Banjir, salah
satu bentuk bencana alam yang baru saja melanda sebagian wilayah kota Makassar,
bahkan ibukota negara saat ini di Jakarta.
Kebanyakan
manusia di zaman ini hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata
sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar
kita. Kebanyakan manusia menilai bahwa banjir hanya terjadi
karena tersumbatnya sungai sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan
yang tinggi, dan lainnya.
Salahkah? Hal
ini jelas tidak salah. Namun sayangnya, pernahkah kita tergerak untuk memahami
hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian, di balik yang tampak secara
kasat mata? Lupakah kita terhadap kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata
namun lebih parah dan fatal akibat buruknya?
Allah I
berfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui yag lahir (nampak) dari
kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai” (QS.
Ar-Ruum : 70).
Dalam sebuah
firmanNya, Allah I juga telah
mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan
akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar)” (QS.
Ar-Ruum : 41).


