Manusia merupakan
makhluk yang paling mulia diantara seluruh makhluk lain di dunia ini. Demikian
Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak
cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka
rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang
Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Israa : 70).
Kemuliaan yang Allah
berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik,
hati, dan lainnya. Potensi-potensi tersebut selayaknya diaktualisasikan selain
sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi
syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang
bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur
inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya
sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat : 56).
Seorang mu’min
selayaknya menjadi yang terbaik di antara mu’min yang lainnya. Predikat ini lah
yang Rasulullah harapkan agar menjadi mu’min yang berkualitas. Dalam beberapa
haditsnya, Rasul telah memberikan kriteria mu’min yang terbaik. Saking
banyaknya kriteria tersebut, sampai ada ulama yang menulis sebuah kitab
berjudul Khairunnaas (manusia yang terbaik).
Jika ada yang
bertanya, apa kriteria dan parameter manusia terbaik itu? Dalam sudut pandang
manusia, jawaban yang akan muncul pasti sangat beragam, tergantung dari setiap
sisi kehidupan masing-masing, bisa jadi yang terkaya, yang tertinggi tingkat
pendidikannya, yang tertinggi kedudukan dan jabatannya, yang paling luas
kekuasaanya dan sebagainya. Namun, kriteria yang paling objektif dan mutlak,
tentu saja adalah kriteria yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya
sebagai pencipta manusia dan seluruh tindak-tanduknya.
Dalam edisi kali
ini, kami akan mengulas sebagian kriteria manusia terbaik yang didasarkan pada
hadits-hadits Rasulullah. Harapannya, semoga kita bisa memiliki seluruh
kriteria tersebut. Jika pun tidak bisa seluruhnya, paling tidak sebagiannya.
Apa saja kriteria-kriteria itu?
Mempelajari
al-Quran dan Mengajarkannya
Rasul bersabda, “Sebaik-baik
kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Tak
hanya berupa pelajaran membaca quran, tetapi juga berbagi nilai-nilai al-Qur’an
dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita menyampaikan nilai al-Qur’an kepada
orang lain meskipun hanya satu ayat? Juga, hadits ini mengisyarakat keutamaan
seorang guru mengaji. Ya, seorang guru yang mengajari kita membaca al-Qur’an
dengan baik dan benar. Maka, apapun profesi kita, hendaknya mengambil peran
menjadi seorang guru mengaji, minimal untuk keluarga kita di rumah.
Hadits ini juga
mengisyaratkan kepada kita untuk memuliakan para pengajar al-Quran dan
memberikan yang terbaik untuk mereka. Karena sejatinya, mereka adalah penerus
risalah Nabi yang mengemban misi guna menjaga al-Quran tetap bernafas dan
memberikan kehidupan yang hakiki. Jika kita mampu memberikan begitu banyak
pengorbanan untuk kesuksesan duniawi anak‐anak kita, maka tidak ada alasan bagi
kita untuk tidak memberikan yang lebih bagi keberhasilan mereka di dunia dan
akhirat melalui cahaya indah al-Quran.
Mengikuti Jejak
Para Sahabat
Allah berfirman, “Kalian
adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf,
mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 110).
Siapakah umat terbaik dalam ayat
ini? Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “ayat ini berlaku secara
umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik
zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah, kemudian
yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 2/94). Demikianlah
generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana
mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan
dari Qatadah, bahwa Umar Radhiallahu
‘Anhu berkhutbah ketika haji, “Barang siapa yang suka dirinya menjadi
seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu”
(Tafsir Ath-Thabari, 7/102).
Ayat di atas
diperkuat oleh hadits, “Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku, kemudian
setelahnya, kemudian setelahnya” (HR.
Bukhari). Tentunya maksud manusia pada
zaman nabi adalah manusia yang beriman kepadanya di zamannya, yaitu para
sahabatnya, bukan kaum munafiq dan kaum kafir yang hidup di zamannya.
Panjang Umurnya
dan Baik Amalnya
Inilah manusia
beruntung yang dikaruniai usia panjang dan dengan usia tersebut ia semakin
menumpuk banyak amal kebajikan. Rasul bersabda, “Maukah aku tunjukkan
manusia terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda, “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang
paling panjang usianya dan semakin baik amalnya” (HR. Ahmad).
Mengapa orang yang
panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik? Karena orang yang
banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah
dan derajatnya semakin tinggi. Kesempatan hidupnya merupakan tambahan pahala
dengan sebab nilai amalannya yang terus bertambah, walaupun hanya sekedar
istiqamah di atas iman (Lihat Faidhul
Qadir, 3/480).
Baik Kepada
Isteri
Rasul bersabda, “Sebaik-baik
kamu adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap
istriku” (HR. Tirmidzi).
Imam Muhammad bin
Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Pada hadits ini terdapat
peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak
untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi isterinya. Karena
isteri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang
baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang
lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika
keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi
keburukan. Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat
seorang pria jika bertemu dengan isterinya maka ia adalah orang yang terburuk
akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya.
Namun jika ia
bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia,
hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan
lagi, barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik
(petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan
kepada Allah” (Nailul Authar 6/245-256). Ingat, tak berguna jika kita baik dan sempurna di
hadapan orang lain, tetapi di mata keluarga terdekat kita, ternyata kita telah
banyak mengabaikan hak-hak mereka. Na’udzubillah.
Yang Baik
Akhlaknya
Rasul bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang
terbaik akhlaknya” (HR. Bukhari). Apa maksud akhlak yang terbaik? Mungkin secara
sederhana, akhlak yang baik pada manusia meliputi penjagaan lisan dan juga
tangan (perbuatan). Suatu saat, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,
muslim apakah yang paling utama? Beliau bersabda, “Yaitu orang yang muslim
lainnya aman dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika kita bisa menjadi seseorang yang
terjamin kata-kata dan perbuatannya, orang lain tidak pernah tersakiti oleh
lidah dan tangan kita, insyaAllah kita bisa termasuk kategori manusia berakhlak
terbaik ini.
Amar Ma’ruf dan
Nahi Mungkar
Rasul bersabda, “Kalian
adalah umat yang terbaik di antara manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah
yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS.
Ali ‘Imran: 110). Ingat, betapa amar
ma’ruf nahi munkar merupakan pembeda umat muslim dengan umat lainnya. Kita
bukanlah bagian dari umat yang tak peduli, juga bukan bagian umat yang sekuler
alias memisahkan agama dari kehidupan dunia. Maka, melakukan amar ma’ruf serta
mencegah manusia dari perbuatan mungkar adalah salah satu perkara yang bisa
memperlihatkan apakah kita telah menjadi manusia
terbaik atau belum. Sudahkah kita menyuruh orang berbuat baik dan mencegah
mereka dari perbuatan buruk? Upayakanlah, agar kita menjadi manusia terbaik. Di
sisi Allah, dan juga manusia, insyaAllah.
Paling Bermanfaat
Bagi Orang Lain
Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad,
ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam
Shahihul Jami’,3289). Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya
akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa
berfirman, “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi
diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7). Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membantu keperluan
saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tentu saja manfaat
dalam hadits ini sangat luas, bukan sekedar manfaat materi, yang biasanya
diwujudkan dalam bentuk pemberian harta atau kekayaan dengan jumlah tertentu
kepada orang lain. Manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain bisa berupa
ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, tenaga atau keahlian, waktu dan perhatian, sikap
yang baik, dan lainnya. Ibnu Umar mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada
Rasulullah, ia bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai
Allah? Dan apakah amal yang paling dicintai Allah?” Rasulullah bersabda, “Orang
yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”
(HR. Thabrani).
Tidak Ingkar
Melunasi Hutang
Rasul bersabda, “Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang” (HR. Bukhari
dan Muslim). Yang dimaksud paling baik dalam membayar hutang adalah
melunasinya sebelum atau tepat dengan waktu yang dijanjikan. Adapun jika ada
seseorang yang mempunyai hutang, kemudian dia mengulur-ngulur waktu dalam
pembayaran dalam keadaan dia telah mampu untuk membayarnya, maka orang tersebut
telah berbuat zhalim. Rasul bersabda, “Mengulur-ulur waktu pembayaran hutang
bagi yang mampu adalah kezhaliman” (HR.
Muslim).
Memberi Makanan
Rasulullah bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” (HR. Ahmad). Di
dalam sebuah hadits lain diriwayatkan, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi,
“Islam manakah yang paling baik?” Nabi menjawab, “Kamu memberi makan,
mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal” (HR. Bukhari).
****
Demikianlah beberapa
ciri dan kriteria manusia terbaik itu. Semestinya kita berusaha untuk memiliki
sebagian atau bahkan seluruhnya. Apa yang dituliskan, tentu belum semuanya.
Masih banyak ciri dan kriteria yang bisa menjadikan kita terbaik di sisi Allah dan
manusia. Setiap bentuk kebaikan, dengan tetap meniatkan semua itu ikhlas
mencari keridhaan Allah dengan cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul-Nya
adalah jalan untuk itu. Teruslah beramal! Wallahu’alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar