Desember 10, 2016

Doa ; Seringkali Terlupakan

Dalam seluruh kisah hidup kita, kita adalah sekumpulan hamba yang lemah dan fakir. Dengan segala kelemahan dan kefakiran itu, kita senantiasa butuh perlindungan dan pertolongan. Kemampuan kita dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan fisik yang memang serba terbatas. Banyak peristiwa terjadi di luar jangkauan kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam keadaan seperti itu, seringkali kita akan mencari kekuatan di luar diri. Tak jarang, ada di antara kita yang putus asa, mencari kekuatan penolong dengan cara-cara yang tidak diajarkan agama.

Kita lemah, karena kita tidak tahu bagaimana jadinya jika Allah I  melepaskan seluruh nikmat yang selama ini Dia berikan kepada kita. Jika saja Allah I mencabut nikmat kesehatan dan kesadaran berpikir dari diri ini. Jika saja Allah I mencabut satu per satu fungsi tubuh kita. Jika saja Allah I mencabut satu demi satu nikmat-nikmat penunjang kehidupan ini: udara, cahaya, air, dan yang lainnya. Dan yang sungguh mengerikan, seperti apa hidup ini jika saja Allah I mencabut nikmat hidayah dari hati kita yang lemah ini. Duhai Allah, jangan pernah itu terjadi dalam hidup kami.

Karena itu semua, kita sungguh fakir kepada Allah I. Dalam seluruh sisi kehidupan ini, kita sangat fakir kepada-Nya. Namun, banyak manusia yang tidak menyadari ini; menyadari kelemahan dan kefakiran mereka kepada Allah I. Sebagian manusia merasa kuat, mampu  dan perkasa untuk menyelesaikan dan mengerjakan berbagai  hal dalam kehidupannya sehari hari. Keberhasilan dan kesuksesan menyebabkan mereka jadi sombong dan pongah.


Namun bagi para ahli Tauhid, kefakiran pada Allah I adalah sebuah kekuatan. Semakin dahsyat seorang hamba menunjukkan kefakirannya pada Allah Ta’ala, maka semakin dahsyat kekuatan sang hamba menjalani kehidupannya. Sebaliknya, semakin berlagak seorang hamba -bahwa ia tidak fakir kepada Rabbnya-, maka semakin terhina dan lemah dirinya menjalani hidup yang singkat ini.

Itulah sebabnya, inti kekuatan seorang hamba sesungguhnya terletak pada bagaimana ia membuktikan eksistensinya sebagai hamba yang lemah dan fakir di hadapan Dzat yang menguasainya. Mengapa? Sebab itu berarti sang hamba mengakui keMahaperkasaan dan keMahakuasaan Allah I. Jika sudah demikian, maka kekuatan dari Yang Mahakuat akan mengalir dan terlimpahkan kepadanya di sepanjang usia.

Maka di sinilah inti pengulangan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in di sepanjang hari seorang muslim. Demi mengingatkan jiwa-jiwa kita sekalian: betapa pengakuan kehambaan haruslah seimbang dengan permohonan dan permintaan tolong kepada Sang Penguasa jagat raya. Dalam kisah kefakiran sang hamba, meminta tolong kepada Allah Ta’ala adalah hal yang mutlak. Dan-sekali lagi-bukan wujud kehinaan. Ia adalah jalan kemuliaan.

Antumul-fuqara’ ilallah. Kalianlah yang fakir kepada Allah I. Demikian kata Allah I dalam firmanNya. Sudahkah kita membuktikan bahwa kita mengakui kefakiran kita pada-Nya? Sekali lagi, satu-satunya jalan untuk mendapatkan pertolongan, ‘inayah dan taufiq-Nya hanyalah dengan merendah serendah-rendahnya dan menghinakan diri sehina-hinanya di hadapan Allah Ta’ala.

Baiklah, mungkin kita akan mengawali pembuktian itu secara sederhana saja. Yah, sangat sederhana, sehingga kita seringkali melalaikan dan meremehkannya. Sudahkah Anda berdoa hari ini? Allah I berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu’min : 60).

Bukan doa dan dzikir yang Anda baca dalam shalat fardhu. Bukan doa itu. Tapi berdoa dalam pengertian ketika Anda benar-benar merasa kekurangan sesuatu atau menginginkan sesuatu yang tak tersebutkan dalam shalat itu.

Pernahkah di suatu pagi, ketika Anda ingin sarapan, lalu tidak menemukan apa-apa, kemudian Anda menengadahkan tangan memohon pada-Nya?

Pernahkah di suatu pagi, saat Anda tergesa ke kantor atau ke kampus, dan tiba-tiba ban kendaraan Anda meletus; pernahkah Anda berhenti sejenak untuk mengucapkan: “Ya Allah, mudahkanlah urusanku, tambalkanlah ban kendaraanku yang bocor ini”?

Pernahkah di suatu sore, ketika tiba-tiba anak Anda demam, lalu Anda memohon dengan khusyu’: “Ya Allah, Dzat yang Maha menyembuhkan, sembuhkanlah anakku ini”?

Benar sekali. Dalam hal-hal yang remeh seperti ini, kita sering lupa untuk berdoa dan meminta kepada Allah I. Apakah karena kita ingin mendapatkan solusi sekejap mata dan kita menganggap “tidak ada gunanya” berdoa untuk hal semacam itu karena “biasanya” tidak segera dikabulkan? Wal ‘iyadzu billah. Sungguh kelihatannya begitu halus. Tapi cara pandang seperti ini bukankah sering menjadi “aqidah” kita terhadap doa? Wallahul musta’an. Padahal Allah I berfirman, “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117). Juga dalam firmanNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah : 186).

Ibnu Rajab al-Hanbaly dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, pernah mengisahkan bahwa seorang ulama dahulu bahkan berdoa dan memohon kepada Allah I saat tali sendalnya putus agar Allah I berkenan menyambungkan tali sandal itu. Bukankah ini begitu remeh? Tapi bagi para ulama kita dahulu, pengabulan doa itu mungkin menempati urutan kesekian, sebab prioritas utama mereka dalam kondisi semacam ini adalah bagaimana membuktikan Tauhid mereka kepada Allah I. Bahwa jiwa dan raga mereka sepenuhnya bersandar penuh kefakiran pada Allah Rabbul ‘Alamin, di setiap waktu dan tempat. Yah, dan hanya itu obsesi dari setiap doa mereka.

Itulah sebabnya ‘Umar bin Khatthab t pernah mengungkapkan, “Sesungguhnya (dalam berdoa), aku tidak pernah membawa obsesi pengabulan doa itu, namun yang menjadi obsesiku adalah doa itu sendiri.”

Subhanallah. Beliau tak peduli apakah doa itu segera dikabulkan di dunia ini atau tidak. Karena yang penting, di saat memanjatkan doa -sekecil apapun itu-, ia telah membuktikan penghambaan dan kefakirannya di hadapan Allah I. Bukankah doa itu sendiri adalah ibadah?

***
Sebelum lanjut, mari kita simak cerita berikut ini dulu. Dalam kisah ini, kita akan menemukan betapa Allah I memperlihatkan ke-Mahaperkasa-anNya kepada kita, ketika kita tak henti berdoa.

Dalam sebuah kisah nyata, seorang Dokter Ahli Bedah terkenal di Pakistan, bernama Dr. Ishan, punya cerita tentang doa. Saat itu, ia tergesa-gesa menuju bandara. Beliau berencana akan menghadiri sebuah seminar berskala internasional dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran. Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di bandara terdekat. Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata, “Saya ini dokter spesialis, tiap menit nyawa manusia bergantung kepada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?” Pegawai penerangan itu menjawab, “Wahai dokter, jika Anda terburu-buru, Anda bisa menyewa mobil, tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil, 3 jam”. Beliau setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan lebat disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar bahwa mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya. Dihampirilah rumah tersebut dan beliau mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua, “Silahkan masuk, siapa ya?” Terbukalah pintunya. Beliau pun masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata, “Telpon apa Nak? Apa Anda tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan utk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda”.

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu menikmati hidangan. Sementara ibu itu shalat dan berdoa, beliau perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut. Ibu tersebut terus melanjutkan shalatnya dengan do'a yang panjang. Dokter mendatanginya dan berkata, “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan keramahan Anda dan kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab doa-doa Anda. Berkata ibu itu, “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah I untuk dibantu. Sedangkan doa-doa saya sudah dijawab Allah I semuanya, kecuali satu”. Dr. Ishan lalu bertanya, “Doa apa itu?” Ibu itu berkata, “ Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada di sini. Orang-orang berkata kepada saya, ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kepada Allah agar memudahkannya”.

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak, “Allahu Akbar, laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh doa ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya-lah Dr. Ishan Bu”.

***

Inilah doa. Dia menjadi perwujudan akan kehinaan seorang hamba di hadapan Rabbnya, sekaligus menjadi sebuah kekuatan seorang hamba yang diharapkan dari Rabbnya. Doa menjadi kekuatan dahsyat yang dapat membuat air laut terbelah, api yang panas menjadi dingin, ombak laut yang ganas menjadi tenang, badai yang dahsyat jadi terdiam, penyakit yang tak kunjung sembuh lenyap seketika.  Kekuatan dahsyat yang bisa menyebabkan terjadinya berbagai hal luar biasa dan tak terjangkau oleh akal dan fikiran manusia itu adalah kekuatan do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba Allah I kepada Rabbnya.

Ketika kita bertawakal kepada Allah I atas suatu urusan, maka sesungguhnya kekuatan Allah-lah yang akan bekerja. Karena, dengan bertawakal kepada-Nya, berarti kita melibatkan Allah I dalam urusan kita. Kita mengharapkan pertolongan-Nya agar urusan kita berhasil dengan baik. Dan, sungguh Allah I tidak akan menyia-nyiakan usaha dan tawakal hamba-Nya. Allah Mahakuasa untuk memberikan apa yang kita harapkan. Tidak ada yang sulit bagi Allah. Segalanya mudah bagi-Nya.

Karena itu, apapun urusan kita, sekecil dan seremeh apapun urusan itu, lakukan usaha terbaik, perkuat dengan doa dan amal shalih, selebihnya pasrahkan secara total kepada Allah I . Insya Allah, kekuatan Allah-lah yang akan bekerja. Dan, jika Allah telah “turun tangan” memberikan pertolongan-Nya kepada kita, apapun urusan kita akan insyaaAllah akan berhasil dan berberkah. Nah, saudaraku, hari ini, sudahkah kita berdoa?

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...