September 29, 2017

Menjadi Manusia Terbaik

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia diantara seluruh makhluk lain di dunia ini. Demikian Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Israa : 70). 

Kemuliaan yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik, hati, dan lainnya. Potensi-potensi tersebut selayaknya diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku” (QS. Al-Dzariyat : 56).


Seorang mu’min selayaknya menjadi yang terbaik di antara mu’min yang lainnya. Predikat ini lah yang Rasulullah harapkan agar menjadi mu’min yang berkualitas. Dalam beberapa haditsnya, Rasul telah memberikan kriteria mu’min yang terbaik. Saking banyaknya kriteria tersebut, sampai ada ulama yang menulis sebuah kitab berjudul Khairunnaas (manusia yang terbaik).

Jika ada yang bertanya, apa kriteria dan parameter manusia terbaik itu? Dalam sudut pandang manusia, jawaban yang akan muncul pasti sangat beragam, tergantung dari setiap sisi kehidupan masing-masing, bisa jadi yang terkaya, yang tertinggi tingkat pendidikannya, yang tertinggi kedudukan dan jabatannya, yang paling luas kekuasaanya dan sebagainya. Namun, kriteria yang paling objektif dan mutlak, tentu saja adalah kriteria yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai pencipta manusia dan seluruh tindak-tanduknya.

Dalam edisi kali ini, kami akan mengulas sebagian kriteria manusia terbaik yang didasarkan pada hadits-hadits Rasulullah. Harapannya, semoga kita bisa memiliki seluruh kriteria tersebut. Jika pun tidak bisa seluruhnya, paling tidak sebagiannya. Apa saja kriteria-kriteria itu?

Mempelajari al-Quran dan Mengajarkannya

Rasul bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Tak hanya berupa pelajaran membaca quran, tetapi juga berbagi nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita menyampaikan nilai al-Qur’an kepada orang lain meskipun hanya satu ayat? Juga, hadits ini mengisyarakat keutamaan seorang guru mengaji. Ya, seorang guru yang mengajari kita membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Maka, apapun profesi kita, hendaknya mengambil peran menjadi seorang guru mengaji, minimal untuk keluarga kita di rumah.

Hadits ini juga mengisyaratkan kepada kita untuk memuliakan para pengajar al-Quran dan memberikan yang terbaik untuk mereka. Karena sejatinya, mereka adalah penerus risalah Nabi yang mengemban misi guna menjaga al-Quran tetap bernafas dan memberikan kehidupan yang hakiki. Jika kita mampu memberikan begitu banyak pengorbanan untuk kesuksesan duniawi anak‐anak kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberikan yang lebih bagi keberhasilan mereka di dunia dan akhirat melalui cahaya indah al-Quran.

Mengikuti Jejak Para Sahabat

Allah berfirman, “Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 110).  Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 2/94).  Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah,  bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji, “Barang siapa yang suka dirinya menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu(Tafsir Ath-Thabari, 7/102).

Ayat di atas diperkuat oleh hadits, “Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” (HR. Bukhari). Tentunya maksud manusia pada zaman nabi adalah manusia yang beriman kepadanya di zamannya, yaitu para sahabatnya, bukan kaum munafiq dan kaum kafir yang hidup di zamannya.

Panjang Umurnya dan Baik Amalnya

Inilah manusia beruntung yang dikaruniai usia panjang dan dengan usia tersebut ia semakin menumpuk banyak amal kebajikan. Rasul bersabda, “Maukah aku tunjukkan manusia terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang paling panjang usianya dan semakin baik amalnya(HR. Ahmad).

Mengapa orang yang panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik? Karena orang yang banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah dan derajatnya semakin tinggi. Kesempatan hidupnya merupakan tambahan pahala dengan sebab nilai amalannya yang terus bertambah, walaupun hanya sekedar istiqamah di atas iman (Lihat Faidhul Qadir, 3/480).

Baik Kepada Isteri

Rasul bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap istriku(HR. Tirmidzi).

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi isterinya. Karena isteri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan isterinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya.

Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi, barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah”  (Nailul Authar 6/245-256). Ingat, tak berguna jika kita baik dan sempurna di hadapan orang lain, tetapi di mata keluarga terdekat kita, ternyata kita telah banyak mengabaikan hak-hak mereka. Na’udzubillah.

Yang Baik Akhlaknya

Rasul bersabda, “Sesungguhnya  yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya(HR. Bukhari). Apa maksud akhlak yang terbaik? Mungkin secara sederhana, akhlak yang baik pada manusia meliputi penjagaan lisan dan juga tangan (perbuatan). Suatu saat, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, muslim apakah yang paling utama? Beliau bersabda, “Yaitu orang yang muslim lainnya aman dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).  Jika kita bisa menjadi seseorang yang terjamin kata-kata dan perbuatannya, orang lain tidak pernah tersakiti oleh lidah dan tangan kita, insyaAllah kita bisa termasuk kategori manusia berakhlak terbaik ini.

Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Rasul bersabda, “Kalian adalah umat yang terbaik di antara manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah(QS. Ali ‘Imran: 110). Ingat, betapa amar ma’ruf nahi munkar merupakan pembeda umat muslim dengan umat lainnya. Kita bukanlah bagian dari umat yang tak peduli, juga bukan bagian umat yang sekuler alias memisahkan agama dari kehidupan dunia. Maka, melakukan amar ma’ruf serta mencegah manusia dari perbuatan mungkar adalah salah satu perkara yang bisa memperlihatkan apakah kita telah menjadi manusia terbaik atau belum. Sudahkah kita menyuruh orang berbuat baik dan mencegah mereka dari perbuatan buruk? Upayakanlah, agar kita menjadi manusia terbaik. Di sisi Allah, dan juga manusia, insyaAllah.

Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’,3289). Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman, “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7). Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tentu saja manfaat dalam hadits ini sangat luas, bukan sekedar manfaat materi, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pemberian harta atau kekayaan dengan jumlah tertentu kepada orang lain. Manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain bisa berupa ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, tenaga atau keahlian, waktu dan perhatian, sikap yang baik, dan lainnya. Ibnu Umar mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, ia bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? Dan apakah amal yang paling dicintai Allah?” Rasulullah bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani).
Tidak Ingkar Melunasi Hutang

Rasul bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang” (HR. Bukhari dan Muslim).  Yang dimaksud paling baik dalam membayar hutang adalah melunasinya sebelum atau tepat dengan waktu yang dijanjikan. Adapun jika ada seseorang yang mempunyai hutang, kemudian dia mengulur-ngulur waktu dalam pembayaran dalam keadaan dia telah mampu untuk membayarnya, maka orang tersebut telah berbuat zhalim. Rasul bersabda, “Mengulur-ulur waktu pembayaran hutang bagi yang mampu adalah kezhaliman(HR. Muslim).

Memberi Makanan

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.(HR. Ahmad). Di dalam sebuah hadits lain diriwayatkan, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi, “Islam manakah yang paling baik?” Nabi menjawab, “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal” (HR. Bukhari).

****
Demikianlah beberapa ciri dan kriteria manusia terbaik itu. Semestinya kita berusaha untuk memiliki sebagian atau bahkan seluruhnya. Apa yang dituliskan, tentu belum semuanya. Masih banyak ciri dan kriteria yang bisa menjadikan kita terbaik di sisi Allah dan manusia. Setiap bentuk kebaikan, dengan tetap meniatkan semua itu ikhlas mencari keridhaan Allah dengan cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul-Nya adalah jalan untuk itu. Teruslah beramal! Wallahu’alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...