Hati kita mungkin
akan berbunga-bunga, saat tiba-tiba di sebuah sudut jalan, seorang atau
beberapa orang menegur kita. Kita tak mengenal mereka. Tetapi Allah menguji
kita, ternyata mereka mengenal kita.
“Ustadz, kami biasa mengikuti pengajian ustadz”. “Wajah Ustadz sering kami
lihat di TV”. “Kata orang,Bapak adalah orang yang dermawan”. Atau
perkatan-perkataan semacamnya, yang kerap membuat kita “berbunga-bunga”.
Akan tetapi,
sadarkah kita, bagaimana dengan diri kita saat itu? Bagaimana dengan nasib hati
kita yang lemah saat itu? Hati yang rapuh pada pujian. Hati yang gemeretak pada
sanjungan.
Begitulah. Ketenaran
akan perlahan-lahan meyeret kita dalam ketidakikhlasan dalam beramal. Setiap
melakukan suatu kebaikan, bisa saja kita terdorong untuk memamerkan dan
memperlihatkannya agar kita semakin terkenal. Padahal perkara ikhlas dan niat
ini adalah perkara yang teramat berat. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah
berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat
daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam hal. 18, Darul Aqidah, Koiro,
cet.I, 1422 H).

