Desember 16, 2017

Manusia Berkah Penuh Manfaat

Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdo’a untuk mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, harta benda maupun lainnya. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah makna keberkahan itu? Dan bagaimana memperolehnya?

Bila kita lihat lebih seksama, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun dalil-dalil dalam al-Qur’an dan Sunnah, kita akan mendapati bahwa kata “al-barakah” memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung.

Secara ilmu bahasa, “al-barakah” berarti berkembang dan bertambah (Lihat Al-Misbahul-Munir, 1/45. Al-Qamus Al-Muhith, 2/1236. Lisanul Arab 10/395). Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,  “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi” (Lihat Syarhu Shahih Muslim, oleh An-Nawawi 1/225). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap” (Lihat Al-Qaul Al-Mufid 1:245).


Allah menyebut al-Quran sebagai kitab yang diberkahi. Mengapa? Karena dalam al-Quran menetap banyak kebaikan dari Allah (Lihat al-Mufradat fi Gharib al-Quran, al-Ashfahani, hlm. 44). Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shad: 29).

Semua berkah itu berasal dari Allah, sebagaimana halnya rizki, pertolongan dan kesehatan. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih. Maksudnya, ada di antara makhluk-Nya yang Ia berkahi dengan kebaikan dan keberkahan yang lebih besar dibanding yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq” (QS. Ash-Shaffat : 112-113).

Banyak orang yang menginginkan agar kehidupannya mendapatkan keberkahan. Tak hanya orang yang beriman, namun mereka yang jauh dari Allah pun sebenarnya ingin hidupnya diberkahi.  Meski begitu, banyak yang menyalah-artikan makna keberkahan itu. Tidak sedikit yang memaknainya sebagai kondisi berlimpahnya harta, kehidupan yang serba menyenangkan dan segala kenikmatan dunia yang terus bertambah.

Padahal sesungguhnya, keberkahan yang hakiki bukan hanya sekedar tercukupi saja, melainkan sejauh mana bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dalam segala keadaan, baik ketika berkelimpahan atau sebaliknya.  Keberkahan dalam hidup tidak hanya dirasakan saat sehat. Namun ketika sakit pun seorang muslim bisa mendapatkan berkah sebagaimana Nabi Ayyub yang menjadikan sakitnya sebagai penambah ketaatan kepada Allah.

Umur yang berkah tidak selalu merujuk pada lamanya usia karena umur yang pendek namun dipenuhi dengan ketaatan pun termasuk berkah, sebagaimana kehidupan Mus’ab bin Umair. Seorang sahabat Nabi dari kalangan muda, rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia di masa sebelum Islamnya yang akhirnya ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. Seorang pemuda yang dinukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihatnya tiba di Madinah dengan berkata, “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Tanah yang subur dengan panorama yang indah tidak selalu dikategorikan sebagai tanah yang berkah, karena tanah yang tandus seperti Mekah memiliki keberkahan dan keutamaan yang tidak tertandingi. Rasulullah bersabda, “Shalat di Masjidil Haram (Mekah) lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173). Makanan yang berkah pun tidak hanya terdiri dari komposisi gizi yang lengkap, karena makanan yang sederhana namun mampu mendorong pemakannya untuk lebih taat kepada Allah juga termasuk makanan yang berkah. Ilmu yang berkah bukanlah karena banyaknya riwayat atau catatan kakinya, melainkan ilmu yang berkah adalah ilmu yang menjadikan seseorang bisa berjuang dan beramal karena Allah tanpa kenal lelah hingga darah penghabisan. Gaji atau penghasilan yang berkah bukanlah semata karena bertambah jumlahnya, namun sejauh mana gaji yang dimiliki dapat memberikan jalan rezeki dan kemudahan bagi orang lain. Anak-anak yang berkah bukanlah anak yang lahir ke dunia dengan lucu dan imut serta tumbuh dewasa dengan sukses kemudian mendapatkan jabatan yang hebat. Namun anak yang berkah adalah anak yang shalih dan tak henti-hentinya mendoakan kedua orangtuanya.

Oleh karena itu, hiduplah selalu dalam keberkahan. Bagaimana caranya? Yang utama, selalu bersyukur kepada Allah, agar nikmat yang Allah berikan kepada kita selalu menjadikan kita insan yang lebih baik, baik dalam bersikap ataupun berperilaku. Selanjutnya, berdoalah kepada Allah untuk selalu melimpahkan kita keberkahan. Mintalah kepada-Nya agar semua nikmat yang menempel pada diri kita menjadi berkah dan terus menerus membawa kebaikan. Jika kita bertanya tentang kapan keberkahan itu akan menyanding kita, maka jawabannya adalah sampai kita tak jenuh meminta dalam doa agar keberkahan itu selalu terlimpah pada diri kita. Karena jika sudah merasa jenuh meminta kepada Sang Pemberi berkah, secara otomatis keberkahan itu takkan lagi menyanding. Kebaikan demi kebaikan takkan bisa kita rasakan lagi, jika keberkahan itu sudah tak lagi Allah limpahkan. Jika hidup kita menjadikan kita lebih baik atau selalu berbuat kebaikan, maka itu adalah pertanda bahwa hidup kita sudah memiliki keberkahan. Begitu juga sebaliknya, jika hidup kita hanya membuat kita terus bergelimang kemaksiatan dan lupa akan kebaikan, maka khawatirlah, bisa jadi itu tanda kehidupan yang kita jalani tidak disandingi keberkahan.

Kata kuncinya adalah kebaikan. Kebaikan seperti apa? Selain dalam bentuk ketaatan kepada Rabb Pencipta, kebaikan dalam bentuk manfaat kepada sesama makhluk-Nya. Ini cara utama setelah syukur dan doa di atas.

Untuk mengetahui apakah hidup kita berkah atau tidak, lihatlah seberapa bermanfaatnya hidup kita untuk orang lain. Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa alaihissalam sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi, “Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada (QS. Maryam: 31). Beliau disebut orang yang berkah, karena beliau membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba.

Tak ada yang lebih menyenangkan dalam hidup ini selain bisa membawa berkah kepada manusia lainnya. Hidup dalam keberkahan dalam konteks ini, akan menjadikan kita sebagai manusia yang mulia dan utama. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Inilah yang seharusnya menjadi visi sekaligus misi seorang muslim, menjadi pribadi yang bermanfaat. Saat memberi manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman, “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7). Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang memudahkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim). Sungguh, kemulian yang teramat besar saat kita dimudahkan oleh Allah.

Kita tidak diminta untuk memberikan semua bentuk kebaikan kepada orang lain. Karena itu mustahil bisa kita lakukan, mengingat kita tidak memiliki semua potensi yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, Islam mengarahkan kepada kita untuk memberikan manfaat bagi orang lain, sesuai potensi yang kita miliki. Dan bagian dari keadilan Allah, Dia membagi amal bagi para hamba-Nya, sesuai potensinya. Nabi bersabda, “Beramal-lah, karena setiap jiwa itu dimudahkan sesuai tujuan penciptaannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Malik pernah mendapatkan sepucuk surat dari kawannya, Abdullah al-Umari, orang yang sangat rajin beribadah. Dalam surat itu, kawannnya mengajak Imam Malik agar jangan berlebihan duduk mengajar hadis di Madinah, tapi hendaknya menyendiri dalam rangka banyak beribadah. Kemudian Imam Malik memberikan jawaban dengan pernyataan yang cukup menekan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membagi amal untuk para hamba-Nya, sebagaimana Allah membagi rizki. Ada banyak orang yang dimudahkan untuk melakukan amal shalat, namun dia tidak dimudahkan untuk puasa. Ada juga yang dimudahkan dalam bersedekah, namun tidak dimudahkan untuk amal puasa. Ada yang dimudahkan untuk jihad, namun tidak dimudahkan untuk shalat. Dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya, termasuk amal kebaikan yang paling afdhal”. Lalu beliau melanjutkan, ”Dan saya telah ridha dengan kemudahan amal yang diberika oleh Allah kepadaku. Dan aku tidak menganggap bahwa amal yang saat ini saya tekuni, lebih rendah tingkatannya dibandingkan amal yang sedang kamu jalani (berjihad). Dan saya berharap, masing-masing kita berada dalam kebaikan. Dan wajib bagi kita untuk ridha dengan pembagian amal yang telah ditetapkan oleh Allah” (Lihat At-Tamhid, Syarh Muwatha’, 7/185).

Kita tidak diminta agar semuanya menjadi orang kaya yang dermawan. Atau semua menjadi pejabat yang bisa memberi banyak kemudahan bagi lingkungan. Namun masing-masing diminta untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dan berusaha memberikan manfaat dan berkorban sesuai potensi yang dimiliki.

Hanya saja, masih banyak orang yang berkorban hanya untuk mengembangkan dirinya sendiri. Berkorban untuk merawat kecantikan, berkorban untuk semakin tampan dan menawan. Ada juga yang bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk hobi, padahal manfaatnya hanya untuk kepuasan pribadi semata.

Kita yang saat ini sedang bekerja, memiliki setahap keunggulan dibandingkan mereka yang pengangguran. Kita yang memiliki penghasilan, lebih berpeluang untuk bisa hidup nyaman. Kita tentu berharap, semua keunggulan tersebut bisa lebih berarti. Sejak bangun pagi hingga tidur lagi, dari Senin hingga Ahad, kita akan memiliki sejuta kegiatan. Namun kita tidak boleh membiarkan diri ini larut dengan kesibukan mencari dunia. Dengan adanya banyak kesibukan, menuntut kita untuk cerdas dalam menentukan prioritas. Ya, prioritas untuk memberikan manfaat kepada manusia-manusia dan makhluk lainnya di sekitar kita.

Sekali lagi, ingatlah pesan berharga dari Nabi kita, “Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862, Majma’ Zawa’id 13708).

Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap sendi kehidupan kita semua menuju keridhaan-Nya. Selamat menjadi manusia berkah penuh manfaat!

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...