Allah telah mengutus
Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (risalah) kepada seluruh
umat manusia. Risalah yang beliau bawa ini akan kekal sampai hari kiamat dan
menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Rasulullah
menyampaikan risalah Rabbnya kepada kaum muslimin sebagai misi diutusnya beliau
sebagai Rasul. Allah berfirman, “Hai
nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira
dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan
izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi” (QS. al-Ahzab : 45-46). Misi dalam perintah berdakwah ini diulang beberapa
kali dalam al-Qur’an. Ini adalah indikasi kuat akan keagungan misi tersebut. Allah
berfirman, “Dan serulah kepada (agama)
Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus” (QS. al-Hajj :67). Juga firman-Nya, “Katakanlah,
“Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan
sesuatupun dengan Dia. hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya
aku kembali” (QS.
ar-Ra’d :36).
Allah juga telah
memerintahkan kepada seluruh manusia secara umum untuk melaksanakan misi
tersebut. Allah berfirman, “Dan hendaklah
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan” (QS. Ali Imran : 104). Dan atas dasar ini, sudah sepatutnya setiap pengikut
Rasulullah untuk mencontoh beliau dalam mengajak kepada keimanan dan tauhid
serta mengamalkan syari’at-syari’at Allah.
Ingatlah, amalan
terbaik dan tertinggi di sisi Allah adalah berusaha untuk membimbing manusia
dari kegelapan menuju kepada petunjuk Allah. Ucapan seorang da’i atau penyeru
kebaikan saat ia berdakwah di jalan Allah adalah ucapan terbaik di sisi Allah.
Dia berfirman,“Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang
shaleh, dan mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah
diri” (QS.
Fush-shilat :33).
Tidak hanya itu,
setiap amal yang dilakukan oleh orang yang mendapat petunjuk melalui seorang
da’i maka si da’i senantiasa mendapat bagian pahala darinya tanpa mengurangi
pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut sedikitpun. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk,
maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi
sedikitpun dari pahala orang tersebut” (HR. Muslim).
Keutamaan besar
lainnya, apa yang dipetik oleh seorang da’i dari dakwahnya lebih baik daripada
perhiasan dunia, dan menjadi sebab seluruh makhluk mendoakan kebaikan bagi para
pendakwah. Nabi bersabda, “Demi Allah! Allah Azza wa Jalla memberikan
petunjuk (hidayah) kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu lebih baik
bagimu daripada kamu mendapatkan unta merah (barang yang sangat berharga)” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya,
penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu
mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah
Al-Bahili). Berapakah jumlah malaikat,
semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan, betapa besar kebaikan yang
diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!
Meski demikian,
patut untuk dipahami bahwa kefasihan dan kepandaian mengolah kata-kata bukanlah
syarat dalam berdakwah di jalan Allah. Mari kita lihat contoh dari seorang Nabi
kita yang mulia, Musa alaihissallam.
Beliau mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan kepada umatnya, khususnya
kepada Fir’aun yang terkenal kejam dan jauh lebih fasih dalam berbicara dibandingkan
Musa alaihissallam. Allah berfirman
menyebutkan perkataan Fir’aun saat
Musa mendakwahinya, “Bukankah aku lebih
baik daripada orang yang hina ini (Musa) dan yang hampir tidak dapat
menjelaskan (perkataannya)?” (QS. az-Zukhruf:52). Karena kesulitan dalam berbicara, Musa kemudian berdoa kepada Allah, “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha: 27-28). Kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Musa alaihissallam untuk menyampaikan risalah Rabbnya. Hasilnya,
pengikut Nabi Musa alaihissallam
merupakan umat terbesar kedua setelah ummat Nabi Muhammad. Ingatlah pesan Allah
kepada kita semua, “Kami tiada membebani
seseorang melainkan menurut kesanggupannya” (QS. al-Mu’minun :62).
Olehnya, berdakwah
di jalan Allah, tidak hanya terbatas pada pemberian nasehat di atas mimbar.
Dakwah bukan hanya ceramah. Dakwah adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan
dengan ikhlas untuk mendorong manusia melakukan kebaikan dan meninggalkan
berbagai keburukan.
Begitupula, dakwah
bukan hanya kewajiban pada ustadz, kyai, atau ulama. Dakwah adalah kewajiban
seluruh umat Islam. Apalagi jika dikaitkan dengan amar ma’ruf nahyi munkar, maka setiap kita dituntut untuk
melaukukannya. Rasulullah bersabda, “Siapa
saja yang melihat kemungkaran, wajib untuk orang itu mengubah kemunkaran itu
dengan tangannya, apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, apabila tidak
mampu, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim). Dari hadits ini, umat Islam wajib berdakwah
sekurang-kurangnya dengan hatinya, seperti memperlihatkan ketidaksetujuan,
tidak ikut campur, atau mengupayakan usaha agar kemungkaran bisa hilang.
Perbuatan atau
akhlak baik yang kita lakukan kepada orang lain, hingga dapat menarik simpati
hati orang lain kepada kita, juga adalah bagian dari dakwah. Nabi kita adalah
seorang da’i teladan yang tercermin dalam akhlak dan pergaulannya. Dahulu ada
seorang pemuda Yahudi yang menjadi pembantu Nabi. Pada suatu hari, dia sakit,
lalu Nabi menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya, seraya berkata, yang
artinya, “Masuk Islamlah kamu!’ Si pemuda tadi menoleh ke ayahnya. Sang ayah
berkata, “Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad)! Lalu pemuda tersebut masuk Islam.
Lalu Nabi keluar dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah)
yang telah menyelamatkannya dari api neraka” (HR. Bukhari).
Jika lisan kita
mungkin tak mampu untuk merangkai kata dalam dakwah lisan, maka dengan harta
yang kita miliki, kita pun bisa memberikan andil dalam dakwah kepada Allah dan
agama-Nya. Kita bisa belajar dari sejarah sahabat Rasulullah, bagaimana mereka
menginfakkan hartanya dalam dakwah. Utsman tak segan berinfak 100 ekor unta.
Abu Bakar mengambil keputusan “berani” dengan menyerahkan seluruh hartanya
kepada Rasulullah. Umar sendiri tak ketinggalan dengan menyerahkan sebagian
harta demi kepentingan jihad fisabilillah. Miskinkah para sahabat? Tidak. Bahkan sejarah mencatat para di antara para
sahabat adalah orang-orang yang kaya. Mereka memahami betul, firman Allah, “Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di
jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik“ (QS. al-Baqarah : 195).
Setiap kita bisa
berkontribusi dalam dakwah. Setiap potensi yang Allah berikan adalah
corong-corong dakwah bagi kita. Bagi kita yang diberi kemampuan untuk merangkai
kata dalam kalimat-kalimat yang bijak dalam sebuah tulisan atau artikel, maka
manfaatkan kelebihan itu untuk mengajak manusia kepada kebaikan melalui tulisan.
Bagi kita yang diberi kekuasaan dan jabatan, maka manfaatkan kekuasaan tersebut
agar seluruh bawahan menjadi lebih baik dan taat kepada Rabb-Nya. Bagi kita yang
diberi kelebihan dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi, maka jadikan
segala perangkatnya sebagai media bagi manusia untuk memperoleh kebaikan.
Sekedar mengirimkan pesan-pesan kebaikan melalui alat-alat teknologi juga
adalah dakwah.
Namun yang perlu
diingat adalah bahwa dakwah itu harus ikhlas dan dilandasi dengan ilmu. Imam
Ibnu al-Qayyim rahimahullah
berkata, “Apabila dakwah adalah jalan paling agung dan mulia yang dilalui oleh
seorang hamba, maka jalan tersebut haruslah ditempuh dengan bekal ilmu. Yaitu
ilmu tentang visi dan misi dakwah tersebut. Oleh karena itu, agar kesempurnaan
dakwah dapat terealisasi, maka dibutuhkan ilmu yang memadai dalam menitinya”
(Miftah Dar
as-Sa’adah: 3/365).
Bagi setiap kita
yang memilih menjadi da’i penyeru umat kepada kebaikan, maka selayaknya kita
menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Ketaatan kepada Allah merupakan cahaya
yang terpancar dalam dada yang dapat menggerakkan hati para hamba untuk
menyambut panggilan dakwah kita. Oleh karena itu, bagi para da’i, perbanyaklah
beribadah dan merendahkan diri di hadapan Allah. Hendaknya para da’i
memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an serta menghidupkan shalat malam. Jika
hati bersih, maka ia akan memancarkan pengaruh yang baik dalam tingkah laku.
Dakwah adalah pekerjaan
kita bersama. Kaum muslimin wajib untuk selalu bahu-membahu, tolong-menolong
dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Mengapa? Karena perpecahan dan
perselisihan hanya melahirkan kedengkian dan permusuhan serta kelemahan, yang
membuat musuh-musuh Islam tertawa gembira. Di mata non-muslim, kaum muslimin
adalah gambaran nyata agama Islam itu sendiri. Perilaku kaum muslimin bisa
menjadi daya tarik minat orang untuk memeluk Islam, atau sebaliknya, membuat
lari dan benci terhadap Islam.
Oleh karena itu,
hendaknya kaum muslimin bersatu dalam aqidah Islam yang benar yang bersumber
dari al-Qur’an dan sunnah. Itulah sumber kebaikan dan kebahagiaan, sementara
perpecahan dan perselisihan adalah pangkal kekalahan dan awal kehinaan. Allah
berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan
Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah” (QS. al-Anfal :46). Apalagi, telah berlaku sunatullah bahwa pelaku maksiat
itu lebih banyak jumlahnya dibanding orang-orang yang taat, sebagaimana
firman-Nya, “Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. al-Maidah:49).
Juga firman-Nya, “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (QS. Hud:17). Maka, persatuan menjadi mutlak untuk menjadi kuat.
Ingat, dakwah itu
menyampaikan. Hidayah taufiq di tangan Allah. Bukan kewajiban kita untuk
menjadikan manusia mendapat petunjuk berupa taufiq. Melainkan Allah-lah yang
memberikannya kepada yang Ia kehendaki. Sampaikan saja. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi
petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau
menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash: 56).
Tidak perlu risau jika
ternyata dakwah kita sepi dengan penerimaan. Belajarlah dari sejarah para Nabi
dan penyeru-penyeru kebaikan terdahulu. Nabi kita mengabarkan hal kepada kita
dalam sabdanya, “Telah diperlihatkan
kepadaku umat-umat yang terdahulu , maka aku melihat seorang Nabi bersama
beberapa orang pengikutnya, dan seorang Nabi bersama seorang dan dua orang
pengikutnya, dan ada Nabi yang sama sekali tidak punya pengikut” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya, mari
berkontribusi dalam dakwah. Apapun dan sekecil apapun itu. Jika ia diniatkan
dengan ikhlas dan menurut cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat,
maka ia adalah dakwah. Lakukanlah!
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar