Mei 20, 2016

Tamu Agung Akan Tiba

Di depan kita bersama, beberapa pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.

Mei 13, 2016

Ada Apa di Bulan Sya'ban?

Tak terasa, kita kembali dipertemukan oleh Allah I dengan salah satu bulan-Nya yang mulia, yakni bulan Sya’ban. Satu tanda yang mengiringi kedatangannya adalah bahwa Ramadhan, bulan yang dirindukan, sebentar lagi akan menyapa kita, insya’aAllah.

Pada kesempatan ini, redaksi akan membawakan pembahasan berkenaan dengan Bulan Sya’ban. Selamat membaca. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita sekalian. Amin

Asal Nama Bulan Sya’ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah sya’abanaat dan sya’aabiin.

Menikahi Wanita Hamil

Beberapa hari yang lalu, redaksi menerima sebuah pertanyaan dari salah satu pembaca, “Bagaimana hukum menikahi seorang wanita yang sedang hamil?”. Kami pun menimpali, “Apakah wanita tersebut hamil karena telah berzina sebelum menikah –na’udzubillah min dzalik- atau karena sebab lainnya?”. Lantas, dia pun menjawab, “Ia, wanita itu hamil sebelum menikah”. MasyaAllah, sebuah jawaban yang tentu saja sangat menyedihkan kita di tengah masyarakat yang dominan berlabel muslim.

Fenomena ini mungkin saja telah menjamur di kalangan muda-mudi kita saat ini tanpa kita ketahui, wal-‘iyaadzu billah. Bahkan rasanya, bisa jadi hal ini sudah dianggap biasa oleh sebagian kalangan. Kemudian untuk mengatasi masalah yang sudah terlanjur terjadi, dilangsungkanlah pernikahan di antara mereka. Tentu saja tujuannya agar rasa malu tersebut dapat tertutupi segera.

Saat Hidayah Menyapa

Dalam keseharian, kita sering mendengar kata “hidayah”. Nyaris seluruh muballig, selalu mengingatkan kita akan urgensi hidayah melalui mimbar-mimbar mereka. “Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua”, begitu doa yang biasa dipanjatkan. Atau dalam kesempatan lain, kita kerap mendapati, ketika seorang muslimah yang belum berjilbab ditanya, “Kapan mau berjilbab?”, sebagian akan berkata, “Nanti, setelah dapat hidayah”. Atau, ketika sebagian saudara muslim (pria) kita ditanya, “Mengapa tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid secara rutin?”.

Tahukah kita, apa dan bagaimana hakikat hidayah itu? Benarkah kita telah memohon hidayah itu dengan sebenar-benar permintaan? Apakah hidayah akan turun begitu saja dan cukup dengan menunggunya saja tanpa usaha? Kapankah saat dimana hidayah itu akan turun menyapa kita? Untuk menjawabnya, marilah kita simak beberapa penjelasan berikut. 

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...