Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu
sudah pasti. Namun, apakah setiap orang yang rajin beribadah dan beramal akan
serta merta dikatakan telah cerdas beribadah dan beramal? Rasanya, tidak ada
jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali : tidak! Kerajinan beribadah tentu
saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Sebab banyak orang meletihkan
dan melelahkan dirinya untuk sekedar menumpuk berbagai ibadah seperti sangkaan
mereka. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah
kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna apa-apa.
Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca
betapa tidak letih-letihnya orang-orang shalih terdahulu (salaf) menunjukkan
penghambaan kepada Rabb mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun
secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan
perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya-
mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun
seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi
Rabah radhiyallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun
lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shalih kita harus pula demikian.
Begitulah seterusnya. Kita berputar dalam
lingkaran kekaguman yang membuat kita tidak melihat dan menyimpulkan secara
tepat. Kita tidak coba untuk merenungkan bagaimana mereka mengalami proses
perjuangan meundukkan nafsu hingga dapat melakukan itu semua. Kita tidak
pikirkan tentang keistiqamahan dan konsistensi mereka menjalankan itu semua.
Kita tidak pikirkan bahwa untuk ke puncak itu, mereka harus melewati
tanjakan-tanjankan terjal yang dimulai dengan sebuah niat yang lurus, tulus dan
kuat. Kita tidak sadar bahwa kita butuh melihat konsistensi kita. Kita lupa
bahwa Rasulullah r
mengatakan, ”Sebaik-baik amalan adalah yang sedikit namun berkelanjutan”.
Maka di penghujung jalan pendakian itu, kita pun
akhirnya mengalami kemunduran, kejemuan dan keletihan. Setelah mengerjakan 200
raka’at di hari pertama, mungkin di hari-hari esoknya tak satu raka’at pun yang
tertegakkan. Sebab jiwa kita trauma, ia letih. Syukur-syukur jika ia tidak
membenci shalat sunnat itu. Wallahul-musta’an.
Namun demikianlah, kita harus cerdas dan pandai
mengukur diri. Allah I tidak pernah membebani jiwa manapun bila tidak sesuai kemampuannya.
Ada banyak cahaya kecerdasan beribadah yang
terwariskan kepada kita. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh sahabat
nabi yang mulia, namanya Tamim Ad-Dary t .
Seorang pria pada suatu ketika mengunjunginya. Tujuannya hanya satu. Ingin
mengetahui bagaimana Tamim Ad-Dary t menyelesaikan ayat demi ayat dalam al-Qur’an.
”Barapa banyakkah wirid dan ayat Anda baca setiap harinya?” tanya pria itu
membuka percakapan mereka.
”Hmmm, barangkali engkau ini termasuk orang yang membaca al-Qur’an di malam
hari, lalu di pagi harinya ia kemudian mengatakan kepada orang lain : ’Malam
ini aku telah membaca al-Qur’an”. Sungguh demi Allah, wahai saudaraku, bila aku
mengerjakan shalat tiga raka’at saja di malam itu jauh lebih aku senangi
daripada menyelesaikan al-Qur’an dalam satu malam namun di pagi harinya aku
kemudian menceritakanya kepada orang lain”, jawab Tamim Ad-Dary t .
Nampaknya pria itu kemudian sedikit agak emosi mendengar jawaban Tamim
Ad-Dary t. Ia hanya terkejut saja
menyimak jawaban itu. Maka ia berujar, ”Ah, kalian para sahabat nabi,
seharusnya yang masih hidup dari kalian ini diam saja dan tidak usah berbicara.
Kalian justru tidak mau mengerjakan ilmu kalian, malah kalian justru
menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!”.
”Jangan salah paham, saudaraku. Sekarang apakah engkau mau kujelaskan suatu
hal yang mungkin tidak engkau pahami?”, tanya Tamim Ad-Dary t dengan sedikit lembut.
”Cobalah engkau renungkan”, lanjut Tamim. ”Jika saja aku ini seorang mu’min
yang kuat dan engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha
membawa bebanku dengan segala kelemahanmu, hingga akhirnya engkau kemudian tidak
sanggup memikulnya.
Menurutmu, apakah yang akan terjadi? Engkau hanya akan mengalami sebuah
kejemuan dalam beribadah. Demikan pula sebaliknya. Engkau seorang mu’min yang
kuat dan aku yang lemah ini mencoba memikul bebanmu. Tentu aku akan mengalami
sebuah kejemuan pada akhirnya.
Maka, saudaraku, berikanlah sesuatu yang sesuai batas dirimu untuk dien
ini, dan ambillah dari dien ini apa yang engkau mampu untuk melaksanakannya
secara perlahan. Hingga akhirnya kelak engkau dapat istiqamah dan konsisten mengerjakan
ibadah yang mampu engkau tegakkan”.
Sebuah nasehat yang bijak dari seorang sahabat Nabi yang mulia.
Demikianlah.
Keshalihan dalam ibadah dan amal itu banyak ragamnya. Tak perlu kita memaksakan
satu ibadah di luar kemampuan kita. Ia seperti keimanan yang oleh
Rasulullah r dikatakan mempunyai banyak cabang. Di antara cabang-cabang
tersebut, yang tertinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Dan
yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits
Rasulullah r, “Iman itu lebih dari enam
puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, 'Laa ilaaha illallah' dan
cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan". (HR.
Muslim).
Keanekaragaman keshalihan dalam
ibadah itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba
terbatas.
Sepanjang
sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok
yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r tentu saja, kita mungkin mengenal
sosok Abu Bakar t, sahabat
Rasulullah r yang amat dicintainya. Beliau r pernah bersabda, “Andaikata aku akan mengangkat seorang
khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah
sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Allah telah mengangkat sahabat kalian
ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatu pagi,
“Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab
”Saya!” Rasul bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi
jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab
”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya
Rasul lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang
menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul pula. “Saya!” jawab Abu
Bakar. Kemudian Rasulullah r
bersabda, “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba
kecuali pasti masuk surga” (HR. Muslim).
Maka pastaslah
Rasulullah r pernah bersabda, “Sesungguhnya
yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu
Bakar ” (HR. Bukhari dan Muslim). Sampai-sampai Umar bin khathab t pun mengakui bahwa, “Sungguh aku tidak akan mungkin menyamai
pria yang satu ini, selamanya”.
Ah, tapi kita jangan pernah
bersedih. Memang kita mungkin tidak sanggup seperti beliau t. Tetapi, satu hal yang patut kita renungkan, keshalihan ibadah itu
ibarat rezki dari Allah I. Dia-lah
yang mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengerjakan
sebuah keshalihan, sekecil apapun itu.
Maka sebagaimana rezki, ada
orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa-biasa
saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezkinya dari arah perdagangan, namun ada
pula yang dibukakan dari pintu yang lain. Tentu saja ketika kita hanya
mendapatkan limpahan rezeki yang tak seberapa, kita tidak boleh berhenti untuk
bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan.
Apa yang terpaparkan di atas
terilhami oleh sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malik rahimahullah kepada
salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Abdullah Al ‘Umary.
Kebetulan ‘Abdullah Al ‘Umary ini
adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai
aktifitas lain selain ibadah seraya ber-uzlah saja. Dia mungkin
berpikir bahwa itulah ibadah yang paling disukai Allah Ta’ala.
Maka ia pun menulis sepucuk surat
yang kemudian ia tujukan kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah di
Madinah. Isinya tentu saja adalah ajakan kepada Imam Malik rahimahullah agar
meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya ber-uzlah di Mekkah
agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak
lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki, untuk kemudian memfokuskan
diri beribadah di sisi ka’bah masjidil haram yang mulia itu.
Ya, jelas saja, sang sahabat
mengajaknya karena keutamaan masjidil haram yang begitu besar di matanya.
Dan ketika Imam Malik menerima surat
itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi
seperti ini :
“Sesungguhnya Allah I telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Allah telah
membagi rezki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak
mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak
berpuasa.
Ada pula yang lain yang mungkin
dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa.
Mungkin ada juga yang lain yang di mudahkan untuk berjihad (namun tidak
dibukakan untuk yang lainnya).
Adapun menyebarkan ilmu itu sendiri
adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap
jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat
ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun
saya tentu berharap bahwa kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan
Keshalihan” (Siyar A’lam An-Nubala ‘8/15).
Demikian sang Imam menulis surat
balasannya.
Dan surat singkat ini tentu saja
ditujukan untuk kita pula. Untuk saya dan para pembaca yang budiman.
Olehnya, saatnya untuk mensyukuri
segala kemudahan yang dikaruniakan oleh Allah I kepada kita dalam ibadah. Ketika Allah I memudahkan kita untuk puasa, maka syukurilah dengan
optimalisasi puasa. Ketika Allah I
menganugerahkan kemudahan untuk banyak mengerjakan shalat, sujud dan rukuk,
maka syukurilah dengan optimalisasi shalat di setiap kesempatan. Begitu pula
dengan kemudahan akan keshalihan-keshalihan amal lainnya.
Teruslah beramal shalih. Sederhananya adalah kita
bercita-cita menggapai surga tertinggi, Firdaus, dan dalam meniti jalan ke sana
kita melaluinya dengan kesederhanaan yang berkualitas. Kesederhanaan yang dapat
membuat kita istiqamah dan langgeng dalam penghambaan kepada-Nya. Mengerjakan
yang kecil, dan mulai sejak sekarang, sesuai kemampuan dan kesanggupan kita. Bukankah
rasul kita yang mulia, -sekali lagi- Muhammad r berkata, ”Sebaik-baik amalan adalah
yang berkelanjutan meskipun sedikit? Inilah inti ibadah yang cerdas. Maka
pahamilah!
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar