Juni 03, 2016

Menghapus Dosa-Dosa

Manusia, siapa pun orangnya, selama ia masih hidup, tidak akan luput dari perbuatan dosa. Dosa-dosa yang dilakukan para hamba sangat banyak dan bervariasi, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Bagi para pelaku dosa besar, utamanya syirik, maka Allah I telah memberikan peringatan keras dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. 4:48). Dosa syirik dan dosa-dosa besar lainnya, tidak akan diampuni oleh Allah I kecuali dengan taubat nasuha kepada Allah I.


Adapun bagi para pelaku dosa-dosa kecil, maka dosa-dosa itu bisa terhapus dengan amal-amal shalih. Hal ini menunjukkan betapa kasih sayang Allah I sangat luas terhadap hamba-hamba-Nya, sekalipun dosa-dosa anak Adam itu sangat banyak dan beragam. Tentu saja, sekali lagi, jika para hamba tidak melakukan kesyirikan kepada-Nya. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi sedangkan dia tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan sepenuh bumi(HR. Muslim). Inilah kedudukan tauhid, dimana ia memiliki pengaruh dan peran penting dalam penghapusan dosa-dosa bagi orang yang merealisasikannya dengan benar.

Di antara amalan yang bisa menghapus dosa-dosa itu, ada yang berbentuk kewajiban rutin yang wajib dilakukan setiap hari, seperti shalat fardhu. Nabi r bersabda, “Apa pendapat kalian jika di depan pintu rumah kalian terdapat sungai lalu ia mandi di sungai tersebut sebanyak 5x dalam sehari, apakah akan tersisa padanya kotoran ? Mereka, para sahabat radhiyallahu anhum menjawab, “Tidak akan tersisa kotoran di tubuhnya.” Nabi r bersabda, “Maka itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan seseorang dengan sebab shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapula berbentuk kewajiban rutin yang dilakukan setiap minggu, yaitu shalat Jum’at. Rasulullah r  bersabda,  “Tidaklah seorang laki-laki mandi dan bersuci pada hari Jum’at sesuai kemampuannya, lalu ia mengenakan minyak rambut, memakai wewangian kemudian ia keluar menuju masjid. (di masjid) dia tidak menyuruh orang untuk pergi dari tempat duduknya lalu ia mengerjakan shalat setelah itu dia diam saat imam sedang khutbah kecuali ia akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at yang lalu dengan Jum’at yang akan datang(HR. Bukhari).

Dan adapula yang berbentuk kewajiban tahunan, seperti haji. Keduanya bisa menjadi penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan oleh seorang hamba. Rasulullah r bersabda, “Barangsiapa melakukan ibadah haji lalu dia tidak berbuat keji dan tidak melakukan perbuatan fasiq, maka dia akan kembali (tanpa dosa) sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan masih banyak lagi, amalan-amalan wajib yang bersifat rutin yang bisa menghapus dosa-dosa akibat dari kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Sekali lagi, itu semua di antara bukti betapa Allah I itu Maha Pengampun terhadap para hamba-Nya yang melakukan kesalahan. Sehingga, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa dari rahmat Allah I.

Mungkin, ada orang yang merasa khawatir dirinya tidak berkesempatan dan mampu melakukan ibadah-ibadah di atas karena pelaksanaannya terkait dengan waktu dan kondisi tertentu, sementara dia khawatir kematian menjemput dan waktu pelaksanaan ibadah itu belum masuk. Bagaimana dengan dosa-dosanya?

Alhamdulillah, Allah I menurunkan syariat yang mulia ini, sekali lagi, dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya, di mana Dia menetapkan berbagai amal shalih yang tidak terikat dengan waktu dan kondisi tertentu, bahkan sebagiannya dapat dilakukan dengan mudah dan singkat. Semua itu pun dapat menjadi penggugur dosa-dosa hamba kepada-Nya. Walillaahilhamd. Di antaranya yaitu :

Istighfar
Rasulullah r bersabda, “Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya)” (HR.Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Menyempurnakan Wudhu dan Berjalan Menuju Masjid

Rasulullah r bersabda,”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, maka ketika membasuh wajahnya keluar dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudhu atau tetesan air terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya bersama air atau air tetesan terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya bersama air atau air tetesan terakhir” (Syarah Shahih Musllim oleh Imam Nawawi rahimahullah)

Rasulullah r bersabda, “Shalatnya seorang laki-laki bersama jama’ah (di masjid). Dilipatandakan dari shalatnya di rumahnya, di pasarnya 25 kali lipat, hal itu apabila dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid, tidaklah dia keluar kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah kecuali dinaikkan untuknya satu derajat, dan dihapuskan darinya satu kesalahan” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dzikir-Dzikir Penghapus Dosa

Rasululah r bersabda, “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan membaca, “Asyhadu an-laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, radhiitu billahi rabba wa bi muhammadir rasuula wa bil islaami diina”, maka akan diampuni dosanya” (HR. Muslim).

Rasululah r bersabda, “Barangsiapa membaca, “Subhanallahi wa bihamdihi”, dalam sehari 100 kali, maka dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasululah r bersabda, “Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin-qadiir), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut” (HR. Muslim).

Termasuk juga dzikir atau doa yang dibaca sebagai  penutup majelis, rapat, seminar, pengajian, arisan, dan pertemuan apa pun, yaitu dzikir atau doa kafaratul majelis, “Subhanakallaahumma wa bihamdika asyhadu an-laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu” (HR. Tirmidzi). Ketika Nabi r ditanya tentang do’a tersebut, beliau r menjawab, “Doa itu sebagai penambal kesalahan (dosa) yang dilakukan dalam majelis” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan lainnya).

Mengumandangkan Adzan

Rasululah r bersabda, “Sesungguhnya muadzin diampuni dosanya sejauh mana suaranya” (HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami’).

Bertepatan Ucapan “Aamiin” Malaikat

Rasulullah r  bersabda, “Apabila imam menucapkan, “Ghairil-maghdhuubi alaihim”, maka ucapkanlah “Aamiin”, karena barang siapa yang “Aamiin”nya bertepatan dengan “Aamiin”nya Malaikat maka diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyebarkan Salam

Rasulullah r  bersabda, “Sesungguhnya yang termasuk sebab pengampunan adalah menyebarkan salam dan baik dalam perkataan” (HR.al-Kharaaithy. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah 1935).

Mengikuti Keburukan Dengan Kebaikan

Rasulullah r bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan kebaikan, niscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang terpuji” (Shahihul Jami’).

Memaafkan

Allah I berfirman, “Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nuur: 22).

Sedekah

Rasulullah r bersabda, “Sedekah menghapuskan dosa seperti air memadamkan api” (Sunan Tirmidzi).

Membebaskan Utang

Rasulullah r bersabda,”Ada seorang pedagang memberikan utang kepada orang-orang, jika ia mendapati orang yang lagi kesulitan (tidak bisa melunasi utangnya) ia berkata kepada pelayannya, “Abaikan saja utangnya, semoga Allah juga mengabaikan dosa-dosa kita”. Maka Allah pun mengabaikan dosa-dosanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabar Menghadapi Ujian

Rasulullah r bersabda, “Apa saja yang menimpa seseorang Muslim seperti rasa letih, sedih, sakit, gelisah, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengan sebab itu semua” (HR. Bukhari dan Muslim).

Catatan

Meskipun berbagai amal shalih di atas diharapkan dapat menjadi penghapus dan penggugur dosa-dosa kita, kita wajib memahami beberapa hal terkait dengan hal tersebut :

Pertama,  dosa-dosa apa saja yang bisa terhapus? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidaklah semua hasanah (kebaikan) akan menghapuskan seluruh sayyiah (keburukan), akan tetapi terkadang menghapuskan dosa-dosa kecil dan terkadang menghapuskan dosa-dosa besar ditinjau dari keseimbangannya (yaitu apakah hasanah tersebut nilainya (besarnya) seimbang dengan nilai dosa tersebut?-pen). Satu jenis amalan terkadang dikerjakan oleh seseorang dengan model yang sempurna keikhlasannya dan peribadatannya kepada Allah maka dengan sebab tersebut Allah mengampuni dosa-dosa besarnya. (Minhaajus Sunnah An-Nabawiyyah 6/219).

Kedua, dosa-dosa dapat terhapus, sekali lagi, hanya dengan melaksanakan tauhid secara benar sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Ketiga, dosa yang dihapus adalah dosa atau kesalahan kepada hak Allah I saja. Adapun jika berkaitan dengan hak manusia , maka harus diselesaikan dengan yang bersangkutan, meminta maaf atau mengembalikan haknya.

Keempat, dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar yang ia lakukan, maka ia harus bertaubat secara khusus dengan taubat nasuha dan memenuhi syarat-syarat taubat nasuha. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)” (QS. At-Tahrim: 8).

Masih banyak amalan lain yang bisa menghapuskan dosa, namun mungkin tidak dengan waktu yang singkat. Seperti, Puasa hari Arafah dan A’syura’, Puasa hari Arafah menghapus setahun sebelumnya dan setahun setelahnya sedangkan Puasa hari A’syura menghapus setahun yang telah lalu (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh al-Albani), shalat tarawih di bulan Ramadhan, mengampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim), memperbanyak sujud (yaitu shalat), dimana setiap satu sujud akan mengangkat satu derajat dan menghapus satu kesalahan (dosa) (HR. Muslim),  menghidupkan shalat malam dapat mendekatkan diri kepada Rabb dan menjadi penghapus kesalahan serta  mencegah dosa-dosa (HR. Hakim dan dihasankan Syaikh al-Albani), umrah satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosayang terjadi di antara keduanya (HR. Bukhari dan Muslim), berbuat baik kepada ibu (Shahih At-Targiib wa At-Tarhiib, (2/331), berbuat baik kepada makhluk hidup (HR. Bukhari dan Muslim), menghadiri majelis zikir dan ilmu (HR. Bukhari dan Muslim) dan lain-lain. Wallahu a’lam.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...