Juli 13, 2017

Apa Setelah Ramadhan?

Lebih dari dua pekan yang lalu, bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan itu berlalu sudah. Ia akan menjadi saksi di hadapan Allah I atas segala perbuatan dan penyambutan setiap hamba di hari-harinya. Tak ada yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak. Seyogyanya, kita banyak memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah I menerima amal kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelumnya, kita juga berdoa agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Mengapa kita patut berdoa? Hal ini agar kita tidak termasuk golongan yang celaka dan merugi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang pernah disebut oleh Nabi r dalam haditsnya, “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan kebaikan tersebut? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang penting dan patut untuk kita renungkan bersama.


Belum terlambat. Belum terlambat untuk kita berhenti sejenak dan merenunginya, Saudaraku! Jangan sampai kita seperti pemintal benang yang mengurai kembali benangnya setelah dipintal. Allah I berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai-berai kembali” (QS. An-Nahl: 92). Perumpamaan ini menggambarkan kondisi sebagian kita yang begitu cepat kembali kepada perbuatan dosa dan maksiat secepat berlalunya Ramadhan. Padahal, selama sebulan penuh, mereka shalat, puasa, menangis karena takut kepada Allah I,  berdo’a, dan merendahkan diri di hadapan Allah I. Dengan itu semua, mereka telah mengumpulkan kebaikan-kebaikannya, hingga mampu meraih kelezatan dalam ibadah dan ketaatan. Akan tetapi, seketika mereka mengurai dan menghapus semua itu seiring dengan berlalunya Ramadhan.

Sikap seperti ini memunculkan kekhawatiran kita bahwa segala amalan di bulan suci tersebut, jangan sampai tidak membawa manfaat dan ditolak oleh Allah I, wallahul-musta’an. Meskipun tentu saja, semuanya adalah hak Allah I semata untuk menilai dan menghitung amalan seorang hamba.

Mengapa mesti khawatir? Hal ini karena seorang hamba yang diterima amalannya, akan memiliki tanda. Apa tandanya? Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shalih setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf) bahwa ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut” (Lihat Kitab Latha-iful Ma’aarif, hal. 311). Dan ternyata, tanda ini, bertolak belakang dengan fenomena pemintal benang di atas.

Apalagi, agama ini mencela mereka yang telah diberikan taufik sehingga mampu menghidupkan sebuah amalan shalih kemudian meninggalkannya. Sebuah ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah sikap yang baik. Bahkan para ulama sampai mengeluarkan statement yang agak keras kepada orang yang rajin beribadah hanya pada bulan Ramadhan saja, sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. Para ulama mengatakan,  “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang shalih adalah orang yang rajin beribadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.

Asy-Syibliy rahimahullah pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin beribadah di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Ramadhaniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinyu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja (Lihat Latha-if Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 396-400).

Begitu pula amalan suri tauladan kita, Muhammad r, adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau r contohkan kepada kita. ’Alqamah t pernah bertanya kepada Ummul Mukminin ’Aisyah radhiyallahu anha mengenai amalan Rasulullah r , ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, “Tidak, amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau r  lakukan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah r pernah bersabda kepada sahabatnya, Abdullah bin Amr bin Al-Ash t, beliau mengatakan, “Wahai ‘Abdullah janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin shalat malam, sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Hadits dari bin Amr bin Al-Ash t di atas menunjukkan akan disunnahkan merutinkan suatu ibadah yang baik tanpa menganggap remeh. Juga dapat dijadikan dalil akan makruhnya memutus suatu ibadah walaupun amalan tersebut bukanlah amalan yang wajib.” (Lihat Fathul Bari, 3: 38).

Olehnya, menjaga amalan agar terus bertahan adalah sebuah keniscayaan, meskipun dalam perjalanannya kuantitasnya lebih kecil, namun bertahan justru itulah yang terbaik. Amalan yang kontinyu walaupun sedikit itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin meskipun jumlahnya banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah r bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit” (HR. Muslim).  Nabi r mencontohkan dalam amalan shalat malam. Pada amalan yang satu ini, beliau r menganjurkan agar mencoba untuk merutinkannya. Nabi r bersabda, “Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan(HR. Muslim).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan”.

Sehingga, sederhana dalam ibadah adalah sikap terbaik untuk menjaga kelangsungan ibadah tersebut.  Mengapa? Karena amalan yang sedikit tetapi kontinyu akan mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya, jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Rasulullah r bersabda, “Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi r, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al Kabir, periwayatnya shahih. Lihat Majma’ Az Zawa’id).

Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah mengatakan bahwa ’Aisyah radhiyallahu anha ketika melakukan suatu amalan, beliau selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya (HR. Muslim). Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Jika syaithan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun akan semakin tamak untuk menggodamu” (Lihat Al-Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Khaliq I. Amalan sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 3/133).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya seorang hamba hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika ia meninggalkan amalan tersebut” (Lihat Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84).

Namun,  meninggalkan amalan shalih yang biasa dia rutinkan karena udzur atau alasan yang dibenarkan seperti sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r , “Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat” (HR. Bukhari).

Ingatlah, apabila seorang hamba berhenti dari amalan rutinnya, malaikat pun akan berhenti membangunkan baginya bangunan di surga disebabkan amalan yang cuma sesaat. Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya bangunan di surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus dilakukan. Apabila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?” Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”

Namun perlu diingat pula, kontinyuitas ini tidak mutlak berlaku pada seluruh amalan. Ada kondisi dimana suatu amalan itu justru lebih utama untuk ditinggalkan sementara waktu meskipun pada kondisi normal amalan tersebut dijaga kelangsunganya. Syaikh Ibrahim Ar-Ruhailiy hafizhahullah mengatakan, ”Tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, perlu kiranya kita melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi r  dalam hal ini” (Tajridul Ittiba’, hal. 89).  Ada beberapa amalan yang masuk dalam kategori ini.

Pertama, amalan yang bisa dirutinkan baik ketika mukim (tidak bepergian) maupun ketika bersafar. Contohnya adalah puasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 pada setiap bulan Hijriyah), shalat sunnah qabliyah shubuh (shalat sunnah fajar), shalat malam (tahajud), dan shalat witir. Amalan-amalan seperti ini tidaklah ditinggalkan meskipun dalam keadaan bersafar. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Rasulullah r  selalu berpuasa pada ayyamul biid baik dalam keadaan mukim (tidak bersafar) maupun dalam keadaan bersafar” (Diriwayatkan oleh An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat Al-Hadits Ash-Shahihah 580). Hendaknya amalan-amalan ini tetap dirutinkan, baik ketika mukim maupun safar.

Kedua, amalan yang dirutinkan hanya ketika mukim (tidak bepergian), bukan ketika safar. Contohnya adalah seluruh shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat-shalat fardhu baik qabliyah maupun ba’diyah.

Ketiga, amalan yang kadang dikerjakan pada suatu waktu dan kadang pula ditinggalkan. Contohnya adalah puasa selain hari Senin dan Kamis. Puasa pada selain dua hari tadi boleh dilakukan kadang-kadang, misalnya saja berpuasa pada hari Selasa atau Rabu.

Penutup

Ada satu nasehat dari Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau  mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al-Hasan membaca firman Allah, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99) (Lihat Latha-if Al-Ma’arif, hal. 398). Maksudnya, bahwa seorang mukmin itu seyogyanya senantiasa beramal dan beribadah dalam kehidupannya. Kapan berhenti? Ia akan berhenti hanya ketika kematian datang.

Olehnya, istiqamahlah! Karena tidaklah seorang hamba itu mampu beristiqamah, kecuali ia akan menemui Rabbnya dengan bersuka cita. Allah I berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat: 30).

Wallahu a’lam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...