Maret 09, 2017

Menjadi Tamu dan Tuan Rumah (Bag. 2 - Selesai)

Melengkapi pembahasan tentang tuntunan menjadi tamu yang baik pada edisi yang lalu, edisi kali ini akan memaparkan secara ringkas tuntunan Islam ketika kita menjadi tuan rumah dalam rangka memuliakan tamu. Hal ini juga penting untuk dibahas, mengingat sikap ini, (yaitu) memuliakan tamu, adalah bagian dari keimanan kita kepada Allah I dan hari akhir. Rasulullah r bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya (tetangga dan tamu).”


Hal ini merupakan bukti kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat manusia. Abu Dzar Al-Ghifari t berkata, “Rasulullah telah meninggalkan kita dalam keadaan tiada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah ilmunya kepada kita”. Rasulullah r  bersabda, “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada al-jannah (surga) dan menjauhkan dari an-naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya” (HR. Thabrani).

Makna perkataan shahabat Abu Dzar Al-Ghifari t di atas adalah bahwa seluruh perkara agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah r dengan sempurna sampai perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya Islam merupakan agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakannya.

Mulianya Memuliakan Tamu

Memuliakan tamu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Betapa tidak, dalam hadits di atas, Allah I  memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, bahwa perkara pemuliaan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah I  dan Hari Akhir. Padahal tidak diragukan lagi bahwa keimanan kepada Allah dan Hari Akhir merupakan bagian dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai keimanannya kepada Allah dan Hari Akhir. Dan sebaliknya, manakala ia kurang perhatian (meremehkan) dalam menjamu tamu, maka ini pertanda kurang sempurnanya nilai iman kepada Allah dan Hari Akhir.

Hukum Menjamu Tamu

Di bagian awal pembahasan ini, kita perlu memahami bagaimana hukum menjamu tamu sesuai tuntunan Islam. Terdapat beberapa pendapat di antara para ulama tentang hukumnya:

Pertama, hukumnya adalah sunnah bukan wajib. Ini merupakan pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy-Syafi’I rahimahumullah. Tetapi perlu dipahami bahwa “sunnah” menurut mereka di sini adalah perkara yang sangat pantas untuk dikerjakan.

Kedua, hukumnya adalah wajib. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan ulama lainnya. Mereka berdalil dengan hadits Abu Syuraih Al-Adawi t , dimana Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu “jaizah”-nya. Para shahabat bartanya apa yang dimaksud dengan “jaizah” itu? Rasulullah menjawab: “jaizah” itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah sahadaqah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pendapat kedua ini terbagi menjadi dua pendapat; pertama adalah wajib satu hari saja adapun selebihnya shadaqah, sedangkan pendapat kedua adalah wajib selama tiga hari adapun selebihnya shadaqah. Imam Ibnu Rajab rahimahullah memilih pendapat pertengahan antara kedua pendapat tersebut. Yaitu; hukum menjamu tamu adalah tidaklah wajib kecuali bagi orang yang mampu memberikan jamuan kepada tamu. Beliau berhujjah (berdalil) dengan hadits Sulaiman t , beliau berkata, “Rasulullah melarang kami memberat-beratkan diri dalam menjamu tamu dari sesuatu yang diluar kemampuan” (HR. Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Pelajaran dari Kisah Para Nabi dan Orang Shalih dalam Memuliakan Tamu

Sungguh Allah I  telah menyebutkan kisah-kisah mulia di dalam al-Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi kita semua. Allah I  berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111).

Allah I  telah memberitakan tentang kisah Nabi Ibrahim u bersama tamunya. Ketika Allah I  memberitakan kepadanya akan kelahiran seorang anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah mengutus para Malaikat untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau u. Allah I berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal". Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan kalian makan"  (QS. Adz-Dzariyat: 24-27).

Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:

Pertama, menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim u. Rasulullah r dan umatnya diperintahkan untuk mengikuti millah-nya tersebut. Sebagaimana firman-Nya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad ); Ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (QS. An-Nahl: 123).

Kedua, bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim u, beliau bersegera untuk mendatangi keluarganya dan mempersiapkan hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada tamunya. Perintah untuk bersegera dalam beramal ini juga merupakan tuntunan Islam. Rasulullah r bersabda, “Bersegeralah dalam beramal(HR. Muslim).

Ketiga, menjawab salam dengan yang terbaik. Pelajaran mulia ini letaknya di bagian mana? Jika kita memiliki wawasan tentang ilmu Nahwu atau ilmu yang mempelajari tentang kaidah bahasa Arab, maka kita akan mengetahui pelajaran yang terselip dalam beberapa kata atau kalimat dalam ayat ini. Namun jika tidak, marilah kita simak penjelasan berikut.

Dalam ayat di atas, para Malaikat tersebut bertamu ke rumah Ibrahim u dengan mengucapkan salam dengan kata “salaman”, yang berarti selamat kepada Ibrahim u. Salam para Malaikat tersebut kemudian dijawab oleh Ibrahim u dengan kata “salamun” yang berarti selamatlah. Ibrahim u menjawab salam mereka dengan ungkapan kata “salamun” dimana kata tersebut menggunakan harakat dhammah (rafa’) atau berbunyi “u”, sementara pada salam Malaikat menggunakan kata “salaman” dimana kata tersebut menggunakan harakat fat-hah (nashab) atau berbunyi “a”. Dalam kaidah ilmu Nahwu, penggunaan dhammah pada bentuk rafa’ itu lebih kuat dan lebih permanen daripada penggunaan fat-hah pada bentuk nashab. Hal itu menunjukkan bahwa Ibrahim u  membalas salam para Malaikat dengan salam yang lebih baik. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam surah An-Nisaa ayat 86, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.

Pelajaran ini juga dicontohkan oleh Nabi kita yang mulia, Muhammad r . Diriwayatkan dari Ibnu Abbas t, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi r, beliau r mengucakpan selamat datang kepadanya dengan berkata,  “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal(HR. Bukhari).

Keempat, menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik. Sebagaimana yang dicontohkan Ibrahim u ketika menghidangkan daging anak sapi yang gemuk  kepada para tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan hidangan daging anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan makanan yang sangat lezat dan paling baik di zaman itu.

Kelima, meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya. Allah menyatakannya dalam firmanNya, “(kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan itu kepada mereka)”. Tidaklah Ibrahim meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut.

Keenam, menyambut atau mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan baik. Dalam ayat tersebut, Ibrahim u mengatakan, “keselamatan atas orang-orang yang tidak dikenal” dan tidak mengatakan “keselamatan atas kalian, kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Dan kalimat pertama lebih sopan dan lebih baik daripada yang kedua. Ibrahim u juga mengatakan ketika menghidangkan makanannya, “silahkan kalian makan” dan tidak mengatakan “makanlah”. Menggunakan lafadz “silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.

Selain dari Nabi Ibrahim u, terdapat pula pelajaran dari Nabi Luth u ketika beliau menjamu tamunya. Nabi Luth u mencontohkan adab terhadap tamunya dengan menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth u ketika datang kepada beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya. Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau dan mereka hendak berbuat liwath (homoseks) terhadapnya karena kaum Nabi Luth u adalah kaum yang telah biasa melakukan kemungkaran ini (liwath), suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka bumi ini sebelumnya. Maka Nabi Luth u pun berupaya untuk menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan surat Al-Hijr ayat 67-71.

Demikian pula praktek para shahabat Rasulullah r dalam menyambut dan menjamu tamu, sangatlah patut dijadikan uswah atau tauladan bagi umat Islam. Tahukah kita siapakah shahabat Anshar? Shahabat Anshar adalah para shahabat yang tinggal di negeri Madinah yang siap membela dakwah nabi Muhammad . Mereka pulalah orang-orang yang dijadikan Allah sebagai uswah dalam menyambut atau menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat yang berhijrah dari Makkah dan yang lainnya menuju Madinah) telah sampai di kota Madinah, para shahabat Anshar berlomba-lomba untuk menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada kebutuhan diri mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah abadikan di dalam al-Qur’an sebagai tanda kebersihan dan kejujuran iman para shahabat Rasulullah r dan sekaligus sebagai uswah bagi generasi sesudahnya, sebagaimana firmanNya, “dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka dari apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin. Bahkan mereka lebih mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri.(QS. Al-Hasyr: 9).

Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah, “Menjamu dan memuliakan tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlak para nabi dan orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim).

Oleh karena itu, mari meraup pahala dan keutamaan dalam setiap kesempatan yang ada, sekecil apa pun itu. Kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Bisa jadi, secangkir teh panas yang kita suguhkan dengan ikhlas kepada tamu kita, itulah yang menjadikan Allah mengasihi kita untuk menikmati secangkir air madu di telaga surgaNya kelak. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...