Tidak
terasa, bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan itu berlalu sudah. Ia
akan menjadi saksi di hadapan Allah I atas
segala perbuatan dan penyambutan setiap hamba di hari-harinya. Tak ada yang
tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan
yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak. Seyogyanya, kita banyak
memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah I menerima amal
kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya,
sebagaimana sebelumnya, kita juga berdoa agar Allah Ta’ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan
dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan
ridha-Nya.
Mengapa
kita patut berdoa? Hal ini agar kita tidak termasuk golongan yang celaka dan
merugi. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang pernah disebut oleh Nabi r dalam haditsnya, “Celakalah
seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam
keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Apa
yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan
apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan kebaikan
tersebut? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu?
Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar
setelah puasa berakhir? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang penting dan patut
untuk kita renungkan bersama.
Jangan
sampai kita seperti pemintal benang yang mengurai kembali benangnya setelah
dipintal. Allah I
berfirman,
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya
yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” (QS. An-Nahl:
92).
Perumpamaan ini menggambarkan kondisi sebagian kita yang begitu cepat kembali
kepada perbuatan dosa dan maksiat secepat berlalunya Ramadhan. Padahal, selama
sebulan penuh mereka shalat, puasa, menangis karena takut kepada Allah I, berdo’a, dan merendahkan diri di hadapan
Allah I. Dengan itu semua, mereka telah
mengumpulkan kebaikan-kebaikannya, hingga mampu meraih kelezatan dalam ibadah
dan ketaatan. Akan tetapi, seketika mereka mengurai dan menghapus semua itu
seiring dengan berlalunya Ramadhan.
Sikap
seperti ini memunculkan kekhawatiran kita bahwa segala amalan di bulan suci
tersebut, jangan sampai tidak membawa manfaat dan ditolak oleh Allah I, wallahul-musta’an. Meskipun tentu saja, semuanya adalah
hak Allah I semata untuk menilai dan menghitung
amalan seorang hamba. Mengapa mesti khawatir? Hal ini karena seorang hamba yang
diterima amalannya, akan memiliki tanda. Apa tandanya? Imam Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang
hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shalih
setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf) bahwa
ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya.
Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal
kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal
kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang
mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk
(setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal
kebaikan tersebut” (Lihat
Kitab Latha-iful Ma’aarif, hal. 311). Dan ternyata, tanda ini, bertolak
belakang dengan fenomena pemintal benang di atas.
Apalagi,
agama ini mencela mereka yang telah diberikan taufik sehingga mampu
menghidupkan sebuah amalan shalih kemudian meninggalkannya. Sebuah ibadah tidak
semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah sikap
yang baik. Bahkan para ulama sampai mengeluarkan statement yang agak
keras kepada orang yang rajin beribadah hanya pada bulan Ramadhan saja, sedangkan
pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. Para ulama
mengatakan, “Sejelek-jelek orang adalah
yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang shalih
adalah orang yang rajin beribadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”.
Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.
Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.
Asy-Syibliy
rahimahullah pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab
ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah
menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin beribadah
di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban
saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah
menjadi Ramadhaniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinyu (ajeg)
sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja (Lihat Latha-if
Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 396-400).
Begitu
pula amalan suri tauladan kita, Muhammad r, adalah amalan
yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau
r contohkan kepada kita. ’Alqamah
t
pernah bertanya kepada Ummul Mukminin ’Aisyah radhiyallahu anha mengenai
amalan Rasulullah r , ”Apakah
beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab, “Tidak,
amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (rutin dilakukan). Siapa saja di
antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau r lakukan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah
r pernah bersabda kepada
sahabatnya, Abdullah bin Amr bin Al-Ash t, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Abdullah janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin shalat malam,
sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Ibnu
Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Hadits dari bin Amr bin Al-Ash t di atas
menunjukkan akan disunnahkan merutinkan suatu ibadah yang baik tanpa menganggap
remeh. Juga dapat dijadikan dalil akan makruhnya memutus suatu ibadah walaupun
amalan tersebut bukanlah amalan yang wajib.” (Lihat Fathul Bari, 3:
38).
Olehnya,
menjaga amalan agar terus bertahan adalah sebuah keniscayaan, meskipun dalam
perjalanannya kuantitasnya lebih kecil, namun bertahan justru itulah yang
terbaik. Amalan yang kontinyu walaupun sedikit itu akan mengungguli amalan yang
tidak rutin meskipun jumlahnya banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh
Allah Ta’ala. Rasulullah r bersabda, “Amalan
yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu
sedikit” (HR.
Muslim). Nabi r mencontohkan
dalam amalan shalat malam. Pada amalan yang satu ini, beliau r menganjurkan agar mencoba untuk
merutinkannya. Nabi r bersabda, “Wahai
sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena
Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan” (HR. Muslim).
Ibnu
Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, ”Yang dimaksud dengan hadits
tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha
melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan”.
Sehingga,
sederhana dalam ibadah adalah sikap terbaik untuk menjaga kelangsungan ibadah
tersebut. Mengapa? Karena amalan yang
sedikit tetapi kontinyu akan mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk
beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa
malas dan jenuh. Sebaliknya, jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus
menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan
selalu ada. Rasulullah r bersabda, “Setiap
amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada
masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah
(petunjuk) Nabi r, maka dia
berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut,
sungguh dia telah menyimpang” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al
Kabir, periwayatnya shahih. Lihat Majma’ Az Zawa’id).
Al-Qasim
bin Muhammad rahimahullah mengatakan bahwa ’Aisyah radhiyallahu anha
ketika melakukan suatu amalan, beliau selalu berkeinginan keras untuk
merutinkannya (HR.
Muslim). Imam Al-Hasan
Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Jika syaithan melihatmu kontinyu
dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithan melihatmu
beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya
sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu” (Lihat Al-Mahjah
fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71).
Imam
An-Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit
namun rutin dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma
sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan
akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat
dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh
Sang Khaliq I. Amalan sedikit yang rutin dilakukan
akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan
yang sedikit namun sesekali saja dilakukan” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim,
3/133).
Ibnu
Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya seorang hamba
hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa
meninggalkan suatu amalan, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika
ia meninggalkan amalan tersebut” (Lihat Fathul Baari lii Ibni Rajab,
1/84).
Namun, meninggalkan amalan shalih yang biasa dia
rutinkan karena udzur atau alasan yang dibenarkan seperti sakit, sudah tidak
mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka
dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r , “Jika seseorang sakit atau
melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan
rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat” (HR. Bukhari).
Ingatlah,
apabila seorang hamba berhenti dari amalan rutinnya, malaikat pun akan berhenti
membangunkan baginya bangunan di surga disebabkan amalan yang cuma sesaat. Imam
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya bangunan di
surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus
dilakukan. Apabila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka
malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun
mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?” Sebab malaikat bisa
menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami
kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”
Namun
perlu diingat pula, kontinyuitas ini tidak mutlak berlaku pada seluruh amalan.
Ada kondisi dimana suatu amalan itu justru lebih utama untuk ditinggalkan
sementara waktu meskipun pada kondisi normal amalan tersebut dijaga
kelangsunganya. Syaikh Ibrahim Ar-Ruhailiy hafizhahullah mengatakan,
”Tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, perlu kiranya kita melihat
pada ajaran dan petunjuk Nabi r dalam hal ini” (Tajridul Ittiba’, hal.
89). Ada beberapa amalan yang masuk dalam kategori
ini.
Pertama,
amalan yang bisa dirutinkan baik ketika mukim (tidak bepergian) maupun ketika
bersafar. Contohnya adalah puasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15
pada setiap bulan Hijriyah), shalat sunnah qabliyah shubuh (shalat sunnah
fajar), shalat malam (tahajud), dan shalat witir. Amalan-amalan seperti ini
tidaklah ditinggalkan meskipun dalam keadaan bersafar. Ibnu ‘Abbas mengatakan,
“Rasulullah r selalu berpuasa pada ayyamul biid baik dalam
keadaan mukim (tidak bersafar) maupun dalam keadaan bersafar” (Diriwayatkan
oleh An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat
Al-Hadits Ash-Shahihah 580). Hendaknya amalan-amalan ini tetap
dirutinkan, baik ketika mukim maupun safar.
Kedua,
amalan yang dirutinkan hanya ketika mukim (tidak bepergian), bukan ketika
safar. Contohnya adalah seluruh shalat sunnah rawatib yang mengiringi
shalat-shalat fardhu baik qabliyah maupun ba’diyah.
Ketiga,
amalan yang kadang dikerjakan pada suatu waktu dan kadang pula ditinggalkan.
Contohnya adalah puasa selain hari Senin dan Kamis. Puasa pada selain dua hari
tadi boleh dilakukan kadang-kadang, misalnya saja berpuasa pada hari Selasa
atau Rabu.
Penutup
Ada
satu nasehat dari Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala
tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain
kematiannya.” Lalu Al-Hasan membaca firman Allah, “Dan sembahlah Rabbmu
sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr:
99) (Lihat Latha-if Al-Ma’arif, hal. 398). Maksudnya, bahwa seorang mukmin
itu seyogyanya senantiasa beramal dan beribadah dalam kehidupannya. Kapan
berhenti? Ia akan berhenti hanya ketika kematian datang.
Olehnya,
istiqamahlah! Karena tidaklah seorang hamba itu mampu beristiqamah, kecuali ia
akan menemui Rabbnya dengan bersuka cita. Allah I berfirman, “Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah,
maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu
merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu”.
(QS.
Fushilat:
30).
Wallahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar