Perang Pemikiran, apakah itu? Pernahkah Anda
mendengar istilah ini? Dalam istilah bahasa Arab, “Perang Pemikiran” biasa
diistilahkan dengan “Ghazwul Fikri”.
Perang Pemikiran atau Ghazwul Fikri adalah istilah yang teramat
penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh kaum muslimin hari ini.
Mengapa? Karena hari ini, kaum muslimin umumnya sebenarnya sedang terjajah oleh
para perjajah. Wah, benarkah? Ya. Yang
pasti, bukan dengan perang fisik di medan pertempuran, melainkan dengan perang
dalam bentuk yang tidak kelihatan yaitu dengan
Ghazwul Fikri.
Secara bahasa, “ghazwul” berasal
dari kata ghazwah yang berarti
peperangan dan “fikri” berasal dari kata fikr
yang berarti pemikiran. Secara istilah, gabungan dua kata ini, Ghazwul Fikri, bisa diartikan sebagai peperangan atau penyerangan
dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam. Dalam arti luas Ghazwul Fikri adalah cara atau
bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pikiran, tulisan, ide-ide, teori,
argumentasi, dan propaganda.
Dari pengertian tersebut, maka sasaran utama tentu saja adalah
ideologi, aqidah, pola pikir, dan akhlak (perilaku) dari kaum muslimin. Bentuk
penyerangan yang dilakukan berupa pemahaman atau ideologi sekuler, materialis,
liberalis, kapitalis atau yang lainya. Tujuan akhir atau jangka panjang mereka
adalah untuk memurtadkan kaum muslimin
dari agamanya. Hal ini sebagaimana firman Allah I, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir
sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (QS.
An-Nisa : 89). Sementara tujuan jangka pendeknya adalah pendangkalan
keagamaan kaum muslimin, di antaranya dengan pengaburan
aqidah, kepribadian dan identitas sebagai seorang muslim, pemerosotan akhlak (dekadensi moral),
pemikiran liberal dan menyimpang, dan lainnya.
Jika kita bertanya, mengapa
musuh-musuh Islam memilih perang dengan cara ini? Di antara sebab mereka melakukan cara Ghazwul Fikri ini adalah karena mereka sadar betapa sulitnya mengalahkan umat Islam secara militer. Invasi
militer dalam bentuk perang yang telah mereka lakukan di Afghanistan, Iraq,
Chechnya, Suriah dan sejumlah negara muslimin lainnya, telah memakan biaya yang
tidak sedikit, tenaga yang besar dan jatuhnya korban tewas. Mereka (Barat) juga
tidak mampu mengalahkan dan menguasai negara-negara muslim tersebut.
Padahal, mereka (Barat) unggul dalam hal teknologi dan persenjataan. Dengan
cara Ghazwul Fikri, biaya
yang mereka keluarkan relatif lebih rendah. Mereka tidak perlu membeli
tank-tank, pesawat-pesawat dan amunisi. Yang mereka perlukan hanya kesempatan
untuk menyebarkan ide-ide yang mereka usung ke seluruh belahan dunia Islam. Dan
ternyata, cara ini terbukti mampu melumpuhkan umat Islam sampai ke akarnya,
dengan menyebarkan virus pemikiran yang sesat dan memolesnya dengan
slogan-slogan menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi, HAM, dan
selainnya. Selain itu, hasil yang diperoleh dengan Ghazwul Fikri ini,
lebih memuaskan untuk melanggengkan penjajahan terhadap dunia Islam. Inilah
yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ untuk melemahkan kaum muslimin,
kemudian akhirnya mengeluarkan mereka dari agamanya. Wallahul-musta’an. Allah I berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga
kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu” (QS. Al-Baqarah :
217).
Metode yang Digunakan
Menurut para ulama dan pakar yang banyak mengkaji dan meneliti
fenomena Ghazwul Fikri ini,
terdapat beberapa metode, cara atau taktik yang sering dilakukan oleh para penjajah,
musuh-musuh Islam, untuk memerangi kaum muslimin lewat jalur ini. Di antaranya:
Tasykik, yaitu menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan dalam jiwa kaum muslimin terhadap agamanya. Yang menjadi sasaran utama dalam metode ini adalah validitas sumber-sumber hukum islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Berbagai teori bohong diungkapkan oleh para orientalis untuk menimbulkan keraguan akan kebenaran wahyu Allah I tersebut. Mereka menuduh bahwa isi Al-Qur’an sudah tidak rasional agar kaum muslimin tidak lagi mengkajinya. Hari ini, metode ini terbilang cukup “ampuh”, terbukti dengan banyaknya “korban” mereka yang menolak atau minimal ragu jika hukum-hukum Allah ditegakkan di bumi. Mereka menyebut syari’at Islam sebagai syariat yang sudah usang dan tertinggal oleh jaman, sehingga tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang.
Tasywih, yaitu pengaburan. Dengan metode ini, musuh-musuh
Islam berupaya untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap agamanya
dengan cara menggambarkan Islam secara buruk. Seringkali mereka menyematkan
gelar seperti teroris, fundamentalis, ekstrimis, Islam garis keras, Islam
radikal, Islam moderat dan lain-lain. Tentunya julukan tersebut bukan hanya
sebagai hinaan semata bagi kaum muslimin, melainkan juga sebagai salah satu
bentuk pengaburan agar kaum muslimin mulai tidak merasa bangga terhadap
agamanya sendiri.
Tadzwiib, yaitu pelarutan, pencampuradukan antara pemikiran
dan budaya Islam dengan pemikiran dan budaya jahiliyah. Tujuanya jelas yaitu
agar tidak lagi ada jarak pemisah antara pemikiran dan budaya Islam dengan
pemikiran dan budaya kufur. Akibatnya, kaum muslimin tidak tahu lagi mana
pemikiran dan budaya Islam, mana yang bukan.
Taghrib, atau pembaratan (westernisasi), yaitu mendorong kaum
muslimin untuk menyenangi dan menerima pemikiran, kebudayaan dan gaya hidup
orang-orang barat. Taghrib berusaha
keras untuk mengeringkan nilai-nilai Islam dari jiwa kaum muslimin dan
mengisinya dengan nilai-nilai barat yang menyimpang. Mereka
merusak moral kaum muslimin dengan cara “memperkenalkan” pergaulan bebas ala
Barat,seperti clubbing, free-sex, lagu-lagu atau nyanyian, musik,
budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum
muslimin sekarang ini khususnya generasi muda.
Sarana Ghazwul Fikri
Dalam melangsungkan
misinya, musuh-musuh Islam menggunakan berbagai sarana yang terbukti “ampuh”
memerangi pemikian umat Islam. Di antaranya:
Media informasi. Dalam dunia modern, media informasi menempati posisi yang sangat
penting, di antaranya dengan kemampuan media dalam membentuk opini umat dan
masyarakat. Bahkan sering dikatakan bahwa barangsiapa yang menguasai media,
berarti dapat juga menguasai dunia. Jika yang menguasai media itu adalah orang
mukmin, yang benar-benar memiliki ilmu dan paham dengan dakwah agama ini, maka informasi
yang disampaikan atau dipublikasikan tentu tidak akan berisi informasi yang
merugikan Islam, memojokkan kaum muslimin atau menyakiti umat Muhammad r. Tetapi kenyataannya, media
informasi di dunia modern hari ini, kerap mempublikasikan aneka bentuk informasi
yang substansinya tidak hanya memojokkan Islam, tetapi juga menyakiti hati kaum
mukmin, menghina Nabi r serta melecehkan Al-Qur’an, atau lebih dari sekedar itu.
Musuh-musuh Islam telah menggunakan media sebagai corong yang efektif untuk
merontokkan keislaman kita.
Pendidikan. Melalui
jalur pendidikan di negeri barat, perlahan mereka menyimpangkan pandangan pelajar-pelajar
muslim terhadap Islam. Banyak pelajar-pelajar muslim yang menempuh pendidikan di
negeri Barat dan ketika kembali ke negeri-negeri mereka, sudah menjadi
tokoh-tokoh kaum liberal. Meskipun tidak semua, namun jalur pendidikan seperti
ini patut untuk diwaspadai.
Hiburan dan Olahraga. Berbagai bentuk hiburan tradisional maupun modern hingga reality show sudah mereka manfaatkan.
Tidak hanya mendirikan cafe, bioskop, club, lokalisasi, namun juga memanfaatkan
media hiburan seperti radio, televisi, gadget,
internet, dan sebagainya sebagai sarana yang ampuh. Saat ini gadget atau
smartphone menjadi hal yang sangat
dekat dengan kehidupan seseorang. Konten-konten yang ada pun dibuat segemerlap
dunia. Kabar-kabar yang disebarkan kerap bersifat propaganda atau membuat umat
Islam saling beradu domba dalam masalah khilafiyah
yang sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Dampaknya, umat Islam menjadi
ribut dengan sesamanya dan justru ditertawakan oleh umat lainnya. Selain itu, mereka juga menyebutkan prestasi olahraga
sebagai bentuk kepahlawanan yang pantas dibanggakan. Padahal, di balik itu
semua, banyak kemungkaran yang ditularkan kepada umat Islam. Seperti judi, minuman
keras, menampakkan aurat dan masih banyak lagi.
Yayasan dan Lembaga Sosial. Dengan sarana ini, mereka kerap menjalankan
misinya dengan kemasan Islami dan terlihat baik
seperti bantuan sosial atau bantuan kemanusiaan. Padahal, di balik itu mereka
menawarkan pertukaran harta dengan agama mereka hingga akhirnya
masyarakat-masyarakat lemah dalam harta (fakir dan miskin) menjadi korban
pemurtadan.
Sudah Disinyalir Oleh Nabi r
Apa yang menjadi kenyataan
hari ini bahwa Islam terus menerima rongrongan dan penyerangan dari
musuh-musuhnya, baik melalui jalur fisik maupun pemikiran dalm bentuk Ghazwul Fikri, adalah hal yang telah
disinyalir oleh Nabi r sejak 14 abad yang lalu.
Dari Tsauban t,
dia berkata, “Rasulullah r bersabda, ”Hampir-hampir
bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kamu, sebagaimana
orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”.
Seorang sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari
itu?” Beliau r menjawab, “Tidak, bahkan pada hari itu kamu banyak, tetapi kamu
seperti buih (sampah) banjir. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar (takut)
dari dada (hati) musuhmu terhadap kamu. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kamu”.
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau r menjawab, “Cinta dunia dan takut
menghadapi kematian” (HR Abu Dawud. Abu
Nu’aim di dalam Hilyatul-Auliya’ (1/182) menagatakan hadits ini shahih lighairihi).
Perhatikanlah dengan seksama hadits yang agung ini! Bagaimana
besarnya jumlah kaum muslimin secara kuantitas tidak bermanfaat sedikitpun
dalam menghadapi musuh-musuh mereka, bahkan sekedar membuat takut musuh-musuh
mereka juga tidak bisa. Hal ini disebabkan kualitas keimanan mereka sangat
lemah, sehingga Rasulullah r menyerupakan mereka dengan buih yang mudah terbawa
aliran air, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat di atas tanah. Seandainya
kaum muslimin benar-benar beriman dan mentauhidkan Allah Ta’ala, maka mestinya
mereka tidak akan seperti buih, karena iman dan tauhid akan menjadikan
pemiliknya kokoh dan kuat dalam hidupnya, disebabkan dia selalu bersandar
kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Bertahan dan Menghadapinya
Tujuan perang pemikiran dari musuh-musuh Islam, tidak lain dan
tidak bukan agar kaum muslimin ini lemah, mundur bahkan meninggalkankan
agamanya. Wallahul-must’an.
Maka, wajib bagi kita untuk bertahan, maju, dan kuat untuk
mengahadapinya. Bagaimana cara agar umat Islam ini maju menuju kejayaannya?
Cara yang utama untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat
Islam adalah dengan mengajak mereka kembali kepada agama mereka, dengan
mengoreksi kembali pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua kalimat
syahadat (Laa ilaaha illallah) dan (Muhammadur Rasulullah).
Cara ini telah dinyatakan
langsung oleh Rasulullah r dalam sabda beliau, “Jika
kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘iinah (salah satu bentuk
jual-beli riba), membuntuti ekor-ekor sapi (disibukkan dengan peternakan) dan
merasa puas dengan (hasil) pertanian (sehingga lalai dari agama), serta
meninggalkan jihad di jalan Allah Ta’ala, maka niscaya sungguh Allah Ta’ala
akan menimpakan kehinaan dan kerendahan kepada kalian, dan Dia tidak akan
menghilangkan kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Dalam
riwayat Imam Ahmad, “…sampai kalian bertobat kepada Allah” (HR.
Abu Dawud, Ahmad dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
“Silsilatul ahaadiitsish shahihah” (no. 11).
Senada dengan hadits di atas, sahabat yang mulia Umar bin Khattab t berkata dalam ucapannya yang
terkenal, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Ta’ala
memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan
selain agama Islam ini, pasti Allah Ta’ala akan menjadikan kita hina dan
rendah” (Riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/130),
dinyatakan shahih oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi).
Oleh
karena itu, jika kita sudah tahu tentang Ghazwul
Fikri; sasaran, metode, sarana, dampak dan solusinya, maka mari kita segera
memperkaya ilmu dan pemahaman Islam kita secara kaffah, sembari berupaya untuk terus mengamalkan dan
mendakwahkannya di tengah umat. Jangan pernah ragu untuk menampakkan identitas
keislaman kita. Mari, terus mempelajari dan mengkaji pedoman kita, Al-Qur’an
dan Sunnah Nabi kita r karena itulah
kekuatan utama kita sebenarnya. Wallahu a’lam.

Al baqaroh ayat 120.. Bukan ayat 127
BalasHapus