Februari 27, 2016

Shalat Sunnah Rawatib (1)

Hiruk pikuk dunia seringkali melalaikan kita dari perkara-perkara utama. Kesibukan dan tuntutan hidup yang tinggi kerap menjadi alasan untuk meninggalkan perkara-perkara mulia. Tak pelak, sebagian kita akhirnya meninggalkan ibadah-ibadah tambahan yang sejatinya dapat menjadi pelengkap ibadah wajibnya. Sementara, ibadah wajib kita sendiri juga seringkali cacat dan kurang adabnya. Apalagi, sebagian kita beralasan bahwa ibadah-ibadah tambahan itu sendiri toh adalah sunnah (bukan wajib), sehingga jika ditinggalkan, misalnya karena kesibukan, juga tidak berdosa. Ya, di satu sisi, alasan bisa dibenarkan juga. Namun di sisi lain, sengaja meninggalkannya (apalagi meremehkannya) secara berulang-ulang atau terus menerus, tentu saja hal ini adalah kerugian yang nyata. 

Februari 19, 2016

Berani Jujur, Hebat!

Berani jujur, hebat. Begitulah slogan sebuah lembaga pemerintah yang bertugas khusus dalam pengentasan ketidakjujuran (baca:korupsi) di negeri ini. Betapa tidak, ketika ketidakjujuran dan kedustaan telah menjadi suatu hal yang lumrah, ketika ketidakjujuran dan kedustaan diumbar tanpa rasa bersalah dan takut akan ganjaran dosa, maka munculnya segelintir orang yang mampu jujur dalam kondisi itu adalah pantas menjadi orang hebat dan luar biasa. Hebat di mata manusia, terlebih di mata Sang Pencipta, Allah I.

Islam adalah agama yang mulia. Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk selalu jujur dalam setiap keadaannya. Islam juga mengharamkan dan mencela ketidakjujuran dan dusta.

Allah I berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah: 119). 

Februari 11, 2016

Bahaya LGBT

Kaum LGBT (Lesbian, Gay/Homoseksual, Biseksual dan Transgender) sebagai golongan minoritas dalam satu dasawarsa terakhir belum menjadi golongan yang populer dan dikenal. Namun saat ini, geliat golongan ini menjadi pembicaraan hangat berbagai kalangan. Hal ini menyusul  keberanian sebagian mereka menampakkkan dan menghembuskan isu tersebut secara terang-terangan di hadapan publik.

Kelompok manusia pengidap penyakit seks menyimpang (gender identity disorder) ini nampaknya tidak lagi sungkan  menyebarkan penyakit mereka ke seluruh elemen masyarakat melalui lobi-lobi politik dan sosial demi mendapatkan hak yang sama dengan manusia normal lainnya.

Saat ini, LGBT bukan lagi menjadi isapan jempol belaka, melainkan telah menjadi penyakit sosial kronis menular yang harus dicegah dan ditangani secara serius. Pegiat LBGT dengan berbagai cara mencari pembenaran atas penyakit dan penyimpangan yang mereka derita, dengan mengatakan bahwa LBGT bukanlah penyakit tetapi merupakan manifestasi Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus diperjuangkan sebagaimana hak-hak manusia lainnya. Mereka pun muncul di media dengan menampilkan sosok gay (homoseksual) dengan tujuan untuk mengangkat diri dan menyatakan bahwa kaum mereka patut untuk mendapatkan hak-haknya layaknya masyarakat normal pada umumnya. Hasilnya, sebagian masyarakat pun menganggapnya biasa bahkan menjadikannya sebagai hiburan menarik, tanpa menyimpan kebencian dan pengingkaran. Wallahul-musta’an.

Februari 05, 2016

Waspada Aliran Sesat

Aliran sesat di negeri ini selalu menjadi perbincangan hangat. Mengingat dampaknya yang tidak sedikit, pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terpaksa mengagendakan pertemuan khusus untuk membahasnya. Mengapa ada aliran sesat? Ya, begitulah. Allah I dengan hikmahNya, telah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Ada hitam, ada putih. Ada manis, ada juga pahit. Ada terang, ada gelap. Ada kebaikan, ada pula keburukan. Dan tentu saja, jika ada jalan kebenaran, maka di sana pun ada jalan kesesatan. Inilah yang kemudian menjelma sebagai sebuah aliran, paham dan kepercayaan yang sesat.

Entah mengapa, ketika kata “sesat” itu diangkat, sebagian orang menjadi alergi dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka, segala sesuatu itu adalah benar dan tidak ada yang salah. Padahal, jika kita jujur dan mau mengikuti petunjuk, Rasulullah r  sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama. Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah r pun senantiasa memperingatkan umatnya agar menjauhinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabatnya Ibnu Mas’ud t, Rasulullah r pernah membuat garis dengan tangannya di tanah. Rasulullah r membuat sebuah garis dan berkata, “Ini adalah jalan yang lurus”. Kemudian, beliau r membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda, “Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad-Darimi. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan (baik) dalam kitab Misykatul-Mashabih). Dari riwayat ini, jelas bahwa kesesatan itu perlu dijelaskan, perlu dipahami dan diketahui untuk dihindari.

Februari 01, 2016

Daurah Manajemen dan Kepemimpinan DPD Wahdah Islamiyah Gowa

[Gowa]. Dalam rangka untuk menggugah semangat dan meningkatkan profesionalisme para pengurus, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah mengadakan Daurah Manajemen dan Kepemimpinan selama dua hari, Sabtu-Ahad, 19-20 Rabiul Akhir 1437 H/30-31 Januari 2016 M. Kegiatan ini diselenggarakan di masjid Al-Mujahidin Bonto Ba’do yang juga menjadi Markas Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Somba Opu sebagai Organizing Committee kegiatan ini.

Daurah ini diikuti oleh 79 orang yang terdiri dari Pengurus Harian, Ketua, Sekretaris dan Bendahara seluruh Departemen/Lembaga, serta perwakilan dari seluruh DPC di Kabupaten yang telah terbentuk sebanyak 10 DPC.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...