Kali
ini tentang rezeki. Rezeki bagaikan hujan yang tidak turun secara merata di
muka bumi. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tapi tidak turun di
padang sahara. Hujan, terkadang turun di daerah pedesaan, tapi tidak turun di tengah
kota. Juga, hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan laknat.
Begitulah ia selalu.
Demikianlah
halnya rezeki, harta atau dunia secara umum. Allah I tidak
membagikannya secara merata kepada setiap orang. Ada yang kaya dan berkecukupan,
ada pula yang miskin dan berkekurangan. Namun yang pasti, setiap makhluk yang
berjalan di muka bumi telah diberi rezekinya. Allah I berfirman, “Dan
tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezekinya” (QS.
Huud: 6).
Hanya
saja, ketika Allah I melapangkan rezeki bagi sebagian
hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, adalah untuk
suatu hikmah dimana Allah I sendiri yang
mengetahuinya. Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan
ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah
I
berfirman, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di
antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ankabuut : 62).
Rezeki,
Sudah Diatur
Setiap
orang, akan mendapati rezekinya secara penuh sesuai yang ditetapkan oleh Allah I dengan hikmah
dan kekuasaan-Nya. Sehingga ketika Allah I mencabut
nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak
terkurangi sedikitpun. Rasulullah r bersabda, “Wahai
manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki,
karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat
rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah
cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan
tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani
menshahihkannya).
Rasulullah
r bersabda, “Allah telah
mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”
(HR.
Muslim).
Dalam hadits lainnya disebutkan, “Sesungguhnya makhluk yang pertama yang
Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian
Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah
berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi.
Syaikh Al-Albani menshahihkannya).
Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan
apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki
yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah
dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan
hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan
rahmatNya- membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu”.
Renungkanlah
keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu
pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu,
Allah I membuka untuknya jalan rezeki yang
lain, yakni air susu ibunya, rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki
yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Demikian seterusnya. Rezeki itu
selalu memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, namun hadir
di saat yang tepat.
Dan
ingatlah, rezeki itu selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah I berfirman, “Dan
jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan
melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya
dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi
Maha Melihat.” (QS.
Asy Syuraa: 27).
Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rezeki kepada mereka
sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk
mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka.
Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas
menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai
pantas menerimanya.” (Tafsir
Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553).
Jadi,
semestinya setiap kita tidak lagi merasa hasad, iri dan dengki kepada yang
lainnya, ketika rezeki kita nampak berbeda. Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik
untuk kita dan rezeki kita tak pernah tertukar. Jika kita mendapatkan harta biasa
dan yang lainnya mendapatkan harta luar biasa, tetap saja rezeki kita tak akan tertukar.
Jika kita memiliki rumah sederhana dan yang lainnya memiliki rumah mewah bak istana,
juga tetap saja rezeki kita tak akan tertukar.
Termasuk
pula jodoh. Jika jodoh adalah bagian dari rezeki, maka boleh jadi berlaku pula
kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada
salah tanggal. Rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam
mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis
keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada
kenikmatan yang akan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang.
Begitupula,
semestinya setiap kita tidak lagi merasa rendah diri ketika rezeki masih terasa
terbatas, dibanding yang lainnya yang nampak tidak terbatas. Kemiskinan dan kekayaan bukanlah ukuran
kemuliaan di sisi Rabb yang teramat mengangungkan. Mengapa? Hal ini karena kemuliaan
hanya ditentukaan dari ketakwaan. Bahkan, kekayaan rezeki dalam materi bisa
saja membawa akibat di akhirat yang tidak terkirakan. Rasulullah r bersabda menghibur
mereka-mereka yang miskin dengan sabdanya, “Orang-orang miskin yang beriman
akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat),
(yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). (HR. an-Nasai
dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan). Hal ini terjadi karena sang kaya
harus menjalani hisab yang panjang, sepanjang rentetan kekayaannya. Wal-‘iyaadzu-billaah.
Memberi,
Rezeki Tak Akan Berkurang
Jangan
sampai ada di antara kita lagi yang masih merasa bahwa memberi dan membantu
akan mengurangi rezeki. Tidak, sama sekali tidak. Kita tak perlu takut kalah
kaya dengan membuat orang lain kaya. Kita tak perlu takut kalah terhormat
dengan membuat orang lain terhormat. Kita tak perlu takut kalah pintar dengan
membuat orang lain pintar. Kita tak perlu takut kalah populer dengan membuat
orang lain populer. Percayalah, rezeki tak akan tertukar. Bahkan rezeki akan
semakin berlimpah saat kita terus menerus memberi, membantu dan memberdayakan
orang lain.
Allah
Tak Terbebani Menurunkan Rezeki
Allah
I
memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Seandainya seluruh
makhluk meminta kepada Allah I, maka Allah I akan
memberikan kepada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya
sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai
hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan
serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku,
kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan
mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang
menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim).
Mengenai
hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi
setiap makhluk untuk meminta kepada Allah dan meminta segala kebutuhan
pada-Nya.” (Jami’
Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48)
Dalam
hadits dikatakan, Rasulullah r bersabda, “Allah
Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak
(memberikan ganti) kepadamu”. Dan Rasulullah r juga bersabda, “Pemberian
Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan
malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah
sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah,
tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rezeki,
Itu Soal Rasa
Rezeki
adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian yang menentukan rasa
kehidupan. Karena rezeki itu (hanyalah) sola rasa. Betapa banyak kasur yang
empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak tak kunjung dicapai. Ini karena
nyenyak adalah rezeki. Nyenyak dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh
dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Betapa banyak hidangan yang mahal
dapat dipesan, tapi kelezatan tak kunjung dapat dirasakan. Ini karena lezatnya
makan adalah rezeki. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja
dan bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Ada
yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rezekinya tak sebanyak
itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang
legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak
menikmati hidangan gorengan gurih dan daging yang lembut, cepat-cepat
diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Bahkan sampai ketika sup terasa
hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya,
“Awas Pak, tekanan darahnya!” Rasa nikmat itu telah dikurangi.
Jadi,
ketika rezeki itu sedikit, jangan pernah merasa bahwa Allah I sedang
menyakiti. Jangan, Saudaraku! Rezeki itu bukan hanya dalam bentuk materi.
Tetapi rezeki itu lebih kepada rasa nikmat terhadap pemberian yang memang wajib
untuk disyukuri. “Bukanlah yang
dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya)
adalah kekayaan hati”, begitu sabda Nabi r. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar