Takwa. Nasehat tentangnya memang tidak pernah ada habisnya. Terus dan
terus kita diingatkan tentangnya. Ia adalah pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya
dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan
datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Fawaid-nya mengatakan,
“Nabi Sulaiman 'alaihis-salam berkata, “Kami telah mempelajari semua
ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak
mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena
itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai;
anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada
Allah”.
Rasulullah r pernah berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja
engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya
(perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah
terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Apa makna bertakwa di mana pun kita berada? dan mengapa harus
bertakwa?
Maksud sabda Nabi, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau
berada” adalah bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di tempat sepi
maupun di tempat ramai. Bertakwalah di semua situasi dan kondisi. Sebagian
ulama salaf berkata, “Wahai anak Adam, ketika kamu merasa bersama Allah mengapa
kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu sebagaimana kamu malu kepada
makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua orang; pertama, jika kamu mengira
Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir (ingkar). Kedua, dan jika kamu tahu
bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap
makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang kepada-Nya”.
Sesungguhnya hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi.
Bahkan kebutuhan kita kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara.
Mengapa? Karena siapa yang bertakwa kepada Allah, ia akan mendapatkan solusi
dari setiap persoalan yang dihadapinya, akan mendapatkan rizki dari jalan yang
tidak disangka-sangkanya, mendapat petunjuk kepada kebenaran sehingga bisa
membedakan yang hak dan yang batil dari kehidupannya, dan masih banyak manfaat
takwa lainnya. Intinya, takwa adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari
segala kebaikan dunia dan akhirat. Karenanya, Allah berwasiat kepada
hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan yang kemudian. Sebaliknya, siapa yang tidak
bertakwa kepada Allah, akan mengalami kehinaan dan kesulitan dalam segenap
persoalannya. Mengapa? Karena maksiat
adalah lawan takwa. Ia akan menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan
menyebabkan kerasnya hati. Inilah alasan mengapa kita harus bertakwa kepada
Allah.
Abu Sulaiman al-Darani rahimahullah berkata, “Demi Allah,
kadang aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada
watak hewanku dan juga istriku”.
Lihatlah, sampai hewanpun tidak setuju dengan manusia ketika ia tidak
bertakwa alias bermaksiat kepada Rabbnya.
Apa Itu Takwa?
Asal makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara
dirinya dengan sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya.
Dari makna ini, maka hamba yang bertakwa kepada Rabb-nya adalah
menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan murka dan siksa Tuhannya yang
ia takuti, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.
Begitulah makna takwa yang disebutkan oleh banyak ulama, seperti Imam
an-Nawawi, Ibnu Taimiyyah, dan lainnya rahimahumullah. T Ali bin Abi Thalib t memperjelas makna ini
dengan berkata, “Takwa adalah al-khaufu minal Jalil (takut kepada Allah
yang Maha Agung), al-‘amalu bit-tanziili (beramal sesuai wahyu yang
diturunkan yaitu al-Qur’an dan Sunnah), ar-ridha bil-qalil (ridha atas
pembagian rizki yang sedikit), dan al-isti’dad liyaumir-rahiil
(mempersiapkan diri untuk perjalanan pada hari akhriat)”.
Bermaksiat di Kala Sepi
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bertakwa itu wajib di segala
kondisi dan situasi. Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat
alim dan shalih. Namun kala sepi dan sendiri, ia menerjang larangan Allah.
Pesatnya globalisasi dan modernisasi saat ini, menjadi ujian besar
bagi setiap hamba dalam meniti jalan menuju Allah di setiap relung
kehidupannya. Betapa tidak, kemajuan teknologi sebagai bagian darinya, menjadi
ancaman terhadap kokohnya keimanan yang mungkin telah lama dibangun dan
dipelihara. Berbagai bentuk kemudahan dalam mengakses internet atau dunia maya
kerap menjadi sebab seorang hamba terjatuh dalam pelanggaran dan maksiat,
khususnya dalam pandangan dan pendengarannya, dalam kesendirian di depan layar
monitor atau handphone-nya.
Keadaan semacam ini telah disinggung oleh Nabi jauh-jauh hari. Jauh
sebelum penggunanan internet tersebar luas seperti sekarang ini. Dalam hadits
yang diriwayatkan dari sahabat Tsauban, dari Nabi, ia r
bersabda, “Sungguh
aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak
kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut
menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba
sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka
sedangkan kami tidak mengetahuinya. Rasulullah bersabda, “Adapun
mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka
menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah
kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah.
Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Para ulama, menjelaskan beberapa makna dari hadits Tsauban di atas,
yaitu :
Pertama, hadits tersebut menunjukkan keadaan orang munafik, walaupun
kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad
(keyakinan). Sedangkan hadits Abu Hurairah berikut dimaksudkan pada kaum
muslimin. Dari Abu Hurairah t, beliau mendengar Rasulullah r bersabda, “Setiap
umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu
seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia
berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi
dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya
ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan dalam Az-Zawajir
‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa
besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas
ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan
dilakukan di kesepian. Ada hadits dari Ibnu Majah dengan sanad berisi perawi tsiqah
(kredibel) dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari
kiamat dengan banyak kebaikan … (hadits di atas-red)” Karena kebiasaan orang
shalih adalah menampakkan lahiriyah. Kalau maksiat dilakukan oleh orang shalih
walaupun sembunyi-sembunyi, tentu mudharatnya besar dan akan mengelabui kaum
muslimin. Maksiat yang orang shalih terjang tersebut adalah tanda hilangnya
ketakwaan dan rasa takutnya pada Allah.”
Kedua, yang dimaksud dalam hadits Tsauban dengan bersendirian dalam
maksiat kepada Allah tidak berarti maksiat tersebut dilakukan di rumah seorang
diri, tanpa ada yang melihat. Bahkan boleh jadi maksiat tersebut dilakukan dengan
jama’ahnya atau orang yang setipe dengannya. Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan
bahwa yang dimaksud dalam hadits bukanlah melakukan maksiat sembunyi-sembunyi.
Namun ketika ada kesempatan baginya untuk bermaksiat, ia menerjangnya (Lihat Silsilah Al-Huda
wa An-Nuur no. 226).
Ketiga, makna hadits Tsauban adalah bagi orang yang menghalalkan dosa
atau menganggap remeh dosa tersebut. Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi
berkata, “Ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan.
Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram.
Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah. Namun ia
terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan
maksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh dosa-red). Itulah yang membuat
amalannya terhapus (Lihat Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no pelajaran 332).
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah. Seseorang mungkin
menjauh dari dosa dan maksiat saat berada di hadapan dan dilihat orang lain.
Tetapi jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia bisa saja
melepaskan tali kekang nafsunya, merangkul dosa dan memeluk kemungkaran, karena
tidak dilihat oleh yang lainnya. Padahal, “Allah sekali-kali tidak lengah
dari apa yang kalian kerjakan” (QS. al-Baqarah : 74). Juga, “Tidakkah
mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan
segala yang mereka tampakkan?” (QS.al-Baqarah: 77).
Di antara hal yang sangat “ajaib” adalah kita mengenal Allah, tetapi bermaksiat
kepada-Nya. Kita mengetahui kadar kemurkaan-Nya, tetapi justru menjatuhkan diri
kepada kemurkaan itu. Kita mengetahui betapa kejam hukuman-Nya, tetapi kita
tidak berusaha menyelamatkan diri darinya. Kita merasakan sakitnya keresahan
akibat maksiat, tetapi tidak pergi menghindarinya dan mencari ketenangan dengan
mentaati-Nya.
Qatadah rahimahullah berpesan, “Wahai anak Adam, demi Allah,
ada saksi-saksi yang tidak diragukan di tubuhmu, maka waspadailah mereka.
Takutlah kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, karena
sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Bagi-Nya, kegelapan adalah
cahaya, dan yang tersembunyi sama saja dengan yang nampak. Sehingga, barang
siapa yang bisa meninggal dalam keadaan husnuzhan (berbaik sangka) kepada
Allah, hendaklah ia melakukannya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan izin
Allah” (Lihat
Tafsir Ibnu Katsir, 3/368).
Ibnul-A’rabi rahimahullah berkata, “Orang yang paling merugi,
ialah yang menunjukkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan
keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya” (Syu’abul-Iman
lil-Baihaqi, 5/368 no. 6987).
Tanda Kesempurnaan Iman
Sungguh takwa kepada Allah dalam keadaan tidak nampak (fil-ghaib)
dan takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi merupakan tanda kesempurnaan
iman. Hal ini menjadi sebab diraihnya ampunan, kunci masuk surga. Dan
dengannya, seorang hamba meraih pahala yang agung nan mulia. Allah
berfirman, “Sesungguhnya orang-orang
yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tersembunyi akan memperoleh
ampunan dan pahala yang besar” (QS. al-Mulk : 12).
Sebagian ulama kita mengatakan, “Orang yang takut bukanlah orang
yang menangis dan ‘memeras’ kedua matanya, tetapi ia adalah orang yang
meninggalkan hal haram yang ia sukai saat ia mampu melakukannya” (Lihat Mukhtashar
Minhajil-Qashidin, 4/63).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Takwa kepada Allah dalam
ketersembunyaian adalah tanda kesempurnaan iman. Hal ini berpengaruh besar pada
pujian untuk pelakunya yang Allah ‘sematkan’ pada hati kaum mukminin”.
Sedangkan Abu ad-Darda’ menasihati, “Hendaklah setiap orang takut dilaknat oleh
hati kaum mukminin, sementara dia tidak merasa. Ia menyendiri dengan maksiat,
maka Allah menimpakan kebencian kepadanya di hati orang-orang yang beriman”
(Lihat Jami’ul-‘Ulum
wal-Hikam, 1/163).
Sufyan ats-Tsauri berpesan: “Jika engkau takut kepada Allah, Dia akan
menjaga dirimu dari manusia. Tetapi jika engkau takut kepada manusia, mereka
tidak akan bisa melindungimu dari Allah” (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 8/32).
Demikianlah. Semoga Allah menganugerahkan kita sikap takwa kepada-Nya,
kapanpun dan dimanapun kita berada. Teruslah meminta anugera itu, karena Ia tak
pernah bosan mendengar segenap pinta kita kepada-Nya.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar