Mei 17, 2017

Menyambut Ramadhan Mulia

Di depan kita bersama, kurang lebih satu pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.

Sebagai orang beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang teramat besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26) .
Bagaimana sikap yang baik menyambut bulan ini? Ibarat bumi yang kering menyambut turunnya hujan, ibarat seorang yang sedang sakit menyambut datangnya dokter, dan ibarat seseorang yang menunggu kekasihnya yang sudah lama dinanti, tentu perlu untuk memperhatikan hal-hal penting dalam rangka penyambutannya.


Banyak Berdoa Kiranya Dapat Menemuinya

Yang utama, hendaknya kita banyak berdoa kepada Allah I, agar Dia I kembali memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dalam kondisi sehat wal-afiat, sehingga kita bisa melaksanakan ibadah dengan optimal baik berupa puasa, shalat, tilawah, sedekah, dzikir dan amalan-amalan lainnya. Hal ini sebagaimana kebiasaan para salaf (ulama terdahulu) yang senantiasa memohon kepada Allah I agar diberikan karunia berupa perjumpaan dengan bulan Ramadhan dan berdoa agar Allah I kelak menerima amal mereka. Sehingga, jika nanti telah tampak hilal bulan Ramadhan, kita disunnahkan untuk berdoa kepada Allah I dengan doa,  “Allahumma ahillahu 'alayna bil-amni wal-imaani was-salaamati wal-islaami wat-tawfiiqi limaa tuhibbu wa tardhaa, Rabbana wa rabbukallah” (Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi. Dishahihkan oleh Ibnu Hayyan).

Mengapa kita mesti berdoa memohon taufiq dari-Nya? Jawabannya, karena sesungguhnya semua amal shalih yang kita lakukan semata-mata hanyalah karena kasih sayang dan pertolongan dari Allah I. Untuk itu, kita wajib memohon hal tersebut hanya kepada-Nya.

Bersyukur dan Bergembira

Bersyukur dan memuji Allah I atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita adalah sebuah adab yang mesti yang kita lakukan.

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah I sebagai tanda syukur, dan memuji Allah I dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”.

Dan kita pun sadar bahwa di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah I kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi yang aman dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib memuji Allah I sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya.
Setelah bersyukur, kita pun wajib bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah r  senantiasa memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya setiap kali bulan Ramadhan datang. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah r bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa, pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka” (HR. Ahmad). Para salaf (ulama terdahulu) di kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan generasi setelahnya, sangat gembira dengan kedatangannya, bahkan bagi mereka tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kegembiraan karena kedatangan bulan Ramadhan sebagai nikmat dari Allah I bagi para hamba-Nya, bulan kebaikan dan turunnya rahmat dari Allah I.

Banyak Bertaubat dan Beristighfar

Menyambut tamu agung ini, hendaknya kita bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi. Mengapa? Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya, “Wahai Syaikh, dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan?“ Syaikh menjawab, “Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufik Allah (untuk melaksanakan ketaatan)”.

Mengapa taubat menjadi penting? Jawabannya, karena ibadah dan amal shalih hanya mampu dikerjakan dengan hati yang bersih dan kuat, sementara dosa-dosa membuat hati kita kotor dan jiwa menjadi lemah.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya”.

Mengilmui Ramadhan

Di antara poin yang tak kalah pentingnya adalah mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin dalam menyembah Allah I dilandasi dengan ilmu yang benar. Tidak ada alasan bagi setiap mukmin untuk tidak mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya. “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan nabi kita, Muhammad r. Puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Maka, hukum untuk mengilmuinya pun menjadi wajib. Ya, wajib bagi seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunya, pembatal-pembatalnya, dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar puasanya benar dan diterima oleh Allah I. Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli ilmu. Allah I berfirman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.(QS.Al-Anbiya’ : 7).

Bekal ini amat penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan". Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan  lapar dan dahaga saja saat puasa.

Ibnul Qayyim rahimahullah, dalam bukunya Miftah Daris Sa’adah, berkata, “Orang yang beribadah tanpa adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang demikian akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat. Jika pun ia bisa selamat,  namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak terpuji bahkan pantas untuk medapat celaan”.

Merancang Agenda Ukhrawi dan Bertekad Kuat Mengaplikasikanya

Sebelum kedatangannya, hendaknya kita merancang berbagai program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan. Untuk urusan dunia, sudah lumrah bagi orang-orang untuk membuat perencanaan hidup yang detail. Tetapi tidak dengan urusan akhiratnya. Masih sedikit di antara umat Islam yang telah memiliki rencana program yang tertata rapi untuk program akhiratnya, termasuk selama Bulan Ramadhan. Yang ada, umumnya berjalan apa adanya.

Hal ini tentu harus diperbaiki. Tidak selayaknya di bulan yang penuh kemuliaan ini kita masih menjalaninya dengan gaya hidup lama yang mungkin masih belum tertata rapi dalam upaya peningkatan iman dan takwa. Upaya itu bisa dengan dilakukan dengan program membaca al-Qur’an berikut terjemah dan tafsirnya, program hafalan al-Qur’an, melaksanakan qiyamul-lail, bersedekah setiap hari, atau melakukan berbagai macam amal shalih lainnya. Apabila tidak memiliki perencanaan Ramadhan, boleh jadi Ramadhan akan dilalui tanpa makna. Tentu ini sebuah kerugian besar.

Jadi, apabila kita benar-benar bahagia atau bergembira dalam menyambut Ramadhan, sudah semestinya kita memiliki program amal ibadah yang akan kita lakukan dengan penuh cinta selama bulan suci Ramadhan.

Setelah rancangan ukhrawi tersebut telah tersusun rapih dan matang, selanjutnya adalah setiap kita hendaknya bertekad kuat untuk mengaplikasikannya. Barangsiapa jujur kepada Allah I dalam tekadnya itu maka Allah I akan membantunya dalam melaksanakan seluruh amalan yang telah diagendakan dan memudahkannya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. Allah I berfirman, “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. (QS.Muhamad : 21). Tekadkan dalam sanubari kita untuk memaksimalkan setiap waktu di dalamnya.

*****

Akhirnya, semoga Allah I menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah ini. Dengan curahan taufiq-Nya, semoga kita mampu memakmurkan Ramadhan dengan semestinya sehingga saat keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita.

Berilah arti untuk Ramadhan kita kali ini. Jangan biarkan ia datang dan pergi begitu saja dan kita membiarkannya sepi. Apalagi jika sampai nanti ia ternoda,  karena dosa, maksiat, dan hal sia-sia. Jika kelak ia benar-benar telah datang, dekaplah ia erat selagi kita masih diizinkan untuk mendekapnya. Sebab mungkin, ini adalah kali terakhir bagi kita untuk mendekapnya penuh rindu.

Wallahu a’lam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...