Oleh :
Muhammd Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si., Ph.D.
Untuk apa kita hidup? Sebuah tanya yang
lalai untuk selalu kita jawab.
Sahabatku di jalan Allah…
Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban
kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting
–setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka
menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin
jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita
tempuh di hari-hari yang lalu. Hmm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski
harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu
saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”
Manusia-manusia agung seperti Abu Bakr,
Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah
nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari
diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab
pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.
Sahabatku dalam perjuangan…
Suatu ketika, aku diizinkan oleh Allah
untuk menyiapkan penerbitan sebuah buku tentang kehidupan seorang mujahid besar
abad ini, Syekh Ahmad Yasin rahimahullah. Terus terang harus kuakui,
saat membaca buku itu, aku seperti baru saja mengenal mujahid yang lumpuh itu.
Aku malu. Dan itu bukan basa-basi. Aku benar-benar malu pada Syekh itu.
Menurutmu, dengan sekujur tubuh yang lumpuh seperti itu, apa yang akan engkau
lakukan untuk masa depanmu? (Ingatlah, aku tidak sedang bertanya tentang “apa
yang akan engkau lakukan untuk ummat ini dengan kelumpuhan seperti itu?”).
Mengucilkan diri. Atau mencoba tersenyum dan mencoba bersabar. Bukankah kita
patut malu pada Syekh tua itu? Mengapa kita tidak malu, dengan tubuh yang
sedemikian sehat ini saja kita tak pernah benar-benar serius memikirkan masa
depan ummat, apalagi dengan segala kelumpuhan fisik.
Hari itu, saat aku usai membaca tentang
Syekh Ahmad Yasin, aku mencatat dalam pengantarku untuk buku itu
kalimat-kalimat berikut:
“’Hidup ini sesungguhnya untuk apa?’.
Itulah pertanyaan yang seharusnya bergelayut dalam pikiran dan benak kita
sepanjang hari. Tidak untuk apa-apa, hanya sekedar untuk mengingatkan kita,
apakah kelak bila kematian menjemput, ada jejak yang patut kita banggakan di
hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil hisab. Bukankah hingga usia
kehidupan kita sejauh ini, kita masih selalu saja melupakan hal itu? Kilap
kemilau dunia terlalu sering membuat kita lalai menyiapkan “jejak-jejak
kebaikan” yang menebarkan semerbak wewangian mengagumkan di dunia dan di
akhirat kelak.
Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak
pula yang beranjak menjemput kematian. Ke mana mereka semuanya pergi? Entahlah.
Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi
berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal,
Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma
laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang
ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan
kafilah yang mengikuti mereka.
Banyak orang yang hidup. Fisik mereka
sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun
jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja
dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk
beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh.
Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak
pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.
Dulu –tapi belum lama-, seorang pria tua
dan lumpuh pernah hidup di antara reruntuhan negeri dan bangsanya. Bagi manusia
berhati lemah, reruntuhan itu mungkin tak akan pernah menyisakan harapan. Tapi
tidak bagi “manusia berjiwa langit” ini. Kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk
dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Lihatlah wajah dan senyumnya! Dari situ
saja, engkau akan mendapatkan energi kehidupan. Kekuatan dan energi itulah yang
membuatnya menjadi manusia paling ditakuti oleh bangsa paling “cerdik” (baca:
cerdas tapi licik) di dunia, Israel. Padahal menggerakkan tangannya saja ia tak
sanggup, apalagi menarik pelatuk senjata.
Dan hari itu, 22 Maret 2004, di sebuah
subuh yang dingin, pria tua dan lumpuh itu meraih impian tertingginya.
Ketakutan Israel yang semakin membuncah mendorong mereka untuk menembakkan
rudal dari sebuah helikopter Apache buatan Amerika, hanya untuk membunuh
seorang kakek yang bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak sanggup.
Subuh yang dingin itu menjadi saksi. Tembok-tembok rumah yang terciprat darah
itu pun kelak menjadi saksi, bahwa di tanah itu, seorang “panglima berkursi
roda” memenuhi janji Tuhannya.
Ahmad Yasin, nama kakek tua yang lumpuh
itu. Ada banyak kata untuknya. Dan buku kecil ini adalah “sedikit kata”
tentangnya. Jika hingga detik ini, Anda belum juga menemukan jawaban untuk
“Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”, bacalah buku ini. Insya Allah, Anda akan
mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup, lalu kelak meninggalkan jejak-jejak
semerbak di dunia dan di akhirat.” (Pengantar buku Syekh Ahmad Yasin; Syahid
yang Membangunkan Ummat , hal.ix-xi).
Sahabatku…
Setiap kali aku membaca kalimat-kalimat
yang kutulis sendiri itu, setiap kali itu pula aku perasaan malu dalam jiwaku
membuncah. Entah apa yang sanggup kita katakan? Tubuh yang sempurna ini,
bukankah kelak ia akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengannya?
Mata yang indah ini, wajah yang sempurna ini, bibir yang cantik ini, kedua
tangan yang lengkap ini, kedua kaki yang tegap melangkah ini; Sahabat, tentang
semua nikmat ini, bukankah kita akan dihisab? Tapi sejauh ini, jejak kebaikan
apakah yang telah kita tinggalkan melalui setiap anggota tubuh dan panca indera
kita yang luar biasa kenikmatannya itu?
Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita
pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku,
benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh meyakininya? Atau
mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama
karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia shaleh kekasih Tuhan?
Ah, sudahlah. Ini semakin membuatku malu. Seorang ulama salaf pernah
mengungkapkan pada murid-muridnya –ia heran mengapa mereka begitu betah duduk
bersamanya-, “Seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan aroma yang busuk dari para
pelakunya, maka pasti kalian tidak akan berlama-lama duduk di majelisku ini.”
Demikian ungkapnya. Lalu kita, ya, kita, sahabat, apa yang akan kita katakan?
Sahabatku…
Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang
tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu,
“Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan
amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama
lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua
secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri,
saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri.
Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar