Dalam seluruh
kisah hidup kita, kita adalah sekumpulan hamba yang lemah dan fakir. Dengan
segala kelemahan dan kefakiran itu, kita senantiasa butuh perlindungan dan
pertolongan. Kemampuan kita dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan
fisik yang memang serba terbatas. Banyak peristiwa terjadi di luar jangkauan
kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam keadaan seperti itu, seringkali kita
akan mencari kekuatan di luar diri. Tak jarang, ada di antara kita yang putus asa,
mencari kekuatan penolong dengan cara-cara yang tidak diajarkan agama.
Kita
lemah, karena kita tidak tahu bagaimana jadinya jika Allah I melepaskan seluruh nikmat yang selama ini Dia
berikan kepada kita. Jika saja Allah I mencabut nikmat kesehatan dan kesadaran berpikir
dari diri ini. Jika saja Allah I
mencabut satu per satu fungsi tubuh kita. Jika saja Allah I mencabut satu
demi satu nikmat-nikmat penunjang kehidupan ini: udara, cahaya, air, dan yang
lainnya. Dan yang sungguh mengerikan, seperti apa hidup ini jika saja Allah I mencabut
nikmat hidayah dari hati kita yang lemah ini. Duhai Allah, jangan pernah itu
terjadi dalam hidup kami.
Karena
itu semua, kita sungguh fakir kepada Allah I. Dalam seluruh sisi kehidupan ini, kita sangat
fakir kepada-Nya. Namun, banyak manusia yang tidak menyadari ini; menyadari
kelemahan dan kefakiran mereka kepada Allah I. Sebagian manusia merasa kuat, mampu dan perkasa untuk menyelesaikan dan
mengerjakan berbagai hal dalam kehidupannya
sehari hari. Keberhasilan dan kesuksesan menyebabkan mereka jadi sombong dan
pongah.
Namun
bagi para ahli Tauhid, kefakiran pada Allah I adalah sebuah kekuatan. Semakin dahsyat seorang
hamba menunjukkan kefakirannya pada Allah Ta’ala, maka semakin dahsyat kekuatan
sang hamba menjalani kehidupannya. Sebaliknya, semakin berlagak seorang hamba
-bahwa ia tidak fakir kepada Rabbnya-, maka semakin terhina dan lemah dirinya
menjalani hidup yang singkat ini.
Itulah
sebabnya, inti kekuatan seorang hamba sesungguhnya terletak pada bagaimana ia
membuktikan eksistensinya sebagai hamba yang lemah dan fakir di hadapan Dzat
yang menguasainya. Mengapa? Sebab itu berarti sang hamba mengakui
keMahaperkasaan dan keMahakuasaan Allah I. Jika sudah demikian, maka kekuatan dari Yang
Mahakuat akan mengalir dan terlimpahkan kepadanya di sepanjang usia.
Maka
di sinilah inti pengulangan iyyaka
na’budu wa iyyaka nasta’in di sepanjang hari seorang muslim. Demi
mengingatkan jiwa-jiwa kita sekalian: betapa pengakuan kehambaan haruslah
seimbang dengan permohonan dan permintaan tolong kepada Sang Penguasa jagat
raya. Dalam kisah kefakiran sang hamba, meminta tolong kepada Allah Ta’ala
adalah hal yang mutlak. Dan-sekali lagi-bukan wujud kehinaan. Ia adalah jalan
kemuliaan.
Antumul-fuqara’
ilallah.
Kalianlah yang fakir kepada Allah I. Demikian kata Allah I dalam
firmanNya. Sudahkah kita membuktikan bahwa kita mengakui kefakiran kita
pada-Nya? Sekali lagi, satu-satunya jalan untuk mendapatkan pertolongan,
‘inayah dan taufiq-Nya hanyalah dengan merendah serendah-rendahnya dan
menghinakan diri sehina-hinanya di hadapan Allah Ta’ala.
Baiklah,
mungkin kita akan mengawali pembuktian itu secara sederhana saja. Yah, sangat
sederhana, sehingga kita seringkali melalaikan dan meremehkannya. Sudahkah Anda
berdoa hari ini? Allah I berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS.
Al-Mu’min : 60).
Bukan
doa dan dzikir yang Anda baca dalam shalat fardhu. Bukan doa itu. Tapi berdoa
dalam pengertian ketika Anda benar-benar merasa kekurangan sesuatu atau
menginginkan sesuatu yang tak tersebutkan dalam shalat itu.
Pernahkah
di suatu pagi, ketika Anda ingin sarapan, lalu tidak menemukan apa-apa,
kemudian Anda menengadahkan tangan memohon pada-Nya?
Pernahkah
di suatu pagi, saat Anda tergesa ke kantor atau ke kampus, dan tiba-tiba ban
kendaraan Anda meletus; pernahkah Anda berhenti sejenak untuk mengucapkan: “Ya
Allah, mudahkanlah urusanku, tambalkanlah ban kendaraanku yang bocor ini”?
Pernahkah
di suatu sore, ketika tiba-tiba anak Anda demam, lalu Anda memohon dengan
khusyu’: “Ya Allah, Dzat yang Maha menyembuhkan, sembuhkanlah anakku ini”?
Benar
sekali. Dalam hal-hal yang remeh seperti ini, kita sering lupa untuk berdoa dan
meminta kepada Allah I. Apakah karena
kita ingin mendapatkan solusi sekejap mata dan kita menganggap “tidak ada
gunanya” berdoa untuk hal semacam itu karena “biasanya” tidak segera
dikabulkan? Wal ‘iyadzu billah.
Sungguh kelihatannya begitu halus. Tapi cara pandang seperti ini bukankah
sering menjadi “aqidah” kita terhadap doa? Wallahul
musta’an. Padahal Allah I
berfirman, “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya,
“Jadilah!” lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117). Juga dalam firmanNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah :
186).
Ibnu
Rajab al-Hanbaly dalam Jami’ al-‘Ulum wa
al-Hikam, pernah mengisahkan bahwa seorang ulama dahulu bahkan berdoa dan
memohon kepada Allah I saat tali
sendalnya putus agar Allah I
berkenan menyambungkan tali sandal itu. Bukankah ini begitu remeh? Tapi bagi
para ulama kita dahulu, pengabulan doa itu mungkin menempati urutan kesekian, sebab
prioritas utama mereka dalam kondisi semacam ini adalah bagaimana membuktikan
Tauhid mereka kepada Allah I.
Bahwa jiwa dan raga mereka sepenuhnya bersandar penuh kefakiran pada Allah Rabbul ‘Alamin, di setiap waktu dan
tempat. Yah, dan hanya itu obsesi dari setiap doa mereka.
Itulah
sebabnya ‘Umar bin Khatthab t
pernah mengungkapkan, “Sesungguhnya (dalam berdoa), aku tidak pernah membawa
obsesi pengabulan doa itu, namun yang menjadi obsesiku adalah doa itu sendiri.”
Subhanallah. Beliau tak
peduli apakah doa itu segera dikabulkan di dunia ini atau tidak. Karena yang
penting, di saat memanjatkan doa -sekecil apapun itu-, ia telah membuktikan
penghambaan dan kefakirannya di hadapan Allah I. Bukankah doa itu sendiri adalah
ibadah?
***
Sebelum
lanjut, mari kita simak cerita berikut ini dulu. Dalam kisah ini, kita akan
menemukan betapa Allah I memperlihatkan
ke-Mahaperkasa-anNya kepada kita, ketika kita tak henti berdoa.
Dalam
sebuah kisah nyata, seorang Dokter Ahli Bedah terkenal di Pakistan, bernama Dr.
Ishan, punya cerita tentang doa. Saat itu, ia tergesa-gesa menuju bandara.
Beliau berencana akan menghadiri sebuah seminar berskala internasional dalam
bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang
kedokteran. Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa
pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di bandara terdekat. Beliau
mendatangi ruangan penerangan dan berkata, “Saya ini dokter spesialis, tiap
menit nyawa manusia bergantung kepada saya, dan sekarang kalian meminta saya
menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?” Pegawai penerangan itu menjawab,
“Wahai dokter, jika Anda terburu-buru, Anda bisa menyewa mobil, tujuan Anda
tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil, 3 jam”. Beliau setuju dengan
usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca
mendung, disusul dengan hujan lebat disertai petir yang mengakibatkan jarak
pandang sangat pendek.
Setelah
berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar bahwa mereka tersesat dan terasa
kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya. Dihampirilah
rumah tersebut dan beliau mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita
tua, “Silahkan masuk, siapa ya?” Terbukalah pintunya. Beliau pun masuk dan
meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya.
Ibu itu tersenyum dan berkata, “Telpon apa Nak? Apa Anda tidak sadar ada di
mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah
silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit
makanan utk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda”.
Dr.
Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu menikmati hidangan.
Sementara ibu itu shalat dan berdoa, beliau perlahan-lahan mendekati seorang
anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut. Ibu
tersebut terus melanjutkan shalatnya dengan do'a yang panjang. Dokter
mendatanginya dan berkata, “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan
keramahan Anda dan kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab doa-doa Anda.
Berkata ibu itu, “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah I untuk dibantu.
Sedangkan doa-doa saya sudah dijawab Allah I semuanya, kecuali satu”. Dr. Ishan lalu bertanya,
“Doa apa itu?” Ibu itu berkata, “ Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu.
Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada di
sini. Orang-orang berkata kepada saya, ada seorang dokter ahli bedah yang akan
mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh
dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya
khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kepada Allah agar
memudahkannya”.
Menangislah
Dr. Ishan dan berkata sambil terisak, “Allahu
Akbar, laa haula wala quwwata illa
billah. Demi Allah, sungguh doa ibu telah membuat pesawat rusak dan harus
diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk
mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya-lah Dr. Ishan Bu”.
***
Inilah doa. Dia
menjadi perwujudan akan kehinaan seorang hamba di hadapan Rabbnya, sekaligus
menjadi sebuah kekuatan seorang hamba yang diharapkan dari Rabbnya. Doa menjadi
kekuatan dahsyat yang dapat membuat air laut terbelah, api yang panas menjadi
dingin, ombak laut yang ganas menjadi tenang, badai yang dahsyat jadi terdiam,
penyakit yang tak kunjung sembuh lenyap seketika. Kekuatan dahsyat yang bisa menyebabkan
terjadinya berbagai hal luar biasa dan tak terjangkau oleh akal dan fikiran
manusia itu adalah kekuatan do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba Allah I kepada Rabbnya.
Ketika
kita bertawakal kepada Allah I
atas suatu urusan, maka sesungguhnya kekuatan Allah-lah yang akan bekerja.
Karena, dengan bertawakal kepada-Nya, berarti kita melibatkan Allah I dalam urusan
kita. Kita mengharapkan pertolongan-Nya agar urusan kita berhasil dengan baik.
Dan, sungguh Allah I tidak akan
menyia-nyiakan usaha dan tawakal hamba-Nya. Allah Mahakuasa untuk memberikan
apa yang kita harapkan. Tidak ada yang sulit bagi Allah. Segalanya mudah
bagi-Nya.
Karena
itu, apapun urusan kita, sekecil dan seremeh apapun urusan itu, lakukan usaha
terbaik, perkuat dengan doa dan amal shalih, selebihnya pasrahkan secara total
kepada Allah I . Insya Allah,
kekuatan Allah-lah yang akan bekerja. Dan, jika Allah telah “turun tangan”
memberikan pertolongan-Nya kepada kita, apapun urusan kita akan insyaaAllah
akan berhasil dan berberkah. Nah, saudaraku, hari ini, sudahkah kita berdoa?
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar