Lidah itu
memang lunak tidak bertulang. Tapi dampak dan “rasa”nya
bisa keras seperti tulang, bahkan lebih. Seorang yang tidak menguasai ilmu beladiri
pun bisa bersilat lidah.
Lidah itu
tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat
pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati yang terluka ditikam
kata-kata, kemana kita hendak mecari penawarnya? Entah berapa banyak
persaudaraan terputus ditebas lidah laksana pedang tadi.
Padahal
Rasulullah r
ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab
(artinya) : “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya” [HR.
Bukhari dan Muslim].
Lidah itu
berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Ia bisa berbahaya bagi pemiliknya
dan lawan bicaranya. Lidah bisa menjadi binatang buas yang bahkan memangsa
tuannya sendiri. Makanya, ada ungkapan bijak yang berbunyi : “mulutmu
harimaumu”.


