Betapa sering kita
mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdo’a untuk mendapatkan keberkahan,
baik dalam umur, keluarga, usaha, harta benda maupun lainnya. Namun, pernahkah
kita bertanya, apakah makna keberkahan itu? Dan bagaimana memperolehnya?
Bila kita lihat
lebih seksama, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun dalil-dalil dalam al-Qur’an
dan Sunnah, kita akan mendapati bahwa kata “al-barakah” memiliki kandungan dan
pemahaman yang sangat luas dan agung.
Secara ilmu bahasa,
“al-barakah” berarti berkembang dan bertambah (Lihat Al-Misbahul-Munir, 1/45. Al-Qamus
Al-Muhith, 2/1236. Lisanul Arab 10/395).
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
“Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi” (Lihat Syarhu Shahih Muslim,
oleh An-Nawawi 1/225). Syaikh Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Barakah berarti
kebaikan yang banyak dan tetap” (Lihat Al-Qaul Al-Mufid 1:245).
Allah menyebut
al-Quran sebagai kitab yang diberkahi. Mengapa? Karena dalam al-Quran menetap
banyak kebaikan dari Allah (Lihat al-Mufradat fi Gharib al-Quran, al-Ashfahani, hlm. 44). Allah berfirman, “Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai fikiran” (QS. Shad: 29).
Semua berkah itu
berasal dari Allah, sebagaimana halnya rizki, pertolongan dan kesehatan. Dia
memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan;
seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih. Maksudnya,
ada di antara makhluk-Nya yang Ia berkahi dengan kebaikan dan keberkahan yang
lebih besar dibanding yang lainnya.
Allah Ta’ala
berfirman, “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang
nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkahan atasnya
dan atas Ishaq” (QS. Ash-Shaffat : 112-113).
Banyak orang yang
menginginkan agar kehidupannya mendapatkan keberkahan. Tak hanya orang yang
beriman, namun mereka yang jauh dari Allah pun sebenarnya ingin hidupnya
diberkahi. Meski begitu, banyak yang
menyalah-artikan makna keberkahan itu. Tidak sedikit yang memaknainya sebagai
kondisi berlimpahnya harta, kehidupan yang serba menyenangkan dan segala
kenikmatan dunia yang terus bertambah.
Padahal
sesungguhnya, keberkahan yang hakiki bukan hanya sekedar tercukupi saja,
melainkan sejauh mana bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dalam segala
keadaan, baik ketika berkelimpahan atau sebaliknya. Keberkahan dalam hidup tidak hanya dirasakan
saat sehat. Namun ketika sakit pun seorang muslim bisa mendapatkan berkah
sebagaimana Nabi Ayyub yang menjadikan sakitnya sebagai penambah ketaatan
kepada Allah.
Umur yang berkah
tidak selalu merujuk pada lamanya usia karena umur yang pendek namun dipenuhi
dengan ketaatan pun termasuk berkah, sebagaimana kehidupan Mus’ab bin Umair.
Seorang sahabat Nabi dari kalangan muda, rupawan, dan biasa dengan kenikmatan
dunia di masa sebelum Islamnya yang akhirnya ia jual dunianya dengan kekalnya
kebahagiaan di akhirat. Seorang pemuda yang dinukilkan kesan pertama al-Barra
bin Azib ketika pertama kali melihatnya tiba di Madinah dengan berkata,
“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya.
Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Tanah yang subur
dengan panorama yang indah tidak selalu dikategorikan sebagai tanah yang
berkah, karena tanah yang tandus seperti Mekah memiliki keberkahan dan keutamaan
yang tidak tertandingi. Rasulullah bersabda, “Shalat di Masjidil Haram (Mekah)
lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah.
Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa
At Tarhib no. 1173). Makanan yang berkah
pun tidak hanya terdiri dari komposisi gizi yang lengkap, karena makanan yang
sederhana namun mampu mendorong pemakannya untuk lebih taat kepada Allah juga
termasuk makanan yang berkah. Ilmu yang berkah bukanlah karena banyaknya
riwayat atau catatan kakinya, melainkan ilmu yang berkah adalah ilmu yang
menjadikan seseorang bisa berjuang dan beramal karena Allah tanpa kenal lelah
hingga darah penghabisan. Gaji atau penghasilan yang berkah bukanlah semata
karena bertambah jumlahnya, namun sejauh mana gaji yang dimiliki dapat
memberikan jalan rezeki dan kemudahan bagi orang lain. Anak-anak yang berkah
bukanlah anak yang lahir ke dunia dengan lucu dan imut serta tumbuh dewasa
dengan sukses kemudian mendapatkan jabatan yang hebat. Namun anak yang berkah
adalah anak yang shalih dan tak henti-hentinya mendoakan kedua orangtuanya.
Oleh karena itu,
hiduplah selalu dalam keberkahan. Bagaimana caranya? Yang utama, selalu
bersyukur kepada Allah, agar nikmat yang Allah berikan kepada kita selalu
menjadikan kita insan yang lebih baik, baik dalam bersikap ataupun berperilaku.
Selanjutnya, berdoalah kepada Allah untuk selalu melimpahkan kita keberkahan.
Mintalah kepada-Nya agar semua nikmat yang menempel pada diri kita menjadi
berkah dan terus menerus membawa kebaikan. Jika kita bertanya tentang kapan
keberkahan itu akan menyanding kita, maka jawabannya adalah sampai kita tak
jenuh meminta dalam doa agar keberkahan itu selalu terlimpah pada diri kita.
Karena jika sudah merasa jenuh meminta kepada Sang Pemberi berkah, secara
otomatis keberkahan itu takkan lagi menyanding. Kebaikan demi kebaikan takkan
bisa kita rasakan lagi, jika keberkahan itu sudah tak lagi Allah limpahkan.
Jika hidup kita menjadikan kita lebih baik atau selalu berbuat kebaikan, maka
itu adalah pertanda bahwa hidup kita sudah memiliki keberkahan. Begitu juga
sebaliknya, jika hidup kita hanya membuat kita terus bergelimang kemaksiatan
dan lupa akan kebaikan, maka khawatirlah, bisa jadi itu tanda kehidupan yang
kita jalani tidak disandingi keberkahan.
Kata kuncinya adalah
kebaikan. Kebaikan seperti apa? Selain dalam bentuk ketaatan kepada Rabb
Pencipta, kebaikan dalam bentuk manfaat kepada sesama makhluk-Nya. Ini cara
utama setelah syukur dan doa di atas.
Untuk mengetahui
apakah hidup kita berkah atau tidak, lihatlah seberapa bermanfaatnya hidup kita
untuk orang lain. Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa alaihissalam sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman
menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi, “Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada” (QS. Maryam: 31). Beliau disebut orang yang berkah, karena beliau
membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba.
Tak ada yang lebih
menyenangkan dalam hidup ini selain bisa membawa berkah kepada manusia lainnya.
Hidup dalam keberkahan dalam konteks ini, akan menjadikan kita sebagai manusia
yang mulia dan utama. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini
dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Inilah yang seharusnya menjadi visi sekaligus misi
seorang muslim, menjadi pribadi yang bermanfaat. Saat memberi manfaat kepada
orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.
Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman, “Jika kalian berbuat baik,
sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7). Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang memudahkan
kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan
memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan
orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di
dunia dan akhirat” (HR. Muslim). Sungguh, kemulian
yang teramat besar saat kita dimudahkan oleh Allah.
Kita tidak diminta
untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil
bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa
bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, Islam mengarahkan kepada kita untuk
memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki. Dan bagian
dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya.
Nabi bersabda, “Beramal-lah, karena
setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Malik pernah
mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat
rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannnya mengajak Imam Malik agar jangan
berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam
rangka banyak beribadah. Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan
pernyataan yang cukup menekan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membagi amal
untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang
dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa.
Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal
puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat.
Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling
afdhal”. Lalu beliau melanjutkan, ”Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal
yang diberika oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang
saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang
kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam
kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah
ditetapkan oleh Allah” (Lihat At-Tamhid, Syarh Muwatha’, 7/185).
Kita tidak diminta
agar semuanya menjadi orang kaya yang dermawan. Atau semua menjadi pejabat yang
bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta
untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha
memberikan manfaat dan berkorban sesuai potensi yang dimiliki.
Hanya saja, masih
banyak orang yang berkorban hanya untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Berkorban untuk merawat kecantikan, berkorban untuk semakin tampan dan menawan.
Ada juga yang bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk hobi, padahal
manfaatnya hanya untuk kepuasan pribadi semata.
Kita yang saat ini
sedang bekerja, memiliki setahap keunggulan dibandingkan mereka yang
pengangguran. Kita yang memiliki penghasilan, lebih berpeluang untuk bisa hidup
nyaman. Kita tentu berharap, semua keunggulan tersebut bisa lebih berarti.
Sejak bangun pagi hingga tidur lagi, dari Senin hingga Ahad, kita akan memiliki
sejuta kegiatan. Namun kita tidak boleh membiarkan diri ini larut dengan
kesibukan mencari dunia. Dengan adanya banyak kesibukan, menuntut kita untuk
cerdas dalam menentukan prioritas. Ya, prioritas untuk memberikan manfaat
kepada manusia-manusia dan makhluk lainnya di sekitar kita.
Sekali lagi,
ingatlah pesan berharga dari Nabi kita, “Manusia
yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”
(HR. at-Thabrani
dalam as-Shaghir, 862, Majma’ Zawa’id 13708).
Semoga Allah
memberikan keberkahan dalam setiap sendi kehidupan kita semua menuju
keridhaan-Nya. Selamat menjadi manusia berkah penuh manfaat!
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar