April 22, 2016

Tentang Rezeki

Kali ini tentang rezeki. Rezeki bagaikan hujan yang tidak turun secara merata di muka bumi. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tapi tidak turun di padang sahara. Hujan, terkadang turun di daerah pedesaan, tapi tidak turun di tengah kota. Juga, hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan laknat. Begitulah ia selalu.

Demikianlah halnya rezeki, harta atau dunia secara umum. Allah I tidak membagikannya secara merata kepada setiap orang. Ada yang kaya dan berkecukupan, ada pula yang miskin dan berkekurangan. Namun yang pasti, setiap makhluk yang berjalan di muka bumi telah diberi rezekinya. Allah I berfirman, “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (QS. Huud: 6).

Hanya saja, ketika Allah I melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, adalah untuk suatu hikmah dimana Allah I sendiri yang mengetahuinya. Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah I berfirman, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Ankabuut : 62).


Rezeki, Sudah Diatur

Setiap orang, akan mendapati rezekinya secara penuh sesuai yang ditetapkan oleh Allah I dengan hikmah dan kekuasaan-Nya. Sehingga ketika Allah I mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun. Rasulullah r bersabda, “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Rasulullah r bersabda, “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR. Muslim). Dalam hadits lainnya disebutkan, “Sesungguhnya makhluk yang pertama yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu”.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah I membuka untuknya jalan rezeki yang lain, yakni air susu ibunya, rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat. Demikian seterusnya. Rezeki itu selalu memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, namun hadir di saat yang tepat.

Dan ingatlah, rezeki itu selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah I berfirman, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.(QS. Asy Syuraa: 27).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rezeki kepada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553).

Jadi, semestinya setiap kita tidak lagi merasa hasad, iri dan dengki kepada yang lainnya, ketika rezeki kita nampak berbeda. Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita dan rezeki kita tak pernah tertukar. Jika kita mendapatkan harta biasa dan yang lainnya mendapatkan harta luar biasa, tetap saja rezeki kita tak akan tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana dan yang lainnya memiliki rumah mewah bak istana, juga tetap saja rezeki kita tak akan tertukar.

Termasuk pula jodoh. Jika jodoh adalah bagian dari rezeki, maka boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang akan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang.

Begitupula, semestinya setiap kita tidak lagi merasa rendah diri ketika rezeki masih terasa terbatas, dibanding yang lainnya yang nampak tidak terbatas.  Kemiskinan dan kekayaan bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Rabb yang teramat mengangungkan. Mengapa? Hal ini karena kemuliaan hanya ditentukaan dari ketakwaan. Bahkan, kekayaan rezeki dalam materi bisa saja membawa akibat di akhirat yang tidak terkirakan. Rasulullah r bersabda menghibur mereka-mereka yang miskin dengan sabdanya, “Orang-orang miskin yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). (HR. an-Nasai dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan). Hal ini terjadi karena sang kaya harus menjalani hisab yang panjang, sepanjang rentetan kekayaannya. Wal-‘iyaadzu-billaah.

Memberi, Rezeki Tak Akan Berkurang

Jangan sampai ada di antara kita lagi yang masih merasa bahwa memberi dan membantu akan mengurangi rezeki. Tidak, sama sekali tidak. Kita tak perlu takut kalah kaya dengan membuat orang lain kaya. Kita tak perlu takut kalah terhormat dengan membuat orang lain terhormat. Kita tak perlu takut kalah pintar dengan membuat orang lain pintar. Kita tak perlu takut kalah populer dengan membuat orang lain populer. Percayalah, rezeki tak akan tertukar. Bahkan rezeki akan semakin berlimpah saat kita terus menerus memberi, membantu dan memberdayakan orang lain.

Allah Tak Terbebani Menurunkan Rezeki

Allah I memberi rezeki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani. Seandainya seluruh  makhluk meminta kepada Allah I, maka Allah I akan memberikan kepada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim).

Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta kepada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 48)

Dalam hadits dikatakan, Rasulullah r bersabda, “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu”. Dan Rasulullah r juga bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rezeki, Itu Soal Rasa

Rezeki adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian yang menentukan rasa kehidupan. Karena rezeki itu (hanyalah) sola rasa. Betapa banyak kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak tak kunjung dicapai. Ini karena nyenyak adalah rezeki. Nyenyak dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Betapa banyak hidangan yang mahal dapat dipesan, tapi kelezatan tak kunjung dapat dirasakan. Ini karena lezatnya makan adalah rezeki. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja dan bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rezekinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gorengan gurih dan daging yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Bahkan sampai ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!” Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Jadi, ketika rezeki itu sedikit, jangan pernah merasa bahwa Allah I sedang menyakiti. Jangan, Saudaraku! Rezeki itu bukan hanya dalam bentuk materi. Tetapi rezeki itu lebih kepada rasa nikmat terhadap pemberian yang memang wajib untuk disyukuri.  “Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan hati”, begitu sabda Nabi r. Wallahu a’lam.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...