April 07, 2016

Istidraj yang Membinasakan

Pernahkah kita melihat orang-orang yang gemar berbuat dosa dan maksiat,  tetapi hidup mereka justru terlihat bahagia dan menyenangkan dengan berbagai nikmat yang diperolehnya? Atau sebaliknya, pernahkah kita melihat orang-orang yang tekun beribadah dan beramal shalih, tetapi hidup mereka masih terlihat sempit dan sederhana dengan kekurangan nikmat yang diperolehnya?

Bukankah seharusnya, orang yang berbuat baik akan menerima balasan kebaikan dan orang yang berbuat buruk akan menerima balasan keburukan pula? Mengapa yang terjadi sebaliknya?

Yang pasti, Allah I tidak akan pernah dan tidak mungkin menzhalimi hamba-hambaNya. Setiap kebaikan, pasti akan dibalas dengan kebaikan sesuai dengan kadar dan hikmah yang ditetapkanNya. Meskipun yang nampak di mata kita, bentuk balasan tersebut mungkin bukan berupa kebaikan yang biasa kita kenal. Begitupula, setiap keburukan berupa dosa dan maksiat, akan dibalas dengan keburukan sesuai kadar dan hikmahNya pula. Meskipun yang nampak di mata kita, bentuk balasan tersebut mungiin bukan pula berupa keburukan yang biasa kita kenal. Allah I berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).


Jika ternyata yang nampak di mata kita adalah sebaliknya, seperti fenomena dan kenyataan yang kita lihat (seperti di atas), maka tentu saja hal tersebut menyimpan rahasia. Apa rahasianya? Mari kita simak, ayat dan hadits berikut.

Rasulullah r bersabda, “Bila engkau melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj dari Allah. Kemudian beliau r membaca firman Allah, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44) (HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Apa Itu Istidraj?

Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj secara istilah bermakna bahwa pemberian dari Allah I kepada hamba yang dipahami sebagai “hukuman” yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung, dimana Allah I membiarkan orang tersebut terus dalam “hukuman” dan tidak disegerakan adzabnya. Allah I berfirman, “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) (Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).

Dari definisi di atas, jelaslah bahwa orang yang terus dalam kemaksiatannya, namun dibalas oleh Allah I dengan nikmat  sehingga ia lupa untuk bertaubat dan memohon ampun kepadaNya, adalah sebuah penangguhan dari Allah I agar ia semakin jauh dari Allah I sedikit demi sedikit, menambah dosanya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ketika Allah I akan mengadzabnya, maka Allah I  mengadzabnya sesuai kadar dosanya yang semakin banyak dan menumpuk. Wal ‘iyadzu billah.

Allah I berfirman, “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qalam: 44).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 260).

Jadi, ketika ada orang yang tidak shalat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur, hidup dalam kubangan maksiat, namun hidupnya tetap makmur, sejahtera dan bergelimang banyak kemewahan, sungguh ini adalah istidraj. Ketika seseorang meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zhalim dan menghalalkan segala cara, kemudian ia tetap terus maju dan sukses dengan kedudukannya, sungguh ini adalah istidraj.

Lantas, mengapa Allah I berbuat demikian? Mengapa Allah I tidak memberi hidayah saja dan menyadarkan mereka? Hal itu karena hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang menutup hatinya dan tidak bersedia menerima petunjuk Allah I, bahkan mereka menjadikan kebaikan yang diajarkan Allah I sebagai bahan untuk mengolok-olok. Hidayah bisa saja datang kepada orang yang zhalim dan gemar berbuat dosa jika kemudian orang tersebut membuka hatinya untuk menerima petunjuk-petunjuk Allah I yang terdapat dalam ajaran agama.

Nikmat, Semata-mata Bukan Ukuran

Olehnya, perlu dipahami bahwa banyaknya nikmat atau kurangnya nikmat duniawi yang diterima oleh seorang hamba, bukanlah menjadi ukuran bahwa Allah I telah memuliakannya dibanding yang lainnya. Bahkan bisa jadi, banyaknya nikmat duniawi justru dapat menjadikan seseorang lupa akan hakikat penciptaannya. Makanya, Allah I dalam firmanNya menyindir orang-orang yang menyangka bahwa keberadaan nikmat adalah ukuran kemuliaan seseorang di hadapanNya. Allah I berfirman, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian)” (QS. Al-Fajr : 15-17).

Artinya, tidak semua orang yang Allah I karuniakan nikmat dan lapangkan rezki untuknya, Allah I memuliakannya. Tidak pula setiap orang yang Allah I timpakan ujian kepadanya dan sempitkan rezki baginya, Allah I kemudian menghinakannya. Bahkan sejatinya, Allah I akan mengujinya dengan kenikmatan dan Allah I muliakan yang lainnya dengan ujian.

Di dalam Jami’ at-Tirmidzi, dari Nabi r bersabda, “Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang-orang yang Dia cintai dan orang-orang yang tidak Dia cintai. Tetapi Dia tidak memberikan keimanan kecuali hanya kepada orang-orang yang Dia cintai saja”.
Sebagian salaf (orang-orang terdahulu yang shalih) berkata, “Kerap kali orang-orang yang ditimpa istidraj dengan nikmat Allah kepadanya dalam keadaan ia tidak mengetahui, kerap kali orang yang tertipu dengan ditutupi (aibnya) oleh Allah dalam keadaan ia tidak mengetahui, dan kerap kali orang yang terfitnah dengan pujian manusia atas dirinya dalam keadaan ia tidak mengetahui” (Lihat Ad-Da’u wa ad-Dawa'(37-38).

Muhasabah

Adapun jika kenikmatan dunia itu diberikan kepada seorang mu’min, shalih, ahli ibadah, bukan orang kafir dan ahli maksiat, maka itu merupakan nikmat Allah I yang disegerakan baginya di dunia, atau bisa juga sebagai ujian untuk meninggikan kedudukannya.

Namun, peluang terjatuhnya seorang mu’min dalam istidraj juga selalu terbuka. Mungkin bukan dengan bentuk bergelimangnya nikmat secara langsung, tetapi dalam bentuk lainnya. Berapa kali kita durhaka kepada Allah I dan Dia I tidak atau belum menghukum kita dan akhirnya kita merasa nyaman-nyaman saja? Mungkin sebagian kita akan bertanya seperti itu.

Sadarkah kita, sesungguhnya hukuman dari kelalaian kita yang mungkin kita temui adalah sedikitnya taufik untuk berbuat baik. Bukankah telah berlalu hari-hari kita tanpa bacaan Al-Quran? Bukankah telah berlalu malam-malam yang panjang sedangkan kita terhalang dari shalat malam? Bukankah telah berlalu musim-musim kebaikan seperti Ramadhan, enam hari di bulan Syawwal, sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, dan lainnya, sedangkan kita tidak mendapatkan taufik untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya? Bukankah ini semua juga adalah bentuk hukuman dari kelalaian kita?

Tidakkah kita merasakan beratnya sebuah ketaatan? Tidakkah kita merasa lemah di hadapan hawa nafsu dan syahwat? Tidakkah kita merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta?  Tidakkah kita merasa berat untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid? Tidakkah kita tersibukkan pada hal yang tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu?  Hukuman mana yang lebih banyak dari itu? Sungguh, ini semua adalah tipuan. Bisa jadi, semua ini adalah bentuk hukuman dari Allah I, hukuman sebagai bentuk istidraj dariNya.

Maka, kita perlu introspeksi diri sejak saat ini. Jika saat ini kita diberikan kemudahan dalam hal rezeki, karir, kecemerlangan dalam berfikir, kelapangan dalam hidup, maka selain mengucap syukur kepada Allah I, kita pun tetap perlu waspada. Apakah benar ini sebuah ni’mah (kenikmatan) ataukah sebuah niqmah (malapetaka). Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr Lillah). Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Orang mukmin melakukan kebaikan sembari berharap-harap cemas, sedang pendosa melakukan kedurhakaan dan merasa dirinya aman.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/235).

Umar bin Khaththab t pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang terjebak dalam istidraj).” (Al-Umm, Imam Syafi’i, IV/157).

Olehnya, mengingat kita selalu berpeluang untuk terjatuh dalam kemaksiatan dan dosa, sementara nikmat-nikmatNya tidak pernah terputus kepada kita, maka tentu saja kita berhajat untuk selalu berharap, kiranya kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tertipu dengan kelapangan dan kesenangan yang akhirnya membuat kita semakin jauh dariNya. Wallahu a’lam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...