Desember 02, 2017

Dakwah Tak Harus Ceramah

Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (risalah) kepada seluruh umat manusia. Risalah yang beliau bawa ini akan kekal sampai hari kiamat dan menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah menyampaikan risalah Rabbnya kepada kaum muslimin sebagai misi diutusnya beliau sebagai Rasul. Allah berfirman, “Hai nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi” (QS. al-Ahzab : 45-46). Misi dalam perintah berdakwah ini diulang beberapa kali dalam al-Qur’an. Ini adalah indikasi kuat akan keagungan misi tersebut. Allah berfirman, “Dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus” (QS. al-Hajj :67). Juga firman-Nya, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” (QS. ar-Ra’d :36).


Allah juga telah memerintahkan kepada seluruh manusia secara umum untuk melaksanakan misi tersebut. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan(QS. Ali Imran : 104). Dan atas dasar ini, sudah sepatutnya setiap pengikut Rasulullah untuk mencontoh beliau dalam mengajak kepada keimanan dan tauhid serta mengamalkan syari’at-syari’at Allah.

Ingatlah, amalan terbaik dan tertinggi di sisi Allah adalah berusaha untuk membimbing manusia dari kegelapan menuju kepada petunjuk Allah. Ucapan seorang da’i atau penyeru kebaikan saat ia berdakwah di jalan Allah adalah ucapan terbaik di sisi Allah. Dia berfirman,“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh, dan mengatakan, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri” (QS. Fush-shilat :33).

Tidak hanya itu, setiap amal yang dilakukan oleh orang yang mendapat petunjuk melalui seorang da’i maka si da’i senantiasa mendapat bagian pahala darinya tanpa mengurangi pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut sedikitpun. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang tersebut” (HR. Muslim).

Keutamaan besar lainnya, apa yang dipetik oleh seorang da’i dari dakwahnya lebih baik daripada perhiasan dunia, dan menjadi sebab seluruh makhluk mendoakan kebaikan bagi para pendakwah.  Nabi bersabda, “Demi Allah! Allah Azza wa Jalla memberikan petunjuk (hidayah) kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu lebih baik bagimu daripada kamu mendapatkan unta merah (barang yang sangat berharga)” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili). Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan, betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!

Meski demikian, patut untuk dipahami bahwa kefasihan dan kepandaian mengolah kata-kata bukanlah syarat dalam berdakwah di jalan Allah. Mari kita lihat contoh dari seorang Nabi kita yang mulia, Musa alaihissallam. Beliau mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan kepada umatnya, khususnya kepada Fir’aun yang terkenal kejam dan jauh lebih fasih dalam berbicara dibandingkan Musa alaihissallam. Allah berfirman menyebutkan perkataan Fir’aun saat Musa mendakwahinya, “Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini (Musa) dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (QS. az-Zukhruf:52). Karena kesulitan dalam berbicara, Musa kemudian berdoa kepada Allah, “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha: 27-28). Kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Musa alaihissallam untuk menyampaikan risalah Rabbnya. Hasilnya, pengikut Nabi Musa alaihissallam merupakan umat terbesar kedua setelah ummat Nabi Muhammad. Ingatlah pesan Allah kepada kita semua, “Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya” (QS. al-Mu’minun :62).

Olehnya, berdakwah di jalan Allah, tidak hanya terbatas pada pemberian nasehat di atas mimbar. Dakwah bukan hanya ceramah. Dakwah adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendorong manusia melakukan kebaikan dan meninggalkan berbagai keburukan.

Begitupula, dakwah bukan hanya kewajiban pada ustadz, kyai, atau ulama. Dakwah adalah kewajiban seluruh umat Islam. Apalagi jika dikaitkan dengan amar ma’ruf nahyi munkar, maka setiap kita dituntut untuk melaukukannya. Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang melihat kemungkaran, wajib untuk orang itu mengubah kemunkaran itu dengan tangannya, apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim). Dari hadits ini, umat Islam wajib berdakwah sekurang-kurangnya dengan hatinya, seperti memperlihatkan ketidaksetujuan, tidak ikut campur, atau mengupayakan usaha agar kemungkaran bisa hilang.

Perbuatan atau akhlak baik yang kita lakukan kepada orang lain, hingga dapat menarik simpati hati orang lain kepada kita, juga adalah bagian dari dakwah. Nabi kita adalah seorang da’i teladan yang tercermin dalam akhlak dan pergaulannya. Dahulu ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pembantu Nabi. Pada suatu hari, dia sakit, lalu Nabi menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya, seraya berkata, yang artinya, “Masuk Islamlah kamu!’ Si pemuda tadi menoleh ke ayahnya. Sang ayah berkata, “Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad)! Lalu pemuda tersebut masuk Islam. Lalu Nabi keluar dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah) yang telah menyelamatkannya dari api neraka” (HR. Bukhari).

Jika lisan kita mungkin tak mampu untuk merangkai kata dalam dakwah lisan, maka dengan harta yang kita miliki, kita pun bisa memberikan andil dalam dakwah kepada Allah dan agama-Nya. Kita bisa belajar dari sejarah sahabat Rasulullah, bagaimana mereka menginfakkan hartanya dalam dakwah. Utsman tak segan berinfak 100 ekor unta. Abu Bakar mengambil keputusan “berani” dengan menyerahkan seluruh hartanya kepada Rasulullah. Umar sendiri tak ketinggalan dengan menyerahkan sebagian harta demi kepentingan jihad fisabilillah. Miskinkah para sahabat? Tidak.  Bahkan sejarah mencatat para di antara para sahabat adalah orang-orang yang kaya. Mereka memahami betul, firman Allah, “Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“ (QS. al-Baqarah : 195).

Setiap kita bisa berkontribusi dalam dakwah. Setiap potensi yang Allah berikan adalah corong-corong dakwah bagi kita. Bagi kita yang diberi kemampuan untuk merangkai kata dalam kalimat-kalimat yang bijak dalam sebuah tulisan atau artikel, maka manfaatkan kelebihan itu untuk mengajak manusia kepada kebaikan melalui tulisan. Bagi kita yang diberi kekuasaan dan jabatan, maka manfaatkan kekuasaan tersebut agar seluruh bawahan menjadi lebih baik dan taat kepada Rabb-Nya. Bagi kita yang diberi kelebihan dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi, maka jadikan segala perangkatnya sebagai media bagi manusia untuk memperoleh kebaikan. Sekedar mengirimkan pesan-pesan kebaikan melalui alat-alat teknologi juga adalah dakwah.

Namun yang perlu diingat adalah bahwa dakwah itu harus ikhlas dan dilandasi dengan ilmu. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata,  “Apabila dakwah adalah jalan paling agung dan mulia yang dilalui oleh seorang hamba, maka jalan tersebut haruslah ditempuh dengan bekal ilmu. Yaitu ilmu tentang visi dan misi dakwah tersebut. Oleh karena itu, agar kesempurnaan dakwah dapat terealisasi, maka dibutuhkan ilmu yang memadai dalam menitinya(Miftah Dar as-Sa’adah: 3/365).

Bagi setiap kita yang memilih menjadi da’i penyeru umat kepada kebaikan, maka selayaknya kita menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Ketaatan kepada Allah merupakan cahaya yang terpancar dalam dada yang dapat menggerakkan hati para hamba untuk menyambut panggilan dakwah kita. Oleh karena itu, bagi para da’i, perbanyaklah beribadah dan merendahkan diri di hadapan Allah. Hendaknya para da’i memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an serta menghidupkan shalat malam. Jika hati bersih, maka ia akan memancarkan pengaruh yang baik dalam tingkah laku.

Dakwah adalah pekerjaan kita bersama. Kaum muslimin wajib untuk selalu bahu-membahu, tolong-menolong dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Mengapa? Karena perpecahan dan perselisihan hanya melahirkan kedengkian dan permusuhan serta kelemahan, yang membuat musuh-musuh Islam tertawa gembira. Di mata non-muslim, kaum muslimin adalah gambaran nyata agama Islam itu sendiri. Perilaku kaum muslimin bisa menjadi daya tarik minat orang untuk memeluk Islam, atau sebaliknya, membuat lari dan benci terhadap Islam.

Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin bersatu dalam aqidah Islam yang benar yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah. Itulah sumber kebaikan dan kebahagiaan, sementara perpecahan dan perselisihan adalah pangkal kekalahan dan awal kehinaan. Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah” (QS. al-Anfal :46). Apalagi, telah berlaku sunatullah bahwa pelaku maksiat itu lebih banyak jumlahnya dibanding orang-orang yang taat, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. al-Maidah:49). Juga firman-Nya, “Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (QS. Hud:17). Maka, persatuan menjadi mutlak untuk menjadi kuat.

Ingat, dakwah itu menyampaikan. Hidayah taufiq di tangan Allah. Bukan kewajiban kita untuk menjadikan manusia mendapat petunjuk berupa taufiq. Melainkan Allah-lah yang memberikannya kepada yang Ia kehendaki. Sampaikan saja. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash: 56).

Tidak perlu risau jika ternyata dakwah kita sepi dengan penerimaan. Belajarlah dari sejarah para Nabi dan penyeru-penyeru kebaikan terdahulu. Nabi kita mengabarkan hal kepada kita dalam sabdanya, “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat yang terdahulu , maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang pengikutnya, dan seorang Nabi bersama seorang dan dua orang pengikutnya, dan ada Nabi yang sama sekali tidak punya pengikut (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, mari berkontribusi dalam dakwah. Apapun dan sekecil apapun itu. Jika ia diniatkan dengan ikhlas dan menurut cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat, maka ia adalah dakwah. Lakukanlah!

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...