. Beliau bersabda, “Allah melaknat pelaku perbuatan kaum Luth, Allah melaknat pelaku perbuatan kaum Luth, Allah melaknat pelaku perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Dalam hadits ini, laknat atas pelaku liwath (homo, gay, lesbi) diulang tiga kali. Tak seperti laknat atas zina dan dosa besar lainnya.

Terkait hukuman bagi mereka, para sahabat bersepakat, pelaku liwath dihukum mati. Adapun cara menghukum mati, mereka berbeda pendapat. Ali bin Abi Thalib berpendapat, mereka dibunuh dengan dibakar. Ibnu Abbas berpendapat, “dicari bangunan yang paling tinggi lalu pelaku liwath dilempar dari sana, kemudian dihujani batu sebagaimana yang ditimpakan kepada kaum Luth” (Kitab Nizham Al-Uqubat, hal. 21). Ada juga pendapat mengatakan, pelaku dihukum mati dengan dirajam; dilempari batu sampai mati. Pendapat keempat ini yang lebih kuat.

Intinya, pelaku LGBT harus dihukum mati menurut syariat Islam karena keburukannya yang dahsyat dan daya tularnya yang  hebat. Ini didasarkan kepada hadits Nabi, “Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Al-Qur'an telah mengabadikan kehancuran kisah masyarakat pelaku LBGT dari kaum Sodom. Allah telah menghukum mereka dengan hukuman yang belum pernah ditimpakan kepada umat sebelumnya; dibinasakan dengan dibalik negeri mereka yang bagian atas negeri itu menjadi di bawah disertai suara gemuruh yang keras, lalu dihujani batu terbakar yang besar dan keras dari langit (QS. Al-Hijr: 72-74).

Termasuk dalam perilaku menyimpang LGBT, adalah mukhannats dan mutarajjil, yaitu pria yang meniru wanita dalam penampilan, tingkah laku dan cara bicara, alias laki-laki yang menyerupai wanita.  Begitu pula sebaliknya, wanita yang meniru pria dalam penampilan, tingkah laku dan cara bicara, alias wanita yang menyerupai pria. Kedua istilah dalam fiqh ini sama atau berdekatan maknanya dengan  Transgender dalam LGBT.

Tasyabbuh atau meniru seperti ini termasuk hal yang diharamkan dan tergolong dosa besar dan terlaknat. Ibnu Abbas berkata, “Nabi  melaknat mukhannatsin dari laki-laki dan mutarajjilat dari perempuan(HR. Bukhari).

Bahkan, bagi mereka, siapapun laki-laki berkelakuan seperti wanita atau sebaliknya, harus diasingkan jauh dari kerabat dan sanak saudara serta dari teman-teman yang telah memengaruhinya. Sebagaimana perintah Nabi dalam sabdanya, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian(HR. Bukhari). Ibnu Abbas berkata, “Maka Nabi pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannas) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah)” (Kitab al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz 5 hal. 122).
Penutup

Olehnya, melihat beratnya adzab dan hukuman yang sepatutnya ditimpakan kepada para pelaku LBGT, tentunya umat Islam tak boleh berpangku tangan membiarkan para pegiat LGBT melakukan lobi sosial dan politik untuk mendapatkan legalitas hukum dan penerimaan dari masyarakat. Mengapa? Karena bisa jadi, ketika adzab benar-benar ditimpakan kepada mereka,  maka adzab tersebut tidak hanya mengenai para pelaku dan pegiat LGBT tersebut, namun juga menimpa manusia yang hanya diam menonton tak berbuat sesuatu apapun. Allah berfirman, “Dan takutlah kalian pada adzab yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksaan-Nya. ” (QS. Al-Anfal: 25).

Apalagi, perbuatan ini memang menjadi hal yang paling ditakutkan oleh Nabi akan terjadi. Nabi bersabda, “Sesunguhnya yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth” (HR. Ibnu Majah. Tirmidzi berkata, hadist ini Hasan Gharib. Hakim berkata, hadits ini Shahih Isnad).

Masih ada waktu bagi para penganut dan penggiat LGBT untuk bertaubat. Minta ampunlah kepada  Allah Ta’ala. Sungguh, pintu taubat selalu terbuka untuk hamba-hambaNya.  Dengan taubat itu, semoga Allah  memberi taufiq dan hidayah-Nya untuk kembali kepada fitrah sesungguhnya. Bagi kita kaum muslimin, tentu saja sikap diam bukanlah pilihan terbaik dan bijak. Hendaknya setiap kita ikut memberikan andil dan kontribusi dengan berupaya untuk menjaga keluarga, lingkungan dan negeri ini dari adzab. Wallahul-musta’an.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...