Oktober 15, 2016

Karena Allah Maha Tahu

Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai yang diharapkan. Terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Terkadang seseorang harus tersandung dengan batu cadas setelah melalui dataran halus. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa.

Inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini. Sungguh Allah I telah menetapkannya, sebagaimana firmanNya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi yang peroleh pada akhirnya adalah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika ini yang terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain.


Bahkan Allah I, Rabb yang menciptakannya dan mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya pun tak luput untuk disalahkan. Manusia-manusia  seperti ini, hendaknya berhenti dari sikapnya dan  mengingat sebuah firman Allah I kepada hamba-hamba-Nya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar. Banyak orang mengenal rukun iman yang keenam ini dari nama atau istilah. Namun, apakah mereka apaham makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Belum tentu.

Perlu dipahami, takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah I dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman (Lihat Terjemahan Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95).

Rasulullah r bersabda, “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat” (Shahih, HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Mengimani takdir (baik atau buruk di mata manusia), merupakan salah satu prinsip aqidah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah. Rasulullah r bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadits Ash-Shahihah No. 2439).

Lihatlah contoh dari sahabat yang mulia Ubadah bin Shamit t, ketika beliau pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah r  bersabda, “Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.” (Shahih. Lihat Silsilah Ash Shahihah no. 2439).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para Imam Salaf (terdahulu) dari kalangan umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib beriman kepada qadha’ dan qadar Allah I yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh makhluk-Nya” (Lihat al-Iqtishaad fil I’tiqaad , hal. 15).

Musibah-musibah dan kejadian-kejadian yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah I  50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Rasulullah r bersabda, “Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim).

Sehingga, kehendak Allah I itu pasti terlaksana, karena kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah I kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendakiNya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya. Allah I berfirman, “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadiid: 22).

Allah I berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’aam: 59).

Meletakkan ayat-ayat di atas (QS. Al-Baqarah: 216 dan QS. Al-An’aam: 59) dan ayat-ayat lainnya sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan.

Andai kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qur’an, membuka mata untuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Bukti yang menunjukkan bahwa keputusan Allah I  adalah yang terbaik. Mengapa? Karena Allah I Maha Tahu yang kita tidak tahu.

Lihatlah ibunda Nabi Musa ‘alaihissalam yang menghanyutkan anaknya di atas laut. Betapa kecemasan dan ketakutan yang luar biasa menginggapinya. Apa yang terjadi pada Musa yang mungil itu selanjutnya? Ternyata, ia dilindungi oleh Allah I, ia tidak mati karena tenggelam dalam air yang dalam, atau terhempas akibat ombak, atau dimakan oleh hewan buas di sungai. Tidak, dia tidak mati. Allah I  justru membawanya pada rumah seorang raja yang di kemudian hari akan menumbangkan kejemaawannya.

Lihatlah kisah bocah laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidir ‘alaihissalam atas perintah langsung dari Allah I. Apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir alahissalam itu membuat Nabi Musa ‘alahissalam bertanya-tanya, maka Nabi Khidir alahissalam pun memberikan jawaban yang kata-katanya diabadikan di dalam al-Qur’an,  “Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS.Al-Kahfi: 80-81).

Lihatlah kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ditinggal wafat oleh suaminya Abu Salamah t. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah, artinya : “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik’, kecuali Allah I akan memberi gantinya yang lebih baik.’ Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya, ’Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah? Kemudian aku mengucapkan doa di atas. Lalu Allah I menggantikannya dengan Rasulullah r (HR. Muslim).

Demikianlah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjalankan apa yang diperintahkan untuk dilakukan saat menerima musibah; bersabar, membaca istirja’ (kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan mengucapkan doa di atas, maka Allah I menggantinya dengan yang terbaik, yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah I tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya.

Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah I yang tiada henti. Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya.

Ingatlah sekali lagi, karena tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit ‘sentilan’, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita. Rasulullah r bersabda, “Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan” (HR. Muslim).

Setiap manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian bertawakkallah, karena Allah sudah berjanji, “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Bagi mereka yang hari ini terpenjara dalam kesedihan karena bertahun-tahun belum dikaruniai seorang anak, inilah jawabannya. Mungkin saja jika memiliki anak, lalu dengan keberadaan anak tersebut, ia akan terjerumus dalam kesesatan, akibat cinta ayng berlebihan kepadanya. Karena pada hakikatnya, anak juga merupakan fitnah. Mungkin saja Allah I tidak menginginkan mereka jauh dari jalan-Nya. Allah I lebih tahu sedang mereka tidak mengetahui. Lihatlah seorang Zakariya alaihissalam yang berdoa berpuluh-puluh tahun hingga ia mendapat anak. Dengan keajaiban-Nya, Allah I memberikan anak walau istrinya adalah seorang yang mandul dan ia pun sudah tua renta. Bersabarlah, niscaya kita akan mendapatkan keajaiban itu.

Bagi mereka yang hari ini belum juga terkabul hajatnya melalui munajat-munajat doa yang dipanjatkan, bersabarlah. Bukannya Allah I tak sayang kepada kita. Tetapi, Allah I ingin terus mendengar lirih suara kita dalam penggalan bait-bait doa yang dihiasi dengan air mata. Mungkin saja, ketika doa kita terkabul, kita akan melupakan-Nya dan semakin menjauhi-Nya, hingga malam-malam berkah nan indah tidak lagi hidup dan larut bersama datangnya pagi.

Bagi mereka yang hari ini bersedih karena perjalanan hidup yang tak sesuai harapan, tak usah berlarut dalam duka dan kecewa. Semua nya, Allah I telah atur dengan keluasan rahmat-Nya, sedang kita hanya menginginkan kesenangan yang terkalahkan oleh ego. Bertasbihlah dan puji Dia, insyaaAllah, hati kita akan lapang.***

Olehnya, teruslah berdoa dan minta kepada-Nya, karena sifat Ke-Maha-Lembutan-Nya akan mengelus dada kita yang sedang sempit. Teruslah bermunajat kepada-Nya, karena sifat Ke-Maha-Tahuan-Nya akan menyejukkan pandangan kita yang serba terbatas. Teruslah bermohon kepada-Nya, karena sifat Kedermawanan-Nya akan memberikan semua yang kita pinta, dan mencukupkan kita dari seluruh gundah gulana yang dirasa.

Saudaraku, Allah I tahu dan engkau tidak tahu. Allah telah menyiapkan kebahagian yang amat besar dibalik kesabaranmu, dibalik kesyukuranmu, dibalik keridhanmu akan takdir yang kau jalani. Mohon ampunlah dan serahkan semua urusanmu kepada-Nya. Wallahu A’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...