Berawal dari sebuah ungkapan yang telah menodai Al-Qur’an, hampir
sebulan belakangan ini hati kaum muslimin terguncang. Dengan keguncangan itu,
akhirnya ghirah (kecemburuan) yang
sudah lama redup, kembali membara membakar
jiwa dan mengobarkan semangat untuk bersama-sama berjuang menjaga kewibawaan
agama dan melawan kemungkaran.
Kami yakin bahwa kita semua sepakat bahwasanya segala bentuk
pelecehan, penistaan dan penghinaan terhadap Islam atau segala sesuatu yang
berasal dari Islam dan RasulNya, adalah sebuah kemungkaran. Ya, sebuah
kemungkaran yang oleh Nabi kita r telah dijelaskan bagaimana
respon terbaik dalam menyikapinya. Nabi r menjelaskan kepada kita dalam sabdanya, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat
kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tak
mampu, maka hendaklah mengubahnya dengan lisannya, dan jika dia tak mampu, maka
dia mengingkarinya di dalam hatinya, dan Itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR.
Muslim).
Maka atas dasar ghirah
dan semangat amar ma'ruf nahi munkar
inilah akhirnya sebagian kaum muslimin pun sepakat untuk berkumpul dan
bersama-sama menuntut kepada pemimpin kita untuk segera mengadili penista
al-Qur’an tersebut dalam Aksi Damai tanggal 4 November 2016 di Jakarta dan
kota-kota lainnya di Indonesia.
Dalam kesempatan ini, kami ingin mengajak kepada diri pribadi dan
saudara kami semua untuk merenung. Penghinaan terhadap al-Qur’an telah
terdengar nyata di telinga kita dan ini jelas menyakitkan. Masalahnya sekarang, apakah rasa sakit itu masih ada sampai saat
ini? Jika tidak, maka ketahuilah bahwa kita dikhawatirkan telah kehilangan ghirah dalam diri kita. Ya, kita
dikhawatirkan kehilangan sebuah indikasi keberadaan kesempurnaan iman dalam
jiwa.
Dan, jika ternyata rasa sakit itu masih ada, langkah apa yang
telah kita ambil?
Kita patut bersyukur bila emosi kita terkoyak karenanya. Tetapi
saat keyakinan terinjak-injak tetapi hati tetap beku, lidah masih kelu dan kaki
terasa kaku, sehingga emosi tidak tersentuh, ada apa?
Jangan sampai, kita sibuk menyalahkan dan mencaci sebagian
saudara-saudara kita yang telah melangkah duluan, sementara kita sendiri belum
melangkah walau hanya sejengkal. Jangan
sampai, kita sibuk berbantah-bantahan tentang boleh-tidaknya aksi tersebut
sampai-sampai kita lupa berdoa untuk kedamaian negeri ini, lupa mendoakan
saudara-saudara kita agar selalu berada dalam lindungan dan hidayah Allah I.
Mari saling mendoakan, itu yang terpenting. Doakan saudara-saudara
kita, doakan pemimpin negeri ini, dan
doakan negeri ini agar selalu damai dan
tentram.
Hendaklah kita bijak terhadap diri sendiri. Bijaklah dalam memilih
tempat dimana kita harus berada. Kenali diri kita, kenali saudara-saudara kita.
Masalah aksi adalah perkara ijtihadiyyah. Maka, jangan sampai kita mencela sebagian
saudara-saudara kita karena ia tak bersama kita. Mungkin saja ia memilih jalan
lain untuk bersikap. Mungkin saja ia memiliki dasar pijakan yang membuatnya
kokoh untuk melangkah.
Jika di akhirat nanti, misalnya, ketika Allah I,
Sang Pengadil yang Maha Adil, memeriksa catatan amalan setiap hamba, kemudian
bertanya, apa yang engkau lakukan saat kitab-Ku dicaci dan dinistakan?
Apakah jawaban kita di hadapan-Nya? Mungkin, setiap kita akan
menjawabnya dengan bentuk jawaban yang berbeda-beda. Ya, jawaban yang merujuk
pada kondisi kita hari ini yang ternyata memang setiap kita merespon fenomena
ini dengan bentuk yang berbeda-beda pula.
Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, saya
bangkit bersama mayoritas ulama negeri kami, menyuarakan pembelaan terhadap
kitab-Mu, bahkan kami bermandi peluh berselimut debu di jalan-Mu, kami tak
perduli lagi, meski jiwa kami jadi taruhannya apalagi jika sekedar sindiran
saudara-saudara kami yang tak simpati, semua kami lakukan karena ghirah kami pada Agama-Mu”.
Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, saya
tidak banyak tahu jika kitab-Mu itu telah dihina dan dinistakan. Waktuku habis
untuk mengais rezeki di pasar sejak pagi hingga malam gelap gulita. Saya sibuk
dengan tugas-tugas kantor yang telah menyita perhatianku dari mengurusi
kitab-Mu itu. Lagipula, media-media hari ini jarang memberitakannya untukku”.
Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, memang
benar, saya dengar orang-orang di sekitarku ribut dan ramai mendiskusikan
tentang penistaan kitab-Mu itu, namun saya beranggapan bahwa hal itu dalam
ranah dan wilayah para ulama, para
ustadz dan aktifis dakwah saja. Apalah
daya saya ini, hanyalah rakyat, masyarakat atau karyawan biasa?”
Mungkin juga, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah,
ketika kitab-Mu dihina, saya marah dan sangat benci kepada penistanya. Saya
tahu bahwa perbuatan itu melanggar undang-undang negara kami, semestinya ia
ditahan bahkan dipenjarakan. Namun, saat
itu saya bekerja untuk mengamankan negara dan telah diinstruksikan untuk terus
melindunginya dari tuntutan massa”.
Kira-kira, jawaban apa yang dapat kita berikan kepada-Nya kelak?
Mari kita merenunginya.
Harapannya, kita
masih tetap berangan untuk menjadi pembela agamaNya. Sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada
pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu
segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami
berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka,
lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS. As-Shaff :14).
Tentang aksi itu,
pahamilah bahwa mungkin tujuan terbesar dan berjangka panjang dari
perjuangan sebagian kaum muslimin adalah agar agama ini tetap tinggi dari agama
yang lain, tidak dihinakan, dan semua
tahu bahwa umat Islam masih ada di Indonesia. Cukuplah tujuan yang besar ini
dapat menggerakkan hati mereka untuk mengambil andil dalam perjuangan membela
agamaNya.
Allah I berfirman, “Dialah
Allah yang mengutus nabi-Nya dengan Al-Qur'an dan Agama Islam untuk meninggikan
agama ini dari agama-agama yang lain,
walaupun orang-orang musyrik membencinya” (QS. At-Taubah:33).
Jadilah para pembela al-Qur’an! Rasul kita bersabda, “Sungguh dengan sebab Kitab (Al-Qur’an) ini, Allah akan mengangkat
sekelompok kaum, dan dengannya pula Dia akan merendahkan sekelompok kaum yg
lain” (HR. Muslim).
Siapapun yang membela Al-Qur’an, Allah I akan mengangkat
derajatnya. Sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah I akan meruntuhkan
martabatnya.
Mengapa? Karena Al-Qur’an adalah kalamullah; firman Allah I yang Dia jamin
penjagaannya dan kemurniannya. Maka merendahkannya berarti merendahkan Allah ta’ala.
Sungguh Dia tidak akan rela dengan siapapun yang merendahkannya. Ingatlah,
disamping Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Allah juga Maha Kuat
Perkasa, serta Maha Pedih Siksa dan Hukuman-Nya.
Olehnya, bagi yang memilih diam dan tidak beraksi,
berdoalah tanpa henti agar penghina Al-Qur’an diadili sesuai ketentuan yang
berlaku. Mari tetap menjaga prinsip ukhuwah dan saling menghargai, khususnya
pada masalah ijtihadiyah dan
perbedaan. Jangan sampai hanya karena kita memilih diam dan tidak bergerak
bersama sebagian saudara-saudara muslim yang memilih untuk bergerak, menjadi
orang yang sangat keras dan kaku dengan orang-orang mukmin yang menyelisihinya,
dan dalam waktu yang sama ia lembut dengan orang-orang kafir yang
menyelisihinya. Padahal di dalam Al-Quran, Allah I mengajarkan, “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang
yang bersamanya, sangat keras terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi
mereka), dan saling mengasihi (lembut) di antara sesama mereka” (QS.
Al-Fath: 29).
Ingatlah
wahai saudara kami, amar ma'ruf nahi
munkar adalah pagar utama tegaknya kejayaan umat ini dan para pengusungnya
adalah para pelopor dan penjaga kejayaan tersebut. Sungguh, betapa zhalimnya
kita kepada mereka jika harus memusuhi dan mengeluarkannya dari kafilah
keimanan.
Dan terkhusus bagi saudara-saudara mujahid kami yang memilih untuk
bergerak dan melangkah bersama, kami berpesan, bergeraklah dengan gerakan damai
yang menumbuhkan wibawa, tak ada kekerasan dan pengrusakan. Pergilah membela
al-Qur’an kita! Pergilah dengan jiwa, raga dan hartamu yang tersisa! Jadilah
pembela-pembelanya, kawan!
Tetapi, dalam gerak juangmu ini, berhentilah sejenak dan
renungkanlah sesaat; “Untuk apa diri ini pergi? Untuk Allah sajakah, wahai
diri? Atau untuk menoreh nama dalam sejarah insani?”.
Pada setiap pekikan takbirmu nanti, renungkanlah sejenak; “Siapa
yang kau agungkan, dirimu yang gagah berani atau Dia yang Mahabesar?”.
Pada setiap huruf pembelaan yang kau torehkan dalam
tulisan-tulisanmu, renungkanlah sejenak; “Kepada siapa setiap huruf itu, kepada
dunia untuk memujimu atau kepada Sang Pencipta dunia itu?”
Pada setiap orasimu yang menggelegar, pada setiap langkahmu yang
tampak tegar, heningkanlah qalbumu di barisan para mujahid! Sunyikan hatimu di
gelombang manusia yang ramai! Biarkan setiap relung itu hanya untuk Rabb-mu!
Beningkan jiwamu pada mereka yang tak berangkat! Karena setiap kita akan
dibangkitkan sesuai niat.
Kawan mujahid kami, kelak jika jihad ini usai dengan kemenangan,
insyaaAllah, kembalilah kepada al-Qur’an kita dengan penuh kerinduan. Membaca
setiap hurufnya yang indah. Memahami setiap maknanya yang cerah. Saat itulah
hari-hari pembuktian cintamu pada al-Qur’an yang kau bela dengan segenap
jiwa-ragamu.
Allahu
Akbar!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar