Manusia, siapa pun
orangnya, selama ia masih hidup, tidak akan luput dari perbuatan dosa.
Dosa-dosa yang dilakukan para hamba sangat banyak dan bervariasi, baik dosa
besar maupun dosa kecil.
Bagi para pelaku dosa
besar, utamanya syirik, maka Allah I telah memberikan peringatan keras dalam firman-Nya, “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS.
4:48). Dosa syirik dan dosa-dosa besar lainnya, tidak akan diampuni oleh Allah I kecuali dengan taubat nasuha kepada Allah I.
Adapun bagi para
pelaku dosa-dosa kecil, maka dosa-dosa itu bisa terhapus dengan amal-amal
shalih. Hal ini menunjukkan betapa kasih sayang Allah I sangat luas terhadap hamba-hamba-Nya, sekalipun
dosa-dosa anak Adam itu sangat banyak dan beragam. Tentu saja, sekali lagi,
jika para hamba tidak melakukan kesyirikan kepada-Nya. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi
sedangkan dia tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, maka Aku akan menjumpainya
dengan ampunan sepenuh bumi”(HR.
Muslim). Inilah kedudukan tauhid, dimana
ia memiliki pengaruh dan peran penting dalam penghapusan dosa-dosa bagi orang
yang merealisasikannya dengan benar.
Di antara amalan yang
bisa menghapus dosa-dosa itu, ada yang berbentuk kewajiban rutin yang wajib
dilakukan setiap hari, seperti shalat fardhu. Nabi r bersabda, “Apa pendapat kalian jika di depan pintu rumah kalian
terdapat sungai lalu ia mandi di sungai tersebut sebanyak 5x dalam sehari,
apakah akan tersisa padanya kotoran ? Mereka, para sahabat radhiyallahu
anhum menjawab, “Tidak akan tersisa kotoran di tubuhnya.” Nabi r bersabda, “Maka itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapus
kesalahan-kesalahan seseorang dengan sebab shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapula berbentuk
kewajiban rutin yang dilakukan setiap minggu, yaitu shalat Jum’at. Rasulullah r bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki mandi dan
bersuci pada hari Jum’at sesuai kemampuannya, lalu ia mengenakan minyak rambut,
memakai wewangian kemudian ia keluar menuju masjid. (di masjid) dia tidak
menyuruh orang untuk pergi dari tempat duduknya lalu ia mengerjakan shalat setelah
itu dia diam saat imam sedang khutbah kecuali ia akan diampuni dosa-dosanya
antara Jum’at yang lalu dengan Jum’at yang akan datang” (HR. Bukhari).
Dan adapula yang
berbentuk kewajiban tahunan, seperti haji. Keduanya bisa menjadi penghapus
dosa-dosa kecil yang dilakukan oleh seorang hamba. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa melakukan ibadah haji lalu dia tidak berbuat
keji dan tidak melakukan perbuatan fasiq, maka dia akan kembali (tanpa dosa)
sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan masih banyak
lagi, amalan-amalan wajib yang bersifat rutin yang bisa menghapus dosa-dosa
akibat dari kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Sekali lagi, itu semua di
antara bukti betapa Allah I itu Maha Pengampun terhadap para hamba-Nya yang melakukan kesalahan.
Sehingga, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa dari rahmat Allah I.
Mungkin, ada orang
yang merasa khawatir dirinya tidak berkesempatan dan mampu melakukan
ibadah-ibadah di atas karena pelaksanaannya terkait dengan waktu dan kondisi
tertentu, sementara dia khawatir kematian menjemput dan waktu pelaksanaan
ibadah itu belum masuk. Bagaimana dengan dosa-dosanya?
Alhamdulillah, Allah I menurunkan syariat yang mulia ini, sekali lagi, dengan
kelembutan dan kasih sayang-Nya, di mana Dia menetapkan berbagai amal shalih
yang tidak terikat dengan waktu dan kondisi tertentu, bahkan sebagiannya dapat
dilakukan dengan mudah dan singkat. Semua itu pun dapat menjadi penggugur
dosa-dosa hamba kepada-Nya. Walillaahilhamd. Di antaranya yaitu :
Istighfar
Rasulullah r bersabda, “Allah
berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku
jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan
barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni
dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak
dosanya)” (HR.Ibnu Majah dan
Tirmidzi).
Menyempurnakan
Wudhu dan Berjalan Menuju Masjid
Rasulullah r bersabda,”Apabila
seorang muslim atau mukmin berwudhu, maka ketika membasuh wajahnya keluar dari
wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudhu atau tetesan air
terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari setiap
tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya bersama air atau air tetesan
terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya
dosa yang dia tempuh dengan kakinya bersama air atau air tetesan terakhir” (Syarah Shahih Musllim oleh Imam Nawawi rahimahullah)
Rasulullah r bersabda,
“Shalatnya seorang laki-laki bersama jama’ah (di masjid). Dilipatandakan dari
shalatnya di rumahnya, di pasarnya 25 kali lipat, hal itu apabila dia berwudhu
dan menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid, tidaklah dia keluar
kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah
kecuali dinaikkan untuknya satu derajat, dan dihapuskan darinya satu kesalahan”
(HR.Bukhari dan Muslim).
Dzikir-Dzikir
Penghapus Dosa
Rasululah r bersabda, “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan membaca, “Asyhadu
an-laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa
rasuuluhu, radhiitu billahi rabba wa bi muhammadir rasuula wa bil islaami
diina”, maka akan diampuni dosanya” (HR.
Muslim).
Rasululah r bersabda, “Barangsiapa membaca, “Subhanallahi wa bihamdihi”, dalam
sehari 100 kali, maka dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasululah r bersabda, “Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid
33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan
kalimat, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu, lahul-mulku wa
lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin-qadiir), maka diampunilah dosa-dosanya
walaupun sebanyak buih di laut” (HR.
Muslim).
Termasuk juga dzikir
atau doa yang dibaca sebagai penutup
majelis, rapat, seminar, pengajian, arisan, dan pertemuan apa pun, yaitu dzikir
atau doa kafaratul majelis, “Subhanakallaahumma wa bihamdika asyhadu an-laa
ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah,
dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu” (HR. Tirmidzi). Ketika
Nabi r ditanya tentang do’a tersebut, beliau r menjawab, “Doa itu sebagai penambal kesalahan (dosa) yang dilakukan
dalam majelis” (HR. Abu Daud, Ahmad,
dan lainnya).
Mengumandangkan
Adzan
Rasululah r bersabda, “Sesungguhnya muadzin diampuni dosanya sejauh mana
suaranya” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’).
Bertepatan Ucapan
“Aamiin” Malaikat
Rasulullah r bersabda, “Apabila imam
menucapkan, “Ghairil-maghdhuubi alaihim”, maka ucapkanlah “Aamiin”, karena
barang siapa yang “Aamiin”nya bertepatan dengan “Aamiin”nya Malaikat maka
diampuni dosanya yang telah lalu” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Menyebarkan Salam
Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya yang
termasuk sebab pengampunan adalah menyebarkan salam dan baik dalam perkataan” (HR.al-Kharaaithy. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani
rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah 1935).
Mengikuti
Keburukan Dengan Kebaikan
Rasulullah r bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan
ikutilah perbuatan buruk dengan kebaikan, niscaya dia (kebaikan) akan
menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang terpuji” (Shahihul Jami’).
Memaafkan
Allah I berfirman, “Dan hendaklah mereka mema’afkan dan
berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nuur: 22).
Sedekah
Rasulullah r bersabda, “Sedekah menghapuskan dosa seperti air memadamkan api” (Sunan Tirmidzi).
Membebaskan Utang
Rasulullah r bersabda,”Ada seorang pedagang memberikan utang kepada orang-orang,
jika ia mendapati orang yang lagi kesulitan (tidak bisa melunasi utangnya) ia
berkata kepada pelayannya, “Abaikan saja utangnya, semoga Allah juga
mengabaikan dosa-dosa kita”. Maka Allah pun mengabaikan dosa-dosanya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabar Menghadapi
Ujian
Rasulullah r bersabda, “Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa
letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan
menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua” (HR. Bukhari dan Muslim).
Catatan
Meskipun berbagai
amal shalih di atas diharapkan dapat menjadi penghapus dan penggugur dosa-dosa
kita, kita wajib memahami beberapa hal terkait dengan hal tersebut :
Pertama, dosa-dosa apa saja yang bisa terhapus?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidaklah semua hasanah
(kebaikan) akan menghapuskan seluruh sayyiah (keburukan), akan tetapi
terkadang menghapuskan dosa-dosa kecil dan terkadang menghapuskan dosa-dosa
besar ditinjau dari keseimbangannya (yaitu apakah hasanah tersebut nilainya
(besarnya) seimbang dengan nilai dosa tersebut?-pen). Satu jenis amalan
terkadang dikerjakan oleh seseorang dengan model yang sempurna keikhlasannya
dan peribadatannya kepada Allah maka dengan sebab tersebut Allah mengampuni
dosa-dosa besarnya. (Minhaajus Sunnah
An-Nabawiyyah 6/219).
Kedua, dosa-dosa
dapat terhapus, sekali lagi, hanya dengan melaksanakan tauhid secara benar
sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Ketiga, dosa yang
dihapus adalah dosa atau kesalahan kepada hak Allah I saja. Adapun jika berkaitan
dengan hak manusia , maka harus diselesaikan dengan yang bersangkutan, meminta
maaf atau mengembalikan haknya.
Keempat, dosa yang
dihapus adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar yang ia lakukan, maka ia
harus bertaubat secara khusus dengan taubat nasuha dan memenuhi syarat-syarat
taubat nasuha. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang
semurni-murninya)” (QS. At-Tahrim: 8).
Masih banyak amalan
lain yang bisa menghapuskan dosa, namun mungkin tidak dengan waktu yang
singkat. Seperti, Puasa hari Arafah dan A’syura’, Puasa hari Arafah menghapus
setahun sebelumnya dan setahun setelahnya sedangkan Puasa hari A’syura
menghapus setahun yang telah lalu (HR.
Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh al-Albani),
shalat tarawih di bulan Ramadhan, mengampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim), memperbanyak sujud (yaitu shalat), dimana setiap satu sujud akan
mengangkat satu derajat dan menghapus satu kesalahan (dosa) (HR. Muslim), menghidupkan shalat malam dapat mendekatkan
diri kepada Rabb dan menjadi penghapus kesalahan serta mencegah dosa-dosa (HR. Hakim dan dihasankan Syaikh al-Albani), umrah satu ke umrah berikutnya adalah penghapus
dosayang terjadi di antara keduanya (HR.
Bukhari dan Muslim), berbuat baik kepada
ibu (Shahih At-Targiib wa At-Tarhiib,
(2/331), berbuat baik kepada makhluk hidup
(HR. Bukhari dan Muslim), menghadiri majelis zikir dan ilmu (HR. Bukhari dan Muslim) dan lain-lain. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar