Desember 29, 2016

Musibah di Tanah Airku

Indonesia, tanah air kita yang kita cintai, masih saja terus dirundung musibah dan bencana. Belum hilang ingatan dan duka kita akan musibah dan bencana gempa bumi di Aceh, bumi Indonesia di bagian timur, Bima, kembali dirundung bencana berupa banjir yang telah meluluhlantakkan perekonomian dan kehidupan masyarakat di sana.  Makhluk-makhluk Allah I, tanah dan air, kembali menampakkan keperkasaannya di bawah ketundukannya kepada Allah I, Sang Pencipta dan Penguasa semua makhluk-Nya. Entah, musibah dan bencana apa lagi yang akan menimpa bangsa ini. Semuanya adalah ghaib bagi kita, sesuai kehendak dan hikmahNya yang agung. Tak seorang pun tahu, kapan rentetan bencana ini akan berakhir. Tak seorang pun tahu, mengapa bencana dan musibah terus terjadi. Hanya Allah I  yang tahu.

Desember 24, 2016

Jangan Sampai Tergadai

Memasuki pertengahan hingga akhir bulan Desember setiap tahunnya, kita akan merasakan atmosfir yang terbentuk di sekitar kita yang ditujukan untuk memperingati dan menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan dan pusat perbelanjaan, kita disuguhi dengan pernak-pernik perayaannya. Media, juga tidak lupa untuk mem-blow-up perayaan Natal ini. Inilah fakta dari sebuah bangsa yang mengatasnamakan dirinya sebagai bangsa dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Natal, sebenarnya merupakan perayaan yang (seharusnya) dikhususkan hanya untuk kaum Nasrani saja. Itu yang kita pahami. Tapi di Indonesia, ini berbeda. Natal kerap diopinikan oleh sebagian orang sebagai sebuah ritual bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang beragama Nasrani atau bukan. Entah karena ketidaktahuan atau kesengajaan yang dilakukan dengan berbagai tujuan politis dan jabatan, sebagian pejabat dan orang-orang terkemuka di negeri ini menyeru untuk ikut meramaikannya.  Tidak sampai di situ, umat muslim juga diseru untuk mengucapkan “Selamat Natal” dan bila perlu juga ikut memfasilitasinya. Ya, semua itu dibungkus dengan pujian bahwa umat muslim adalah umat yang toleransinya tinggi dan benar-benar berperan nyata dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Jika umat muslim tidak melakukannya, maka tunggu saja, cap anti non-muslim dan intoleran akan dilekatkan dengan cepatnya.

Padahal, jika kita coba untuk lebih jeli dan memahaminya lebih dalam, mempromosikan perayaan ini dengan model sedemikian rupa dan memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua rakyat Indonesia baik ia beragama Nasrani atau bukan, justru pada hakikatnya adalah tindakan intoleran terhadap umat muslim. Ya, umat muslim-lah yang justru disikapi intoleran oleh penganut agama lainnya.

Desember 17, 2016

Kembali, Suriah Memanggil Kita

Negeri Syam. Pernahkah Anda mendengarnya? Tentu saja pernah. Negeri ini kerap disebut oleh Nabi kita r dalam sabda-sabdanya.

Tentang negeri ini, Nabi kita r  pernah berpesan, “Pergilah ke Syam, karena ia adalah bumi pilihan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaikNya untuk ke sana. Jika kalian tidak mau, maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani). Dalam kesempatan lain, beliau r juga berkata, “Beruntunglah Syam!”  Mendengar seruan Nabi r tersebut, sahabat bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Lalu beliau r menjawab, “Karena sungguh malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya kepada negeri itu(Lihat Shahih al-Tirmidzi, 3/254).

Bahkan secara spesifik, Nabi kita Muhammad r yang tercinta mendoakan negeri Syam dengan doa yang luar biasa, “Ya Allah, berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR. Bukhari).
Mengapa hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Syam? Ada apa di bumi syam hari ini?

Ya, di bumi Syam hari ini, ada satu negeri yang menjadi bagiannya. Suriah namanya. Sebuah negeri yang dahulu dibebaskan pertama kali dari cengkeraman Romawi di era Khalifah Umar bin Khattab t,dimana pasukan sahabat yang pertama menorehkan sejarah umat di kota ini dipimpin oleh “Pedang Allah”, Khalid bin Walid t.

Desember 10, 2016

Doa ; Seringkali Terlupakan

Dalam seluruh kisah hidup kita, kita adalah sekumpulan hamba yang lemah dan fakir. Dengan segala kelemahan dan kefakiran itu, kita senantiasa butuh perlindungan dan pertolongan. Kemampuan kita dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan fisik yang memang serba terbatas. Banyak peristiwa terjadi di luar jangkauan kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam keadaan seperti itu, seringkali kita akan mencari kekuatan di luar diri. Tak jarang, ada di antara kita yang putus asa, mencari kekuatan penolong dengan cara-cara yang tidak diajarkan agama.

Kita lemah, karena kita tidak tahu bagaimana jadinya jika Allah I  melepaskan seluruh nikmat yang selama ini Dia berikan kepada kita. Jika saja Allah I mencabut nikmat kesehatan dan kesadaran berpikir dari diri ini. Jika saja Allah I mencabut satu per satu fungsi tubuh kita. Jika saja Allah I mencabut satu demi satu nikmat-nikmat penunjang kehidupan ini: udara, cahaya, air, dan yang lainnya. Dan yang sungguh mengerikan, seperti apa hidup ini jika saja Allah I mencabut nikmat hidayah dari hati kita yang lemah ini. Duhai Allah, jangan pernah itu terjadi dalam hidup kami.

Karena itu semua, kita sungguh fakir kepada Allah I. Dalam seluruh sisi kehidupan ini, kita sangat fakir kepada-Nya. Namun, banyak manusia yang tidak menyadari ini; menyadari kelemahan dan kefakiran mereka kepada Allah I. Sebagian manusia merasa kuat, mampu  dan perkasa untuk menyelesaikan dan mengerjakan berbagai  hal dalam kehidupannya sehari hari. Keberhasilan dan kesuksesan menyebabkan mereka jadi sombong dan pongah.

Desember 02, 2016

Saat Diam, Saat Bicara

Laisa kullu maa yu’lamu yuqalu, likulli maqaamin maqaalun. Tidak semua yang diketahui itu harus terucapkan, sebab setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan yang tepat. Begitulah peribahasa indah Arab yang patut untuk terus didengungkan di hari-hari ini.  

Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa saja yang diberi karunia ilmu dari Allah I. Sebab nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa mengetahui saja tidaklah cukup. Mengapa? Karena agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita membutuhkan pemahaman. Inilah yang disebut oleh para ulama kita dengan istilah Fiqh. Di antara bentuk kefaqihannya adalah kemampuan untuk menggunakan lisan sebagai anugerah dan nikmat terbesar dalam diri seorang hamba.

November 25, 2016

Perang Pemikiran

Perang Pemikiran, apakah itu? Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Dalam istilah bahasa Arab, “Perang Pemikiran” biasa diistilahkan dengan “Ghazwul Fikri”. 

Perang Pemikiran atau Ghazwul Fikri adalah istilah yang teramat penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh kaum muslimin hari ini. Mengapa? Karena hari ini, kaum muslimin umumnya sebenarnya sedang terjajah oleh para perjajah. Wah, benarkah? Ya. Yang pasti, bukan dengan perang fisik di medan pertempuran, melainkan dengan perang dalam bentuk yang tidak kelihatan yaitu dengan  Ghazwul Fikri.

Secara bahasa, “ghazwulberasal dari kata ghazwah yang berarti peperangan dan “fikri” berasal dari kata fikr yang berarti pemikiran. Secara istilah, gabungan dua kata ini, Ghazwul Fikri,  bisa diartikan sebagai peperangan atau penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam. Dalam arti luas Ghazwul Fikri adalah cara atau bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, dan propaganda. 

November 11, 2016

Menghormati Ulama

Allah I dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna telah memuliakan sebagian hamba-Nya di atas sebagian lainnya. Di antara sebab Allah I memuliakan sebagian hamba-Nya tersebut adalah karena ilmu, amal, kesabaran, keikhlasan, dan keimanan yang dimilikinya. Dengan sebab-sebab itulah, Allah I memuliakan para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga menjadi orang-orang yang takut kepada Rabb-Nya.

Di antara bentuk pemuliaan Allah I  atas ahli ilmu (ulama) yaitu Allah I menjadikan mereka sebagai saksi atas perkara yang paling agung dan mulia, yaitu keesaan-Nya, dan menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian-Nya dan persaksian para malaikat. Allah I berfirman, “Allah mempersaksikan bahwasanya tidak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(QS. Ali Imran: 18). Terhadap ayat ini, Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia daripada ulama, niscaya Allah I akan menggandengkan mereka dengan nama-Nya dan nama para malaikat-Nya.”

November 04, 2016

Masih Tentang Al-Qur’an yang Dinistakan

Berawal dari sebuah ungkapan yang telah menodai Al-Qur’an, hampir sebulan belakangan ini hati kaum muslimin terguncang. Dengan keguncangan itu, akhirnya ghirah (kecemburuan) yang sudah lama redup,  kembali membara membakar jiwa dan mengobarkan semangat untuk bersama-sama berjuang menjaga kewibawaan agama dan melawan kemungkaran.

Kami yakin bahwa kita semua sepakat bahwasanya segala bentuk pelecehan, penistaan dan penghinaan terhadap Islam atau segala sesuatu yang berasal dari Islam dan RasulNya, adalah sebuah kemungkaran. Ya, sebuah kemungkaran yang oleh Nabi kita r telah dijelaskan bagaimana respon terbaik dalam menyikapinya. Nabi r  menjelaskan kepada kita dalam sabdanya, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tak mampu, maka hendaklah mengubahnya dengan lisannya, dan jika dia tak mampu, maka dia mengingkarinya di dalam hatinya, dan Itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Oktober 29, 2016

Pungli dan Suap di Sekitar Kita

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kita semua tahu itu. Namun ironisnya, kebesaran komunitas muslim tidak serta merta menjadikan nilai-nilai Islam itu tumbuh dan bersemi di setiap relung komunitasnya. Tidak jarang, nilai-nilai Islam dan syariahnya pun hilang tanpa bekas. Padahal, semuanya telah tahu bahwa Islam adalah pedoman sempurna bagi seluruh ranah kehidupan, baik pada lingkungan masyarakat maupun pemerintahan, yang seharusnya dibumikan.

Fenomena hilangnya nilai-nilai Islam di masyarakat yang sedang hangat hari ini adalah tentang maraknya pungutan liar dan suap dari para aparat negara. Pada pertengahan Oktober 2016 lalu, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Perpres Nomor 87 dengan membentuk Satuan Petugas Sapu Bersih Pungutan Liar. Peraturan ini lahir sebagai bentuk penegasan kembali dari pemerintah kita bahwa tindak pungutan liar dan suap, kapanpun dan dimanapun adalah terlarang.

Oktober 15, 2016

Karena Allah Maha Tahu

Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai yang diharapkan. Terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Terkadang seseorang harus tersandung dengan batu cadas setelah melalui dataran halus. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa.

Inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini. Sungguh Allah I telah menetapkannya, sebagaimana firmanNya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi yang peroleh pada akhirnya adalah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika ini yang terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain.

Oktober 08, 2016

Penistaan Agama; Bukan Perkara Sepele!


Belakangan ini, kita sering dikagetkan dengan berbagai macam fenomena pelecehan dan penistaan terhadap agama Islam. Penghinaan dan stigmatisasi terhadap pilar-pilar dan simbol kehormatan Islam kerap bermunculan di berbagai media. Sebut saja misalnya, ketika isu ISIS/IS mulai marak, salah satu koran terbesar berbahasa Inggris di Indonesia memuat karikatur penghinaan terhadap simbol Islam. Sebuah karikatur dalam salah satu terbitannya, memperlihatkan seorang bersorban yang menyandang senjata tengah menaikkan bendera bertuliskan lafadz kalimat tauhid “Laa Ilaaha illa Allah Muhammadar-Rasulullah” dan tepat di bawah kalimat tersebut nampak gambar tengkorak kematian (skull) yang tepat di tengah-tengahnya tertera lafadz bertuliskan Allah, Rasul dan Muhammad. Tidak lama setelah itu, fenomena serupa juga muncul dari sejumlah mahasiswa yang menggelar acara orientasi mahasiswa baru dengan tema yang cukup meresahkan umat Islam, yaitu “Tuhan Membusuk; Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan”. Tema yang kontroversial tersebut ditulis di spanduk-spanduk dan juga disebarkan lewat internet.

Oktober 01, 2016

Menikah di Bulan Muharram, Siapa Takut!

Bulan Dzulhijah yang baru saja berlalu, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi banyak kalangan kaum muslimin di tanah air. Betapa tidak, pada bulan ini para tamu Allah dijamu di Baitullah dan mendapat pengalaman spiritual yang tinggi. Yang belum ke sana pun turut merasakan kebahagiaan dengan mengamalkan puasa Arafah yang sangat sakral itu. Sehari setelahnya, hari raya tahunan umat Islam, Idul Adha, menjadi sebuah kegembiraan tersendiri dengan penyembelihan hewan kurban dan menjadi ajang untuk berbagi kepada sesama. Selain itu, kebahagiaan bulan ini juga terasa lengkap dengan banyaknya hajat pernikahan yang dilangsungkan pada bulan ini. Barangkali, di atas meja-meja di rumah kita, telah diramaikan dengan tumpukan undangan hajat pernikahan dari tetangga atau kerabat.

Bulan Dzulhijah, khususnya di Indonesia, memang dikenal sebagai bulan pernikahan. Sebagian orang jauh-jauh hari menyiapkan tanggal pernikahan di bulan ini. Salah satu alasannya, jangan sampai hari H pernikahan masuk ke bulan Muharram. Pasalnya, keyakinan yang tersebar di sebagian daerah di tanah air, bulan Muharram atau lebih dikenal bulan Suro adalah bulan yang tidak baik untuk menggelar pernikahan atau hajatan. Bulan sial kata mereka. Wallahul musta’an.  

September 24, 2016

Berbakti Kepada Orangtua

Kedua orangtua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah I  telah memerintahkan dalam berbagai ayatNya di dalam Al-Qur'an agar kita berbakti kepada mereka.

Dalam beberapa ayatNya, Allah I menyebutkan perintah tersebut beriringan dengan pentauhidan-Nya. Seakan-akan Allah I berpesan kepada kita bahwa kedudukan mereka adalah yang kedua setelah kita mentauhidkanNya. Setelah hak Allah I terpenuhi, maka hak terbesar setelahnya adalah hak kedua orangtua kita yang wajib untuk ditunaikan, baik ketika keduanya masih hidup atau telah wafat.

Bahkan, keridhaan mereka adalah penentu keridhaan Rabb kita, Allah I. Rasulullah r bersabda, “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi. Lihat Silsilah Al-Hadits Ash-Shahiihah No. 516). Dan kedurhakaan kepada mereka adalah di antara dosa yang paling besar. Rasulullah r bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau r bertanya sampai 3 kali. Para sahabat berkata, “Tentu, ya, Rasulullah”. Rasulullah r bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orangtua” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut ini kami tuliskan beberapa poin terkait masalah tersebut. Selamat membaca. ****

September 17, 2016

Haji yang Mabrur

Setiap jiwa yang beriman tentu rindu untuk menginjakkan kaki di tanah haram, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Kerinduan untuk dapat hadir di tanah haram tersebut adalah kerinduan yang tak pernah pudar dan akan selalu ada di setiap jiwa yang beriman. Ibadah Haji di baitullah al-Haram sebagai rukun Islam kelima adalah ibadah yang menjadi dambaan setiap muslim. Hanya saja ibadah tersebut adalah ibadah yang mensyaratkan kemampuan, harta dan fisik, untuk dapat menunaikannya. Bagi mereka yang telah diberikan nikmat sehingga mampu melaksanakannya, tentu merupakan kebahagiaan dan kesyukuran tak terhingga kepada Sang Pemberi nikmat, Allah Rabbul ‘Alamin.

Terkait dengan haji, kita sering mendengar bahwa haji yang sukses adalah haji yang mabrur. Tahukah kita apa haji mabrur itu? Apakah setiap orang yang telah berhaji bisa mandapatkan haji mabrur? Bagaimana cara agar ibadah haji yang ditunaikan menjadi haji yang mabrur? Pada edisi kali ini, kita akan melihatnya lebih jauh, insyaAllah. Selamat membaca. ***

September 10, 2016

Panduan Ringkas Idul Qurban

Qurban merupakan salah satu syiar Islam yang disyariatkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah r dan Ijma’ (kesepakatan hukum) kaum muslimin. Allah I berfirman, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan (qurban)” (QS. Al-Kautsar : 2).

Pengertian Udh-hiyah

Qurban juga disebut dengan istilah udh-hiyah yang bermakna hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah I karena datangnya hari raya tersebut (Lihat Al-Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366).

Dari definisi ini, maka tidak termasuk dalam udh-hiyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqarrub kepada Allah I (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula tidak termasuk udh-hiyyah, hewan yang disembelih di luar hari tasyrik walaupun dalam rangka taqarrub kepada Allah I. Juga tidak termasuk udh-hiyyah, hewan untuk aqiqah dan al-hadyu yang disembelih di Mekkah berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji (Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1525).

September 02, 2016

Agar Tak Berlalu Begitu Saja

Tak terasa, waktu terus berputar. Dengan nikmat dan kasih sayangNya yang tak putus-putus kepada kita, kehidupan ini masih terus berjalan dan berputar. Hari berganti hari, masih saja Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kasih memberi kesempatan kepada hamba-hambaNya untuk terus mengumpulkan bekal di hari perjumpaan denganNya kelak.

Dengan kehendakNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sebagian waktu yang ada, lebih mulia dibanding yang lainnya. Bulan Ramadhan yang baru saja lewat, menyisakan kenangan manis di benak kita. Disusul bulan Syawal yang menjanjikan pahala sempurna terhadap puasa Ramadhan yang telah ditunaikan dengan tujuan taqwa. Dan sebentar lagi, bulan haji sebagai bulan yang agung akan segera tiba.

Ada apa di bulan haji? Tahukah kita bahwa ada hari-hari di bulan tersebut yang menyimpan keutamaan besar yang tidak pantas kita lewatkan begitu saja? Kapankah itu? Hari – hari tersebut adalah 10 hari di awalnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda,  “Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Agustus 18, 2016

Kemerdekaan Dalam Bingkai Islam

Bulan ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke 71. Semarak menyambutnya telah nampak sejak jauh hari. Spanduk,  bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalan-jalan raya. Semuanya menjadi semarak menyambut hari bersejarah itu.

Namun di balik kesemarakannya, masih terselip berbagai pertanyaan di benak kita; benarkah kita sudah merdeka secara hakiki? apa makna kemerdekaan bagi kita? bagaimana kita mengisi kemerdekaan yang kita rasakan saat ini?

Sebelum kita melihat lebih jauh, ada baiknya kita mencoba mengingat kembali bagaimana kemerdekaan itu bisa hadir di negeri tercinta ini.

Ketika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembarannya. Ya, jejak perjuangan kaum muslimin dan para ulama yang menentang penindasan dan mengagungkan nama Islam. Bahkan perjuangan kemerdekaan tersebut telah ada jauh sebelum terbayangnya sebuah komunitas bernama Indonesia.

Juli 27, 2016

Setelah Ramadhan Berlalu

Tidak terasa, bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan itu berlalu sudah. Ia akan menjadi saksi di hadapan Allah I atas segala perbuatan dan penyambutan setiap hamba di hari-harinya. Tak ada yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak. Seyogyanya, kita banyak memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah I menerima amal kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelumnya, kita juga berdoa agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Mengapa kita patut berdoa? Hal ini agar kita tidak termasuk golongan yang celaka dan merugi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang pernah disebut oleh Nabi r dalam haditsnya, “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Juni 17, 2016

Fatwa Ramadhan (2)

Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita sekalian untuk tetap istiqamah di atas ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat. Amin

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah I, pada edisi kali ini, kami akan melanjutkan pembahasan beberapa masalah terkait puasa yang juga disarikan dari fatwa-fatwa ulama rabbani.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Puasa Tapi Tidak Shalat

Terkait dengan hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat, tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala, “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah: 11).

Juni 10, 2016

Fatwa Ramadhan (1)

Segala puji bagi Allah I yang masih mempertemukan kita semua dengan hari-hari mulia di bulan Ramadhan ini. Puasa adalah salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu syiar agung yang Allah I  wajibkan bagi umat Islam. Sehingga, wajib bagi setiap mukmin untuk memahami hukum-hukum seputar puasa, agar puasa tersebut dapat menjadi amal shalih yang diridhai oleh Allah I. Di antara caranya adalah dengan mengkaji kitab-kitab para ulama yang membahas tentang berbagai permasalahan dan hukum seputar puasa.

Akan tetapi, dalam perjalanannya kemudian, seringkali terdapat beberapa permasalahan yang nampak sulit dan tidak biasa terjadi di kalangan kaum muslimin dahulu, khususnya pada permasalahan - permasalahan kontemporer yang muncul kemudian. Misalnya, pada hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan teknologi yang turut andil mengubah gaya hidup manusia saat ini. Tak jarang, permasalahan-permasalahan seperti ini membingungkan sebagian orang. Akhirnya, mereka pun berpendapat dan berhukum sesuai dengan apa yang disangka benar, padahal terkadang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama yang benar. Olehnya, pada edisi kali ini, dengan mengharap taufiqNya, kami membawakan pembahasan beberapa permasalahan terkait puasa yang kami sajikan dalam bentuk Tanya-Jawab yang disarikan dari kumpulan fatwa-fatwa ulama kita. Hal ini adalah perwujudan dari perintah Allah  dalam firman-Nya, “Maka, tanyakanlah kepada ahludz-dzikri (ulama) apabila kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl : 43). ***

Juni 03, 2016

Menghapus Dosa-Dosa

Manusia, siapa pun orangnya, selama ia masih hidup, tidak akan luput dari perbuatan dosa. Dosa-dosa yang dilakukan para hamba sangat banyak dan bervariasi, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Bagi para pelaku dosa besar, utamanya syirik, maka Allah I telah memberikan peringatan keras dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. 4:48). Dosa syirik dan dosa-dosa besar lainnya, tidak akan diampuni oleh Allah I kecuali dengan taubat nasuha kepada Allah I.

Mei 20, 2016

Tamu Agung Akan Tiba

Di depan kita bersama, beberapa pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.

Mei 13, 2016

Ada Apa di Bulan Sya'ban?

Tak terasa, kita kembali dipertemukan oleh Allah I dengan salah satu bulan-Nya yang mulia, yakni bulan Sya’ban. Satu tanda yang mengiringi kedatangannya adalah bahwa Ramadhan, bulan yang dirindukan, sebentar lagi akan menyapa kita, insya’aAllah.

Pada kesempatan ini, redaksi akan membawakan pembahasan berkenaan dengan Bulan Sya’ban. Selamat membaca. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita sekalian. Amin

Asal Nama Bulan Sya’ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah sya’abanaat dan sya’aabiin.

Menikahi Wanita Hamil

Beberapa hari yang lalu, redaksi menerima sebuah pertanyaan dari salah satu pembaca, “Bagaimana hukum menikahi seorang wanita yang sedang hamil?”. Kami pun menimpali, “Apakah wanita tersebut hamil karena telah berzina sebelum menikah –na’udzubillah min dzalik- atau karena sebab lainnya?”. Lantas, dia pun menjawab, “Ia, wanita itu hamil sebelum menikah”. MasyaAllah, sebuah jawaban yang tentu saja sangat menyedihkan kita di tengah masyarakat yang dominan berlabel muslim.

Fenomena ini mungkin saja telah menjamur di kalangan muda-mudi kita saat ini tanpa kita ketahui, wal-‘iyaadzu billah. Bahkan rasanya, bisa jadi hal ini sudah dianggap biasa oleh sebagian kalangan. Kemudian untuk mengatasi masalah yang sudah terlanjur terjadi, dilangsungkanlah pernikahan di antara mereka. Tentu saja tujuannya agar rasa malu tersebut dapat tertutupi segera.

Saat Hidayah Menyapa

Dalam keseharian, kita sering mendengar kata “hidayah”. Nyaris seluruh muballig, selalu mengingatkan kita akan urgensi hidayah melalui mimbar-mimbar mereka. “Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua”, begitu doa yang biasa dipanjatkan. Atau dalam kesempatan lain, kita kerap mendapati, ketika seorang muslimah yang belum berjilbab ditanya, “Kapan mau berjilbab?”, sebagian akan berkata, “Nanti, setelah dapat hidayah”. Atau, ketika sebagian saudara muslim (pria) kita ditanya, “Mengapa tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid secara rutin?”.

Tahukah kita, apa dan bagaimana hakikat hidayah itu? Benarkah kita telah memohon hidayah itu dengan sebenar-benar permintaan? Apakah hidayah akan turun begitu saja dan cukup dengan menunggunya saja tanpa usaha? Kapankah saat dimana hidayah itu akan turun menyapa kita? Untuk menjawabnya, marilah kita simak beberapa penjelasan berikut. 

April 22, 2016

Tentang Rezeki

Kali ini tentang rezeki. Rezeki bagaikan hujan yang tidak turun secara merata di muka bumi. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tapi tidak turun di padang sahara. Hujan, terkadang turun di daerah pedesaan, tapi tidak turun di tengah kota. Juga, hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan laknat. Begitulah ia selalu.

Demikianlah halnya rezeki, harta atau dunia secara umum. Allah I tidak membagikannya secara merata kepada setiap orang. Ada yang kaya dan berkecukupan, ada pula yang miskin dan berkekurangan. Namun yang pasti, setiap makhluk yang berjalan di muka bumi telah diberi rezekinya. Allah I berfirman, “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (QS. Huud: 6).

Hanya saja, ketika Allah I melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, adalah untuk suatu hikmah dimana Allah I sendiri yang mengetahuinya. Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah I berfirman, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ankabuut : 62).

April 07, 2016

Istidraj yang Membinasakan

Pernahkah kita melihat orang-orang yang gemar berbuat dosa dan maksiat,  tetapi hidup mereka justru terlihat bahagia dan menyenangkan dengan berbagai nikmat yang diperolehnya? Atau sebaliknya, pernahkah kita melihat orang-orang yang tekun beribadah dan beramal shalih, tetapi hidup mereka masih terlihat sempit dan sederhana dengan kekurangan nikmat yang diperolehnya?

Bukankah seharusnya, orang yang berbuat baik akan menerima balasan kebaikan dan orang yang berbuat buruk akan menerima balasan keburukan pula? Mengapa yang terjadi sebaliknya?

Yang pasti, Allah I tidak akan pernah dan tidak mungkin menzhalimi hamba-hambaNya. Setiap kebaikan, pasti akan dibalas dengan kebaikan sesuai dengan kadar dan hikmah yang ditetapkanNya. Meskipun yang nampak di mata kita, bentuk balasan tersebut mungkin bukan berupa kebaikan yang biasa kita kenal. Begitupula, setiap keburukan berupa dosa dan maksiat, akan dibalas dengan keburukan sesuai kadar dan hikmahNya pula. Meskipun yang nampak di mata kita, bentuk balasan tersebut mungiin bukan pula berupa keburukan yang biasa kita kenal. Allah I berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

Silaturrahim Binmas Polri dan Wahdah Gowa

[Gowa]. Pada hari Rabu, 6 April 2016, bertempat di Ruang Utama Masjid An-Nur Sunguminasa Gowa, Jajaran Sat Binmas Kepolisian Resort (Polres) Gowa melaksanakan Silaturrahim bersama seluruh jajaran pengurus dalam lingkup DPD dan DPC Wahdah Islamiyah Gowa. Acara ini dirangkaikan dengan kegiatan Sosialisasi dan Arahan Program dari para pejabat/pelaksana tugas Binmas Polres Gowa.

April 01, 2016

Wanita Haid Tak Luput Pahala

Haid dan nifas merupakan dua hal khusus yang hanya dialami oleh kaum wanita. Haid normalnya datang rutin setiap bulan, sedangkan nifas dialami wanita karena melahirkan. Pada dua kondisi itu, sejumlah amal haram untuk dilakukan. Jika seperti itu keadaannya, bagaimana seorang wanita muslimah mengisi hari-hari di masa haid dan nifas, dimana umumnya kondisi ruhiyahnya bisa saja sedang turun?

Para pembaca sekalian, rubrik kita kali ini akan membahas sekelumit tentang isu di atas. Mungkin saja dominan di antara pembaca adalah kaum Adam yang tidak terkait langsung dengan pembahasan tersebut. Namun, kesempatan untuk beramal shalih dengan menyampaikan, mendakwahkan dan membagikan buletin yang kita cintai ini kepada para wanita-wanita muslimah di sekitar kita, tentu saja selalu terbuka lebar. Bukankah di sekeliling kita banyak wanita muslimah? Seperti ibu, isteri, anak, saudari dan lainnya? Namun satu hal yang perlu diingat, sebelum mendakwahkan atau mengajarkannya kepada mereka semua, tentu saja kita mesti tahu atau paling tidak punya wawasan tentang sebagian dari dunia dan kodrat wanita muslimah tersebut .

Maret 26, 2016

Membawa Anak ke Masjid

Melatih anak sejak kecil untuk terbiasa menghadiri salat berjama’ah di masjid adalah perkara yang baik dan terpuji. Namun, hal ini terkadang menjadi permasalahan di kebanyakan masjid ketika kehadiran mereka mengganggu kekhusyukan jama’ah shalat.

Bagaimana syariat kita memandang hal tersebut? Bagaimana kita menyikapinya? Berikut kami tuliskan pembahasannya. Selamat membaca.

Usia Anak dan Pembagiannya

Para ulama fikih menyebutkan bahwa yang masuk dalam kategori “anak” dalam pembahasan ini adalah orang yang belum mencapai usia baligh (Lihat al-Asybah wan Nadhair, as-Suyuthi, hal. 387).

Kelompok anak ini terbagi menjadi dua macam, yaitu :

Maret 12, 2016

Vaksinasi : Tinjauan Hukum Syariat

Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio telah dilaksanakan serentak di seluruh penjuru tanah air pada tanggal 8-15 Maret 2015. Kontroversi tentang status kehalalan vaksin, khususnya vaksin Polio, kembali mencuat. Melalui media sosisal dan lainnya, kontroversi ini terasa begitu hangat dengan  tersebarnya sebuah gambar kemasan vaksin polio yang tertulis, ”Pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi”, sehingga mengesankan bahwa vaksin polio tidak boleh (baca: haram) untuk digunakan. Akibatnya, banyak orang tua, terutama umat muslim, yang enggan untuk mengikuti program PIN secara khusus, dan juga program imunisasi rutin terjadwal secara umum. Padahal, dari sisi medis, program PIN sangat diperlukan untuk memberantas penyakit Polio.

Benarkah sikap demikian? Haramkah vaksin tersebut? Sebagai seorang muslim, tentu saja setiap perkara –apalagi perkara besar seperti ini- perlu untuk dilihat dari tinjauan syarait agar langkah dan tindakan tidak menabrak kehendak dan aturan Sang Pencipta. Olehnya, dirasa perlu untuk memberikan pencerahan terkait masalah ini. Berikut kami tuliskan sedikit pembahasan mengenai hukum vaksinasi dalam tinjauan syariat Islam. Selamat membaca.

Maret 05, 2016

Shalat Sunnah Rawatib (2-selesai)

Pada edisi yang lalu, kami telah membahas beberapa poin terkait Shalat Sunnah Rawatib. Pada edisi kali ini, kami akan melanjutkan untuk membahas beberapa poin lain yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan.

Mengganti (Meng-qadha’) Rawatib

Jika karena suatu kondisi, kita akhirnya terluput mengerjakan Rawatib, maka boleh bagi kita untuk menggantinya di lain waktu. Hal ini sebagaimana riwayat dari Anas t, Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa yang lupa akan shalatnya maka shalatlah ketika dia ingat, tidak ada tebusan kecuali hal itu” (HR. Bukhari dan Muslim). Terkait hadits ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan hadits ini meliputi shalat fardhu, shalat malam, witir, dan sunnah rawatib” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 23/90).

Bagaimana jika menggantinya (meng-qadha’nya) pada waktu-waktu terlarang untuk mengerjakan shalat, seperti selepas Subuh, ketika matahari tepat di tengah-tengah sebelum tergelincir ke barat, dan selepas Ashar sebelum terbenamnya matahari? Untuk kondisi ini, Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah r meng-qadha’ shalat ba’diyah (Rawatib setelah Shalat Fardhu) Zhuhur itu setelah Ashar, dan terkadang melakukannya terus-menerus, karena apabila beliau r melakukan amalan selalu melanggengkannya. Hukum meng-qadha’ di waktu-waktu terlarang bersifat umum bagi nabi dan umatnya, adapun dilakukan terus-menerus pada waktu terlarang merupakan kekhususan Nabi r(Zaadul Ma’ad  1/308). Jadi, meng-qadha’ Rawatib hendaknya tidak dilakukan terus menerus pada waktu terlarang karena hal tersebut adalah kekhususan Nabi r dan bukan bagi umatnya. Adapun untuk sekali waktu, maka tidaklah mengapa. Wallahu a’lam.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...