April 27, 2012

Sepucuk Surat Dari Imam Malik

Keshalihan itu banyak ragamnya. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah r  dikatakan mempunyai banyak cabang . Di antara cabang – cabang tersebut, yang tertinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits Rasulullah r, artinya : Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, 'Laa ilaaha illallah' dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan". (HR. Muslim). 

Keanekarangaman keshalihan itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba terbatas.

Sepanjang sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r  tentu saja , kita mungkin mengenal sosok Abu Bakar t, sahabat Rasulullah r yang amat dicintainya.  Beliau r pernah bersabda, artinya : “Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Alloh telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatui pagi, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab ”Saya!” Rasul r bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab ”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Rasul r lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul r pula. “Saya!” jawab Abu Bakar. Kemudian Rasulullah r  bersabda : “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba kecuali pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

April 12, 2012

Etika Pedagang Muslim

Sejarah masuknya agama Islam ke negeri kita tercinta, Indonesia, sungguhlah unik dan menakjubkan. Betapa tidak, konon, nenek moyang kita beragama Hindu dan Budha serta berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha pula. Meski demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakan para penyebar syiar Islam.

Tahukah Anda, siapakah tokoh-tokoh penyebar agama Islam di bumi nusantara ini? Apakah profesi mereka yang berhasil mengislamkan nenek moyang kita? Konon, mereka adalah para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan nusantara, lalu mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Sekarang, coba Anda bandingkan dengan kemajuan dakwah penyebaran syiar Islam di zaman kini. Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, para juru dakwah zaman sekarang ternyata belum kuasa mengukirkan sejarah segemilang yang ditorehkan para pedagang kala itu. Padahal kemajuan sudah demikian majunya.

Melalui edisi kali ini, kami mengajak Anda mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku, etika dan adab yang seharusnya dimiliki oleh seorang pedagang muslim.

Dengan mengetahui berbagai etika dan adab pengusaha muslim sejati, diharapkan Anda dapat merintis kembali sejarah emas para pedagang dahulu yang sukses memikat hati para mad’unya melalui jalan perdagangan. Lebih dari itu, semoga dengan etika dan adab luhur tersebut, keberkahan rezqi dapat diraih nantinya. Semoga.

April 06, 2012

Canda di Panggung Hiburan

Jenuhnya suasana dan penatnya pikiran akibat dari kesibukan harian, telah memunculkan banyak gagasan untuk menghilangkannya, misalnya dengan menghadirkan hiburan. Tidak bisa ditampik, saat - saat tertentu, hidup memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendurkan urat saraf, memulihkan gairah dan semangat baru. Untuk itu semua, maka didesainlah berbagai hiburan, mulai dari kelas bergengsi hingga tingkat remeh-temeh.

Dunia kesenian dan panggung hiburan saat ini sangat bervariasi. Mulai dari tayangan sinetron religi, pentas dangdut, konser nasyid, film komedi, festival gambus hingga manggungnya para pelawak. Semuanya bertujuan untuk menghibur para penontonnya. Bahkan akhirnya para ustadz setengah artis dengan tampilan nyentrik, juga ikut ambil bagian.

Ironisnya, muatan hiburan jarang ditakar dengan norma Islam, hingga hiburan yang disebut islamipun banyak yang melenceng dari aturan agama, bahkan lebih cenderung bebas dan bias, jauh dari kendali syariat.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...