November 04, 2016

Masih Tentang Al-Qur’an yang Dinistakan

Berawal dari sebuah ungkapan yang telah menodai Al-Qur’an, hampir sebulan belakangan ini hati kaum muslimin terguncang. Dengan keguncangan itu, akhirnya ghirah (kecemburuan) yang sudah lama redup,  kembali membara membakar jiwa dan mengobarkan semangat untuk bersama-sama berjuang menjaga kewibawaan agama dan melawan kemungkaran.

Kami yakin bahwa kita semua sepakat bahwasanya segala bentuk pelecehan, penistaan dan penghinaan terhadap Islam atau segala sesuatu yang berasal dari Islam dan RasulNya, adalah sebuah kemungkaran. Ya, sebuah kemungkaran yang oleh Nabi kita r telah dijelaskan bagaimana respon terbaik dalam menyikapinya. Nabi r  menjelaskan kepada kita dalam sabdanya, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tak mampu, maka hendaklah mengubahnya dengan lisannya, dan jika dia tak mampu, maka dia mengingkarinya di dalam hatinya, dan Itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).


Maka atas dasar ghirah dan semangat amar ma'ruf nahi munkar inilah akhirnya sebagian kaum muslimin pun sepakat untuk berkumpul dan bersama-sama menuntut kepada pemimpin kita untuk segera mengadili penista al-Qur’an tersebut dalam Aksi Damai tanggal 4 November 2016 di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengajak kepada diri pribadi dan saudara kami semua untuk merenung. Penghinaan terhadap al-Qur’an telah terdengar nyata di telinga kita dan ini jelas menyakitkan. Masalahnya sekarang,  apakah rasa sakit itu masih ada sampai saat ini? Jika tidak, maka ketahuilah bahwa kita dikhawatirkan telah kehilangan ghirah dalam diri kita. Ya, kita dikhawatirkan kehilangan sebuah indikasi keberadaan kesempurnaan iman dalam jiwa. 

Dan, jika ternyata rasa sakit itu masih ada, langkah apa yang telah kita ambil?

Kita patut bersyukur bila emosi kita terkoyak karenanya. Tetapi saat keyakinan terinjak-injak tetapi hati tetap beku, lidah masih kelu dan kaki terasa kaku, sehingga emosi tidak tersentuh, ada apa?

Jangan sampai, kita sibuk menyalahkan dan mencaci sebagian saudara-saudara kita yang telah melangkah duluan, sementara kita sendiri belum melangkah walau hanya sejengkal. Jangan  sampai, kita sibuk berbantah-bantahan tentang boleh-tidaknya aksi tersebut sampai-sampai kita lupa berdoa untuk kedamaian negeri ini, lupa mendoakan saudara-saudara kita agar selalu berada dalam lindungan dan hidayah Allah I.

Mari saling mendoakan, itu yang terpenting. Doakan saudara-saudara kita, doakan  pemimpin negeri ini, dan doakan  negeri ini agar selalu damai dan tentram.

Hendaklah kita bijak terhadap diri sendiri. Bijaklah dalam memilih tempat dimana kita harus berada. Kenali diri kita, kenali saudara-saudara kita. Masalah aksi adalah perkara ijtihadiyyah.  Maka, jangan sampai kita mencela sebagian saudara-saudara kita karena ia tak bersama kita. Mungkin saja ia memilih jalan lain untuk bersikap. Mungkin saja ia memiliki dasar pijakan yang membuatnya kokoh untuk melangkah.

Jika di akhirat nanti, misalnya, ketika Allah I, Sang Pengadil yang Maha Adil, memeriksa catatan amalan setiap hamba, kemudian bertanya, apa yang engkau lakukan saat kitab-Ku dicaci dan dinistakan?

Apakah jawaban kita di hadapan-Nya? Mungkin, setiap kita akan menjawabnya dengan bentuk jawaban yang berbeda-beda. Ya, jawaban yang merujuk pada kondisi kita hari ini yang ternyata memang setiap kita merespon fenomena ini dengan bentuk yang berbeda-beda pula.

Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, saya bangkit bersama mayoritas ulama negeri kami, menyuarakan pembelaan terhadap kitab-Mu, bahkan kami bermandi peluh berselimut debu di jalan-Mu, kami tak perduli lagi, meski jiwa kami jadi taruhannya apalagi jika sekedar sindiran saudara-saudara kami yang tak simpati, semua kami lakukan karena ghirah kami pada Agama-Mu”.

Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, saya tidak banyak tahu jika kitab-Mu itu telah dihina dan dinistakan. Waktuku habis untuk mengais rezeki di pasar sejak pagi hingga malam gelap gulita. Saya sibuk dengan tugas-tugas kantor yang telah menyita perhatianku dari mengurusi kitab-Mu itu. Lagipula, media-media hari ini jarang memberitakannya untukku”.

Mungkin, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, memang benar, saya dengar orang-orang di sekitarku ribut dan ramai mendiskusikan tentang penistaan kitab-Mu itu, namun saya beranggapan bahwa hal itu dalam ranah dan wilayah  para ulama, para ustadz  dan aktifis dakwah saja. Apalah daya saya ini, hanyalah rakyat, masyarakat atau karyawan biasa?”

Mungkin juga, ada di antara kita nanti yang menjawab, “Ya Allah, ketika kitab-Mu dihina, saya marah dan sangat benci kepada penistanya. Saya tahu bahwa perbuatan itu melanggar undang-undang negara kami, semestinya ia ditahan bahkan dipenjarakan. Namun,  saat itu saya bekerja untuk mengamankan negara dan telah diinstruksikan untuk terus melindunginya dari tuntutan massa”.

Kira-kira, jawaban apa yang dapat kita berikan kepada-Nya kelak? Mari kita merenunginya.

Harapannya, kita masih tetap berangan untuk menjadi pembela agamaNya. Sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS. As-Shaff :14).

Tentang aksi itu,  pahamilah bahwa mungkin tujuan terbesar dan berjangka panjang dari perjuangan sebagian kaum muslimin adalah agar agama ini tetap tinggi dari agama yang lain, tidak dihinakan, dan  semua tahu bahwa umat Islam masih ada di Indonesia. Cukuplah tujuan yang besar ini dapat menggerakkan hati mereka untuk mengambil andil dalam perjuangan membela agamaNya.

Allah I berfirman, “Dialah Allah yang mengutus nabi-Nya dengan Al-Qur'an dan Agama Islam untuk meninggikan agama ini dari agama-agama yang lain, walaupun orang-orang musyrik membencinya” (QS. At-Taubah:33).

Jadilah para pembela al-Qur’an! Rasul kita bersabda, Sungguh dengan sebab Kitab (Al-Qur’an) ini, Allah akan mengangkat sekelompok kaum, dan dengannya pula Dia akan merendahkan sekelompok kaum yg lain” (HR. Muslim).

Siapapun yang membela Al-Qur’an, Allah I akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah I akan meruntuhkan martabatnya.

Mengapa? Karena Al-Qur’an adalah kalamullah; firman Allah I yang Dia jamin penjagaannya dan kemurniannya. Maka merendahkannya berarti merendahkan Allah ta’ala. Sungguh Dia tidak akan rela dengan siapapun yang merendahkannya. Ingatlah, disamping Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Allah juga Maha Kuat Perkasa, serta Maha Pedih Siksa dan Hukuman-Nya.

Olehnya,  bagi yang memilih diam dan tidak beraksi, berdoalah tanpa henti agar penghina Al-Qur’an diadili sesuai ketentuan yang berlaku. Mari tetap menjaga prinsip ukhuwah dan saling menghargai, khususnya pada masalah ijtihadiyah dan perbedaan. Jangan sampai hanya karena kita memilih diam dan tidak bergerak bersama sebagian saudara-saudara muslim yang memilih untuk bergerak, menjadi orang yang sangat keras dan kaku dengan orang-orang mukmin yang menyelisihinya, dan dalam waktu yang sama ia lembut dengan orang-orang kafir yang menyelisihinya. Padahal di dalam Al-Quran, Allah I mengajarkan, “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya, sangat keras terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi mereka), dan saling mengasihi (lembut) di antara sesama mereka” (QS. Al-Fath: 29).

Ingatlah wahai saudara kami, amar ma'ruf nahi munkar adalah pagar utama tegaknya kejayaan umat ini dan para pengusungnya adalah para pelopor dan penjaga kejayaan tersebut. Sungguh, betapa zhalimnya kita kepada mereka jika harus memusuhi dan mengeluarkannya dari kafilah keimanan.

Dan terkhusus bagi saudara-saudara mujahid kami yang memilih untuk bergerak dan melangkah bersama, kami berpesan, bergeraklah dengan gerakan damai yang menumbuhkan wibawa, tak ada kekerasan dan pengrusakan. Pergilah membela al-Qur’an kita! Pergilah dengan jiwa, raga dan hartamu yang tersisa! Jadilah pembela-pembelanya, kawan!

Tetapi, dalam gerak juangmu ini, berhentilah sejenak dan renungkanlah sesaat; “Untuk apa diri ini pergi? Untuk Allah sajakah, wahai diri? Atau untuk menoreh nama dalam sejarah insani?”.

Pada setiap pekikan takbirmu nanti, renungkanlah sejenak; “Siapa yang kau agungkan, dirimu yang gagah berani atau Dia yang Mahabesar?”.

Pada setiap huruf pembelaan yang kau torehkan dalam tulisan-tulisanmu, renungkanlah sejenak; “Kepada siapa setiap huruf itu, kepada dunia untuk memujimu atau kepada Sang Pencipta dunia itu?”

Pada setiap orasimu yang menggelegar, pada setiap langkahmu yang tampak tegar, heningkanlah qalbumu di barisan para mujahid! Sunyikan hatimu di gelombang manusia yang ramai! Biarkan setiap relung itu hanya untuk Rabb-mu! Beningkan jiwamu pada mereka yang tak berangkat! Karena setiap kita akan dibangkitkan sesuai niat.

Kawan mujahid kami, kelak jika jihad ini usai dengan kemenangan, insyaaAllah, kembalilah kepada al-Qur’an kita dengan penuh kerinduan. Membaca setiap hurufnya yang indah. Memahami setiap maknanya yang cerah. Saat itulah hari-hari pembuktian cintamu pada al-Qur’an yang kau bela dengan segenap jiwa-ragamu.

Allahu Akbar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...