November 01, 2017

Bertakwa di Manapun Berada

Takwa. Nasehat tentangnya memang tidak pernah ada habisnya. Terus dan terus kita diingatkan tentangnya. Ia adalah pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Fawaid-nya mengatakan, “Nabi Sulaiman 'alaihis-salam berkata, “Kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah”.

Rasulullah r pernah berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman,  “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).


Apa makna bertakwa di mana pun kita berada? dan mengapa harus bertakwa?

Maksud sabda Nabi, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada” adalah bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. Bertakwalah di semua situasi dan kondisi. Sebagian ulama salaf berkata, “Wahai anak Adam, ketika kamu merasa bersama Allah mengapa kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu sebagaimana kamu malu kepada makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua orang; pertama, jika kamu mengira Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir (ingkar). Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang kepada-Nya”.

Sesungguhnya hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi. Bahkan kebutuhan kita kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara. Mengapa? Karena siapa yang bertakwa kepada Allah, ia akan mendapatkan solusi dari setiap persoalan yang dihadapinya, akan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya, mendapat petunjuk kepada kebenaran sehingga bisa membedakan yang hak dan yang batil dari kehidupannya, dan masih banyak manfaat takwa lainnya. Intinya, takwa adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari segala kebaikan dunia dan akhirat. Karenanya, Allah berwasiat kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan yang kemudian. Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah, akan mengalami kehinaan dan kesulitan dalam segenap persoalannya. Mengapa? Karena  maksiat adalah lawan takwa. Ia akan menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan menyebabkan kerasnya hati. Inilah alasan mengapa kita harus bertakwa kepada Allah.

Abu Sulaiman al-Darani rahimahullah berkata, “Demi Allah, kadang aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada watak hewanku dan juga istriku”.  Lihatlah, sampai hewanpun tidak setuju dengan manusia ketika ia tidak bertakwa alias bermaksiat kepada Rabbnya.

Apa Itu Takwa?

Asal makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya. Dari makna ini, maka hamba yang bertakwa kepada Rabb-nya adalah menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan murka dan siksa Tuhannya yang ia takuti, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Begitulah makna takwa yang disebutkan oleh banyak ulama, seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Taimiyyah, dan lainnya  rahimahumullah.  T Ali bin Abi Thalib t memperjelas makna ini dengan berkata, “Takwa adalah al-khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Maha Agung), al-‘amalu bit-tanziili (beramal sesuai wahyu yang diturunkan yaitu al-Qur’an dan Sunnah), ar-ridha bil-qalil (ridha atas pembagian rizki yang sedikit), dan al-isti’dad liyaumir-rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan pada hari akhriat)”.

Bermaksiat di Kala Sepi

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bertakwa itu wajib di segala kondisi dan situasi. Ada seseorang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sepi dan sendiri, ia menerjang larangan Allah.

Pesatnya globalisasi dan modernisasi saat ini, menjadi ujian besar bagi setiap hamba dalam meniti jalan menuju Allah di setiap relung kehidupannya. Betapa tidak, kemajuan teknologi sebagai bagian darinya, menjadi ancaman terhadap kokohnya keimanan yang mungkin telah lama dibangun dan dipelihara. Berbagai bentuk kemudahan dalam mengakses internet atau dunia maya kerap menjadi sebab seorang hamba terjatuh dalam pelanggaran dan maksiat, khususnya dalam pandangan dan pendengarannya, dalam kesendirian di depan layar monitor atau handphone-nya.

Keadaan semacam ini telah disinggung oleh Nabi jauh-jauh hari. Jauh sebelum penggunanan internet tersebar luas seperti sekarang ini. Dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Tsauban, dari Nabi, ia r bersabda, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya. Rasulullah bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Para ulama, menjelaskan beberapa makna dari hadits Tsauban di atas, yaitu :

Pertama, hadits tersebut menunjukkan keadaan orang munafik, walaupun kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad (keyakinan). Sedangkan hadits Abu Hurairah berikut dimaksudkan pada kaum muslimin. Dari Abu Hurairah t, beliau mendengar Rasulullah r bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah mengatakan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa besar adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yang diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian. Ada hadits dari Ibnu Majah dengan sanad berisi perawi tsiqah (kredibel) dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan … (hadits di atas-red)” Karena kebiasaan orang shalih adalah menampakkan lahiriyah. Kalau maksiat dilakukan oleh orang shalih walaupun sembunyi-sembunyi, tentu mudharatnya besar dan akan mengelabui kaum muslimin. Maksiat yang orang shalih terjang tersebut adalah tanda hilangnya ketakwaan dan rasa takutnya pada Allah.”

Kedua, yang dimaksud dalam hadits Tsauban dengan bersendirian dalam maksiat kepada Allah tidak berarti maksiat tersebut dilakukan di rumah seorang diri, tanpa ada yang melihat. Bahkan boleh jadi maksiat tersebut dilakukan dengan jama’ahnya atau orang yang setipe dengannya. Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits bukanlah melakukan maksiat sembunyi-sembunyi. Namun ketika ada kesempatan baginya untuk bermaksiat, ia menerjangnya (Lihat Silsilah Al-Huda wa An-Nuur no. 226).

Ketiga, makna hadits Tsauban adalah bagi orang yang menghalalkan dosa atau menganggap remeh dosa tersebut. Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi berkata, “Ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani (menganggap remeh dosa-red). Itulah yang membuat amalannya terhapus (Lihat Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no pelajaran 332).

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah. Seseorang mungkin menjauh dari dosa dan maksiat saat berada di hadapan dan dilihat orang lain. Tetapi jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia bisa saja melepaskan tali kekang nafsunya, merangkul dosa dan memeluk kemungkaran, karena tidak dilihat oleh yang lainnya. Padahal, “Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan”  (QS. al-Baqarah  : 74). Juga,  “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka tampakkan?”  (QS.al-Baqarah: 77).

Di antara hal yang sangat “ajaib” adalah kita mengenal Allah, tetapi bermaksiat kepada-Nya. Kita mengetahui kadar kemurkaan-Nya, tetapi justru menjatuhkan diri kepada kemurkaan itu. Kita mengetahui betapa kejam hukuman-Nya, tetapi kita tidak berusaha menyelamatkan diri darinya. Kita merasakan sakitnya keresahan akibat maksiat, tetapi tidak pergi menghindarinya dan mencari ketenangan dengan mentaati-Nya.

Qatadah rahimahullah berpesan, “Wahai anak Adam, demi Allah, ada saksi-saksi yang tidak diragukan di tubuhmu, maka waspadailah mereka. Takutlah kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, karena sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Bagi-Nya, kegelapan adalah cahaya, dan yang tersembunyi sama saja dengan yang nampak. Sehingga, barang siapa yang bisa meninggal dalam keadaan husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah, hendaklah ia melakukannya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/368).

Ibnul-A’rabi rahimahullah berkata, “Orang yang paling merugi, ialah yang menunjukkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya” (Syu’abul-Iman lil-Baihaqi, 5/368 no. 6987).

Tanda Kesempurnaan Iman

Sungguh takwa kepada Allah dalam keadaan tidak nampak (fil-ghaib) dan takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi merupakan tanda kesempurnaan iman. Hal ini menjadi sebab diraihnya ampunan, kunci masuk surga. Dan dengannya, seorang hamba meraih pahala yang agung nan mulia. Allah berfirman,  “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tersembunyi akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar” (QS. al-Mulk : 12). 

Sebagian ulama kita mengatakan, “Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan ‘memeras’ kedua matanya, tetapi ia adalah orang yang meninggalkan hal haram yang ia sukai saat ia mampu melakukannya” (Lihat Mukhtashar Minhajil-Qashidin, 4/63).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Takwa kepada Allah dalam ketersembunyaian adalah tanda kesempurnaan iman. Hal ini berpengaruh besar pada pujian untuk pelakunya yang Allah ‘sematkan’ pada hati kaum mukminin”. Sedangkan Abu ad-Darda’ menasihati,  “Hendaklah setiap orang takut dilaknat oleh hati kaum mukminin, sementara dia tidak merasa. Ia menyendiri dengan maksiat, maka Allah menimpakan kebencian kepadanya di hati orang-orang yang beriman” (Lihat Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam, 1/163).

Sufyan ats-Tsauri berpesan: “Jika engkau takut kepada Allah, Dia akan menjaga dirimu dari manusia. Tetapi jika engkau takut kepada manusia, mereka tidak akan bisa melindungimu dari Allah” (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 8/32).

Demikianlah. Semoga Allah menganugerahkan kita sikap takwa kepada-Nya, kapanpun dan dimanapun kita berada. Teruslah meminta anugera itu, karena Ia tak pernah bosan mendengar segenap pinta kita kepada-Nya.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...