Melengkapi pembahasan tentang tuntunan menjadi tamu yang baik pada
edisi yang lalu, edisi kali ini akan memaparkan secara ringkas tuntunan Islam ketika
kita menjadi tuan rumah dalam rangka memuliakan tamu. Hal ini juga penting untuk
dibahas, mengingat sikap ini, (yaitu) memuliakan tamu, adalah bagian dari
keimanan kita kepada Allah I dan hari akhir. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah
mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah bahwa barangsiapa yang berupaya
untuk menjalankan syari’at Islam, maka wajib bagi dia untuk memuliakan tamunya,
serta berbuat baik kepada keduanya (tetangga dan tamu).”
Hal ini merupakan bukti kesempurnaan dan rahmat Islam terhadap umat
manusia. Abu Dzar Al-Ghifari t berkata, “Rasulullah telah meninggalkan
kita dalam keadaan tiada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara
melainkan pasti telah dijelaskan oleh Rasulullah ilmunya kepada kita”.
Rasulullah r bersabda, “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada al-jannah
(surga) dan menjauhkan dari an-naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada
kalian semuanya” (HR. Thabrani).
Makna perkataan shahabat Abu Dzar Al-Ghifari t di atas adalah bahwa
seluruh perkara agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah r dengan sempurna sampai
perkara yang sekecil-kecilnya. Apalagi perkara tamu, tentunya Islam merupakan
agama yang terdepan dan paling sempurna dalam memuliakannya.
Mulianya Memuliakan Tamu
Memuliakan tamu merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dalam
Islam. Betapa tidak, dalam hadits di atas, Allah I memberitakan lewat lisan Rasul-Nya yang
mulia, bahwa perkara pemuliaan tamu berkaitan dengan kesempurnaan iman
seseorang kepada Allah I dan Hari Akhir. Padahal tidak
diragukan lagi bahwa keimanan kepada Allah dan Hari Akhir merupakan bagian dari
enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap pribadi muslim. Sehingga salah
satu tanda kesempurnaan iman seseorang bisa diketahui dari sikapnya kepada
tamunya. Semakin baik ia menyambut dan menjamu tamu semakin tinggi pula nilai
keimanannya kepada Allah dan Hari Akhir. Dan sebaliknya, manakala ia kurang
perhatian (meremehkan) dalam menjamu tamu, maka ini pertanda kurang sempurnanya
nilai iman kepada Allah dan Hari Akhir.
Hukum Menjamu Tamu
Di bagian awal pembahasan ini, kita perlu memahami bagaimana hukum
menjamu tamu sesuai tuntunan Islam. Terdapat beberapa pendapat di antara para
ulama tentang hukumnya:
Pertama, hukumnya adalah sunnah bukan wajib. Ini merupakan pendapat
jumhur (kebanyakan) ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam
Asy-Syafi’I rahimahumullah. Tetapi
perlu dipahami bahwa “sunnah” menurut mereka di sini adalah perkara yang sangat
pantas untuk dikerjakan.
Kedua, hukumnya adalah wajib. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan
ulama lainnya. Mereka berdalil dengan hadits Abu Syuraih Al-Adawi t , dimana Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu “jaizah”-nya. Para shahabat
bartanya apa yang dimaksud dengan “jaizah” itu? Rasulullah menjawab: “jaizah”
itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa
dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari
adapun selebihnya adalah sahadaqah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pendapat kedua ini terbagi menjadi dua pendapat; pertama adalah wajib
satu hari saja adapun selebihnya shadaqah, sedangkan pendapat kedua adalah
wajib selama tiga hari adapun selebihnya shadaqah. Imam Ibnu Rajab rahimahullah memilih pendapat
pertengahan antara kedua pendapat tersebut. Yaitu; hukum menjamu tamu adalah
tidaklah wajib kecuali bagi orang yang mampu memberikan jamuan kepada tamu.
Beliau berhujjah (berdalil) dengan hadits Sulaiman t , beliau berkata, “Rasulullah melarang kami memberat-beratkan
diri dalam menjamu tamu dari sesuatu yang diluar kemampuan” (HR.
Bukhari, Ahmad dan lainnya).
Pelajaran dari Kisah Para
Nabi dan Orang Shalih dalam Memuliakan Tamu
Sungguh Allah I telah menyebutkan kisah-kisah
mulia di dalam al-Qur’an, yang demikian itu tidak lain sebagai pelajaran bagi
kita semua. Allah I berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.
Yusuf: 111).
Allah I telah memberitakan tentang
kisah Nabi Ibrahim u bersama tamunya. Ketika Allah I memberitakan kepadanya akan kelahiran seorang
anak yang ‘alim yang bernama Ishaq, Allah mengutus para Malaikat untuk
menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau u. Allah I berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita
tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah)
ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman".
Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak
dikenal". Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian
dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim
lalu berkata: "Silahkan kalian makan" (QS. Adz-Dzariyat:
24-27).
Dari kisah yang mulia tersebut, kita bisa memetik beberapa pelajaran
yang sangat berharga, di antaranya:
Pertama, menjamu dan memuliakan tamu merupakan millah (agama, petunjuk) Nabi Ibrahim u. Rasulullah r dan umatnya diperintahkan
untuk mengikuti millah-nya tersebut.
Sebagaimana firman-Nya, “Kemudian Kami
wahyukan kepadamu (Muhammad ); Ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan dia
bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat syirik.” (QS.
An-Nahl: 123).
Kedua, bersegera dalam menyambut dan menjamu tamu. Sebagaimana yang
dilakukan oleh Ibrahim u, beliau bersegera untuk mendatangi keluarganya dan mempersiapkan
hidangan untuk menjamu tamunya tersebut, tanpa harus menawari dulu kepada
tamunya. Perintah untuk bersegera dalam beramal ini juga merupakan tuntunan
Islam. Rasulullah r bersabda, “Bersegeralah dalam
beramal “ (HR. Muslim).
Ketiga, menjawab salam dengan yang terbaik. Pelajaran mulia ini
letaknya di bagian mana? Jika kita memiliki wawasan tentang ilmu Nahwu atau
ilmu yang mempelajari tentang kaidah bahasa Arab, maka kita akan mengetahui
pelajaran yang terselip dalam beberapa kata atau kalimat dalam ayat ini. Namun
jika tidak, marilah kita simak penjelasan berikut.
Dalam ayat di atas, para Malaikat tersebut bertamu ke rumah Ibrahim u dengan mengucapkan salam
dengan kata “salaman”, yang berarti
selamat kepada Ibrahim u. Salam para Malaikat tersebut kemudian dijawab oleh Ibrahim u dengan kata “salamun” yang berarti selamatlah.
Ibrahim u menjawab salam mereka dengan ungkapan kata “salamun” dimana kata tersebut menggunakan harakat dhammah (rafa’) atau berbunyi “u”, sementara pada salam Malaikat menggunakan
kata “salaman” dimana kata tersebut
menggunakan harakat fat-hah (nashab) atau berbunyi “a”. Dalam kaidah
ilmu Nahwu, penggunaan dhammah pada
bentuk rafa’ itu lebih kuat dan lebih
permanen daripada penggunaan fat-hah
pada bentuk nashab. Hal itu
menunjukkan bahwa Ibrahim u membalas salam para Malaikat
dengan salam yang lebih baik. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam surah
An-Nisaa ayat 86, “Apabila kamu dihormati
dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan (salam) itu
dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu”.
Pelajaran ini juga dicontohkan oleh Nabi kita yang mulia, Muhammad r . Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas t, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi r, beliau r mengucakpan selamat
datang kepadanya dengan berkata, “Selamat datang kepada para utusan yang
datang tanpa merasa terhina dan menyesal” (HR. Bukhari).
Keempat, menghidangkan kepada tamu dengan hidangan yang paling baik.
Sebagaimana yang dicontohkan Ibrahim u ketika menghidangkan
daging anak sapi yang gemuk kepada para
tamunya. Dan dalam ayat yang lain di dalam surat Hud dengan hidangan daging
anak sapi yang dipanggang. Makanan ini (daging anak sapi yang dipanggang) merupakan
makanan yang sangat lezat dan paling baik di zaman itu.
Kelima, meletakkan hidangan tersebut di dekat tamunya. Allah
menyatakannya dalam firmanNya, “(kemudian
Ibrahim mendekatkan hidangan itu kepada mereka)”. Tidaklah Ibrahim
meletakkan hidangan tersebut jauh dari tempat para tamunya, dan tentunya hal
ini lebih memudahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangan tersebut.
Keenam, menyambut atau mengajak bicara dengan bahasa yang sopan dan
baik. Dalam ayat tersebut, Ibrahim u mengatakan, “keselamatan
atas orang-orang yang tidak dikenal” dan tidak mengatakan “keselamatan atas
kalian, kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Dan kalimat pertama
lebih sopan dan lebih baik daripada yang kedua. Ibrahim u juga mengatakan ketika
menghidangkan makanannya, “silahkan kalian makan” dan tidak mengatakan
“makanlah”. Menggunakan lafadz “silahkan” atau yang semisalnya itu lebih sopan
dan lebih baik pula daripada kalimat yang kedua.
Selain dari Nabi Ibrahim u, terdapat pula pelajaran
dari Nabi Luth u ketika beliau menjamu tamunya. Nabi Luth u mencontohkan adab
terhadap tamunya dengan menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari hal-hal
yang bisa memudharatkannya. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Luth u ketika datang kepada
beliau para Malaikat yang menjelma sebagai tamu yang sangat tampan wajahnya.
Kedatangan tamu-tamu tersebut mengundang fitnah terhadap kaum beliau dan mereka
hendak berbuat liwath (homoseks)
terhadapnya karena kaum Nabi Luth u adalah kaum yang telah
biasa melakukan kemungkaran ini (liwath),
suatu kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh seorang manusia pun di muka
bumi ini sebelumnya. Maka Nabi Luth u pun berupaya untuk
menjaga dan melindungi tamunya tersebut dari kekejian yang hendak dilakukan
oleh kaumnya tersebut. Kisah ini bisa dilihat dalam surat Hud ayat 77-83 dan
surat Al-Hijr ayat 67-71.
Demikian pula praktek para shahabat Rasulullah r dalam menyambut dan
menjamu tamu, sangatlah patut dijadikan uswah atau tauladan bagi umat Islam. Tahukah
kita siapakah shahabat Anshar? Shahabat Anshar adalah para shahabat yang
tinggal di negeri Madinah yang siap membela dakwah nabi Muhammad . Mereka
pulalah orang-orang yang dijadikan Allah sebagai uswah dalam menyambut atau
menjamu tamu. Ketika para Muhajirin (para shahabat yang berhijrah dari Makkah
dan yang lainnya menuju Madinah) telah sampai di kota Madinah, para shahabat
Anshar berlomba-lomba untuk menyambut dan menjamu mereka dengan sebaik-baiknya.
Bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan kaum Muhajirin daripada
kebutuhan diri mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka sendiri pun sangat
membutuhkannya. Sehingga kisah ini Allah abadikan di dalam al-Qur’an sebagai
tanda kebersihan dan kejujuran iman para shahabat Rasulullah r dan sekaligus sebagai
uswah bagi generasi sesudahnya, sebagaimana firmanNya, “dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka dari apa yang
diberikan kepada kaum Muhajirin. Bahkan mereka lebih mengutamakan kaum
Muhajirin atas diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah, “Menjamu dan memuliakan
tamu adalah termasuk adab dalam Islam dan merupakan akhlak para nabi dan
orang-orang shalih.” (Syarh Shahih Muslim).
Oleh karena itu, mari meraup pahala dan keutamaan dalam setiap
kesempatan yang ada, sekecil apa pun itu. Kita tidak pernah tahu, kebaikan mana
yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Bisa jadi, secangkir teh panas
yang kita suguhkan dengan ikhlas kepada tamu kita, itulah yang menjadikan Allah
mengasihi kita untuk menikmati secangkir air madu di telaga surgaNya kelak.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar