Agustus 18, 2017

Cerdaslah Dalam Beramal!

Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun, apakah setiap orang yang rajin beribadah dan beramal akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah dan beramal? Rasanya, tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali : tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Sebab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk sekedar menumpuk berbagai ibadah seperti sangkaan mereka. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna apa-apa.

Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih-letihnya orang-orang shalih terdahulu (salaf) menunjukkan penghambaan kepada Rabb mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiyallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shalih kita harus pula demikian.

Begitulah seterusnya. Kita berputar dalam lingkaran kekaguman yang membuat kita tidak melihat dan menyimpulkan secara tepat. Kita tidak coba untuk merenungkan bagaimana mereka mengalami proses perjuangan meundukkan nafsu hingga dapat melakukan itu semua. Kita tidak pikirkan tentang keistiqamahan dan konsistensi mereka menjalankan itu semua. Kita tidak pikirkan bahwa untuk ke puncak itu, mereka harus melewati tanjakan-tanjankan terjal yang dimulai dengan sebuah niat yang lurus, tulus dan kuat. Kita tidak sadar bahwa kita butuh melihat konsistensi kita. Kita lupa bahwa Rasulullah r mengatakan, ”Sebaik-baik amalan adalah yang sedikit namun berkelanjutan”.

Maka di penghujung jalan pendakian itu, kita pun akhirnya mengalami kemunduran, kejemuan dan keletihan. Setelah mengerjakan 200 raka’at di hari pertama, mungkin di hari-hari esoknya tak satu raka’at pun yang tertegakkan. Sebab jiwa kita trauma, ia letih. Syukur-syukur jika ia tidak membenci shalat sunnat itu. Wallahul-musta’an.

Namun demikianlah, kita harus cerdas dan pandai mengukur diri. Allah I  tidak pernah membebani jiwa manapun bila tidak sesuai kemampuannya.

Ada banyak cahaya kecerdasan beribadah yang terwariskan kepada kita. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh sahabat nabi yang mulia, namanya Tamim Ad-Dary t .

Seorang pria pada suatu ketika mengunjunginya. Tujuannya hanya satu. Ingin mengetahui bagaimana Tamim Ad-Dary t menyelesaikan ayat demi ayat dalam al-Qur’an.

”Barapa banyakkah wirid dan ayat Anda baca setiap harinya?” tanya pria itu membuka percakapan mereka.

”Hmmm, barangkali engkau ini termasuk orang yang membaca al-Qur’an di malam hari, lalu di pagi harinya ia kemudian mengatakan kepada orang lain : ’Malam ini aku telah membaca al-Qur’an”. Sungguh demi Allah, wahai saudaraku, bila aku mengerjakan shalat tiga raka’at saja di malam itu jauh lebih aku senangi daripada menyelesaikan al-Qur’an dalam satu malam namun di pagi harinya aku kemudian menceritakanya kepada orang lain”, jawab Tamim Ad-Dary t .

Nampaknya pria itu kemudian sedikit agak emosi mendengar jawaban Tamim Ad-Dary t. Ia hanya terkejut saja menyimak jawaban itu. Maka ia berujar, ”Ah, kalian para sahabat nabi, seharusnya yang masih hidup dari kalian ini diam saja dan tidak usah berbicara. Kalian justru tidak mau mengerjakan ilmu kalian, malah kalian justru menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!”.

”Jangan salah paham, saudaraku. Sekarang apakah engkau mau kujelaskan suatu hal yang mungkin tidak engkau pahami?”, tanya Tamim Ad-Dary t dengan sedikit lembut.

”Cobalah engkau renungkan”, lanjut Tamim. ”Jika saja aku ini seorang mu’min yang kuat dan engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha membawa bebanku dengan segala kelemahanmu, hingga akhirnya engkau kemudian tidak sanggup memikulnya.

Menurutmu, apakah yang akan terjadi? Engkau hanya akan mengalami sebuah kejemuan dalam beribadah. Demikan pula sebaliknya. Engkau seorang mu’min yang kuat dan aku yang lemah ini mencoba memikul bebanmu. Tentu aku akan mengalami sebuah kejemuan pada akhirnya.

Maka, saudaraku, berikanlah sesuatu yang sesuai batas dirimu untuk dien ini, dan ambillah dari dien ini apa yang engkau mampu untuk melaksanakannya secara perlahan. Hingga akhirnya kelak engkau dapat istiqamah dan konsisten mengerjakan ibadah yang mampu engkau tegakkan”.

Sebuah nasehat yang bijak dari seorang sahabat Nabi yang mulia.

Demikianlah. Keshalihan dalam ibadah dan amal itu banyak ragamnya. Tak perlu kita memaksakan satu ibadah di luar kemampuan kita. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah r dikatakan mempunyai banyak cabang. Di antara cabang-cabang tersebut, yang tertinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits Rasulullah r, “Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, 'Laa ilaaha illallah' dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan". (HR. Muslim). 

Keanekaragaman keshalihan dalam ibadah itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba terbatas.

Sepanjang sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r  tentu saja, kita mungkin mengenal sosok Abu Bakar t, sahabat Rasulullah r yang amat dicintainya. Beliau r pernah bersabda, “Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Allah telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatu pagi, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab ”Saya!” Rasul bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab ”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Rasul lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul pula. “Saya!” jawab Abu Bakar. Kemudian Rasulullah r  bersabda, “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba kecuali pasti masuk surga” (HR. Muslim).

Maka pastaslah  Rasulullah r pernah bersabda, “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar ” (HR. Bukhari dan Muslim). Sampai-sampai Umar bin khathab t pun mengakui bahwa, “Sungguh aku tidak akan mungkin menyamai pria yang satu ini, selamanya”.

Ah, tapi kita jangan pernah bersedih. Memang kita mungkin tidak sanggup seperti beliau t. Tetapi, satu hal yang patut kita renungkan, keshalihan ibadah itu ibarat rezki dari Allah I. Dia-lah yang mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengerjakan sebuah keshalihan, sekecil apapun itu.

Maka sebagaimana rezki, ada orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa-biasa saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezkinya dari arah perdagangan, namun ada pula yang dibukakan dari pintu yang lain. Tentu saja ketika kita hanya mendapatkan limpahan rezeki yang tak seberapa, kita tidak boleh berhenti untuk bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan.

Apa yang terpaparkan di atas terilhami oleh sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malik rahimahullah kepada salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Abdullah Al ‘Umary.

Kebetulan ‘Abdullah Al ‘Umary ini adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai aktifitas lain selain ibadah  seraya ber-uzlah saja. Dia mungkin berpikir bahwa itulah ibadah  yang paling disukai Allah Ta’ala.
Maka ia pun menulis sepucuk surat yang kemudian ia tujukan kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah di Madinah. Isinya tentu saja adalah ajakan kepada Imam Malik rahimahullah agar meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya ber-uzlah di Mekkah agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki, untuk kemudian memfokuskan diri beribadah di sisi ka’bah masjidil haram yang mulia itu.

Ya, jelas saja, sang sahabat mengajaknya karena keutamaan masjidil haram yang begitu besar di matanya.

Dan ketika Imam Malik menerima surat itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi seperti ini :

“Sesungguhnya Allah I telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Allah telah membagi rezki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak berpuasa.

Ada pula yang lain yang mungkin dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa. Mungkin ada juga yang lain yang di mudahkan untuk berjihad (namun tidak dibukakan untuk yang lainnya).

Adapun menyebarkan ilmu itu sendiri adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun saya tentu berharap bahwa kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan Keshalihan” (Siyar A’lam An-Nubala ‘8/15).

Demikian sang Imam menulis surat balasannya.

Dan surat singkat ini tentu saja ditujukan untuk kita pula. Untuk saya dan para pembaca yang budiman.

Olehnya, saatnya untuk mensyukuri segala kemudahan yang dikaruniakan oleh Allah I kepada kita dalam ibadah. Ketika Allah I memudahkan kita untuk puasa, maka syukurilah dengan optimalisasi puasa. Ketika Allah I  menganugerahkan kemudahan untuk banyak mengerjakan shalat, sujud dan rukuk, maka syukurilah dengan optimalisasi shalat di setiap kesempatan. Begitu pula dengan kemudahan akan keshalihan-keshalihan amal lainnya.

Teruslah beramal shalih. Sederhananya adalah kita bercita-cita menggapai surga tertinggi, Firdaus, dan dalam meniti jalan ke sana kita melaluinya dengan kesederhanaan yang berkualitas. Kesederhanaan yang dapat membuat kita istiqamah dan langgeng dalam penghambaan kepada-Nya. Mengerjakan yang kecil, dan mulai sejak sekarang, sesuai kemampuan dan kesanggupan kita. Bukankah rasul kita yang mulia, -sekali lagi- Muhammad r  berkata, ”Sebaik-baik amalan adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit? Inilah inti ibadah yang cerdas. Maka pahamilah!
Wallahu a’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...