November 25, 2016

Perang Pemikiran

Perang Pemikiran, apakah itu? Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Dalam istilah bahasa Arab, “Perang Pemikiran” biasa diistilahkan dengan “Ghazwul Fikri”. 

Perang Pemikiran atau Ghazwul Fikri adalah istilah yang teramat penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh kaum muslimin hari ini. Mengapa? Karena hari ini, kaum muslimin umumnya sebenarnya sedang terjajah oleh para perjajah. Wah, benarkah? Ya. Yang pasti, bukan dengan perang fisik di medan pertempuran, melainkan dengan perang dalam bentuk yang tidak kelihatan yaitu dengan  Ghazwul Fikri.

Secara bahasa, “ghazwulberasal dari kata ghazwah yang berarti peperangan dan “fikri” berasal dari kata fikr yang berarti pemikiran. Secara istilah, gabungan dua kata ini, Ghazwul Fikri,  bisa diartikan sebagai peperangan atau penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam. Dalam arti luas Ghazwul Fikri adalah cara atau bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, dan propaganda. 


Dari pengertian tersebut, maka sasaran utama tentu saja adalah ideologi, aqidah, pola pikir, dan akhlak (perilaku) dari kaum muslimin. Bentuk penyerangan yang dilakukan berupa pemahaman atau ideologi sekuler, materialis, liberalis, kapitalis atau yang lainya. Tujuan akhir atau jangka panjang mereka adalah untuk memurtadkan kaum muslimin dari agamanya. Hal ini sebagaimana firman Allah I, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (QS. An-Nisa : 89). Sementara tujuan jangka pendeknya adalah pendangkalan keagamaan kaum muslimin, di antaranya dengan pengaburan aqidah, kepribadian dan identitas sebagai seorang  muslim, pemerosotan akhlak (dekadensi moral), pemikiran liberal dan menyimpang, dan lainnya.

Jika kita bertanya, mengapa musuh-musuh Islam memilih perang dengan cara ini? Di antara sebab mereka melakukan cara Ghazwul Fikri ini adalah karena mereka sadar betapa sulitnya mengalahkan umat Islam secara militer. Invasi militer dalam bentuk perang yang telah mereka lakukan di Afghanistan, Iraq, Chechnya, Suriah dan sejumlah negara muslimin lainnya, telah memakan biaya yang tidak sedikit, tenaga yang besar dan jatuhnya korban tewas. Mereka (Barat) juga tidak mampu mengalahkan dan menguasai negara-negara muslim tersebut. Padahal,  mereka (Barat) unggul dalam hal teknologi dan persenjataan. Dengan cara Ghazwul Fikri, biaya yang mereka keluarkan relatif lebih rendah. Mereka tidak perlu membeli tank-tank, pesawat-pesawat dan amunisi. Yang mereka perlukan hanya kesempatan untuk menyebarkan ide-ide yang mereka usung ke seluruh belahan dunia Islam. Dan ternyata, cara ini terbukti mampu melumpuhkan umat Islam sampai ke akarnya, dengan menyebarkan virus pemikiran yang sesat dan memolesnya dengan slogan-slogan menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM, dan selainnya. Selain itu, hasil yang diperoleh dengan Ghazwul Fikri ini, lebih memuaskan untuk melanggengkan penjajahan terhadap dunia Islam. Inilah yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ untuk melemahkan kaum muslimin, kemudian akhirnya mengeluarkan mereka dari agamanya. Wallahul-musta’an. Allah I berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu” (QS. Al-Baqarah : 217).

Metode yang Digunakan

Menurut para ulama dan pakar yang banyak mengkaji dan meneliti fenomena Ghazwul Fikri ini, terdapat beberapa metode, cara atau taktik yang sering dilakukan oleh para penjajah, musuh-musuh Islam, untuk memerangi kaum muslimin lewat jalur ini. Di antaranya:

Tasykik, yaitu menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan dalam jiwa kaum muslimin terhadap agamanya. Yang menjadi sasaran utama dalam metode ini adalah validitas sumber-sumber hukum islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Berbagai teori bohong diungkapkan oleh para orientalis untuk menimbulkan keraguan akan kebenaran wahyu Allah
I tersebut. Mereka menuduh bahwa isi Al-Qur’an sudah tidak rasional agar kaum muslimin tidak lagi mengkajinya. Hari ini, metode ini terbilang cukup “ampuh”, terbukti dengan banyaknya “korban” mereka yang menolak atau minimal ragu jika hukum-hukum Allah ditegakkan di bumi. Mereka menyebut syari’at Islam sebagai syariat yang sudah usang dan tertinggal oleh jaman, sehingga tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang. 
                
Tasywih, yaitu pengaburan. Dengan metode ini, musuh-musuh Islam berupaya untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap agamanya dengan cara menggambarkan Islam secara buruk. Seringkali mereka menyematkan gelar seperti teroris, fundamentalis, ekstrimis, Islam garis keras, Islam radikal, Islam moderat dan lain-lain. Tentunya julukan tersebut bukan hanya sebagai hinaan semata bagi kaum muslimin, melainkan juga sebagai salah satu bentuk pengaburan agar kaum muslimin mulai tidak merasa bangga terhadap agamanya sendiri.

Tadzwiib, yaitu pelarutan, pencampuradukan antara pemikiran dan budaya Islam dengan pemikiran dan budaya jahiliyah. Tujuanya jelas yaitu agar tidak lagi ada jarak pemisah antara pemikiran dan budaya Islam dengan pemikiran dan budaya kufur. Akibatnya, kaum muslimin tidak tahu lagi mana pemikiran dan budaya Islam, mana yang bukan.

Taghrib, atau pembaratan (westernisasi), yaitu mendorong kaum muslimin untuk menyenangi dan menerima pemikiran, kebudayaan dan gaya hidup orang-orang barat. Taghrib berusaha keras untuk mengeringkan nilai-nilai Islam dari jiwa kaum muslimin dan mengisinya dengan nilai-nilai barat yang menyimpang. Mereka merusak moral kaum muslimin dengan cara “memperkenalkan” pergaulan bebas ala Barat,seperti clubbing, free-sex, lagu-lagu atau nyanyian, musik, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya generasi muda.

Sarana Ghazwul Fikri

Dalam melangsungkan misinya, musuh-musuh Islam menggunakan berbagai sarana yang terbukti “ampuh” memerangi pemikian umat Islam. Di antaranya:

Media informasi. Dalam dunia modern, media informasi menempati posisi yang sangat penting, di antaranya dengan kemampuan media dalam membentuk opini umat dan masyarakat. Bahkan sering dikatakan bahwa barangsiapa yang menguasai media, berarti dapat juga menguasai dunia. Jika yang menguasai media itu adalah orang mukmin, yang benar-benar memiliki ilmu dan paham dengan dakwah agama ini, maka informasi yang disampaikan atau dipublikasikan tentu tidak akan berisi informasi yang merugikan Islam, memojokkan kaum muslimin atau menyakiti umat Muhammad r. Tetapi kenyataannya, media informasi di dunia modern hari ini, kerap mempublikasikan aneka bentuk informasi yang substansinya tidak hanya memojokkan Islam, tetapi juga menyakiti hati kaum mukmin, menghina Nabi r serta melecehkan Al-Qur’an, atau lebih dari sekedar itu. Musuh-musuh Islam telah menggunakan media sebagai corong yang efektif untuk merontokkan keislaman kita.

Pendidikan. Melalui jalur pendidikan di negeri barat, perlahan mereka menyimpangkan pandangan pelajar-pelajar muslim terhadap Islam. Banyak pelajar-pelajar muslim yang menempuh pendidikan di negeri Barat dan ketika kembali ke negeri-negeri mereka, sudah menjadi tokoh-tokoh kaum liberal. Meskipun tidak semua, namun jalur pendidikan seperti ini patut untuk diwaspadai.             
Hiburan dan Olahraga. Berbagai bentuk hiburan tradisional maupun modern hingga reality show sudah mereka manfaatkan. Tidak hanya mendirikan cafe, bioskop, club, lokalisasi, namun juga memanfaatkan media hiburan seperti radio, televisi, gadget, internet, dan sebagainya sebagai sarana yang ampuh. Saat ini gadget atau smartphone menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan seseorang. Konten-konten yang ada pun dibuat segemerlap dunia. Kabar-kabar yang disebarkan kerap bersifat propaganda atau membuat umat Islam saling beradu domba dalam masalah khilafiyah yang sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Dampaknya, umat Islam menjadi ribut dengan sesamanya dan justru ditertawakan oleh umat lainnya. Selain itu, mereka juga menyebutkan prestasi olahraga sebagai bentuk kepahlawanan yang pantas dibanggakan. Padahal, di balik itu semua, banyak kemungkaran yang ditularkan kepada umat Islam. Seperti judi, minuman keras, menampakkan aurat dan masih banyak lagi.

Yayasan dan Lembaga Sosial. Dengan sarana ini, mereka kerap menjalankan misinya dengan kemasan Islami dan terlihat baik seperti bantuan sosial atau bantuan kemanusiaan. Padahal, di balik itu mereka menawarkan pertukaran harta dengan agama mereka hingga akhirnya masyarakat-masyarakat lemah dalam harta (fakir dan miskin) menjadi korban pemurtadan.

Sudah Disinyalir Oleh Nabi r

Apa yang menjadi kenyataan hari ini bahwa Islam terus menerima rongrongan dan penyerangan dari musuh-musuhnya, baik melalui jalur fisik maupun pemikiran dalm bentuk Ghazwul Fikri, adalah hal yang telah disinyalir oleh Nabi r sejak 14 abad yang lalu.

Dari Tsauban t, dia berkata, “Rasulullah r  bersabda, ”Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kamu, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau r menjawab, “Tidak, bahkan pada hari itu kamu banyak, tetapi kamu seperti buih (sampah) banjir. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar (takut) dari dada (hati) musuhmu terhadap kamu. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kamu”. Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau r menjawab, “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian” (HR Abu Dawud. Abu Nu’aim di dalam Hilyatul-Auliya’ (1/182) menagatakan hadits ini shahih lighairihi).

Perhatikanlah dengan seksama hadits yang agung ini! Bagaimana besarnya jumlah kaum muslimin secara kuantitas tidak bermanfaat sedikitpun dalam menghadapi musuh-musuh mereka, bahkan sekedar membuat takut musuh-musuh mereka juga tidak bisa. Hal ini disebabkan kualitas keimanan mereka sangat lemah, sehingga Rasulullah r menyerupakan mereka dengan buih yang mudah terbawa aliran air, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat di atas tanah. Seandainya kaum muslimin benar-benar beriman dan mentauhidkan Allah Ta’ala, maka mestinya mereka tidak akan seperti buih, karena iman dan tauhid akan menjadikan pemiliknya kokoh dan kuat dalam hidupnya, disebabkan dia selalu bersandar kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Bertahan dan Menghadapinya

Tujuan perang pemikiran dari musuh-musuh Islam, tidak lain dan tidak bukan agar kaum muslimin ini lemah, mundur bahkan meninggalkankan agamanya. Wallahul-must’an.

Maka, wajib bagi kita untuk bertahan, maju, dan kuat untuk mengahadapinya. Bagaimana cara agar umat Islam ini maju menuju kejayaannya?

Cara yang utama untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat Islam adalah dengan mengajak mereka kembali kepada agama mereka, dengan mengoreksi kembali pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua kalimat syahadat (Laa ilaaha illallah) dan (Muhammadur Rasulullah).

Cara ini telah dinyatakan langsung oleh Rasulullah r dalam sabda beliau, “Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘iinah (salah satu bentuk jual-beli riba), membuntuti ekor-ekor sapi (disibukkan dengan peternakan) dan merasa puas dengan (hasil) pertanian (sehingga lalai dari agama), serta meninggalkan jihad di jalan Allah Ta’ala, maka niscaya sungguh Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan dan kerendahan kepada kalian, dan Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Dalam riwayat Imam Ahmad, “…sampai kalian bertobat kepada Allah” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahihah” (no. 11).

Senada dengan hadits di atas, sahabat yang mulia Umar bin Khattab t berkata dalam ucapannya yang terkenal, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Ta’ala memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Ta’ala akan menjadikan kita hina dan rendah” (Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/130), dinyatakan shahih oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi).

Oleh karena itu, jika kita sudah tahu tentang Ghazwul Fikri; sasaran, metode, sarana, dampak dan solusinya, maka mari kita segera memperkaya ilmu dan pemahaman Islam kita secara kaffah, sembari berupaya untuk terus mengamalkan dan mendakwahkannya di tengah umat. Jangan pernah ragu untuk menampakkan identitas keislaman kita. Mari, terus mempelajari dan mengkaji pedoman kita, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi kita r karena itulah kekuatan utama kita sebenarnya. Wallahu a’lam.

1 komentar:

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...