Pernahkah kita
melihat orang-orang yang gemar berbuat dosa dan maksiat, tetapi hidup mereka justru terlihat bahagia
dan menyenangkan dengan berbagai nikmat yang diperolehnya? Atau sebaliknya,
pernahkah kita melihat orang-orang yang tekun beribadah dan beramal shalih,
tetapi hidup mereka masih terlihat sempit dan sederhana dengan kekurangan
nikmat yang diperolehnya?
Bukankah seharusnya,
orang yang berbuat baik akan menerima balasan kebaikan dan orang yang berbuat buruk
akan menerima balasan keburukan pula? Mengapa yang terjadi sebaliknya?
Yang pasti, Allah I tidak akan pernah dan tidak mungkin menzhalimi
hamba-hambaNya. Setiap kebaikan, pasti akan dibalas dengan kebaikan sesuai
dengan kadar dan hikmah yang ditetapkanNya. Meskipun yang nampak di mata kita,
bentuk balasan tersebut mungkin bukan berupa kebaikan yang biasa kita kenal.
Begitupula, setiap keburukan berupa dosa dan maksiat, akan dibalas dengan
keburukan sesuai kadar dan hikmahNya pula. Meskipun yang nampak di mata kita,
bentuk balasan tersebut mungiin bukan pula berupa keburukan yang biasa kita
kenal. Allah I
berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun,
niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).
Jika ternyata yang
nampak di mata kita adalah sebaliknya, seperti fenomena dan kenyataan yang kita
lihat (seperti di atas), maka tentu saja hal tersebut menyimpan rahasia. Apa
rahasianya? Mari kita simak, ayat dan hadits berikut.
Rasulullah r bersabda, “Bila
engkau melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang
diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka
(ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj dari Allah. Kemudian beliau r membaca firman Allah, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan
yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu
kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang
telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka
ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44) (HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913,
dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).
Apa Itu Istidraj?
Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke
tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj secara istilah bermakna bahwa
pemberian dari Allah I
kepada hamba yang dipahami sebagai “hukuman” yang diberikan sedikit demi
sedikit dan tidak diberikan langsung, dimana Allah I membiarkan orang tersebut terus dalam “hukuman” dan
tidak disegerakan adzabnya. Allah I berfirman, “Nanti Kami akan menghukum mereka
dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka
ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44) (Al-Mu’jam
Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).
Dari definisi di
atas, jelaslah bahwa orang yang terus dalam kemaksiatannya, namun dibalas oleh
Allah I
dengan nikmat sehingga ia lupa untuk
bertaubat dan memohon ampun kepadaNya, adalah sebuah penangguhan dari Allah I agar ia semakin jauh dari Allah I sedikit demi sedikit, menambah dosanya sedikit demi
sedikit, hingga akhirnya ketika Allah I akan mengadzabnya, maka Allah I mengadzabnya
sesuai kadar dosanya yang semakin banyak dan menumpuk. Wal ‘iyadzu billah.
Allah I berfirman, “Maka serahkanlah (ya Muhammad)
kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Quran). Nanti
Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah
yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya
rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-Qalam:
44).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Ketika mereka
melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah
berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka
bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa
mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan.
Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan
keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi
musibah yang besar.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 260).
Jadi, ketika ada
orang yang tidak shalat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur, hidup
dalam kubangan maksiat, namun hidupnya tetap makmur, sejahtera dan bergelimang
banyak kemewahan, sungguh ini adalah istidraj. Ketika seseorang meraih
pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zhalim dan
menghalalkan segala cara, kemudian ia tetap terus maju dan sukses dengan
kedudukannya, sungguh ini adalah istidraj.
Lantas, mengapa
Allah I
berbuat demikian? Mengapa Allah I tidak memberi hidayah saja dan menyadarkan mereka?
Hal itu karena hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang menutup hatinya
dan tidak bersedia menerima petunjuk Allah I, bahkan mereka menjadikan kebaikan yang diajarkan
Allah I
sebagai bahan untuk mengolok-olok. Hidayah bisa saja datang kepada orang yang
zhalim dan gemar berbuat dosa jika kemudian orang tersebut membuka hatinya
untuk menerima petunjuk-petunjuk Allah I yang terdapat dalam ajaran agama.
Nikmat, Semata-mata Bukan Ukuran
Olehnya, perlu
dipahami bahwa banyaknya nikmat atau kurangnya nikmat duniawi yang diterima
oleh seorang hamba, bukanlah menjadi ukuran bahwa Allah I telah memuliakannya dibanding yang lainnya. Bahkan
bisa jadi,
banyaknya nikmat duniawi justru dapat menjadikan seseorang lupa akan hakikat
penciptaannya. Makanya, Allah I dalam firmanNya
menyindir orang-orang yang menyangka bahwa keberadaan nikmat adalah ukuran
kemuliaan seseorang di hadapanNya. Allah I berfirman, “Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata:
"Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian)” (QS. Al-Fajr : 15-17).
Artinya, tidak semua orang yang Allah I karuniakan nikmat dan
lapangkan rezki untuknya, Allah I memuliakannya. Tidak
pula setiap orang yang Allah I timpakan ujian kepadanya
dan sempitkan rezki baginya, Allah I kemudian menghinakannya.
Bahkan sejatinya, Allah I akan mengujinya dengan kenikmatan dan Allah I muliakan yang lainnya
dengan ujian.
Di dalam Jami’
at-Tirmidzi, dari Nabi r bersabda, “Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini
kepada orang-orang yang Dia cintai dan orang-orang yang tidak Dia cintai.
Tetapi Dia tidak memberikan keimanan kecuali hanya kepada orang-orang yang Dia
cintai saja”.
Sebagian salaf
(orang-orang terdahulu yang shalih) berkata, “Kerap kali orang-orang yang ditimpa
istidraj dengan nikmat Allah kepadanya dalam keadaan ia tidak
mengetahui, kerap kali orang yang tertipu dengan ditutupi (aibnya) oleh Allah
dalam keadaan ia tidak mengetahui, dan kerap kali orang yang terfitnah dengan
pujian manusia atas dirinya dalam keadaan ia tidak mengetahui” (Lihat Ad-Da’u wa ad-Dawa'(37-38).
Muhasabah
Adapun jika
kenikmatan dunia itu diberikan kepada seorang mu’min, shalih, ahli ibadah,
bukan orang kafir dan ahli maksiat, maka itu merupakan nikmat Allah I yang disegerakan baginya di dunia, atau bisa juga
sebagai ujian untuk meninggikan kedudukannya.
Namun, peluang
terjatuhnya seorang mu’min dalam istidraj juga selalu terbuka. Mungkin
bukan dengan bentuk bergelimangnya nikmat secara langsung, tetapi dalam bentuk
lainnya. Berapa kali kita durhaka kepada Allah I dan Dia I tidak atau belum menghukum kita dan akhirnya kita merasa
nyaman-nyaman saja? Mungkin sebagian kita akan bertanya seperti itu.
Sadarkah kita,
sesungguhnya hukuman dari kelalaian kita yang mungkin kita temui adalah
sedikitnya taufik untuk berbuat baik. Bukankah telah berlalu hari-hari kita
tanpa bacaan Al-Quran? Bukankah telah berlalu malam-malam yang panjang
sedangkan kita terhalang dari shalat malam? Bukankah telah berlalu musim-musim
kebaikan seperti Ramadhan, enam hari di bulan Syawwal, sepuluh hari di bulan
Dzulhijjah, dan lainnya, sedangkan kita tidak mendapatkan taufik untuk
memanfaatkannya sebagaimana mestinya? Bukankah ini semua juga adalah bentuk
hukuman dari kelalaian kita?
Tidakkah kita
merasakan beratnya sebuah ketaatan? Tidakkah kita merasa lemah di hadapan hawa
nafsu dan syahwat? Tidakkah kita merasa ringan untuk berghibah, namimah dan
dusta? Tidakkah kita merasa berat untuk
menghadiri shalat berjamaah di masjid? Tidakkah kita tersibukkan pada hal yang
tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu?
Hukuman mana yang lebih banyak dari itu? Sungguh, ini semua adalah
tipuan. Bisa jadi, semua ini adalah bentuk hukuman dari Allah I, hukuman sebagai bentuk istidraj dariNya.
Maka, kita perlu
introspeksi diri sejak saat ini. Jika saat ini kita diberikan kemudahan dalam
hal rezeki, karir, kecemerlangan dalam berfikir, kelapangan dalam hidup, maka
selain mengucap syukur kepada Allah I, kita pun tetap perlu waspada. Apakah benar ini
sebuah ni’mah (kenikmatan) ataukah sebuah niqmah (malapetaka).
Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata, “Setiap
nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam
Asy-Syukr Lillah). Hasan al-Bashri rahimahullah
berkata, “Orang mukmin melakukan kebaikan sembari berharap-harap cemas,
sedang pendosa melakukan kedurhakaan dan merasa dirinya aman.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/235).
Umar bin Khaththab t pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang terjebak dalam istidraj).”
(Al-Umm, Imam Syafi’i, IV/157).
Olehnya, mengingat kita
selalu berpeluang untuk terjatuh dalam kemaksiatan dan dosa, sementara
nikmat-nikmatNya tidak pernah terputus kepada kita, maka tentu saja kita berhajat
untuk selalu berharap, kiranya kita tidak termasuk golongan orang-orang yang
tertipu dengan kelapangan dan kesenangan yang akhirnya membuat kita semakin
jauh dariNya. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar