Desember 28, 2012

Antara Mukjizat Kebenaran Hadits dan Fenomena Tahun Baru

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudry t bahwasanya Nabi r bersabda, artinya : “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka menelusuri lubang ‘Dhobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak), niscaya kalian akan menelusurinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau r bersabda, artinya : “Siapa lagi (kalau bukan mereka”. [HR. Bukhari].

Penjelasan Umum Hadits

Makna hadits di atas adalah bahwa Rasulullah r telah mensyinyalir melalui nubuwat (tanda-tanda kenabian) nya, bahwa kelak di akhir zaman, ada di antara umatnya yang mengikuti gaya hidup orang-orang sebelum mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Beliau menegaskan bahwa di dalam mengikuti dan meniru-niru gaya hidup mereka tersebut, umatnya melakukannya secara bertahap dari mulai sejengkal, sehasta dan seterusnya (sebagaimana terdapat di dalam tambahan riwayat yang lain).

Desember 21, 2012

Agar Tidur Tidak Diganggu Setan

Seringkali redaksi menerima pertanyaan dari pembaca berkaitan dengan mimpi buruk yang dialami saat tidur. Menerima pertanyaan tersebut kami pun menjawabnya dengan penjelasan seadanya karena keterbatasan media komunikasi yang hanya melalui SMS.

Nah, pada kesempatan ini, kami menuliskan pembahasan berkaitan hal tersebut. Pembahasan mengenai tips dan nasehat agar tidur menjadi tenang, tidak diganggu setan dan tentunya berpahala, insya Allah.

Selamat membaca...

Sebelumnya kita perlu memahami bahwa semua kondisi tidak nyaman, tidak enak yang dialami setiap muslim, sejatinya bisa menjadi sumber pahala baginya. Dengan syarat, dia berusaha untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah I dengan musibah itu. Termasuk ketika Anda tidak nyaman pada saat istirahat, baik karena gangguan makhluk halus maupun makhluk ‘kasar’.

Desember 14, 2012

Kajian Kekinian Seputar Makanan

Perkembangan zaman, dengan segala realitas kehidupan yang ada di dalamnya, telah memunculkan berbagai persoalan baru yang memerlukan respon keagamaan yang tepat dan argumentatif.

Banyak masalah baru yang tidak ada pada zaman dahulu, tidak ada pula dalam kitab-kitab klasik. Dibutuhkan kedalaman ilmu dan fatwa para ulama masa kini untuk membahas persoalan baru tersebut yang relevan dengan konteks kenyataan zaman sekarang.

Jika ditanya, mengapa kepada para ulama? Jawabannya, karena Allah I  telah memerintahkannya. Dalam firmanNya, artinya :  “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7).

Berikut ini akan kami tuliskan beberapa contoh masalah-masalah baru (kontemporer) seputar makanan, yang kami sarikan dari fatwa para ulama.

Desember 07, 2012

Sedekah, Ternyata Tidak Hanya Dengan Uang

Setiap kita pasti tahu bahwa sedekah adalah salah satu amalan mulia dan agung dalam agama kita. Banyak keutamaan sedekah yang disebutkan oleh Allah I dan RasulNya r. Di antaranya dapat menghapuskan dosa, menambah rezeki, obat dari penyakit, menghalangi bala’ atau musibah dan lainnya.

Bagi orang yang dikarunia oleh Allah I harta yang berlimpah tentu bersedekah itu tidaklah sulit, bahkan terkadang semudah mengedipkan mata. Namun bagi orang yang ditaqdirkan Allah I tidak memilki banyak harta, maka umumnya bersedekah mungkin menjadi hal yang sulit.

Islam sebagai agama ilahiyah sungguh telah memberikan solusi. Islam memang demikian. Bila ada syari'at yang hanya mampu dikerjakan oleh orang-orang tertentu, maka Islam akan membuka “ladang” lain bagi orang-orang yang tidak mampu. Islam memberikan solusi bagaimana cara bersedekah tanpa uang atau harta. Yaitu dengan melakukan beberapa amalan yang keutamaannya dapat bernilai sedekah bagi para pelakunya. Tetapi ingat, bukan berarti solusi ini hanya boleh diamalkan oleh mereka yang sedikit harta, bukan itu. Bahkan orang kaya pun boleh melakukannya.

Nah, jika seperti itu, berarti orang kaya akan selalu lebih utama karena mereka dapat bersedekah sekaligus melakukan berbagai amalan yang dapat bernilai sedekah? Ya, itulah keutamaan yang diberikan Allah I kepada sebagian hambaNya, tentu dengan hikmahNya yang agung.

November 23, 2012

Mengenal Ahlul Bait Rasulullah

Pernahkah kita mendengar istilah “ahlul bait”. Atau istilah “habib”? Jika iya, tahukah Anda apa artinya? Siapa dan bagaimana kedudukan mereka dalam agama kita?

Di bulan Muharram seperti ini, sebuah kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah, biasanya menyelenggarakan seremonial duka cita mengenang wafatnya salah seorang ahlul bait nabi r , yaitu Husain bin Ali t, dengan ratapan dan tangisan yang sungguh jauh dari tuntunan agama kita yang suci.

Di sini, kita tidak akan membahas secara panjang lebar berkaitan dengan seremonial mungkar tersebut di atas. Tetapi, yang akan kita bahas adalah penjelasan ilmiah berdasarkan al-Qur’an dan sunnah dalam memahami “ahlul bait” Rasulullah r dan kedudukan mereka. Hal ini bertujuan agar kita tidak terjatuh dalam aqidah menyimpang berkaitan dengan sikap pengagungan dan penghormatan kita kepada mereka.

Kita sering mendengar istilah “habib”. Nah, habib ini adalah  gelar yang dinisbatkan (dilekatkan) secara khusus kepada keturunan Nabi Muhammad r. Artinya, jika seseorang disebut “habib” maka ia diakui sebagai “ahlul bait” Nabi r. Benarkah demikian?

November 15, 2012

Bulan Muharram Datang Lagi*


Hari ini kita kembali memasuki bulan Muharram tahun 1434 Hijriah. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, semuanya berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam.

Selayaknya bagi kita untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri dan istighfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Ya, karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk di antara antara hamba yang mampu bersyukur.

Pada edisi kali ini, kami akan menuliskan sedikit penjelasan berkaitan dengan bulan Muharram. Semoga dengan penjelasan tersebut, kita dapat memahami betapa besar keutamaan yang ada di dalamnya, sehingga kita mampu mengoptimalkan waktu – waktunya.

November 02, 2012

Mengemis dan Meminta-Minta

Profesi mengemis bagi sebagian orang lebih diminati daripada profesi-profesi lainnya, karena cukup hanya dengan mengulurkan tangan kepada anggota masyarakat, dia bisa mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak tanpa harus bersusah payah.

Masyarakat pada umumnya memandang bahwa pengemis itu identik dengan orang yang berpenampilan tidak rapih, rambutnya tidak terawat, wajahnya kusam, pakaiannya serba kumal dan lusuh yang dengannya dapat dijadikan sarana untuk mengungkapkan kemelaratannya, serta dapat menarik rasa belas kasihan masyarakat kepada dirinya.

Akan tetapi akhir-akhir ini, sebagian pengemis tidak lagi berpenampilan seperti yang disebutkan di atas. Justru ada di antara mereka yang berpakaian rapi, memakai jas, berdasi dan sepatu, bahkan kendaraannya pun lumayan bagus. Mereka bersemangat mencari sumbangan atau bantuan dana dengan berbagai proposal permohonan demi memperkaya diri atau keluarganya dan tidak menyalurkannya kepada pihak yang penerima sebagaimana mestinya. Walahul Musta’an

Oktober 19, 2012

Duhai, Andai Engkau Seperti Dulu (Untaian Nasehat Karena Telah Meninggalkan Al-Qur’an)

Ketika kau masih kanak-kanak
Bagiku kau laksana kawan sejati
Dengan wudhu, aku, kau sentuh
Dalam keadaan suci aku kau pegang
Kau junjung, kau pelajari
Setiap hari, aku, kau baca dengan suara lirih
atau bahkan dengan lantangnya

Kini, engkau telah dewasa, bahkan kian matang
Atau telah beranak sebagaimana kau kecil dulu
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat lagi padaku
Barangkali, menurutmu, aku hanya bacaan usang
Yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu dulu
Aku, barangkali, hanya bacaan yang menurutmu 
tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama sekali

Oktober 12, 2012

Mengingatkan : Hari – Hari Istimewa di Awal Dzulhijjah

Tak terasa, waktu terus berputar, menyisakan pahala atau dosa yang telah kita torehkan dalam panggung kehidupan ini. Hari berganti hari, masih saja Allah I  Yang Maha Kasih kepada hambaNya memberi kita kesempatan untuk terus mengumpulkan bekal di hari perjumpaannya kelak.

Allah I dengan kehendakNya, menjadikan sebagian waktu yang ada lebih mulia dibanding yang lainnya. Bulan ramadhan yang baru saja lewat, menyisakan kenangan manis di benak kita. Disusul bulan Syawal yang menjanjikan pahala sempurna terhadap puasa yang telah ditunaikan. Nah,  tidak sampai di situ, beberapa hari yang akan datang, bulan haji kan segera hadir.

Tahukah Anda bahwa ada hari-hari di bulan tersebut yang menyimpan keutamaan besar yang tidak pantas kita lewatkan begitu saja? Kapankah itu? Hari – hari tersebut adalah 10 hari di awal bulan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda, artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya : “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi r  menjawab, Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun. (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Oktober 05, 2012

Karena Setiap Orang Bisa Menjadi Baik

Setelah dua bulan lebih, buletin kita tercinta tidak menjumpai para pembaca sekalian, alhamdulillah berkat taufiq dan kemudahan dari Allah I, kali ini kami kembali hadir menyajikan kajian ilmu dinul Islam, warisan nabi kita yang mulia, Muhammad r.

Semoga kehadirannya dapat menyegarkan dan menambah khazanah keilmuan kita. Dan yang pasti, semoga dapat mengobati kerinduan para pembaca sekalian. Ya, semoga saja!

*********
Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Tidak semua orang dipilih dan dimudahkan oleh Alah untuk memahami agama ini dengan pehamaman yang benar sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah r dan para sahabatnya. Tidak semua. Karena masih saja, sampai hari ini kita dapati sebagian kaum muslimin masih merasa nyaman dengan kekeliruannya, kesesatannya dan kebodohannya.
Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) yang shalih, itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Ya, karena sadar atau tidak, sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi.

Juli 20, 2012

“Berjamaah” Dalam Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan *

Dalam syari’at Islam, kolektifitas (keberjamaahan) dalam pelaksanaan sebagian ibadahnya mempunyai kedudukan yang sangat urgen dan strategis. Hal ini berangkat dari sebuah mainstream bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip wahdah al-ummah (persatuan ummat)  sebagai salah satu risalah (visi) penting dalam kedudukannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Maka salah satu sarana untuk mewujudkan visi tersebut disyariatkanlah beberapa jenis ibadah Jama’iyyah yang selain fungsi utamanya adalah pembuktian penghambaan seorang hamba kepada Allah Azza Wa Jalla, di lain sisi ia juga memuat nilai-nilai keberjamaahan yang sangat kental.

Dari sisi jumlah individu pelaksana sebuah ibadah yang disyari’atkan, maka ibadah tersebut dibagi menjadi dua bagian besar;

Pertama : Ibadah Fardiyah (individual). yaitu ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan secara individual (perseorangan) tanpa melibatkan orang lain (jama’ah), contohnya: amalan hati berupa niat, keikhlasan, rasa takut kepada Allah, begitu juga sebagian amalan anggota badan seperti membaca al-Quran, melaksanakan thawaf di Ka’bah, sa’i antara  Shofa dan Marwa dan juga seperti Shalat sunnah rawatib dan yang lainnya.

Juli 13, 2012

Keyakinan Tidak Terhapus Dengan Keraguan “al yaqinu laa yuzaalu bi syakkin”

Dalam kehidupan sehari – hari, kita terkadang menemui sebuah permasalahan khususnya dalam hal ibadah dan muamalah yang tidak ada solusi secara langsung dan tekstual dalam al-Qur’an dan Hadits.

Terkadang, teks al-Qur’an dan Hadits masih bersifat umum dan luas untuk memaknai fenomena kekinian yang sulit dipecahkan. Hal ini bukanlah indikasi akan kekurangan agama kita. Bukan, bahkan justru menandakan bahwa agama ini telah mengatur segala aspek kehidupan meskipun masih bersifat umum, dan kita sebagai penganutnya mesti mempelajarinya.

Dalam upaya itu, para ulama kita telah mencurahkan segala upaya untuk memformulasikan beberapa kaidah – kaidah pokok yang dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan agama dengan bersumber pada hukum – hukum al-Qur’an dan Hadits.

Juni 28, 2012

Meremehkan Dosa

Dosa, setiap kita pasti tak lepas darinya. Demikianlah sunnatullah bagi manusia sebagai hamba yang tidak pernah luput dari kekurangan. Namun, hendaknya kita tidak berkecil hati. Bukankah Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang menyediakan ampunan dan penghapusan kesalahan kepada hambaNya di setiap saat?

Meskipun demikian, kenyataan menyedihkan hari ini adalah para hamba yang hina dan lemah justru meremehkan dosa kepada Penciptanya. Mereka lupa bahwa dosa dan kemaksiatanya dapat mengundang murka Sang Maha Kuat I.

Sebagai seorang mu’min yang bersaudara di atas tali keimanan, patutlah kiranya bagi kita untuk saling mengingatkan agar segera menjauhi dosa dan kemaksiatan, serta tidak meremehkannya.

Dahulu, Rasulullah r telah mewanti – wanti kepada umatnya akan dosa yang dianggap remeh. Beliau r menyebutnya sebagai muhqirat adz-dzunub. Tahukah Anda apa itu muhqirat adz-dzunub?

Imam Ahmad dalam Musnadnya menyebutkan satu riwayat dari hadits Sahal bin Sa'ad t, ia berkata : Rasulullah r bersabda, artinya : "Jauhilah oleh kalian muhqirat adz-dzunub. Sesungguhnya perumpamaan muhqirat adz-dzunub itu seperti suatu kaum yang singgah di satu lembah, lalu satu orang datang membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lainnya juga demikian sampai mereka mengumpulkan banyak kayu bakar yang bisa mematangkan roti mereka. Sesungguhnya muhqirat adz-dzunub itu, kapan pelakunya dibalas maka akan menghancurkannya." (HR. Ahmad dan dishahihkan Albani di dalam kitab Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 389).

Juni 15, 2012

Agar Ikhlas Dalam Setiap Amal

Seringkali kita terbentur dengan sulitnya menghadirkan keikhlasan dalam setiap amal. Padahal ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amalan, di samping keharusan amalan tersebut mencocoki contoh dari Sang Nabi r.

Ikhlas di sini bukanlah “ikhlas” dengan makna “rela atau ridha” sebagaimana istilah yang biasa kita gunakan sehari – hari. Bukan itu!

Tapi ikhlas di sini adalah memurnikan amalan dan ibadah hanyalah kepada Allah I satu – satunya, tidak kepada yang lainnya.

Dalam setiap kesempatannya, setan akan senantiasa menggoda manusia untuk merusak agar melenceng dari keikhlasan yang sesungguhnya. Seorang mukmin akan senantiasa berjihad dengan musuhnya, iblis, sampai dia menemui Rabb-nya di atas keimanan kepadaNya dan keikhlasan di setiap amal yang dikerjakannya.

Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qasim, beliau adalah  salah seorang imam dan khatib Masjid Nabawi saat ini, memberikan tips di antara faktor yang dapat mendorong seorang untuk berlaku ikhlas. Kami tuliskan secara singkat kepada para pembaca sekalian. Semoga bermanfaat.

Juni 01, 2012

Jika Handphone Jadi Pilihan

Di zaman modern ini telah banyak teknologi yang memudahkan aktivitas manusia. Salah satunya adalah dengan hadirnya teknologi komunikasi melalui Handphone (HP).

Tidak diragukan lagi, keberadaan HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat Allah I  kepada kita. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia, kita perlu mensyukurinya. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya, sesuai tuntunan Rabb Pengatur Manusia dan menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada Rabb Yang berhak disembah tanpa selainNya I .

Terkait dengan penggunaan HP ini, banyak hal yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai syukur tersebut. Tatkala teknologi seluler yang memberikan banyak kemudahan, ini ternyata digunakan tidak pada tempatnya dan bahkan dijadikan sebagai sarana baru untuk berbuat maksiat.

Maka perlu kiranya kita menilik kembali bagaimana bimbingan Syari’at Islamiyah dalam penggunaan HP. Mungkin ada yang bertanya, “Masalah HP kok diatur, itu kan cuma masalah dunia?”. Maka kami katakan bahwa Islam diturunkan oleh Allah I untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia. Kita wajib tunduk kepada segala aturanNya. Dunia dijalankan dengan nyaman tanpa harus melanggar rambu – rambu syariat yang berlaku mutlak hingga hari kiamat. Wallahul Muwaffiq

Mei 22, 2012

Memaknai Bulan Rajab Secara Hakiki

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena hari ini Dia I masih memberikan kesempatan untuk hidup dan berjumpa dengan Bulan Rajab. Ada apa di Bulan Rajab?

Dalam buletin yang kita cintai ini, Edisi 35 Tahun II/Rajab 1430 H/Juli 2009 M yang lalu, kita telah mengetahui beberapa hadits yang populer dan banyak tersebar berkaitan dengan keutamaan dan amalan di bulan Rajab. Namun sayang, hadits-hadits tersebut merupakan hadits-hadits yang lemah, bahkan sebagiannya maudhu’ atau palsu. Sehingga jelas tidak dapat dijadikan sebagai dasar dan acuan dalam pelaksanaan amalan ibadah. Silahkan Anda membaca kembali, semoga memperoleh faidah dan nilai tambah.

Dalam edisi kali ini, kami kembali mengangkat bahasan tentang bulan Rajab. Meskipun dalam penyajian yang berbeda, mungkin secara esensi mengandung makna yang sama dan berulang dari edisi sebelumnya.

Sebuah nasehat dari sahabat Rasulullah r yang mulia, Ali bin Abi Thalib t berkata, "Ingat-ingatlah (ilmu) hadits, sungguh jika kalian tidak melakukannya maka ilmu akan hilang” [Al-Muhadditsul Fashil karya Ar-Ramahurmuzi hal : 545]. Selamat membaca. Semoga bermanfaat ...

Adab Buang Hajat yang Terlupakan

Sungguh sempurna agama ini. Setiap perikehidupan telah diatur sedemikian rapi dan mudah, sehingga segalanya berjalan teratur dan indah. Dari hal terbesar, seperti urusan kenegaraan atau jihad, sampai pada perkara remeh dan cenderung dibenci karena sifatnya yang kotor yakni buang hajat.
Semuanya telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah I  dan RasulNya Muhammad r. Maka tak heran, jika suatu ketika kaum musyrikin pernah terperangah seraya berkata kepada sahabat Salman Al-Farisi t : “Sungguh nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu sampai-sampai perkara adab buang hajat sekalipun.” Salman menjawab: “Ya, benar…” (HR. Muslim No. 262).
Maka, dalam edisi kali ini kami akan membahas beberapa adab dan etika yang patut kita perhatikan ketika akan, sedang dan setelah buang hajat. Hendaknya perkara – perkara ini tidak diangggap remeh karena telah menjadi bagian dari agama kita. Hendaknya kita senantiasa tamak dengan pahala, justru tehadap hal – hal “kecil” yang banyak dilupakan oleh manusia. Sungguh merugi, jika kesempatan meraup pehala lewat begitu saja, padahal amat sangat mudah untuk diamalkan. Semoga kita senantiasa diberi taufik oleh Allah I. Selamat membaca. 
Pertama : Menutup diri dan menjauh dari manusia ketika buang hajat.

Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah tbeliau berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah r  ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.” (HR. Ibnu Majah no. 335. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini shahih).

Mei 11, 2012

Berdoa Untuk Suriah

Ada sebuah negeri bernama Syam. Tentang negeri itu, Nabi kita Muhammad r  mengatakan tentang
keutamaannya :

Pergilah ke Syam, karena ia adalah bumi pilihan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaikNya untuk ke sana. Jika kalian tidak mau, maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani).

Kemudian dalam kesempatan lain, beliau r  mengatakan :

“Beruntunglah Syam!”  Sahabat bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Lalu beliau r menjawab : “Karena sungguh malaikat Allah membentangkan sayap-sayapnya kepada negeri itu.” (Lihat Shahih al-Tirmidzi, 3/254).

Bahkan secara spesifik, Nabi kita r yang tercinta itu mendoakan negeri Syam dengan doa yang luar biasa. Beliau r mengatakan :

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، وَفِي يَمَنِنَا. رواه البخاري
 “Ya Allah, berkahilah untuk kami pada negeri Syam kami dan pada negeri Yaman kami.” (HR. Bukhari).
Lalu mengapa hari ini tiba-tiba kita berbicara tentang Suriah?
Ya, karena Suriah adalah bagian dari negeri Syam. Inilah negeri yang dibuka pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khattab t. Tidak sedikit sahabat Nabi dan orang - orang shalih yang berhijrah ke sana, karena keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...