Agama Islam adalah
agama perbaikan, pengajaran dan bimbingan. Islam datang untuk menyucikan dan
membersihkan hati, memutihkan jiwa dan membuang noda-noda yang ada padanya, dan
memperbaiki lahiriah dan batiniah. Mereka yang mampu menyucikan jiwanya dengan
Islam, dialah yang beruntung. Allah berfirman,
“Beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya. Dan celakalah
orang yang mengotorinya” (QS.
Asy-Syams : 9-10).
Seorang hamba yang
beriman dituntut membersihkan jiwanya atau hatinya sebagaimana ia dituntut
membersihkan fisiknya yang tampak. Sebagaimana jasad kita yang bisa terkena
penyakit, demikian juga halnya hati dan jiwa seseorang, ia pun bisa tertimpa
penyakit dan hal-hal yang akan membahayakannya. Apabila batinnya baik, maka hal
itu akan berdampak pada baiknya gerak-gerik atau amalan anggota tubuh.
Sebagaimana penjelasan Nabi kita, “Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam jasad
itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula anggota tubuh
yang lain. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula anggota tubuh yang lain.
Segumpal daging tersebut adalah hati” (HR.
Bukhari dan Muslim). Karenanya,
selalu mengecek hati dan jiwa, apakah ia berada dalam keadaan suci dan memiliki
akhlak batiniah yang baik ataukah ia telah rusak atau sakit, adalah pekerjaan
yang seyogyanya terus kita lakukan, agar kita menjadi golongan yang beruntung,
seperti firman Allah di atas.

