Oktober 27, 2017

Berlari dari Popularitas

Hati kita mungkin akan berbunga-bunga, saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan, seorang atau beberapa orang menegur kita. Kita tak mengenal mereka. Tetapi Allah menguji kita,  ternyata mereka mengenal kita. “Ustadz, kami biasa mengikuti pengajian ustadz”. “Wajah Ustadz sering kami lihat di TV”. “Kata orang,Bapak adalah orang yang dermawan”. Atau perkatan-perkataan semacamnya, yang kerap membuat kita “berbunga-bunga”.

Akan tetapi, sadarkah kita, bagaimana dengan diri kita saat itu? Bagaimana dengan nasib hati kita yang lemah saat itu? Hati yang rapuh pada pujian. Hati yang gemeretak pada sanjungan.

Begitulah. Ketenaran akan perlahan-lahan meyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan memperlihatkannya agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat ini adalah perkara yang teramat berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1422 H).

Oktober 13, 2017

Jaga Anak dan Keluarga, Bertemu di Surga

Pada saatnya nanti, anak-anak kita akan pergi, meninggalkan kita. Saat dewasa nanti, mereka akan bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar dan berjauhan. Tinggallah sepi. Meski mungkin sebagian di antara mereka, ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini. Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta, bersama anak-anak dan keluarga.

Setelah hari itu, orangtua dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala. Di sana nanti, ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan, sehingga menuntut tanggung-jawab orangtuanya yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Oktober 06, 2017

Untuk Apa Kita Hidup?

Oleh : 
Muhammd Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si., Ph.D.

Untuk apa kita hidup? Sebuah tanya yang lalai untuk selalu kita jawab.

Sahabatku di jalan Allah…

Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hmm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...