Januari 31, 2013

Banjir dan Kemaksiatan

Banjir, salah satu bentuk bencana alam yang baru saja melanda sebagian wilayah kota Makassar, bahkan ibukota negara saat ini di Jakarta.

Kebanyakan manusia di zaman ini hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kebanyakan manusia menilai bahwa banjir hanya terjadi karena tersumbatnya sungai sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan yang tinggi, dan lainnya.

Salahkah? Hal ini jelas tidak salah. Namun sayangnya, pernahkah kita tergerak untuk memahami hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian, di balik yang tampak secara kasat mata? Lupakah kita terhadap kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata namun lebih parah dan fatal akibat buruknya?

Allah I berfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui yag lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai(QS. Ar-Ruum : 70).
Dalam sebuah firmanNya, Allah I  juga telah mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).

Januari 18, 2013

Jangan Tertipu Dengan Istilah “Syari’ah”

Telinga kita pasti sudah akrab dengan istilah khamar. Khamar adalah segala sesuatu yang memabukkan baik dari benda padat, cair dan gas. Di masa silam, istilah khamar ini diubah menjadi nabidz. Tujuannya adalah untuk mengelabui orang agar bisa menikmatinya, karena dengan memakai istilah khamar maka orang tidak akan menikmatinya karena jelas diharamkan oleh agama.

Demikian pula di zaman kita saat ini, berbagai istilah kemudian menjadi “bumbu” pada produk-produk tertentu baik pada barang maupun jasa. Beberapa istilah asal yang menjadi nama produk atau jasa tersebut kemudian diubah dengan istilah lainnya dan kerap menggunakan istilah “syari’ah”. Misalnya saja pada produk perbankan yang saat ini banyak menggunakan istilah-istilah syariat. Atau juga pada beberapa ritual dan acara dalam masyarakat kita. Misalnya pada ritual kunjungan ke kuburan para wali dan orang shaleh. Ritual tersebut dinamai sebagai “wisata religi”. Dari istilah, ini nampak sebagai sebuah ritual yang sah-sah saja dan setiap orang boleh mengikutinya. Padahal jika dicermati lebih jauh, ternyata di dalamnya terdapat tawassul atau tabarruk (ngalap berkah) yang bid’ah bahkan bisa sampai tingkat kesyirikan. Wal ‘iyadzu billah.

Januari 10, 2013

Belajar Dari Pohon Kurma

Tidak ragu lagi bahwa perumpamaan itu sangat indah dan mudah dicerna oleh akal karena akan memudahkan kita untuk memahami suatu ungkapan.

Pada kesempatan kali ini, kami mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi dan mempelajari bersama sebuah perumpamaan dalam al-Qur’an dan hadits tentang iman.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar t, beliau berkata, “Suatu hari, Rasulullah r bersabda kepada para sahabatnya (artinya) : “Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang mukmin?’ Maka para sahabat pun menyebutkan jenis-jenis pohon di badui.’ ” Ibnu Umar t berkata, “Terlintas dalam benakku untuk menjawab ‘pohon kurma’, tetapi saya segan menjawabnya karena banyak para sahabat yang lebih tua dariku. Tatkala para sahabat diam, Rasulullah  r bersabda (artinya) : ‘Pohon itu adalah pohon kurma.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini merupakan penjelasan dan tafsir terhadap firman Allah I (artinya) : ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuatperumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim : 24–25).

Januari 03, 2013

Perindu – Perindu Malam

Malam adalah saat yang penuh dengan keheningan dan ketenangan, sungguh ini waktu yang tepat untuk beristirahat menghilangkan kelelahan dan kepenatan menjalani hiruk pikuk dunia di siang hari.

Namun, di balik keheningan dan kesejukannya, al-Quran sebagai kalam Allah I, dalam beberapa ayatnya ketika berbicara soal malam, justru tidak berbicara tentang istirahat atau berdiam diri. Akan tetapi, berbicara tentang aktivitas, sebuah kerja dan amal yang agung. Apakah itu?

Di dalam al-Qur’an, Allah I  memerintahkan mengisi sebagian malam dengan mengoptimalkan berbagai aktivitas ibadah, seperti membaca al-Quran, sujud, rukuk, bertasbih, berdzikir, beristighfar, bermunajat, dan berdoa, khususnya degan qiyamullail.

Allah I  berfirman, artinya : "Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari sedikit dari itu. Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyu dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.'' (QS. al-Muzzammil : 1-6).

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...