Perjalanan
kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai yang diharapkan. Terkadang seorang
manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang
landai. Terkadang seseorang harus tersandung dengan batu cadas setelah melalui
dataran halus. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun
sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa.
Inilah
tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini. Sungguh Allah
I telah menetapkannya, sebagaimana
firmanNya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah
payah.” (QS.
Al-Balad: 4).
Di
antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang
mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha
menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan
mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi yang
peroleh pada akhirnya adalah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika
ini yang terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain.
Bahkan
Allah I, Rabb yang menciptakannya dan
mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya pun tak luput untuk disalahkan.
Manusia-manusia seperti ini, hendaknya
berhenti dari sikapnya dan mengingat
sebuah firman Allah I kepada
hamba-hamba-Nya,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat
ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan
salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.
Banyak orang mengenal rukun iman yang keenam ini dari nama atau istilah. Namun,
apakah mereka apaham makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Belum tentu.
Perlu
dipahami, takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan
ditentukan oleh Allah I dan telah dituliskan
oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir
zaman (Lihat
Terjemahan Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah,
hal. 95).
Rasulullah
r bersabda, “Yang pertama kali
Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia
bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah
takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat” (Shahih, HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi).
Mengimani
takdir (baik atau buruk di mata manusia), merupakan salah satu prinsip aqidah.
Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir,
yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala
sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah.
Rasulullah r bersabda, “Tidak
beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan
buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan
luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya” (HR. Tirmidzi
dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam Silsilah
al-Ahaadits Ash-Shahihah No. 2439).
Lihatlah
contoh dari sahabat yang mulia Ubadah bin Shamit t, ketika beliau
pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah
hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau
harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan
apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah r bersabda, “Takdir itu demikian. Barangsiapa
yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.”
(Shahih.
Lihat Silsilah Ash Shahihah no. 2439).
Ibnu
Qudamah rahimahullah berkata, “Para Imam Salaf (terdahulu) dari kalangan
umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib beriman kepada qadha’
dan qadar Allah I yang baik maupun yang buruk, yang
manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun
terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan
keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan
sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah
berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan
sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta
hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh
makhluk-Nya” (Lihat
al-Iqtishaad fil I’tiqaad , hal. 15).
Musibah-musibah
dan kejadian-kejadian yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah I 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit
dan bumi. Rasulullah r bersabda, “Allah
telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun
sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim).
Sehingga,
kehendak Allah I itu pasti terlaksana, karena
kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah I kehendaki
pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa
yang tidak dikehendakiNya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk
berupaya untuk mewujudkannya. Allah I berfirman, “Tidak
ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya.” (QS.
Al-Hadiid: 22).
Allah
I
berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib,
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa
yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur
melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji
pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’aam:
59).
Meletakkan
ayat-ayat di atas (QS. Al-Baqarah: 216 dan QS. Al-An’aam: 59) dan ayat-ayat
lainnya sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh
dari keresahan.
Andai
kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qur’an, membuka
mata untuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan
pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Bukti yang menunjukkan bahwa
keputusan Allah I
adalah yang terbaik. Mengapa? Karena Allah I Maha Tahu yang
kita tidak tahu.
Lihatlah
ibunda Nabi Musa ‘alaihissalam yang menghanyutkan anaknya di atas laut.
Betapa kecemasan dan ketakutan yang luar biasa menginggapinya. Apa yang terjadi
pada Musa yang mungil itu selanjutnya? Ternyata, ia dilindungi oleh Allah I, ia tidak mati
karena tenggelam dalam air yang dalam, atau terhempas akibat ombak, atau
dimakan oleh hewan buas di sungai. Tidak, dia tidak mati. Allah I justru membawanya pada rumah seorang raja
yang di kemudian hari akan menumbangkan kejemaawannya.
Lihatlah
kisah bocah laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidir ‘alaihissalam atas
perintah langsung dari Allah I. Apa yang
dilakukan oleh Nabi Khidir alahissalam itu membuat Nabi Musa ‘alahissalam
bertanya-tanya, maka Nabi Khidir alahissalam pun memberikan jawaban yang
kata-katanya diabadikan di dalam al-Qur’an,
“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin,
dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada
kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti
bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan
lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS.Al-Kahfi:
80-81).
Lihatlah
kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ditinggal wafat oleh suaminya
Abu Salamah t. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah r bersabda, “Tiada
seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan
oleh Allah, artinya : “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali
kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan
berikanlah gantinya yang lebih baik’, kecuali Allah I akan
memberi gantinya yang lebih baik.’ Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya, ’Siapa di antara
seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah? Kemudian aku mengucapkan doa
di atas. Lalu Allah I menggantikannya dengan Rasulullah r (HR. Muslim).
Demikianlah
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjalankan apa yang diperintahkan untuk
dilakukan saat menerima musibah; bersabar, membaca istirja’ (kalimat inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan mengucapkan doa di atas, maka Allah I menggantinya
dengan yang terbaik, yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
Beriman
kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang
mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan
menimpa kita kecuali telah Allah I tentukan
kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah
penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa
segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan
Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup
kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya.
Demikian
pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa
untuk mensyukuri nikmat Allah I yang tiada
henti. Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan
kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya.
Ingatlah
sekali lagi, karena tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita
harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan
semuanya dan beriman kepada apa yang
telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit
‘sentilan’, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan
mengurangi nikmat iman kita. Rasulullah r bersabda, “Berusahalah
untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah
dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah
engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan
begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah
mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’
Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan” (HR. Muslim).
Setiap
manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa
pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah
semampunya, kemudian bertawakkallah, karena Allah sudah berjanji, “Barang
siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.”
(QS.
Ath-Thalaq: 3).
Bagi
mereka yang hari ini terpenjara dalam kesedihan karena bertahun-tahun belum
dikaruniai seorang anak, inilah jawabannya. Mungkin saja jika memiliki anak,
lalu dengan keberadaan anak tersebut, ia akan terjerumus dalam kesesatan,
akibat cinta ayng berlebihan kepadanya. Karena pada hakikatnya, anak juga
merupakan fitnah. Mungkin saja Allah I tidak
menginginkan mereka jauh dari jalan-Nya. Allah I lebih tahu
sedang mereka tidak mengetahui. Lihatlah seorang Zakariya alaihissalam yang
berdoa berpuluh-puluh tahun hingga ia mendapat anak. Dengan keajaiban-Nya,
Allah I memberikan anak walau istrinya adalah
seorang yang mandul dan ia pun sudah tua renta. Bersabarlah, niscaya kita akan
mendapatkan keajaiban itu.
Bagi
mereka yang hari ini belum juga terkabul hajatnya melalui munajat-munajat doa
yang dipanjatkan, bersabarlah. Bukannya Allah I tak sayang
kepada kita. Tetapi, Allah I ingin terus mendengar
lirih suara kita dalam penggalan bait-bait doa yang dihiasi dengan air mata.
Mungkin saja, ketika doa kita terkabul, kita akan melupakan-Nya dan semakin
menjauhi-Nya, hingga malam-malam berkah nan indah tidak lagi hidup dan larut
bersama datangnya pagi.
Bagi
mereka yang hari ini bersedih karena perjalanan hidup yang tak sesuai harapan,
tak usah berlarut dalam duka dan kecewa. Semua nya, Allah I telah atur
dengan keluasan rahmat-Nya, sedang kita hanya menginginkan kesenangan yang
terkalahkan oleh ego. Bertasbihlah dan puji Dia, insyaaAllah, hati kita akan
lapang.***
Olehnya,
teruslah berdoa dan minta kepada-Nya, karena sifat Ke-Maha-Lembutan-Nya akan
mengelus dada kita yang sedang sempit. Teruslah bermunajat kepada-Nya, karena
sifat Ke-Maha-Tahuan-Nya akan menyejukkan pandangan kita yang serba terbatas.
Teruslah bermohon kepada-Nya, karena sifat Kedermawanan-Nya akan memberikan
semua yang kita pinta, dan mencukupkan kita dari seluruh gundah gulana yang
dirasa.
Saudaraku,
Allah I tahu dan engkau tidak tahu. Allah
telah menyiapkan kebahagian yang amat besar dibalik kesabaranmu, dibalik
kesyukuranmu, dibalik keridhanmu akan takdir yang kau jalani. Mohon ampunlah
dan serahkan semua urusanmu kepada-Nya. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar